sekian jam menyusuri hutan bagian timur, kini Fatahillah telah berada di tempat tujuannya. di depan sana terlihat sebuah gubuk, hanya ada satu-dua gubuk itu di hutan belantara itu. dengan cepat Fatahillah mendekat dan akan masuk ke dalam namun dirinya terpental jauh saat baru saja hendak memegang pintu gubuk tersebut.
"ah sial, rupanya diberi pelindung" Fatahillah bangun kembali
untuk bisa masuk ke dalam, maka ia harus membuka pagar gaib yang mengelilingi gubuk itu. Fatahillah membaca sesuatu, bibirnya bergerak dan tangan kanannya ia arahkan ke depan, sinaran cahaya putih keluar dari telapak tangan Fatahillah, cahaya itu merusak pagar gaib gubuk tersebut.
kakinya pelan melangkah dan membuka pintu. di dalam gubuk seorang pemuda yang sudah tidak berdaya sedang diikat kedua tangannya dan dibiarkan berdiri begitu saja. kepalanya menunduk, seluruh tubuhnya penuh bekas cambukan dan lebam.
"Hasan" Fatahillah mendekati pemuda itu
"Hasan, sadar" Fatahillah berusaha menyadarkan Hasan
perlahan mata Hasan terbuka dan mengerjap beberapa kali untuk melihat wajah Fatahillah dengan jelas.
"kamu.... siapa...?" Hasan bertanya dengan suara pelan
"saya Fatahillah, saya datang untuk menyelamatkanmu. bertahanlah, akan saya buka ikatan tanganmu"
Fatahillah lagi-lagi membaca sesuatu kemudian meletakkannya telapak tangannya di ikatan tangan Hasan. seketika ikatan besi yang sudah dimantrai agar tidak terbuka langsung terlepas begitu saja. tubuh Hasan luruh ke lantai, untungnya Fatahillah dapat menangkapnya.
"sakit, saya sudah tidak kuat" Hasan meringis kesakitan
Fatahillah mencari kain di gubuk itu, rupanya baju Hasan ada di tempat itu. segera Fatahillah mengambil baju pemuda itu dan memakaikannya.
"saya akan membawamu kembali ke tubuhmu. bertahanlah, semua orang sedang menunggumu" Fatahillah membantu Hasan untuk berdiri namun pemuda itu sudah tidak sanggup untuk menopang tubuhnya
tidak ada cara lain, Fatahillah akhirnya menggendong Hasan di punggungnya dan keluar dari gubuk itu. sayangnya di luar sana, seseorang ternyata sudah berdiri menunggu mereka berdua.
prok
prok
prok
laki-laki itu bertepuk tangan menyaksikan Fatahillah berusaha menyelamatkan Hasan.
"waaah ternyata saya kedatangannya tamu tak diundang" ucapnya dengan senyuman tipis
"*pergilah dan selamatkan pemuda itu, dia berada di bagian timur hutan ini. namun kamu harus berhati-hati karena disana kamu akan menghadapi musuh"
(apa musuh yang dimaksud guru adalah laki-laki ini) Fatahillah menatap laki-laki yang ada di depannya beberapa meter darinya*
"saya tidak ada urusannya denganmu lalu untuk apa kamu datang kemari...?"
Fatahillah menurunkan Hasan dari gendongannya dan menyandarkan pemuda itu di dinding gubuk.
"saya datang untuk menjemputnya" Fatahillah melihat Hasan kemudian kembali melihat laki-laki itu
"berani sekali kamu datang ke sini. dia adalah tawananku, kamu tidak berhak membawanya pergi"
"saya berhak karena keluarganya sedang menunggunya. harusnya kamu yang tidak berhak menarik paksa jiwa seseorang dan menyiksanya seperti hewan"
"hahahaha, dia pantas mendapat itu"
"kalau begitu berarti kamu juga pantas mendapatkan balasan dariku atas perbuatan mu terhadap saudaraku"
"oooh, jadi dia saudaramu. pantas saja kamu rela mengantar nyawa untuk menyelamatkannya"
"hhh...terbalik, kamu yang datang mengantarkan nyawamu padaku" Fatahillah tersenyum simpul
"kamu tidak akan bisa membawa pergi dirinya"
"kalau saya tidak bisa membawanya dengan baik-baik maka saya akan membawanya dengan cara paksa"
"berarti kamu harus menghadapi diriku terlebih dahulu"
"tentu saja, dengan senang hati" Fatahillah begitu tenang menghadapi laki-laki itu
laki-laki itu tersenyum menyeringai, ia kemudian mengangkat kaki kirinya kemudian menginjak tanah sebanyak dua kali. tanah bergetar dan keluarlah seekor ular besar dari dalam tanah.
Fatahillah hanya menatap tenang ular yang keluar dari tanah itu. ia pun memanggil teman gaibnya.
"Langon"
goaaaaarrrrr
harimau putih muncul tiba-tiba di samping Fatahillah. hewan itu bermanja di kaki Fatahillah dan mengelilingi tuannya.
"serang mereka" laki-laki itu memerintahkan ularnya
"serang dia Langon"
goaaaaarrrrr
aungan harimau itu menggema di dalam hutan. kini harimau putih dan seekor ular itu saling bertarung satu sama lain. kedua tuan mereka pun ikut bertarung. laki-laki itu menyerang Fatahillah dan tentu saja Fatahillah akan melawan.
ular milik laki-laki tadi melilit harimau putih milik Fatahillah. harimau itu terus mengaum mencoba melepaskan tubuhnya. ia menggunakan gigi tajamnya dan menggigit ular itu sampai ular itu kesakitan dan melepaskannya lilitannya.
goaaaaarrrrr
harimau putih kembali menyerang ular itu. ekor ular itu akan menyerang harimau putih namun dengan lincah harimau milik Fatahillah meloncat dengan tinggi dan mendarat di leher ular itu.
ia menggigit ular itu sampai terus mengeluarkan darah. harusnya harimau putih kalah dengan ular besar itu namun ternyata harimau milik Fatahillah sungguh seperti tuannya, sangat lincah dan kuat.
goaaaaarrrrr
kepala ular putus akibat gigitan dari si harimau putih. laki-laki itu yang sedang melawan Fatahillah begitu kaget, ularnya mati mengenaskan.
"kamu hebat" Fatahillah mengelus kepala harimau putih
"KURANG AJAR"
laki-laki itu melesatkan cahaya merah dari telapak tangannya ke arah Fatahillah. Fatahillah menangkis dengan mengeluarkan sihirnya hingga kekuatan mereka saling bertemu. keduanya saling mempertahankan posisi agar tidak ada yang kalah.
laki-laki itu mendorong tenaganya agar Fatahillah mundur dan terkena sihirnya namun Fatahillah tidak semudah itu untuk dikalahkannya. Fatahillah berputar dan memukul mundur sihir laki-laki itu hingga kemudian laki-laki itu kalah dan terpental mengenai batang pohon.
ia terbatuk-batuk dan mengeluarkan darah dari mulutnya. dirinya mencoba berdiri dan menutup mata mengaitkan jari-jarinya di depan dadanya. angin kencang berhembus, ranting-ranting kayu mulai bergoyang-goyang bahkan hampir saja Fatahillah ditindih oleh batang pohon yang jatuh. untungnya ia segera menghindar.
ternyata laki-laki itu melakukan jurus seribu bayangan. dirinya menjadi banyak dan semakin banyak bahkan mengelilingi Fatahillah dan harimau putih.
"hahahaha.... hahahaha"
suara tertawa dari semua bayangan itu menggema di dalam hutan.
"langon, bersiap melawan" Fatahillah mengambil kuda-kuda untuk melawan
Fatahillah dan harimau putih kembali bertarung dengan banyaknya bayangan laki-laki itu. entah mana yang asli, Fatahillah tidak tau. dirinya sama sekali tidak fokus untuk mencari tau mana yang asli dan bukan.
goaaaaarrrrr
goaaaaarrrrr
harimau putih mencabik-cabik bayangan laki-laki itu hingga lenyap dan menjadi debu. Fatahillah mengeluarkan keris miliknya. keris itu muncul dari telapak tangannya saat dirinya membaca mantra untuk mengeluarkannya. dengan keris itu, Fatahillah menusuk setiap bayangan dari laki-laki itu hingga lenyap seketika.
meskipun sudah banyak yang ia musnahkan bersama harimau putih namun bayangan kaki itu semakin tidak ada habisnya.
(kalau seperti ini terus, aku akan lelah sendiri. aku harus mencari manusia aslinya, hanya dengan melukai yang asli maka semua bayangan ini akan hilang) batin Fatahillah
"kamu sudah ingin menyerah begitu saja...?" salah satu dari mereka bertanya
(fokus Fatah fokus) Fatahillah mencoba untuk tetap fokus melihat setiap laki-laki yang sama semua berada di depannya
(hanya ada satu cara untuk menemukan yang asli) batin Fatahillah
"langon, keluarkan cahaya dari tubuhmu" perintah Fatahillah
harimau putih itu mengaum dan sesuai perintah tuannya, ia membuat tubuhnya mengeluarkan cahaya sehingga di tempat itu menjadi terang. dari sinar cahaya itu, Fatahillah melihat dari sekian banyaknya laki-laki itu, hanya ada satu orang yang mempunyai bayangan di tanah saat terkena cahaya.
"dapat" Fatahillah tersenyum simpul
Fatahillah kembali diserang. harimau putih memadamkan cahayanya dan bersiap menyerang. satu persatu Fatahillah memusnahkan bayangan laki-laki itu hingga kemudian dirinya tiba di tubuh yang asli.
"aku mendapatkan mu" Fatahillah menyeringai
jleb
ughh
Fatahillah menusuk laki-laki itu dengan keris miliknya. seketika semua bayangan laki-laki itu hilang tanpa sisa
laki-laki itu tersungkur ke tanah. sebenarnya Fatahillah hanya menusuk tidak terlalu dalam. laki-laki itu jatuh ke tanah dengan darah yang merembes keluar dari perutnya.
"katakan siapa yang menyuruhmu untuk menculik jiwa Hasan" Fatahillah mengorek informasi
"hhh...kamu pikir dengan melukaiku, aku akan mengatakan yang sebenarnya. jangan mimpi" dia tertawa meskipun mulutnya mengeluarkan darah
jleb
aaaggghh
Fatahillah menusuk luka laki-laki itu dengan jari-jarinya, tentu saja teriakannya sebagai pertanda kalau ia kesakitan.
"aku akan melakukan hal yang lebih dari ini jika kamu tidak memberitahu siapa yang menyuruhmu. apakah kamu yang mengirimkan pembunuh bayaran untuk menghabiskan pak Umar"
"ooh, jadi kamu suruhan laki-laki laknat itu. katakan padanya, ajal sebentar lagi akan menjemputnya. dia akan mati mengenaskan perlahan-lahan seperti anak kesayangannya"
Fatahillah kembali menekan luka laki-laki itu hingga kembali teriakan terdengar lagi. katakan atau aku habisi kamu.
jleb
jleb
ughh
dua anak panah kecil mendarat di leher laki-laki itu. niat hati hanya mengancam bukan bermaksud untuk menghabisi namun malah seseorang yang menghabisi laki-laki itu.
Fatahillah tentu saja kaget. ia langsung berdiri untuk melihat siapa yang melakukan itu. dilihatnya bayangan hitam melarikan diri dari tempat itu. Fatahillah ingin mengejar namun dia tidak ingin meninggalkan Hasan sendirian.
"langon, kejar orang tadi"
goaaaaarrrrr
harimau itu langsung melompat berlari mengejar seseorang yang membunuh laki-laki tadi.
Fatahillah kembali menggendong Hasan, mereka meninggalkan tempat itu dan akan pulang. Fatahillah mencari pintu keluar dari hutang itu. di depannya setelah meninggalkan hutan bagian timur, sebuah pintu terlihat. pintu dengan cahaya biru, sinarnya menyinari sebagian hutan itu. Fatahillah melangkah mendekati pintu itu dan membuka kemudian masuk ke dalamnya.
"sudah tiga hari Fatahillah tidak pernah keluar dari kamar itu. apakah dia baik-baik saja...?" pak Umar cemas memikirkan pemuda itu
"kita tidak bisa masuk kalau bukan dia yang keluar. saya pun cemas, semoga dia dan Hasan baik-baik saja" jawab pak Odir
hanya ada pak Umar dan pak Odir di ruang keluarga sementara Fauzan masih di kantor mengurus pekerjaan pak Umar. ia yang mengambil alih pekerjaan bosnya saat pak Umar sudah tiga hari tidak masuk ke kantor.
hari itu sudah akan menjelang malam, jika tembus pagi maka Fatahillah terhitung empat hari berada di dalam kamar tanpa keluar sekalipun.
Adzan magrib berkumandang, pak Umar dan pak Odir bergegas meninggalkan ruang keluarga untuk berwudhu menunaikan panggilan Tuhan.
"simpan saja dulu bi, sholatlah dulu. nanti saja baru diatur di atas meja" ibu Rosida berkata kepada ART
"baik nyonya" bi Asi menjawab patuh
keduanya meninggalkan dapur. bi Asi ke kamarnya yang memang berada di dekat dapur sementara ibu Rosida harus melewati ruang keluarga dan kamar yang ditempati Hasan serta Hanum agar dapat sampai ke kamar.
namun saat di depan kamar Hasan, langkahnya terhenti karena dari dalam kamar itu mengeluarkan cahaya biru. ibu Rosida terperanjat dan langsung berlari mencari suaminya.
tidak menemukan suaminya, ia pun bergegas ke kamar mungkin saja suaminya itu berada di dalam kamar dan benar saja pak Umar sedang melaksanakan sholat magrib dengan khusyuk.
setelah mengucapkan salam, ibu Rosida menahan diri. ia pun ke kamar mandi untuk berwudhu. keluar dari kamar mandi, dilihatnya pak Umar telah selesai sholat.
"pak ibu mau bicara" ibu Rosida mendekatkan suaminya
"sholatlah dulu bu, waktu magrib tidak panjang. ibu bisa cerita setelah sholat" pak Umar menjawab
ibu Rosida mengangguk dan mulai mengambil posisi menghadap kiblat kemudian melakukan kewajibannya sebagai umat Tuhan.
pak Umar menunggu istrinya sambil duduk di ranjang membaca Al-Qur'an. hingga setelah selesai istrinya sholat pak Umar masih mengaji. ibu Rosida mendekati suaminya dan duduk disampingnya.
"pak" panggil ibu Rosida
"sadhakaullahuladzim" pak Umar mengakhiri bacaan Al-Qur'an dan mencium kitab suci itu kemudian meletakkan kembali di tempatnya
"ada apa bu...?" tanya pak Umar
"tadi ibu dari dapur dan akan datang ke kamar. ibu melewati kamar yang ditempati Hasan. kamar itu mengeluarkan cahaya pak, cahaya warna biru"
"cahaya...?" kening pak Umar mengkerut
"iya pak, makanya itu tadi ibu mencari bapak. ayo kita lihat pak, ibu takut Hasan dan Fatahillah kenapa-napa" ibu Rosida memegang tangan suaminya untuk keluar kamar
pak Umar masih mengenakan pakaian sholat sementara ibu Rosida masih mengenakan mukenah. dengan langkah tergesa-gesa keduanya menuju ke kamar Hasan.
"ada apa pak, bu...?" Fauzan yang baru saja tiba langsung bertanya saat melihat pak Umar dan ibu Rosida begitu terburu-buru
"di kamar Hasan...."
"assalamualaikum" seseorang mengucapkan salam
ibu Rosida menghentikan ucapannya. mereka bertiga melihat ke depan. seorang pemuda sedang berdiri sambil tersenyum ramah ke arah mereka.
"Fatahillah" pak Umar kaget pemuda itu sudah keluar dari kamar dan kini sedang bersama mereka
"iya pak, ini saya" jawab Fatahillah
pak Umar segera mendekat dan memeluk Fatahillah. tiga hari ia tidak keluar kamar membuat semua orang mencemaskan dirinya. namun kini mereka merasa lega karena Fatahillah telah keluar dan dirinya baik-baik saja.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 153 Episodes
Comments
Tri Yulianto
berarti ninggalin ibunya di RS 3 hari.. pegimane sih..
2024-10-13
0
Rohad™
Izin jejak dulu 😄
2023-10-07
1
Mr.VANO
syukur la fatahila slmt,,,berhasil membawak jiwa hasan ke tubuny lg
2023-04-27
1