Yusuf berhenti komat-kamit membaca doa setelah mobil mereka berhenti dan terparkir di sebuah rumah yang besar.
keduanya keluar dari mobil mendekati pagar rumah tersebut.
"tidak di kunci" ucap Yusuf saat mendorong pagar tersebut
"ayo masuk" ajak Fatahillah
"Fatah, kita seperti maling saja"
"kita diundang oleh tuan rumah, bagaimana bisa kamu menyebut diri kita maling"
mereka berdua telah sampai di pintu rumah besar itu. Fatahillah menghubungi nomor tadi dan memberitahu bahwa dirinya telah berada di depan rumah.
sekian menit menunggu akhirnya pintu di buka. nampaklah wanita bercadar yang ia temui saat di rumah sakit.
"cepat masuk" ajak wanita itu
setelah Fatahillah dan Yusuf masuk, ia segera menutup pintu dan menguncinya.
"terimakasih telah datang mas, ayah saya ada di kamar. mari saya antar" wanita itu berjalan lebih dulu sementara kedua laki-laki mengikuti di belakang
mereka masuk di sebuah kamar yang besar dan luas. seorang laki-laki paruh baya terbaring di atas ranjang sementara salah seorang laki-laki yang masih terlihat muda, duduk di sampingnya sambil membaca sholawat.
"mas Panji" wanita itu memanggil nama laki-laki yang membaca sholawat itu
laki-laki itu berdiri dan menyambut kedatangan Fatahillah dan Yusuf.
"adik saya Zelina telah memberitahu kedatangan seseorang kenalannya. perkenalkan saya Panji" laki-laki itu mengulurkan tangan
"Fatahillah"
"Yusuf"
"jadi siapa diantara kalian yang bertemu dengan adik saya di rumah sakit...?" tanya Panji
"saya mas, saya yang bertemu dengan Zelina di rumah sakit" Fatahillah menjawab
Panji mendekat Fatahillah dan berdiri tepat di depannya.
"kamu mengatakan kalau ayah saya diguna-guna, jadi tolong lihat keadaan ayah saya. sejak tadi dia meracau tidak jelas dan ketakutan bahkan teriak kesakitan" Panji bergeser agar Fatahillah dapat melihat laki-laki yang terbaring di atas ranjang
"maaf mas Panji, kenapa beliau di bawa pulang padahal keadaannya belum pulih" Yusuf bertanya
"percuma juga berada di rumah sakit kalau sakit yang diderita ayah bukan sakit biasa. apalagi nyawa ayah terancam. bukan hanya ayah, tapi kami bertiga" jawab Panji
"maksudnya bagaimana ya...?" tanya a Fatahillah
"paman saya ingin membunuh ayah untuk mendapatkan semua aset kekayaan milik ayah saya. jadi saya membawa ayah saya dan adik saya kabur dari rumah sakit dan membawa mereka ke tempat ini yang tidak di ketahui oleh mereka" Panji menjawab
"Fatah, badannya panas sekali" Yusuf memegang tangan serta kening laki-laki baya itu
"tolong selamatkan ayah kami mas" Zelina memohon. mata indah itu berharap penuh kepada Fatahillah
"Fatah, apa kamu sanggup. kita baru saja kehilangan tenaga karena perkelahian tadi" Yusuf mendekati Fatahillah dan berbisik di telinganya
"kamu tega melihat keadaannya yang seperti ini...?" Fatahillah memperhatikannya tubuh lemah laki-laki itu
"tentu saja tidak, tapi.... sepertinya yang mengirimkan guna-guna ini adalah orang yang punya ilmu tinggi. aku bisa merasakan itu" Yusuf memegang tangan laki-laki itu dan menutup matanya
"mas Panji, apakah benar tempat ini akan aman dari orang-orang suruhan pamanmu itu...?" Fatahillah melihat ke arah Panji
"paman tidak mengetahui tempat ini, jadi akan aman" jawab Panji
"baiklah, karena jika ada gangguan dari luar tentu saja kita tidak bisa melakukan pengobatan di tempat ini. tapi jika aman, maka kami akan melakukannya di sini" ucap Fatahillah
"Yus, kamu bantu aku ya"
"tentu saja"
"mas Panji dan Zelina, sebaiknya kalian berwudhu dan berdizkir di dalam kamar ini. saya dan temanku ini akan berusaha membantu menyembuhkan ayah kalian. tapi sebelum itu, tolong ambilkan air di wadah untuk saya" ucap Fatahillah
"biar saya ambilkan" Zelina keluar dari kamar menuju ke dapur untuk mengambil air dan kembali lagi ke kamar. air itu ia simpan di atas nakas
setelah itu Panji dan Zelina berwudhu, kemudian mereka duduk di atas sajadah dan mulai berdizkir. sementara Fatahillah dan Yusuf pun berwudhu dan kemudian mendekati laki-laki yang ada di atas ranjang.
"Langon" Fatahillah memanggil hewan peliharaannya
goaaaaarrrrr
"astaghfirullahaladzim" Panji terlonjak kaget dan melompat saat harimau putih itu datang secara tiba-tiba sementara Zelina mundur dengan ketakutan
"tenang mas Panji, dia adalah teman saya" ucap Fatahillah
"t-teman...?" Panji tentu saja kaget
"iya, dia tidak akan menyakiti yang bukan musuhnya. Langon, tolong berjaga di depan rumah ini ya" Fatahillah berjongkok dan mengelus kepala harimau putih itu
goaaaaarrrrr
Langon mengangguk kemudian melesat menembus pintu kamar. Panji dan Zelina saling pandang dan meneguk ludah.
"kita mulai. mas Panji dan Zelina bisa berdzikir kembali" ucap Fatahillah
keduanya mengangguk patuh dan mengambil posisi duduk kembali sementara Yusuf tersenyum-senyum melihat tingkah kedua saudara itu.
"kalau aku jadi mereka, aku pasti sudah jantungan" Yusuf berbicara pelan
"sssttt, diamlah. sekarang kita mulai" Fatahillah menjawab pelan juga
Fatahillah duduk di samping kanan ranjang sementara Yusuf duduk di samping kiri. Fatahillah mengeluarkan tasbihnya dan menyimpan ke dalam air yang diambilkan oleh Zelina tadi.
"audzubillahi minasyaitonirrajim bismillahirrahmanirrahim"
Fatahillah mulai membaca doa, setiap selesai dengan doanya maka ia akan meniup air yang berada di dalam wadah kecil itu yang berisikan dengan tasbih miliknya.
tujuh kali ia melakukan itu kemudian ia mengambil wadah itu dan memasukkan tangannya ke dalam air tersebut. ia memercikkan air itu ke tubuh laki-laki yang terbaring di ranjang.
"aaaa....panas...panas" laki-laki itu membuka mata seketika dan berteriak dengan sangat kencang
Panji dan Zelina sempat kaget, mereka berdua hendak berdiri namun di tahan oleh Yusuf.
"kalau mau ayah kalian sembuh, maka tetaplah di tempat" ucap Yusuf
keduanya akhirnya duduk dan kembali berdzikir. teriakan-teriakan laki-laki paruh baya yang ada di atas ranjang terdengar sampai di luar rumah.
laki-laki itu bangun dan hendak kabur namun Fatahillah menahannya. ia menempelkan badan laki-laki itu di kepala ranjang sementara Yusuf memegang kaki laki-laki itu agar tidak kabur lagi seperti tadi.
Fatahillah memegang ubun-ubun laki-laki itu dan terus membaca doa. laki-laki itu semakin teriak histeris dan matanya melotot ke atas.
"aaaaa...panas...panas, LEPASKAN"
tiba-tiba perut laki-laki itu membesar. seperti ada sebuah binatang yang terus berjalan di dalam perutnya. Fatahillah memegang perut laki-laki itu hingga binatang yang ada di dalam perut laki-laki itu mengarah ke bagian leher.
"laaillaahillallah Muhammadarrasulullah, ALLAHU AKBAR"
hueeek... hueeek
laki-laki itu memuntahkan binatang sebesar tinju manusia dari dalam perutnya. binatang yang berwarna hitam seperti kalajengking.
Fatahillah membunuh binatang itu hingga lenyap seperti debu.
Panji dan Zelina yang melihat itu lantas begitu sangat terkejut. bagaimana bisa binatang sebesar tinju manusia itu bisa berada di dalam perut ayah mereka.
"Fatah, ada lagi" Yusuf menunjuk perut laki-laki itu
bahkan bukan hanya satu melainkan lebih dari itu. Fatahillah mengeluarkan binatang-binatang itu yang bersarang di dalam perut laki-laki itu.
hueeek... hueeek
kembali laki-laki itu memuntahkan empat binatang seperti tadi. Yusuf sampai bergidik ngeri melihatnya.
Panji dan Zelina berdiri dan mendekat ke arah ranjang.
"binatang apa yang bersarang di perut ayah saya mas Fatah...?" tanya Panji dengan raut wajah yang begitu khawatir
"saya tidak tau, yang jelas itu adalah guna-guna yang dikirimkan oleh seseorang kepada beliau" jawab Fatahillah
"Yus, ambilkan air minum itu" perintah Fatahillah
Yusuf mengambil gelas yang berisi air minum kemudian memberikan kepada Fatahillah. Fatahillah menaruh tasbihnya di dalam air minum itu kemudian meminumkan kepada laki-laki itu dengan perlahan.
beberapa teguk laki-laki itu meminum hingga kemudian ia kembali muntah. darah hitam pekat, sangat hitam dan busuk keluar dari muntahannya.
"ya Allah" Zelina bergetar melihat kejadian itu
hueeek
kembali laki-laki itu muntah dan kali ini adalah darah merah seperti biasanya.
"syukurlah, di dalamnya tubuhnya telah dibersihkan" Fatahillah merasa lega
"bukan warna hitam lagi" ucap Panji
"darah hitam itu adalah racun yang disebarkan oleh binatang-binatang tadi yang ada di dalam perutnya. sekarang racun itu telah saya keluarkan dan tubuhnya telah bersih dari racun" Fatahillah menjelaskan
"Alhamdulillah" Panji dan Zelina mengucapkan syukur
namun ternyata perjuangan mereka tidak sampai di situ. laki-laki itu tiba-tiba teriak kesakitan dan memberontak. Yusuf kembali memegang kakinya sementara Fatahillah menahan kedua bahunya.
hawa yang begitu panas keluar dari tubuh laki-laki itu. Yusuf melepaskan pegangannya karena tidak kuat menahan panas begitupula dengan Fatahillah.
"astaghfirullah, panas sekali" Yusuf meniup tangannya yang seakan terbakar
laki-laki itu menyerang Fatahillah dengan lampu tidur yang ada di atas meja.
buuuk
punggung Fatahillah terkena pukulan dari lampu tidur. Fatahillah jatuh ke lantai namun tidak pingsan.
"astaghfirullah, ayah" Panji mendekat juga Zelina
laki-laki itu melemparkan gelas minuman ke arah keduanya. untungnya Panji menahan menggunakan punggungnya sehingga Zelina tidak terlena lemparan gelas itu.
mata laki-laki itu merah menyala keseluruhan. ia melompat hendak keluar dari kamar namun dengan sigap Fatahillah menutup pintu hanya dengan satu gerakan tangan.
braaaakkk
pintu tertutup rapat. laki-laki itu melompat ke dinding dan merayap seperti cicak. matanya yang merah menyala menatap tajam ke arah Fatahillah dan Yusuf.
"kalian berdua keluar dari kamar ini" Fatahillah menyuruh Panji dan Zelina
"tapi kami ingin membantu kalian" jawab Panji
"kami bisa berdua. kalau kalian di dalam sini, dia bisa menyakiti kalian berdua. meskipun raganya adalah ayah kalian tapi yang merasuki jiwanya adalah iblis" ucap Yusuf kepada keduanya
"kita keluar mas, percayakan semuanya pada mereka" Zelina bersuara
"baiklah" Panji setuju
Panji dan Zelina keluar dari kamar sementara kini Fatahillah dan Yusuf mencari cara agar laki-laki itu turun ke bawah.
Yusuf menyerang namun laki-laki itu melompat ke dinding satunya dan kini merayap di langit-langit kamar.
"kalian bukan tandinganku anak muda" suaranya yang seperti kakek-kakek terdengar berat saat laki-laki itu bersuara
"apa yang kamu inginkan...?" Fatahillah bertanya
"hahaha" laki-laki itu tertawa dan terus merayap di atas mereka
"tuanku menyuruhku untuk menghabisi laki-laki tua ini" jawab laki-laki itu
"maka mohon maaf jika kami akan menggagalkan rencana mu itu" ucap Fatahillah
"hahaha.... hahaha" laki-laki itu melompat ke atas lemari
"coba saja kalau kalian mampu" ucapnya dengan seringai menyeramkan
asap hitam dan yang pekat yang entah darimana datangnya menyelimuti kamar itu. sedetik kemudian Fatahillah dan Yusuf tidak lagi berada di dalam kamar melainkan di sebuah tempat alam gaib, dunianya para lelembut.
malam yang tidak gelap namun tidak juga terang, hanya berwarna kelabu dan mata masih sangat jelas untuk melihat.
di depan keduanya, seorang kakek tua berdiri beberapa meter dari keduanya. ia menggunakan pakaian serba hitam dengan ikat kepala hitam. sementara seorang laki-laki lagi yang tadi mereka akan tolong, tidak sadarkan diri berada di sebuah meja panjang di depan mereka.
"rupanya kamu yang merasuki dirinya" ucap Fatahillah
"harusnya laki-laki tua ini sudah mati karena kiriman guna-guna dariku. berani sekali kalian mengacaukan semua rencanaku
"aku hanya menolong seseorang yang tidak berdosa yang kamu guna-guna" jawab Fatahillah
"maka berarti kalian berdua cari mati"
"Yus, kamu siap...?" Fatahillah melirik Yusuf
"dari tadi aku sudah siap" jawab Yusuf dengan lantang
laki-laki itu di bawa pergi oleh sosok yang mengerikan. sementara kakek tua itu menyerang mereka.
Yusuf melompat menjauh, dia akan mengejar jin yang membawa pergi ayah Panji dan Zelina.
kakek tua itu menahan Yusuf dengan mengikat kakinya dan melemparnya ke sembarang arah. untungnya Yusuf memotong tali itu dengan menggunakan kekuatannya. tubuhnya jatuh ke tanah namun kakinya terlepas dari ikatan tali kakek tua itu.
kakek itu berniat menyerang Yusuf kembali namun Fatahillah menangkis dan mengembalikan serangan itu kepada tuannya. kakek itu menghindar sehingga sihir tadi tidak mengenai dirinya.
"kejar dan bawa pulang ayah mas Panji Yus, biar aku yang menghadapi laki-laki tua ini" ucap Fatahillah yang sudah bersiap dengan keris miliknya
"hati-hati Fatah" setelah mengatakan itu, Yusuf berlari pergi
Langon
goaaaaarrrrr
harimau putih datang dan telah berada di sampingnya.
"pergilah dan bantu Yusuf" perintah Fatahillah
goaaaaarrrrr
harimau putih melesat pergi berlari cepat menyusul Yusuf yang telah lebih dulu pergi. sementara Fatahillah mengambil kuda-kuda bersiap melawan kakek yang ada di depannya.
"ternyata kamu bukan anak muda yang bisa diremehkan" ucapnya saat melihat Fatahillah memegang sebuah keris yang menurutnya mempunyai kesakitan yang luar biasa
kakek tua itu mengeluarkan tongkatnya. ia kemudian menyerang Fatahillah sedang Fatahillah juga berbalik menyerang.
pukulan keduanya tidak membuat mereka terluka namun mereka sama-sama terseret beberapa meter saat kekuatan keduanya bertemu.
(*kakek ini memang benar-benar mempunyai ilmu yang tinggi, hanya satu pukulan saja aku dapat merasakan getaran kekuatannya yang begitu besar) batin Fatahillah
(aku harus berhati-hati) batin Fatahillah lagi*
"kekuatan mu bisa juga anak muda, tapi tentu saja tidak sebanding dengan kekuatan yang aku miliki" ucap kakek itu
"bahkan kekuatanmu itu hanya seujung kuku bagi Tuhan pelindungku pak tua, apa yang perlu kamu sombongkan" jawab Fatahillah
"banyak bacot kamu anak muda. aku tidak akan segan-segan untuk membunuhmu kalau seperti itu"
hiyaaaaaa
bugh
bugh
swing....
swing....
ddduuuaaaar
ddduuuaaaar
pukulan demi pukulan sama-sama imbang untuk keduanya. kakek tua itu menyerang Fatahillah dengan sihirnya sementara Fatahillah menangkisnya dengan sihir juga. hingga saat kedua sihir itu bertemu di tengah-tengah, ledakan keras pun terjadi akibat kedua sihir yang saling bertolak belakang.
(siapa anak muda ini, ilmu karunagannya tidak bisa aku remehkan. dia ternyata mempunyai ilmu yang cukup tinggi bahkan hampir menandingiku) kakek itu menelisik Fatahillah yang
pertempuran kembali terjadi, kali ini Fatahillah terpental jauh dan memuntahkan darah akibat serangan dari lawannya.
bukan hanya sampai disitu, bola api yang begitu besar mengarah kepadanya. Fatahillah bangkit dan menancapkan kerisnya di tanah. ia kemudian duduk bersila. keris itu membuat pagar pelindung sehingga bola api itu hanya meledak di atas kepala Fatahillah.
"kurang ajar, rasakan ini"
kakek itu mengirimkan banyak bola api yang besar. sementara Fatahillah tidak bergerak sedikitpun dari tempat duduknya. ia tetap berdizkir menggunakan tasbihnya.
ddduuuaaaar
ddduuuaaaar
ddduuuaaaar
bola-bola api itu tetap saja tidak bisa menembus pagar gaib keris Fatahillah. semuanya hanya sampai di atas kepala Fatahillah dan meledak begitu saja.
"biadab, beraninya kamu bermain-main denganku"
kakek tua itu melempar tongkatnya ke depan, tongkat itu berubah menjadi seekor ular yang begitu besar.
"bunuh dia untukku" perintah kakek tua itu kepada ularnya
ular besar itu menyerang Fatahillah berniat menghancurkan pagar gaib yang melindunginya.
satu hentakan dari ekor ular itu membuat pagar gaib Fatahillah hancur. Fatahillah mencabut kerisnya dan melayang menjauh. ular besar itu mengejarnya, ia menggunakan ekornya untuk memukul Fatahillah.
Fatahillah melompat ke atas dan mengeluarkan cahaya di tangan kanannya kemudian mengarahkan cahaya itu ke arah ular tersebut.
ular itu merayap menghindar hingga sihir yang dikerahkan Fatahillah hanya mengenai tanah dan meledak. ekor ular itu dengan cepat menyerang Fatahillah membuat dirinya terpental jauh.
"hahaha, sudah aku bilang anak muda, kamu bukanlah tandinganku" kakek tua itu tertawa puas melihat Fatahillah tersungkur di tanah
"baiklah, sepertinya binatang harus dilawan dengan binatang" ucap Fatahillah
"Langon"
goaaaaarrrrr
harimau putih datang seketika saat tuannya memanggilnya.
"maaf aku memanggilmu, bagaimana dengan Yusuf. dia baik-baik saja kan...?"
goaaaaarrrrr
harimau putih mengangguk dan mengelilingi kaki Fatahillah.
"bantu aku melawan ular itu" ucap Fatahillah
harimau putih berhenti berputar kemudian maju ke depan.
"hhh, bisa apa harimau putih itu melawan ular raksasa milikku" kakek itu begitu sombong
"kita lihat saja nanti" Fatahillah tersenyum tipis
"SERANG LANGON"
goaaaaarrrrr
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 153 Episodes
Comments
Mr.VANO
harimau fatah ad brp si thor,,,satu apa dua,,,nama dua🤔🤔🤔
2023-04-28
2
V3
pasti mati tuh ular sama langoon
2023-02-26
1
💎hart👑
saranghae nya buat mas Fatah aja dulu lah Thor. nanti kalo dah up lagi baru buat otornya🤭
2022-12-15
1