"astaghfirullahaladzim, Hanum" pak Umar melompat seketika dan memeluk putrinya untuk ia turunkan ke ranjang namun saat menyentuh tubuh Hanum, pak Umar refleks melepaskan pegangannya dan ia meringis kesakitan
"kenapa pak...?" ibu Rosida melihat pak Umar mengibas-ngibaskan tangannya
"panas...tubuh Hanum panas sekali bu. tangan bapak bahkan seperti terbakar" pak Umar meniup kedua tangannya yang terasa terbakar saat menyentuh tubuh Hanum
"lalu apa yang harus kita lakukan dengan Hanum kalau tidak bisa disentuh pak" ibu Rosida mulai panik, air matanya mulai terus membasahi wajahnya
pak Anto pun berniat menyentuh Hanum untuk menurunkan gadis itu namun seperti yang dialami pak Umar, pak Anto menjauh seketika saat tangan kanannya baru saja menyentuh tubuh Hanum.
"astaghfirullahaladzim, panas sekali seperti bara api" pak Anto mengibaskan tangannya dan meniupnya karena kesakitan seperti terbakar
"ya Allah Gusti... bagaimana ini tuan" bi Asi tidak dapat berbuat apapun
"biar saya bantu untuk menurunkan Hanum pak, bu" Fatahillah mendekati dan menatap Hanum yang sudah seperti seseorang yang mengalami sakaratul maut
"kamu bisa menolong anak saya. kalau begitu tolonglah, tolong anak saya. selamatkan dia, saya mohon" ibu Rosida mengatupkan kedua tangannya di dadanya
"akan saya usahakan semampu saya, tapi saya butuh berdua saja dengan Hanum di kamar ini. bapak dan ibu harus keluar begitu juga yang lainnya" Fatahillah melihat pak Anto dan bi Asi secara bergantian
"kenapa kami harus keluar, apa tidak bisa kami di dalam saja. saya tidak bisa meninggalkan Hanum" ibu Rosida menggeleng kepala
"bu, Hanum harus diselamatkan secepatnya, kalau tidak dia bisa kehilangan nyawanya. saya hanya membantu tidak berniat mencelakai putri ibu. lagi pula pintu kamar ini sudah rusak, ibu bisa melihat apa yang akan saya lakukan di dalam" Fatahillah mencoba meyakinkan ibu Rosida
"kita keluar sekarang juga. ayo bu, pak Anto, bi Asi, ayo kita keluar" pak Umar membawa ketiga orang itu keluar dari kamar Hanum
namun setelah itu Fatahillah menyusul mereka keluar dan mendekati mereka semua.
"bantu saya dengan doa. tolong lantunkan ayat-ayat Allah di depan kamar ini dan juga asma Allah. minta pertolongan kepadanya, hanya DIA yang bisa membantu kita" ucap Fatahillah
Fatahillah masih menggunakan baju yang penuh darah, darah dari Hasan yang ia tolong saat kecelakaan.
"baik, kami akan bantu. saya berharap kepadamu Fatah" ucap pak Umar
"berharap kepada yang Maha Kuasa pak jangan kepada saya. Allah satu-satunya tempat menggantungkan harapan. saya akan berusaha sebisa saya. jangan pernah masuk ke dalam sebelum saya mengizinkan untuk kalian masuk" Fatahillah masuk lagi ke dalam kamar Hanum
pak Umar berserta istrinya dan juga ART serta satpam di rumahnya itu, mereka langsung menuju ke tempat berwudhu untuk mensucikan diri.
bi Asi mengambil mukenah miliknya dan memakainya serta mengambil kitab suci Al-Qur'an. beberapa orang yang sedang berjaga di rumahnya, selain pak Anto yang menjadi satpam, pak Umar memanggil mereka untuk ikut melantunkan ayat-ayat Allah di depan kamar Hanum.
mereka duduk melingkar di depan kamar Hanum. lantunan ayat suci Al-Qur'an terdengar memenuhi rumah itu, pak Umar sendiri dan beberapa penjaganya membaca asma Allah.
sementara di dalam kamar, Fatahillah duduk bersila di lantai dan menutup kedua matanya. dengan tasbih yang ada di tangannya, Fatahillah terus berdzikir.
"panaaaaas... panaaaaas" Hanum jatuh seketika di atas ranjang dan meraung-raung kepanasan
"Hanum" ibu Rosida hendak berdiri untuk masuk ke dalam namun bi Asi yang berada di dekatnya segera menahan majikannya itu
"jangan nyonya, ingat pesan anak muda tadi. kita harus berada di luar" bi Asi mengingatkan ibu Rosida
"tapi Hanum bi"
"bersabarlah bu, tetap di sini dan terus mengaji" pak Umar mengangkat suara membuat ibu Rosida duduk kembali dan melanjutkan mengajinya
sementara itu di dalam kamar, Hanum terus saja berteriak kepanasan. dirinya terus berguling di atas ranjang. lantunan ayat-ayat Allah yang ia dengar membuat telinganya terasa sakit dan panas seakan ingin meledak. luka-lukanya yang terus mengembangkan nanah dan darah terus ia garuk hingga bertambah parah.
"HENTIKAN... PANAS"
Fatahillah tidak terkecoh dengan suara teriakan Hanum. pemuda itu terus berzikir dengan mata terpejam. hingga kemudian ia berdiri dan mendekat Hanum yang lagi dan lagi terus memuntahkan darah.
Fatahillah memegang ubun-ubun Hanum dan mulai membaca doa.
"audzubillahi minasyaitonirrajim, bismillahirrahmanirrahim"
"Aaaaaaaaaaa"
braaaakkk
bughhh
uhuk...uhuk
Hanum teriak sekeras-kerasnya, Fatahillah terpental dan menghantam dinding. dirinya terbatuk memuntahkan darah. Hanum sudah tidak sadarkan diri, namun dari dalam tubuhnya keluar sosok yang mengerikan dan hendak kabur dari tempat itu.
mereka yang berada di luar sangat terkejut mendengarnya teriakan Hanum. namun seperti pesan dari Fatahillah tadi, tidak boleh ada yang masuk ke dalam kamar sebelum Fatahillah mengizinkan untuk masuk.
sosok mengerikan itu berdiri menatap tajam ke arah Fatahillah, kemudian ia hendak kabur dari tempat itu
"Langon" Fatahillah memanggil seseorang
goaaaaarrrrr
suara aungan seekor harimau putih menggelegar di tempat itu. mereka yang berada di luar bahkan ketakutan mendengar suara hewan yang tersebut. tidak melihat wujudnya namun mereka sangat yakin kalau itu adalah suara harimau.
"kejar dia" peringatan Fatahillah memerintah harimau putih yang bernama langon itu untuk mengejar sosok tadi
goaaaaarrrrr
harimau itu hilang seketika menyisakan asap putih di dalam kamar. Fatahillah bangkit dan mendekati Hanum. ia perbaiki selimut gadis itu kemudian melangkah keluar untuk menemui orang tuanya dan yang lainnya.
"Fatahillah" pak Umar bangkit dari duduknya dan menghampiri Fatahillah
"kamu terluka....?" pak Umar melihat darah segar yang ada di mulut Fatahillah
"saya baik-baik saja pak, tidak perlu cemas. Hanum sekarang sudah berhasil saya tolong. dia sekarang dalam keadaan pingsan" ucap Fatahillah
ibu Rosida segera masuk ke dalam bersama bi Asi, sementara itu pak Umar membawa Fatahillah ke ruang tengah. yang lainnya di suruh kembali untuk berjaga di depan rumah.
"dua kali kamu sudah menyelamatkan saya Fatah" ucap pak Umar
"tidak perlu bicara seperti itu pak. manusia memang sudah selayaknya untuk saling menolong" jawab Fatahillah
"tapi... bolehkah saya bertanya sesuatu...?" tanya Fatahillah
"tanyakanlah apa yang ingin kamu tanyakan"
"sebenarnya apa yang terjadi dengan putri bapak, saya melihat kalau dirinya terkena..."
"santet"
"jadi benar, anak bapak terkena santet...?"
pak Umar menghela nafas panjang dan bersandar di sofa.
"sudah berbulan-bulan dia terkena penyakit aneh seperti itu. kami sudah berobatnya kemanapun namun hasilnya nihil, Hanum tidak pernah sembuh"
"di rumah sakit pun kami sudah menginap berminggu-minggu tetap saja tidak ada perubahan. hingga Hasan kemarin datang dan melihat keadaan Hanum. dia mengatakan kalau menurut penglihatannya, Hanum terkena santet"
"bapak tau siapa yang melakukan itu...?"
"tidak" pak Umar menggeleng pelan " saya tidak pernah tau siapa sebenarnya yang telah membuat anak saya seperti sekarang ini. Hasan kecelakaan juga karena ulah orang tersebut"
"apa orangnya adalah yang mengirimkan orang-orang ninja tadi itu"
"bisa saja, tapi apa motifnya saya juga tidak tau"
"bapak benar-benar tidak merasa kalau mereka mengeja sesuatu dari bapak...?"
"mengejar sesuatu...?" pak Umar berpikir keras
belum mendapat jawaban dari pertanyaannya, Fatahillah merasakan sesuatu yang terkoneksi langsung dengan harimau putih miliknya.
"maaf pak, saya harus pergi sekarang"
"sekarang...? kalau begitu biar saya antar"
"tidak perlu pak. assalamualaikum" Fatahillah berlari keluar dari rumah pak Umar tanpa menunggu jawaban salam dari tuan rumah
"wa alaikumsalam" ucap pak Umar setelah Fatahillah tidak terlihat lagi
"mau pulang den...?" tanya pak Anto yang melihat Fatahillah berlari menuju pagar
"iya pak" Fatahillah menjawab sambil berlari. bukannya tidak menghargai hanya saja sekalian dia sedang melacak keberadaan harimau putih yang ia perintahkan untuk mengejar sosok tadi
Fatahillah terus berlari menjauh dari rumah pak Umar. kini pemuda itu sudah berada di tempat sepi, jauh dari keramaian.
goaaaaarrrrr
"langon" harimau putih itu datang menghampiri tuannya
"bagaimana, kamu bisa menangkapnya...?" Fatahillah mengelus harimau itu
goaaaaarrrrr
harimau putih itu menuntut Fatahillah untuk mengikutinya. Fatahillah mengikuti harimau putih itu dan beberapa meter di depan sana, sosok yang dikejar oleh harimau putih tadi sudah ditangkapnya. tubuhnya diikat menggunakan kekuatan gaib dari harimau putih.
Fatahillah melangkah mendekati sosok itu. baru beberapa langkah, sosok itu teriak kesakitan dan tubuhnya terbelah menjadi dua. padahal Fatahillah tidak menggunakan kekuatannya namun entah kenapa makhluk itu langsung mati mengenaskan dengan tubuh terbelah menjadi dua kemudian hilang menjadi debu.
"siapa yang melakukannya...?" gumam Fatahillah melihat sekelilingnya namun tidak ada siapapun
padahal Fatahillah ingin mengorek informasi dari sosok itu, sayangnya sosok itu dimusnahkan oleh pengirimnya sehingga Fatahillah tidak dapat mendapatkan apa-apa.
"langon, terimakasih sudah membantuku. sekarang kamu bisa kembali" Fatahillah mengusap lembut harimau itu
harimau putih itu mengelilingi Fatahillah dan bermanja di kaki pemuda itu. kemudian setelah itu, hewan putih itu menghilang seketika.
"aku harus pulang, ibu pasti cemas di rumah" Fatahillah meninggalkan tempat yang sepi tersebut
di rumah sakit, Fauzan yang tengah menunggu Hasan dioperasi oleh dokter di dalam IGD, langsung bangkit saat pintu ruangan itu di buka oleh seorang dokter laki-laki yang memang Hasan.
"bagaimana teman saya dokter...?" tanya Fauzan
"Alhamdulillah, operasinya berhasil. hanya saja pasien masih dalam keadaan kritis. berdoa saja semoga dia dapat melewati masa kritisnya dan segera dipindahkan ke ruang perawatan" dokter menjelaskan
"terimakasih dok"
"sama-sama, saya permisi"
Fauzan kemudian mengambil ponselnya untuk menghubungi pak Umar.
Fauzan
halo pak
pak Umar
bagaiman Zan, Hasan bagaimana...?
Fauzan
operasinya berjalan lancar pak, tapi keadaan Hasan sekarang dalam keadaan koma belum sadarkan diri
pak Umar
tolong kamu pantau keadaannya ya, saya akan ke sana setelah Hanum baik-baik saja
Fauzan
tidak usah pak, biar saya yang memantau Hasan. bapak fokus saja kepada kondisi Hanum
pak Umar
terimakasih banyak ya Zan, kalau ada apa-apa hubungi saya segera
Fauzan
baik pak
pak Umar
jangan lupa hubungi pak Odir, pamannya Hasan. dia harus tau keadaan keponakannya sekarang. hanya pak Odir satu-satunya keluarga Hasan
Fauzan
baik pak, saya akan menggunakan beliau nanti
pak Umar
baiklah
"bagaimana anak kita bu...?" pak Umar meletakkan ponselnya setelah berbicara dengan Fauzan
"panasnya sudah berangsur turun pak" jawab ibu Rosida membelai kepala Hanum yang sedang tertidur
"syukurlah" pak Umar duduk di samping kiri Hanum
"bagaimana dengan rencana kita untuk membawa Hanum ke kiayi Zulkarnain pak" tanya ibu Rosida
"Hasan tidak bisa membantu kita bu, kita harus mencari orang untuk mengawal kita sampai di sana. tapi sebelum itu, kita harus memastikan keadaan Hasan sudah benar-benar membaik" jawab pak Umar
"kasian sekali nasib Hasan pak. dia anak yang baik, selama ini dia sangat berteman baik dengan Hanum"
"ibu menyukai Hasan...? bapak lihat ibu begitu akrab dengan Hasan"
"siapa yang tidak menyukai pemuda baik seperti Hasan pak. ibu berharap Hanum dan Hasan berjodoh"
"akan kita pikirkan itu, sebaiknya kita memikirkan bagaimana caranya menyembuhkan Hanum"
"hanya dengan ke gunung Sangiran tempat kiayi Zulkarnain Hanum bisa disembuhkan pak"
"bapak akan komunikasikan dengan pak Odir terlebih dahulu"
"bagaimana kalau kita meminta bantuan kepada pemuda yang menolong Hanum tadi. ibu lihat dia memiliki ilmu yang tidak dimiliki orang lain" ibu Rosida mengusulkan pendapatnya
"kita tidak bisa begitu saja meminta bantuan kepadanya bu"
"memangnya kenapa...?"
"dia pasti punya kesibukan tersendiri"
"tapi tidak ada salahnya meminta bantuan kan pak, siapa tau dia bisa membantu kita" ibu Rosida sangat berharap Fatahillah dapat membantu mereka kembali
"nantikan bapak sampaikan maksud kita" pak Umar mengiyakan istrinya agar ibu dari anaknya itu tidak terus mendekat dirinya
(Fatahillah Malik, sepertinya kamu memang pemuda yang memiliki ilmu Kanuragan. haruskah aku meminta bantuan kepadamu) batin pak Umar menutup matanya
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 153 Episodes
Comments
Eishika Eis
mantap thour ada ilmu gaib yg ta bisa di lihat oleh kasad mata.emg bener adanya.
2023-11-11
3
Vee J. kiki
wahhh baru baca novel ini karna penasaran, setelah baca novel yg lainnya...
keren bgt fatah punya khodam...
2023-09-07
0
Mr.VANO
cerita novelmu bagus bangat,,,tp yg komen dikit
2023-04-27
1