(dia kan yang pernah aku tabrak waktu di rumah sakit) batin Fatahillah setelah mengingat dimana dia pernah bertemu dengan pak Hutomo
pak Harun memberikan sebuah kotak besi, yang berwarna hitam kepada pak Hutomo. dengan wajah yang sumringah manusia serakah itu mengambil kotak tersebut dan membukanya.
"hahaha, hahaha...aku akan menjadi sakti dan menjadi penguasa alam semesta" pak Hutomo tertawa puas melihat mustika merah ada di dalam kotak hitam itu
dengan cepat pak Hutomo duduk bersila. ia ingin membuat mustika itu masuk ke dalam tubuhnya.
"apa akan bereaksi...?" tanya Yusuf kepada Fatahillah
"kita lihat saja" jawab Fatahillah
mustika itu masuk ke dalam tubuh pak Hutomo, dirinya tertawa begitu puas dapat memiliki mustika mereka tersebut.
namun kemudian tawanya itu berubah menjadi teriakan kesakitan karena tiba-tiba saja tubuhnya panas seperti terbakar.
"apa yang terjadi, kenapa tubuhku panas sekali. panas...panas" pak Hutomo berteriak kepanasan
"bos" orang-orang suruhannya dengan cepat mengambil air di ember dan menyiram tubuh pak Hutomo namun tetap saja pak Hutomo merasakan tubuhnya bagai dipanggang di bara api
"panas.... panas"
sementara Zelina yang sedang memeluk tubuh Panji, mengangkat kepalanya yang tadi terus menunduk. dilihatnya pak Hutomo, tubuhnya mulai terbakar dengan api yang menyala-nyala.
"astaghfirullah, ayah apa yang terjadi...?" tanya Zelina kepada pak Harun
mereka semua menyaksikan pak Hutomo mati terbakar. tubuh laki-laki serakah itu jatuh ke lantai dalam keadaan gosong habis dilahap api.
anak buahnya melarikan diri dari tempat itu. mereka begitu ketakutan karena bos mereka telah mati terbakar.
dari mulut laki-laki itu, keluarlah mustika tadi. mustika merah yang diincar oleh pak Hutomo. mustika itu melayang mendekati seseorang, rupanya mustika itu melayang mengelilingi tubuh Fatahillah.
Fatahillah pun bingung, kenapa mustika merah itu mengelilingi dirinya.
"sepertinya, mustika ini telah menemukan tuannya" ucap pak Harun
"hah...?" Fatahillah bengong dengan ucapan pak Harun
"tadahkan tanganmu anak muda" ucap pak Harun
meski ragu namun tetap Fatahillah menuruti perkataan pak Harun. Fatahillah menengadahkan tangannya ke depan, saat itu juga mustika merah tersebut melayang dan berhenti di atas telapak tangan Fatahillah. kemudian mustika itu melayang mendekati dada Fatahillah dan masuk ke dalam tubuhnya.
"apa yang terjadi...?" Fatahillah kaget mustika itu masuk ke dalam tubuhnya
"astaga, muntahkah Fatah, muhtahkan mustikanya. kamu bisa mati terbakar seperti laki-laki itu" Yusuf panik dan memukul punggung Fatahillah agar mustika itu dapat keluar namun yang ada Fatahillah malah kesakitan
"sakit Yus" Fatahillah menjauh
"Fatah, aku tidak mau kamu mati. menikah saja belum, masa iya kamu sudah mau mati. ayo cepat muntahkan mustika itu" Yusuf kembali beraksi namun pak Harun menghentikannya
"mustika itu telah menjadi miliknya, mana mungkin mustika tersebut akan membunuh pemiliknya" ucap pak Harun yang membuat Fatahillah dan Yusuf melongo
"pemilik...?" tanya Yusuf
pak Harun mendekati Panji. air matanya luruh membasahi wajahnya. putranya kini telah pergi untuk selamanya.
"ayah akan menyusul kalian" ucap pak Harun mencium kening Panji yang kini telah memucat
"apa maksud ayah...?" Zelina menatap lekat wajah ayahnya
saat itu juga pak Harun jatuh ke lantai. Fatahillah dengan cepat memapah pak Harun untuk berbaring di sofa sementara Yusuf mengangkat Panji di baringkan di sofa lain.
"ayah, ayah kenapa. kita ke rumah sakit ya"
"sudah waktunya ayah pergi" ucap pak Harun dengan nafas yang begitu lemah
"jangan tinggalkan Zelin yah, kalau ayah pergi lalu Zelin sama siapa...?" Zelina kembali terisak
"anak muda kemarilah" pak Harun memanggil Fatahillah
Fatahillah mendekat dan duduk di samping pak Harun sementara Zelina bersimpuh di bawah dan memegang erat tangan ayahnya itu.
"setelah mustika itu mendapatkan tuannya yang baru, maka tugas saya sudah selesai untuk menjaganya. aku harap kamu menggunakan kekuatan mustika itu dengan baik"
"saya akan mempergunakannya dengan baik pak" jawab Fatahillah
"banyak dari kalangan manusia dan jin yang menginginkan mustika itu. mulai saat ini, aku akan terus dikejar oleh orang-orang yang akan merampas mustika itu darimu"
"apakah, sepenting itu mustika merah ini pak...?"
"kekuatannya sangat luar biasa, jika jatuh ke tangan yang salah...maka hancur sudah alam semesta ini"
"sebenarnya, mustika itu ada sepasang...satu berwarna merah dan satunya berwana putih. mustika putih ada ditangan seseorang yang bernama pak Kusuma, tapi terakhir kali aku mendengar kabar kalau beliau telah meninggal dunia"
"lalu kalau dia telah meninggal lantas bagaimana mustika putih itu...?" tanya Yusuf
"mungkin dia berikan kepada anaknya atau orang kepercayaannya. pak Kusuma adalah saudara seperguruan ayahku. aku tidak tau nama anaknya tapi aku tau nama perusahaannya"
"apa nama perusahaan itu...?" tanya Fatahillah
"Kusumajaya grup"
"Kusumajaya grup...?" Yusuf kaget mendengar nama perusahaan yang disebutkan oleh pak Harun
"kamu tau Yus...? tanya Fatahillah
"itu kan... perusahaan milik....pak Umar" Yusuf menjawab
"pak Umar...?" Fatahillah mengulangi ucapan Yusuf
"iya, itu perusahaan milik pak Umar, kusumajaya grup" Yusuf mengangguk yakin
uhuk...uhuk
"ayah"
"Zelina putri ayah" pak Harun membelai lembut wajah Zelina
"ayah boleh meminta satu permintaan nak...?" Zelina tidak menjawab namun ia mengangguk sebagai bentuk jawabannya
"menikahlah dengan dia" pak Harun melihat ke arah Fatahillah
deg
tentu saja Fatahillah begitu kaget begitu pula dengan Yusuf. keduanya saling tukar pandang.
"siapa namamu anak muda...?"
"Fatahillah Malik pak"
"Fatahillah, saya meminta tolong padamu. tolong jaga putri saya, menikahlah dengannya. saya percaya kamu bisa menjaga putriku dengan baik"
"ayah"
"hanya kamu yang dapat melindungi putriku. setelah aku tiada, dia pasti akan dikejar-kejar oleh orang-orang jahat karena beranggapan kalau mustika merah itu aku serahkan padanya"
"nak Fatah, tolong nikahi putriku. anggap saja ini sebagai bentuk terimakasih mu padaku karena telah memberikanmu mustika merah itu" suara pak Harun semakin melemah
Fatahillah menarik nafas panjang, dirinya betul-betul dilema untuk mengambil keputusan.
"nak Fatah, apa kamu bersedia menikahi putriku...? dengan begitu aku bisa pergi dengan tenang"
"ayah, jangan tinggalkan Zelin" Zelina menangis
"baiklah, saya bersedia menikahi Zelina" Fatahillah menjawab dengan yakin
"Fatah" Yusuf tidak menduga Fatahillah akan menerima tawaran itu
"ini yang terbaik Yus" ucap Fatahillah kepada Yusuf
pak Harun tersenyum di balik bibirnya yang mulai pucat. ia memegang tangan Fatahillah dengan begitu erat.
"aku ingin kalian menikah sekarang" ucap pak Harun
akhirnya malam itu, Yusuf mencari penghulu untuk menikahkan Fatahillah dengan Zelina. tubuh Panji di tempatkan di dalam kamar. dirinya seperti seseorang yang sedang tidur padahal sebenarnya sudah tidak bernyawa.
setelah penghulu datang bersama Yusuf, pak Harun bangun dengan pelan dibantu oleh Zelina.
"aku tidak menyangka jodohmu tenyata seseorang wanita muslimah" bisik Yusuf di telinga Fatahillah
"jodoh siapa yang tau" jawab Yusuf
"bisa kita mulai...?" tanya penghulu
"silahkan pak" jawab pak Harun
"bismillahirrahmanirrahim. saudara Fatahillah Malik, saya nikahkan engkau dengan saudari Zelina Muhatmainnah binti Muhammad Harun dengan mas kawin 300 rb dibayar tunai"
"saya terima nikahnya Zelina Muhatmainnah binti Muhammad Harun dengan mas kawin 300 rb dibayar tunai"
"bagaimana saksi...?"
"sah" Yusuf dan pak Harun menjawab
"Alhamdulillah" mereka semua mengucapkan syukur
Zelina mencium tangan Fatahillah sementara itu dengan ragu Fatahillah mencium kening wanita itu yang kini telah sah menjadi istrinya.
senyum pak Harun terus saja terlihat di wajahnya hingga kemudian laki-laki itu menghembuskan nafas terakhirnya setelah menyaksikan putrinya menikah dengan laki-laki pilihannya.
"AYAH" Zelina menangis sejadi-jadinya melepas kepergian ayahnya
tanpa menunggu pagi, malam itu pukul 03.00, jenazah pak Harun dan Panji serta pak Hutomo dimakamkan. pak penghulu meminta tolong kepada beberapa warga untuk membantu mereka karena pak penghulu adalah warga di sekitar tempat itu.
setelah ketiga jenazah di makamkan, semua warga kembali pulang ke rumah masing-masing begitu juga dengan pak penghulu.
Zelina menangis di pusara ayah dan kakaknya, hidupnya kini hanya seorang diri tanpa keluarga.
"Zelina" Fatahillah memanggil pelan
"kita pulang sekarang" ajaknya
Zelina menatap Fatahillah dengan mata yang basah.
"kita masih bisa datang ke sini untuk menjenguk ayah dan mas Panji kan...?" tanya Zelina
"tentu saja, aku akan mengantarmu ke sini kapanpun kamu mau" jawab Fatahillah
"ayo"
dengan berat hati Zelina meninggalkan kuburan ayah dan kakaknya. mereka menuju ke mobil untuk kembali ke rumah Fatahillah.
sebelum ke rumah Fatahillah, mereka bertiga singgah di rumah yang ditempati oleh Zelina serta ayah dan kakaknya. rumah yang besar itu sekarang tidak akan lagi berpenghuni karena Zelina sekarang sudah tidak aman untuk tinggal sendiri. Zelina mengambil beberapa barang-barangnya yang ia butuhkan. setelah itu mereka meninggalkan rumah besar itu.
sepanjang jalan, Zelina hanya diam tanpa bicara. Fatahillah merasa maklum karena wanita itu baru saja kehilangan orang-orang yang dia cintai.
"bagaimana kamu akan menjelaskan ini kepada bibi Khadijah...?" tanya Yusuf dengan pelan agar Zelina tidak mendengar suaranya
mereka berdua duduk di depan sementara Zelina duduk di kabin tengah.
"mungkin ibu akan senang, pulang-pulang aku membawakan dia menantu" jawab Fatahillah tersenyum sementara Yusuf menghela nafas
mereka tiba di rumah Fatahillah pukul 04.00. ibu Khadijah yang mendengar suara mesin mobil langsung keluar rumah.
"Fatah, kalian darimana...?" tanya ibu Khadijah saat melihat Fatahillah dan Yusuf keluar dari mobil
kemudian tidak lama Zelina pun juga keluar dari mobil. melihat mereka membawa seorang wanita, ibu Khadijah menatap keduanya dengan lekat.
"ibu, kenalkan ini Zelina" Fatahillah memperkenalkan Zelina kepada ibunya
"assalamualaikum bu" Zelina mencium tangan ibu Khadijah
" wa alaikumsalam, ayo masuk ke dalam. udara di luar dingin" ajak ibu Khadijah
mereka semua masuk ke dalam rumah. ibu Fatimah yang baru saja keluar dari kamar dan akan ke dapur langsung menghentikan langkah saat mereka semua masuk.
"loh, darimana kalian...terus dia..." ibu Fatimah kaget melihat Zelina
"dia Zelina bi" ucap Fatahillah
"assalamualaikum bi" Zelina mencium tangan ibu Fatimah
"wa alaikumsalam" ibu Fatimah masih terbengong-bengong dengan situasi sekarang
"ibu dan bibi duduklah, aku ingin mengatakan sesuatu" ucap Fatahillah
mereka semua kemudian duduk di ruang tengah. Zelina duduk di dekat Fatahillah, membuat ibu Khadijah dan ibu Fatimah saling pandang.
"ibu, bibi...dia adalah Zelina Muhatmainnah, istri Fatahillah"
uhuk...uhuk
"a-apa...?"
ibu Fatimah terbatuk-batuk sementara ibu Khadijah spontan bertanya dengan suara terkejut.
"apa maksudnya ini Fatah...? tanya ibu Khadijah
Fatahillah menarik nafas panjang sebelum menceritakan semuanya. sementara Zelina sudah gugup di tempat duduknya dan meremas jilbabnya yang panjang.
melihat Zelina gugup, Fatahillah memberanikan diri memegang tangan wanita itu dan tersenyum seolah memberi tahu bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"jadi begini bu, bi"
Fatahillah mulai menjelaskan apa yang terjadi. hanya sebagian saja yang ia ceritakan. dirinya tidak menceritakan tentang mustika merah yang kini berada di dalam tubuhnya. Fatahillah hanya menceritakan sesuatu yang dapat diterima oleh akal ibunya dan juga bibinya.
"jadi kalian berdua benar-benar sudah menjadi suami istri...?" tanya ibu Fatimah
"iya bi" jawab Fatahillah
"Alhamdulillah" ibu Fatimah mengucapkan syukur
"mbak, akhirnya doa kita terkabul. kita sekarang sudah mempunyai menantu yang cantik dan solehah pula" ibu Fatimah tersenyum ke arah Zelina
"kemarilah nak" panggil ibu Khadijah kepada Zelina
Zelina bangkit dari duduknya dan mendekati ibu Khadijah serta duduk di sampingnya.
"sepertinya akan ada yang patah hati" Yusuf mendekat ke arah Fatahillah dan berbisik
"siapa...?" tanya Fatahillah
"Anisa, dia pasti akan patah hati jika mendengar kamu telah menikah" jawab Yusuf
"aku tidak memberikan harapan apapun padanya Yus"
"ya ya aku tau, tapi dia yang berharap lebih padamu"
Fatahillah tidak lagi menjawab, ia hanya memperhatikan interaksi antara istrinya dan ibunya.
"mulai saat ini rumah ini adalah tempatmu, keluarga suami mu adalah keluargamu juga. jangan pernah merasa sendirian. kami semua ada untukmu. anggap saja ibu pengganti ibumu yang telah di surganya Allah sekarang" ibu Khadijah berkata dengan penuh kelembutan kepada menantunya itu
"terimakasih bu" Zelina berkaca-kaca
"jangan menangis" ibu Khadijah menghapus air mata Zelina
"apapun masalahmu nanti, beritahu kepada suamimu atau ibu. jangan sungkan untuk bercerita"
Zelina mengangguk dan memeluk ibu Khadijah. Fatahillah tersenyum melihat itu. dia memang percaya kalau ibunya itu akan menerima Zelina sebagai menantunya dan hal itu benar-benar terbukti.
setelah bunyi azan sholat subuh, mereka semua bersiap untuk melaksanakan sholat. Fatahillah mengajak Zelina ke kamarnya sementara Yusuf langsung pulang ke rumahnya dan akan bertemu lagi dengan Fatahillah di rumah pak Umar nanti.
"ini adalah kamarku, maaf jika tidak sebesar kamar yang selama ini kamu tempati" ucap Fatahillah
"segini saja sudah cukup mas" jawab Zelina
"kamu bisa berwudhu di kamar mandi, aku akan ke luar"
"kenapa harus ke luar mas, bukannya ini adalah kamarmu...?
Fatahillah menghentikan langkahnya, ia berbalik melihat Zelina.
"aku takut kamu tidak akan nyaman jika satu kamar denganku. jadi lebih aku keluar saja. bagaimanapun kita baru saja menikah, kamu pasti belum terbiasa dengan keadaan sekarang"
"di sini saja mas, kita sholat berjamaah. apa kata ibu nanti jika mas keluar"
"baiklah, kalau begitu kamu berwudhu terlebih dahulu nanti setelah itu baru aku yang berwudhu"
Zelina mengangguk kecil. ia pun masuk ke dalam kamar mandi untuk berwudhu setelah selesai ia keluar.
saat Zelina keluar dari kamar mandi, Fatahillah kini dapat melihat secara langsung wajah Zelina. begitu cantik bagi Fatahillah sampai-sampai dirinya begitu mengagumi kecantikan istrinya itu.
"astagfirullahaladzim" buru-buru Fatahillah beristighfar
"kenapa mas...?"
"ah tidak, tidak ada apa-apa" Fatahillah segera masuk ke dalam kamar mandi untuk berwudhu
mereka berdua sholat berjamaah di dalam kamar yang tidak begitu luas.
"assalamualaikum warahmatullahi" salam ke kanan
"assalamualaikum warahmatullahi" salam ke kiri
setelah membaca doa, Fatahillah berbalik menghadap ke arah Zelina. Zelina mengambil tangan Fatahillah dan mencium punggung tangan suaminya itu.
"Zelina, aku ingin bicara"
"bicara apa mas...?"
saat ini mereka saling berhadapan langsung. mata keduanya bertemu tatap.
"pernikahan kita ini adalah pernikahan yang mendadak. jika nanti kamu tidak bisa lagi menjalani pernikahan ini bersamaku, kamu bisa bicara padaku dan aku akan melepasmu"
"mas ingin menceraikan ku...?" mata Zelina mulai berembun
"bukan, tidak seperti itu maksud ku" Fatahillah bingung harus bicara seperti apa
"kita menikah tanpa cinta. baik aku maupun kamu, kita sama-sama tidak saling mencintai. aku hanya ingin mengatakan kemungkinan yang terjadi jika nanti kamu tidak bisa lagi menjalani pernikahan bersamaku. aku ikhlas melepasmu untuk mencari laki-laki yang kamu cintai"
"mas Fatah" Zelina menatap lekat wajah Fatahillah
"Allah maha membolak-balikkan hati manusia. hari ini kita tidak saling mencintai mungkin esok atau lusa cinta itu tumbuh di hati kita masing-masing. aku akan berusaha dan mencoba menerima semuanya. cinta datang jika kita terus bersama mas. aku tidak ingin kehilangan lagi. kalau aku kehilangan mas Fatah, lantas aku harus kemana lagi" suara Zelina mulai parau
melihat mata Zelina mulai berkaca-kaca, Fatahillah menjadi merasa bersalah.
"maaf, maafkan aku" Fatahillah menarik tubuh Zelina dan memeluknya
jantung keduanya berpacu begitu cepat. baik Fatahillah maupun Zelina sama-sama dapat merasakan debaran jantung masing-masing.
apakah cinta akan tumbuh di hati keduanya....?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 153 Episodes
Comments
Taufik Hidayat
mustika putih itu ada di pak umar
2023-11-20
0
warkop Teteh kuningan
hrus dong Thor,,,jgn ada pelakor dah kasian
2023-11-08
2
Mr.VANO
tu kan,,,,mustikany azah tahu yg baik dan yg gak,,,,jd jngan coba2 klo bukan hak ny memegang mustika,,celaka la org seperti tomo...
Smg cinta dtg krn sll bersama
2023-04-28
2