setelah melihat keadaan Hanum, pak Odir dan pak Umar juga ibu Rosida kini sedang berada di ruang keluarga. mereka harus mengambil keputusan yang terbaik untuk Hanum dan juga Hasan.
"bagaimana kalau Fauzan saja yang mengurus Hasan di sini, kita harus segera membawa Hanum ke desa itu pak. kasian Hanum jika dibiarkan terlalu lama" ibu Rosida memberikan usulnya
"maaf bu, saya tidak bisa meninggalkan Hasan begitu saja. sama halnya Hanum adalah anak ibu maka Hasan adalah keponakan saya yang sudah saya anggap seperti anak sendiri. sejak orang tuanya sudah tidak ada, sejak saat itu saya dan istri saya menjadi orang tua untuk Hasan" pak Odir memberikan alasannya
ibu Rosida menghela nafas panjang. bagaimanapun juga dirinya tidak bisa egois hanya memikirkan Hanum tanpa memikirkan keadaan orang lain.
"pak Umar tolong hubungi Fauzan, minta dia untuk menemui Fatahillah di rumah sakit. dia pasti bisa membantu kita seperti yang dikatakannya semalam di rumah sakit" pak Odir melihat pak Umar
pak Umar mengangguk dan mengambil ponselnya untuk menghubungi Fauzan.
Fauzan
assalamualaikum pak, ini saya lagi di jalan menuju ke rumah bapak
pak Umar
kamu ke rumah sakit saja Zan, tolong temui Fatahillah dan bilang padanya kita membutuhkan bantuannya secepatnya
Fauzan
apa terjadi sesuatu dengan Hasan pak...?
pak Umar
tidak, tapi ini keadaan yang mendesak. kita tidak boleh menundanya lagi
Fauzan
baiklah, saya akan ke rumah sakit sekarang
setelah berbicara dengan pak Umar lewat panggilan telepon, Fauzan memutar balik mobilnya dan menuju ke rumah sakit.
Fatahillah saat ini sedang menyuapi ibunya makan. namun kegiatannya itu terhenti saat ponselnya yang ada di atas meja bergetar.
"angkat dulu nak, mungkin saja penting" ucap ibu Khadijah
"sebentar ya bu" Fatahillah meminta izin untuk mengangkat telpon dan ibu Khadijah mengangguk
saat melihat siapa yang menghubunginya, Fatahillah segera mengangkat telpon dari adik ibunya yang berarti adalah bibinya sendiri. di layar ponsel tertulis nama bibi Fatimah
Fatahillah
assalamu'alaikum bi
bibi Fatimah
wa alaikumsalam. Fatah, kamu dan ibumu kemana...? kenapa rumah dikunci tidak ada orang
Fatahillah
astaghfirullah, Fatah lupa memberi tahu bibi
Fatahillah menepuk jidatnya karena dirinya lupa mengabari ibu Fatimah kalau kakaknya sedang sakit dan di rawat di rumah sakit
bibi Fatimah
lupa bagaimana nak, kalian kemana. ini bibi mau membawakan makanan untuk kalian kebetulan bibi masak banyak
Fatahillah
kami di rumah sakit bi
bibi Fatimah
loh siapa yang sakit, kenapa tidak mengabari bibi
Fatahillah
maaf ya bi, Fatah benar-benar lupa. sekarang kami di rumah sakit karena ibu terkena demam berdarah
bibi Fatimah
ya sudah, bibi ke rumah sakit sekarang
ibu Fatimah mematikan panggilannya dengan cepat dan bergegas menuju ke rumahnya untuk memberitahu anaknya agar mengantarnya ke rumah sakit.
"bibi Fatimah ya Fatah...?" ibu Khadijah bertanya
"iya bu, dia mau ke sini. sekarang ibu lanjut makan ya" Fatahillah kembali menyuapi ibunya
"kamu tidak mengajar hari ini nak...?"
"tidak bu, kalau ibu sudah pulang ke rumah baru Fatah mengajar"
Fatahillah adalah seorang dosen di salah satu universitas negeri di kota itu.
setelah menyuapi ibunya makan, Fatahillah memberikan obat kepada ibu Khadijah untuk ia minum kemudian membaringkan kembali ibunya agar ibu Khadijah beristirahat.
ting
satu pesan masuk di ponsel milik Fatahillah. ia segera mengambil benda pipih itu dan beranjak ke sofa. ada beberapa pesan yang masuk, dari teman sesama dosen, mahasiswa yang dibimbingnya dan juga dari salah satu wanita yang ia antar pulang kemarin.
Fatahillah membuka pesan temannya dan juga mahasiswa yang mencarinya.
Adipati : dimana kamu, nggak ngajar kah...?
Fatahillah mengetik pesan yang akan ia kirim kepada temannya itu. setelah membalas pesan Adipati, ia membuka pesan mahasiswa bimbingannya.
bimbingan Darvin : pak saya mau konsul skripsi, apa bapak ada waktu
Fatahillah : lain kali saja, saya sedang di rumah sakit
Anisa : lagi dimana mas...?
saat membaca pesan dari Anisa, Fatahillah melihat beberapa menit pesan itu tanpa berniat untuk membalasnya. namun ternyata pesan dari wanita itu masuk lagi.
Anisa : kenapa hanya dibaca tidak dibalas
akhirnya Fatahillah pun mulai mengetik untuk membalas pesan Anisa.
Fatahillah : di rumah sakit, ibu sakit demam berdarah
cek lek
"assalamualaikum" pintu terbuka, Fauzan baru saja datang
"wa alaikumsalam, Fauzan" Fatahillah berdiri menyambut laki-laki itu
"maaf Fatah tidak sempat mengabari karena saya tidak punya nomor telepon mu"
"tidak mengapa saya senang kamu datang. duduklah" keduanya duduk di sofa
"bagaimana dengan Hasan...?" tanya Fatahillah
"itulah alasan saya datang mengganggu mu pagi ini"
"sama sekali tidak mengganggu mas. ada apa...?"
"saya tidak tau apa yang terjadi di rumah pak Umar namun beliau memberitahu saya untuk datang menemui kamu dan mengatakan kalau mereka membutuhkan bantuan kamu secepatnya. sepertinya terjadi sesuatu di sana namun saya juga belum tau apa itu karena saya baru saja dari rumah"
dalam keadaan seperti itu, Fatahillah menjadi bingung. dirinya tidak mungkin meninggalkan ibunya seorang diri namun di tempat lain Hasan harus segera ia tolong.
melihat raut wajah Fatahillah yang bingung untuk mengambil keputusan, Fauzan pun mengambil sikap.
"saya tau keadaan kamu, kalau begitu saya akan beritahu pak Umar kalau kamu belum bisa membantu" Fauzan hendak mengambil ponselnya namun saat itu juga pintu ruangan itu terbuka
"bibi" Fatahillah tersenyum sumringah saat ibu Fatimah datang
"bagaimana keadaan ibumu, dia baik-baik saja kan...?" ibu Fatimah menghampiri kakaknya yang tertidur di ranjangnya
"sudah membaik bi, Alhamdulillah bibi datang. Fatah boleh minta tolong tidak bi...?"
"ada apa, kamu kalau ada perlu di luar maka pergilah, bibi akan menjaga ibumu di sini" ibu Fatimah seakan tau kalau keponakannya itu mempunyai urusan penting
"iya bi saya harus mengerjakan sesuatu dengan teman saya ini. minta tolong ya bi jaga ibu sebentar" ucap Fatahillah
"jangan risau nak, selesaikan dulu urusanmu ibumu biar menjadi urusan bibi"
Fatahillah merasa lega. ia kemudian mendekati ibunya yang masih tertidur dan mencium keningnya. setelah itu ia berpamitan kepada ibu Fatimah. Fatahillah mencium tangan ibu Fatimah begitu juga dengan Fauzan. kedua laki-laki itu meninggalkan rumah sakit dan segera menuju ke rumah pak Umar.
di tempat lain seorang laki-laki yang tidak berdaya, sedang dalam keadaan terikat kedua kaki dan tangannya. di tempat itu sangat berbeda dari biasanya, tidak ada orang pun di sekitarnya. laki-laki itu berada di sebuah gubuk di tengah hutan. dialah Hasan, yang entah siapa menarik jiwanya dan mengurungnya di tempat yang tidak bisa dijangkau oleh manusia lain. tubuh Hasan sudah penuh dengan luka dan goresan.
bibirnya mengering dan sudah mengelupas. Hasan tidak memakai baju, hanya celana yang melekat di tubuhnya. keadaannya sekarang benar-benar sangat mengenaskan.
"kamu masih tidak ingin bicara dimana dia menyimpan apa yang aku tanyakan tadi...?" seseorang mencengkeram wajah Hasan
"huh" Hasan tersenyum tipis dan mengejek orang itu
"kamu kuat dan punya power kan. harusnya tanpa menculik jiwaku, kamu bisa mendapatkan apa yang kamu cari" Hasan menatap sinis ke arah orang itu
"rupanya kamu memang seseorang yang loyalitas. Umar akan rugi kehilangan orang sepertimu dan memang kamu sudah dianggap mati oleh mereka"
Hasan tidak menggubris orang itu. yang ada dalam pikirannya sekarang adalah dirinya tidak bisa lagi berkumpul dengan keluarganya. pasti tubuhnya sudah dikuburkan oleh pamannya, hal itu membuat Hasan sangat terluka.
"nikmati penderitaan mu di sini" orang itu pergi meninggalkan Hasan seorang diri
Fatahillah dan Fauzan telah tiba di rumah pak Umar. mobil Fauzan parkir di garasi dan keduanya keluar dari mobil.
mereka masuk ke dalam rumah dimana di ruang tamu pak Umar, pak Odir dan ibu Rosida sudah menunggu mereka sejak tadi. sebelum berangkat dari rumah sakit, Fauzan telah menghubungi pak Umar bahwa mereka akan segera ke rumah bosnya itu.
"Fatah, maaf kami mendesak mu datang kemari" ucap pak Odir
"tidak apa-apa pak, sekarang saya ingin melihat Hasan" jawab Fatahillah
mereka segera ke kamar yang ditempati Hasan. di dalam kamar, Hasan seperti seseorang yang sedang tidur namun bedanya kini laki-laki itu jiwanya yang tidak lagi bersama dengan tubuhnya.
"saya akan mencari jiwa Hasan" ucap Fatahillah
"caranya...?" tanya pak Umar
"lepas raga" jawab Fatahillah
"kamu akan mati seperti Hasan...?" pak Umar kaget
"tidak pak, meskipun jiwa saya keluar dari tubuhku namun keadaan saya tidak sama seperti Hasan"
"saya meminta kamar ini di kosongkan dan hanya ada saya serta Hasan di dalam kamar ini. saya akan mengunci kamar ini dari dalam. siapapun tidak boleh ada yang masuk ke dalam kamar sebelum saya keluar dari kamar ini" Fatahillah menjelaskan
"hati-hati Fatah, kami percaya padamu untuk membawa Hasan kembali" pak Odir sangat berharap kepada pemuda itu
setelah mendapat syarat dari Fatahillah, mereka kemudian keluar dari kamar itu. tersisa Fatahillah dan Hasan di dalam kamar. Fatahillah masuk ke kamar mandi dan berwudhu kemudian melakukan sholat dua rakaat. ia meminta pertolongan kepada yang Maha Kuasa agar diberikan perjaka yang mudah untuk dirinya menyela Hasan.
setelah melakukan sholat dua rakaat, Fatahillah duduk bersila di pojok kamar. ia kemudian menutup mata dan bibirnya membaca sesuatu hingga kemudian yang terjadi selanjutnya jiwanya keluar dari raganya.
Fatahillah melihat tubuhnya masih duduk bersila dalam keadaan menutup mata, ia juga melihat tubuh Hasan yang terbaring di atas ranjang.
"bismillah"
Fatahillah langsung menghilang di kamar itu dan dirinya tiba-tiba saja sudah berada di tengah hutan.
Fatahillah melangkah mengikuti instingnya, hutan yang sangat luas dan banyak makhluk gaib sebagai penghuni hutan itu. beberapa dari mereka menatap tajam Fatahillah, bahkan ada yang menghadang dirinya dan mengepung pemuda itu.
"saya tidak punya urusan dengan kalian" ucap Fatahillah
tidak mendengarkan ucapan Fatahillah, mereka yang berwajah mengerikan itu langsung menyerang Fatahillah. tentu saja Fatahillah tidak tinggal diam, ia melawan dan membuat satu persatu makhluk-makhluk itu mengerang kesakitan dan hilang seperti debu.
Fatahillah kembali melangkah. dia menyusuri hutan itu dan beberapakali bertemu dengan penghuni hutan itu. ada yang takut dengan kedatangan Fatahillah namun ada juga yang menyerangnya dan ingin menyakiti dirinya.
hingga kemudian dirinya bertemu dengan seseorang yang sangat dikenalnya di hutan itu. seorang wanita sedang berdiri tegak dan tersenyum hangat ke arahnya.
"ibu"
Fatahillah memanggil wanita itu, wanita yang sangat mirip dengan wajah ibunya.
"kemari nak" ibu Khadijah memanggil Fatahillah
ibu Khadijah adalah wanita yang sangat tidak bisa dilukai oleh Fatahillah. jangankan melukai, melihatnya menangis saja Fatahillah langsung mengutuk dirinya sendiri.
"kemari lah nak" ibu Khadijah masih tetap memanggil Fatahillah
Fatahillah seakan terhipnotis segera melangkah mendekati ibunya. tangan wanita itu sudah terulur untuk menggapai tangan Fatahillah.
Fatahillah tersenyum dan semakin dekat dengan ibu Khadijah. tangannya terangkat dan akan menggapai tangan ibu Khadijah. namun sedetik kemudian senyuman Fatahillah terganti dengan seringai yang mengerikan.
"kami pikir dengan berubah menjadi wujud ibuku, kamu bisa mengelabui ku makhluk hina" Fatahillah menyeringai
wanita itu kaget dan dengan cepat menarik tangannya namun terlambat, Fatahillah dengan cepat menangkap tangan wanita itu dan menggunakan kekuatannya sehingga wanita itu terbakar seketika.
teriakan wanita itu menggema di hutan itu. hingga kemudian wanita itu berubah menjadi makhluk yang mengerikan dan hilang seperti debu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 153 Episodes
Comments
warkop Teteh kuningan
sampe kagheeet akuuu,,kirain ibunya jahat ada d hutan.
2023-11-07
2
Mr.VANO
luar biasa ilmu fatahila,,,,,pantas fatahila tundu patuh dg ibuny,,,,,krn itu persaratan utama menyambut ilmu yg di pegang fatah,,,,sok tahu ak ya
2023-04-27
3
V3
smg Fatah bisa menemukan jiwa nya Hasan
2023-02-26
1