"syukurlah kamu baik-baik saja, kami cemas memikirkan dirimu yang sudah tiga hari tidak keluar kamar" pak Umar memeluk erat Fatahillah seperti anaknya sendiri
"jadi saya sudah pergi selama tiga hari...?" Fatahillah bertanya
"iya, kami bahkan hampir akan masuk ke dalam namun teringat dengan pesan yang kamu katakan, akhirnya kami mengurungkan niat" pak Umar melepas pelukannya
(ternyata lama juga aku pergi) batin Fatahillah
Fatahillah tidaklah kaget mendengar dirinya berada di dunia gaib selama tiga hari. hal seperti itu adalah pengetahuannya umum baginya, bukan hal yang baru.
"Fatah, kamu sudah keluar...?" pak Odir yang baru saja keluar dari kamarnya langsung menghampiri mereka
"iya pak" jawab Fatahillah
"lalu bagaimana dengan Hasan, kamu berhasil membawanya pulang kan" tanya pak Odir lagi
"sebaiknya hubungi dokter untuk memeriksa Hasan" ucap Fatahillah
"Zan, hubungi dokter Yusuf" pak Umar memerintahkan Fauzan untuk menghubungi dokter pribadi mereka
"baik pak" segera Fauzan menghubungi dokter Yusuf
setelah menghubungi dokter Yusuf, Fauzan memberitahu pak Umar bahwa dokter Yusuf akan segera datang. pak Odir tetap menempatkan Hasan di dalam sedangkan yang lain keluar dari kamar. di depan kamar Hasan, Fatahillah meminta izin untuk pulang.
"kalau begitu saya pamit dulu pak, saya ingin melihat ibu saya di rumah sakit" ucap Fatahillah
"nak Fatah, ibu ingin bicara penting denganmu" ucap ibu Rosida
"bu jangan menahan Fatahillah, kasian ibunya yang sudah menunggu dirinya selama tiga hari. ibunya pasti khawatir. ibu bisa bicara nanti setelah Fatahillah kembali lagi ke sini" pak Umar berbicara lembut kepada istrinya
"tapi pak"
"bu" pak Umar menegur dengan lembut namun terdengar tegas
"baiklah" ibu Rosida akhirnya mengalah
"saya akan ke sini lagi nanti bu, in shaa Allah. setelah saya kembali, ibu bisa berbicara hal penting itu kepada saya" Fatahillah mencoba melapangkan hati ibu Rosida
ibu Rosida mengangguk, setelah mendengar ucapan Fatahillah.
"Zan, tolong antar Fatahillah ke rumah sakit" perintah pak Umar kepada Fauzan
"baik pak. mari mas, saya antar" ucap Fauzan
Fatahillah mengangguk dan kembali berpamitan pada pak Umar dan ibu Rosida. ternyata di depan, mereka bertemu dengan dengan dokter Yusuf yang baru saja tiba.
"loh Fatah, kamu di sini...?" Yusuf yang ternyata mengenal Fatahillah langsung langsung menyapa
"aku pikir tadi yang dimaksud pak Umar untuk menghubungi dokter Yusuf bukan kamu cup, ternyata dirimu" Fatahillah memeluk Yusuf
"dokter kenal sama Fatahillah...?" tanya Fauzan
"bukan kenal lagi Zan, kami memang sohib dari dulu" Yusuf merangkul bahu Fatahillah
"oooh" Fauzan manggut-manggut
"eh tapi ngomong-ngomong kamu ngapain di sini Fatah...?" Yusuf kembali bertanya karena belum mendapat jawaban dari pertanyaannya
"aku ada urusan di sini" jawab Fatahillah
Yusuf mengangkat satu alisnya, ia belum puas dengan jawaban yang diutarakan oleh Fatahillah.
"akan aku ceritakan nanti, sebaiknya kamu masuk dan periksa pasienmu" Fatahillah tau kalau Yusuf meminta jawaban yang lebih
"kamu sudah mau pulang, cepat sekali. disini saja dulu, kita sudah lama tidak bertemu" ucap Yusuf
"baru juga seminggu" timpal Fatahillah
"bagiku itu sudah setahun" Yusuf menggoda
"ck, aku masih normal ya cup" Fatahillah mendelik dan seketika Yusuf terkekeh
"kalau begitu setelah dari sini aku akan ke rumahmu"
"aku tidak pulang ke rumah Yus, aku ke rumah sakit. ibu sakit demam berdarah"
"astaghfirullah, kamu kenapa tidak memberitahuku"
"ya aku pikir kamu masih mengisi seminar di luar kota"
"ya sudah kalian duluan saja biar nanti aku menyusul" ucap Yusuf
mereka berpisah ke tujuan masing-masing. Fatahillah dan Fauzan ke rumah sakit sementara Yusuf masuk ke dalam rumah untuk memeriksa Hasan.
diperjalanan Fauzan menanyakan sesuatu kepada Fatahillah.
"mas Fatah, boleh saya bertanya...?" Fauzan melirik sekilas Fatahillah kemudian kembali fokus menyetir
"tentu boleh mas, mau tanya apa...?" ucap Fatahillah
"dari pertama kita bertemu, aku merasa mas ini memiliki kemampuan gaib. apakah tebakanku benar...? maaf kalau saya lancang"
"tidak apa-apa mas, itu bukanlah sebuah kelancangan" jawab Fatahillah
"saya memang mempunyai ilmu gaib seperti yang mas Fauzan pikirkan. namun tidak sehebat apa yang mas pikirkan lagi. ilmu saya hanya sebatas ujung kuku" Fatahillah merendah padahal sebenarnya separuh dari ilmu yang dimiliki oleh gurunya telah ia kuasai.
nama kakek Halim begitu terkenal di penjuru dunia ilmu pergaiban. laki-laki yang sudah berumur 60 tahun itu, memiliki kesaktian diatas mereka yang juga memiliki ilmu sihir. hanya satu orang yang ia terima menjadi muridnya yaitu Fatahillah Malik.
"sudah saya duga" Fauzan tersenyum mendengar jawaban dari Fatahillah
"kini bolehkah saya bertanya...?" ucap Fatahillah
"silahkan mas. kalau saya bisa jawab, tentu saya akan menjawabnya" jawab Fauzan
"apakah mas tau tentang latar belakang keluarga pak Umar...?" tanya Fatahillah
mendengar pertanyaan itu, Fauzi melirik sekilas ke arah Fatahillah kemudian kembali fokus menyetir.
"maaf mas saya tidak berniat jahat. hanya saja saya penasaran, apa yang dibuat oleh pak Umar sehingga ada orang yang menginginkan nyawanya. bahkan pernah kami dihadang oleh para ninja untuk membunuh pak Umar" Fatahillah menjelaskan maksud dari pertanyaan yang ia lontarkan
"saya juga tidak tau mas. untuk para ninja itu, kami pun bahkan pernah di serang saat sedang membawa Hasan pulang ke rumah. waktu itu untungnya ada pak Odir yang membantu ku. mereka juga mengincar pak Umar"
"pasti ada alasan kenapa para ninja itu disuruh untuk membunuh pak Umar. kita mungkin tidak tau tapi pak Umar jelas pasti tau"
"tapi pak Umar juga pernah mengatakan kalau dirinya tidak tau kenapa mereka ingin mencelakainya"
"apa iya dia tidak tau" gumam Fatahillah
percakapan mereka terhenti tatkala mobil putih milik Fauzan berhenti di depan rumah sakit.
"terimakasih mas" ucap Fatahillah
"sama-sama, tapi maaf saya tidak bisa ikut ke dalam karena harus kembali lagi ke rumah pak Umar" jawab Fauzan
"tidak apa-apa, kalau begitu mas Fauzan hati-hati di jalan"
Fauzan mengangguk dan tersenyum. setelahnya Fatahillah keluar dari mobil kemudian Fauzan menyalakan mobilnya meninggalkan rumah sakit.
dengan kaki panjangnya, Fatahillah melangkah cepat masuk ke lobi rumah sakit dan menuju tempat ruangan ibunya di rawat.
saat membuka pintu, pemandangan pertama yang Fatahillah lihat adalah seorang wanita yang memakai gamis dan jilbab panjang serta memakai cadar sedang menyuapi laki-laki baya yang sedang terbaring di ranjang. ketika pintu terbuka, yang berada di dalam ruangan itu refleks melihat ke arah pintu.
"ada apa mas...?" wanita itu bertanya kepada Fatahillah
Fatahillah menjadi bingung, bukankah itu kamar rawat ibunya lalu mengapa orang lain yang menempati, itulah yang ada dalam pikirannya.
"mas" panggil wanita itu lagi
"eh, maaf... sepertinya saya salah kamar" Fatahillah tersadar dan tersenyum ke arah kedua orang yang berada di dalam
namun saat dirinya menatap laki-laki yang terbaring di ranjang rumah sakit itu, Fatahillah melihat ada energi hitam yang menyelimuti laki-laki itu, ia dapat merasakannya.
"mohon maaf apakah saya bisa masuk...?" tanya Fatahillah dengan sopan
wanita bercadar itu menatap lekat Fatahillah. tau kalau dirinya sedang ditelisik, Fatahillah mengatakan maksud tujuannya bukan untuk berbuat jahat.
"silahkan" ucap wanita itu
Fatahillah menutup pintu dan mendekat ke arah ranjang. ia mendekat ke sisi kanan karena di sisi kiri adalah tempat wanita itu.
"dia ayah saya" wanita itu memperkenalkan laki-laki yang sedang ia rawat
laki-laki itu menatap Fatahillah dengan tatapan sendu. tubuhnya sulit untuk ia gerakkan, hanya matanya saja yang dapat ia tutup dan buka kembali.
"kalau boleh tau, beliau sakit apa...?" tanya Fatahillah
"entahlah, tiba-tiba saja ayah sudah seperti ini padahal kemarin dia masih sangat sehat dan baik-baik saja. namun setelah kami dari melakukan perjalanan jauh, seminggu setelah itu ayah sudah seperti ini" wanita itu menatap sedih ayahnya
Fatahillah memegang tangan laki-laki itu, terasa hangat dan tidak dingin. saat menyentuhnya, energi hitam itu mulai sangat terasa bahkan ia dapat merasakan energi Fatahillah tertarik olehnya.
"astagfirullahaladzim" Fatahillah respek menarik tangannya
"kenapa mas...?" wanita tadi yang fokus melihat apa yang dilakukan Fatahillah, bertanya
"maaf, apa boleh saya tau perjalanan jauh yang kalian tempuh itu darimana...?" Fatahillah menatap serius wanita bercadar itu
"kami dari menghadiri pernikahan sepupuku di kota Y" meski bingung kenapa Fatahillah menanyakan hal itu namun ia tetap menjawab pertanyaan Fatahillah
"di daerah mana...?"
"daerah Manggada desa Murhum"
" apakah sebelum ke tempat itu ayahmu baik-baik saja...?"
"iya, bahkan sangat terlihat bugar dan tidak ada tanda-tanda untuk dia sakit. di pernikahan pun ayah sangat bersamangat melihat kakak sepupuku menikah. namun seminggu setelah itu keadaan ayah menjadi seperti ini" wanita itu memegang tangan ayahnya dan menciumnya dengan kasih sayang
(dia terkena guna-guna, ini bukan sakit biasa) batin Fatahillah
"maaf kalau saya lancang dan mengatur namun sebaiknya kamu membawa ayahmu untuk diobati"
"saya datang kemari memang untuk berobat mas" wanita itu menatap heran Fatahillah
"maksud saya bukan diobati dengan cara medis namun...."
"di ruqiah maksudnya...?" tanya wanita itu dan Fatahillah mengangguk pelan
"apa maksudmu ayahku terkena guna-guna...?"
"itu yang saya rasakan saat menyentuhnya tadi"
"mas mempunyai penglihatan seperti itu...?"
"sedikit" lagi-lagi Fatahillah merendah
"cobalah untuk membawa beliau ke tempat orang yang bisa menyembuhkannya. kalau begitu saya permisi"
Fatahillah hendak keluar dari ruangan itu namun wanita itu menahannya dengan panggilan.
"tunggu mas"
Fatahillah berbalik dan menatap mata wanita itu yang memang hanya kedua matanya yang terlihat.
"ya" ucap Fatahillah
"kalau mas mengetahui ayahku diguna-guna, itu artinya mas juga mempunyai keahlian untuk menyembuhkan. saya minta tolong, tolong sembuhkan ayah saya. saya memang sudah curiga penyakit ayah bukan penyakit biasa. dia sering mengigau tidak jelas dan meminta tolong agar tidak disakiti padahal di dekatnya tidak ada siapa-siapa selain saya"
"tolong mas" wanita itu memohon
Fatahillah menarik nafas. sebenarnya dirinya sangat lelah, seharian bertarung untuk menyelamatkan Hasan yang ternyata dirinya sudah tiga hari berada di alam lain. ia ingin berisi sejenak namun hati nuraninya tidak tega melihat SEO wanita memohon kepadanya.
"saya tidak bisa melakukannya di sini, akan sangat beresiko. sebaiknya bawah pulang ayahmu dirumah"
"baiklah saya akan mengurus kepulangan ayah" wanita itu tersenyum lega dibalik cadarnya
"tapi maaf saya tidak bisa membantu sekarang, akan saya hubungi kamu jika saya sudah punya waktu luang. berikan nomormu padaku"
Fatahillah mengambil ponselnya untuk menyimpan nomor wanita itu. setelahnya ia keluar dari ruangan itu dan menghubungi ibu Fatimah untuk menanyakan ibunya.
Fatahillah
assalamualaikum bi
bibi Fatimah
wa alaikumsalam, Fatah kamu dimana, kenapa tidak pulang-pulang. kami mengkhawatirkan mu nak, ya Allah
Fatahillah
nanti Fatah jelasin bi. sekarang bibi lagi dimana, ibu dimana...?"
bibi Fatimah
dirumah, ibumu sudah pulang sejak kemarin sekarang kamu pulang, dia sangat khawatir padamu
Fatahillah
baik bi, Fatah pulang sekarang juga. assalamualaikum
bibi Fatimah
wa alaikumsalam
"siapa Fat...?" ibu Khadijah bertanya saat baru saja datang dari dapur
"itu tadi Fatah mbak, dia akan pulang" ibu Fatimah mendekat ibu Khadijah
"dia baik-baik saja kan...?"
"Alhamdulillah, dia baik-baik saja"
"kalau begitu aku harus masak, kasian dia pulang tapi tidak ada makanan"
"ya sudah, ayo aku bantu"
Fatahillah meninggalkan rumah sakit dan memesan taksi online. dirinya sudah tidak sabar ingin bertemu dengan ibunya. namun baru juga meninggalkan pekarangan rumah sakit, ponselnya berdering, Fauzan menghubunginya.
Fatahillah
assalamualaikum
Fauzan
Fatah, Hanum Fatah, Hanum
suara panik diujung telpon membuat Fatahillah kelimpungan.
Fatahillah
kenapa dengan Hanum mas
Fauzan
Hanum, disini
tuuuuuuut
belum Fauzan menjawab diujung sana, panggilan terputus begitu saja. hal itu membuat Fatahillah segera menyuruh sopir taksi untuk menuju ke arah rumah pak Umar.
dari suara Fauzan tadi dapat Fatahillah rasakan kalau terjadi sesuatu di sana.
"pak cepat pak"
"ini sudah cepat mas"
"lebih cepat lagi pak, ini menyangkut nyawa seseorang"
pak sopir yang mendengar itu langsung tancap gas melambung kendaraan yang lain. bahkan sebagian kendaraan mengumpat sumpah serapah karena taksi itu melaju begitu kencang dan menyelinap masuk di setiap kendaraan yang lain.
jarak yang harusnya ditempuh setengah jam kini hanya beberapa menit saja taksi warna kuning itu sudah terparkir di luar pagar rumah pak Umar.
"ini uangnya pak, terimakasih banyak"
Fatahillah tidak lagi menunggu jawaban dari supir taksi itu, ia langsung keluar dan berlari masuk ke dalam.
"pak Anto" Fatahillah memanggil satpam yang berjaga di depan namun laki-laki itu tidak menjawab dan hanya berdiam diri dengan tatapan kosong
Fatahillah menghampiri pak Anto, ia menggerakkan tangannya di depan wajah laki-laki itu namun sama sekali tidak bereaksi. Fatahillah juga menghampiri penjaga yang lain namun keadaan mereka sama seperti yang dialami pak Anto.
"mereka digendam" ucap Fatahillah
tanpa pikir panjang Fatahillah berlari untuk masuk ke dalam rumah namun dirinya terpental jauh dan bahkan menabrak pohon bonsai di halaman depan rumah.
"pagar gaib" gumamnya dan berusaha untuk bangun
"celaka, mereka dalam bahaya"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 153 Episodes
Comments
Endro Budi Raharjo
ya fatah ya rojak....
2025-03-22
0
Minus Muhadi
nolong orang pake diulur ukur... uda kaya mobil angkot bolak balik aj,gk ada kejelasan...huhhh membagongkan/Frown//Frown//Frown//Frown/
2024-08-13
0
sudin we
cerita yg aneh,,,mau nolong ko di tunda"gimana kalo penyakitnya tambah parah,,hadeuuuh
2023-12-11
0