"sebenarnya apa yang sedang dia lakukan di dalam kamar sampai kita tidak boleh masuk pak...? ibu Rosida bertanya kepada suaminya, ia begitu penasaran apa sebenarnya yang dilakukan pemuda yang bernama Fatahillah itu di dalam kamar
"apapun yang dilakukannya, niatnya baik dan ingin menolong Hasan bu. kita doakan semoga Hasan bisa tertolong dan mereka berdua selamat" pak Umar menjawab
"Zan, siapa yang menjaga ibunya Fatahillah di rumah sakit...?" pak Odir mengalihkan pandangan ke arah Fauzan. ia memikirkan ibu dari Fatahillah, bagaimanpun mereka harus bertanggungjawab karena Fatahillah sekarang sedang bersama mereka
"ada saudaranya pak, bibi dari Fatahillah. beliau yang menjaga ibunya Hasan" Fauzan menjawab jujur
"syukurlah, saya pikir kalian meninggalkan begitu saja" pak Odir lega mendengarnya
"tidak mungkin pak, Fatahillah tidak akan meninggalkan ibunya begitu saja kalau tidak ada yang menjaga" timpal Fauzan
pak Odir mengangguk paham, saat melihat Fatahillah semalam yang begitu khawatir dengan ibunya, ia dapat menilai kalau Fatahillah begitu sangat memuliakan ibunya.
"tuan, nyonya, non Hanum memanggil" bi Asi datang memberitahu kedua majikannya
pak Umar dan ibu Rosida segera menuju ke kamar Hanum. pak Odir dan Fauzan pun ikut, bisa jadi wanita itu penyakitnya tambah parah.
ibu Rosida membuka pintu kamar dan masuk ke dalam di susul oleh yang lain. saat masuk ke dalam maka tercium aroma busuk yang menyengat di hidung. tidak ada yang tidak menutup hidung, bahkan Fauzan pun tidak tahan namun memaksa karena ingin melihat kondisi Hanum. saat melihat kondisi Hanum, Fauzan memalingkan wajah. sebagian wajahnya mulai menghitam, nanah dan darah terus keluar dari luka-luka yang menggerogoti tubuhnya.
"astagfirullahaladzim" Fauzan tidak sanggup melihat
"jika tidak sanggup, kamu bisa keluar nak" pak Odir berbicara pelan agar tidak menyinggung perasaan pak Umar dan ibu Rosida
"saya sanggup pak, hanya kaget saja" Fauzan segera memakai masker dan kembali melihat Hanum yang terbaring lemah di atas ranjang
"kenapa nak...?" ibu Rosida mendekati anaknya
"H...H...." Hanum terbata
"ada apa, kamu mau apa...?" ibu Rosida mendekatkan telinganya di bibir Hanum
"H-Hasan mana...?" suara lemah Hanum terdengar di telinga ibunya
wanita itu menanyakan keberadaan Hasan, dia ingin bertemu dengan Hasan. saat mengalami sakit yang tidak biasa, Hasan selalu datang menjenguk Hanum. terkadang laki-laki itu menemani Hanum sampai terlelap tidur karena kurangnya ia istrahat lantaran sakit yang dideritanya. kini Hanum merasa Hasan tidak pernah datang lagi maka dari itu Hanum menanyakan sahabatnya itu.
ibu Rosida memandang suaminya, ia ragu untuk mengatakan yang sebenarnya kepada Hasan.
"Hasan sedang sibuk nak, jika dirinya sudah tidak sibuk, dia akan datang menjenguk kamu" pak Umar mengambil langkah untuk tidak jujur
"a-aku mau H-Hasan pak" air mata Hanum berlinang
"sabar ya, bapak akan panggil Hasan untuk datang" pak Umar memeluk putri satu-satunya. tidak peduli bau busuk yang menyengat dari tubuh putrinya, baginya Hanum adalah segalanya dalam kehidupannya
drrrttt.... drrrttt
ponsel pak Odir bergetar, istrinya menghubungi laki-laki itu. tidak ingin menganggu, pak Odir keluar dari kamar untuk mengangkat telpon istrinya.
pak Odir
assalamu'alaikum bu
ibu Murti
wa alaikumsalam. bagaimana toh bapak ini, dari semalam ibu menunggu kabar dari bapak
pak Odir
maaf bu, bapak semalam lelah sekali jadinya lupa memberitahu ibu.
pak Odir sengaja berbohong, dirinya tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya. bisa-bisa istrinya darah tingginya akan kumat lagi jika mendengar kabar tentang Hasan.
ibu Murti
lalu bagaimana dengan Hasan pak, anak kita itu baik-baik saja kan
pak Odir
baik bu, Hasan baik. doakan Hasan cepat bangun dari komanya ya
ibu Murti
ibu selalu berdoa untuk keselamatan kalian berdua pak. kalau begitu hati-hati di situ ya pak. semalam ibu tidak tenang karena terus memikirkan bapak, ibu merasa bapak sedang dalam kesulitan di situ
pak Odir
tidak bu, bapak baik-baik saja. kalian juga di situ baik-baik ya. mungkin bapak masih lama akan pulang
ibu Murti
iya. kalau begitu sudah dulu ya pak, ibu mau ke warung, ada pembeli
pak Odir
ya sudah. assalamualaikum
ibu Murti
wa alaikumsalam
di tempat lain, di rumah yang megah nan mewah, seorang wanita sedang berdiri di dekatnya jendela sambil mengamati keadaan di luar. di tangannya terdapat minuman anggur yang sedang ia nikmati.
wanita cantik itu berpakaian elegan dengan beberapa aksesoris yang menghiasi penampilannya.
tap
tap
tap
langkah kaki seseorang terdengar jelas semakin dekat ke arahnya.
tok... tok... tok
"masuk"
suara pintu yang terbuka terdengar kemudian tertutup kembali. seorang laki-laki datang menghampiri wanita itu dan berdiri beberapa meter menjaga jarak.
"bagaimana, apakah dia sudah mengaku...?" tanya wanita itu
"belum nyai, sampai sekarang dia belum juga mengaku. dia mengatakan kalau tidak tau menahu tentang apa yang kita tanyakan padanya" laki-laki itu menjawab
"mungkin kamu belum menyiksanya begitu keras"
"bahkan saya sudah membuatnya tidak berdaya tapi tetap saja dia tidak mengaku. sepertinya dia memang tidak tau tentang sesuatu yang kita cari. Umar tidak memberitahukan asistennya itu"
"berarti dia tidak berguna lagi. bunuh saja agar jiwanya tidak lagi pernah kembali ke tubuhnya"
"baik nyai"
laki-laki itu pamit undur diri dan kembali melangkah namun panggilan wanita itu menghentikan langkahnya.
"ada apa nyai...?" ia berbalik dan bertanya
"siapapun yang mencoba menghalangi maka habisi saja. kamu harus mendapat apa yang saya minta jika tidak, maka kamu tau resikonya" wanita itu tersenyum menyeringai membuat laki-laki itu menelan ludah dengan susah
"baik nyai" ia menunduk hormat dan meninggalkan tempat itu
setelah sampai di mobilnya, berkali-kali ia memukul setir mobil melampiaskan kemarahannya.
"sepertinya aku harus mengirimmu ke alam baka terlebih dahulu sebelum putrimu Umar, dengan begitu rencanaku akan berjalan dengan mulus"
ia kemudian melihat ke arah dimana wanita itu masih berdiri ditempatnya yang tadi dan sedang memperhatikannya. setelah itu ia menyalakan mobilnya dan meninggalkan rumah mewah itu.
wanita tadi melangkah ke arah meja kerjanya dan menghubungi seseorang.
"awasi dia, kalau gagal lagi, kamu tau apa yang akan kamu lakukan" setelah mengucapkan keinginannya, wanita itu menaruh kembali ponselnya dan meneguk minuman yang sejak tadi ia nikmati
"darah perawan memang sangat nikmat" ucapnya setelah meneguk habis minumannya
sementara laki-laki tadi yang mendatangi wanita itu, melajukan mobilnya kembali ke rumahnya. sesuai perintah bosnya, ia harus menghabisi asisten pak Umar.
Fatahillah masih terus menyusuri hutan yang lebat itu. di tempat itu berkabut dan dingin, Fatahillah dapat merasakan dinginnya tempat itu.
setelah melenyapkan makhluk gaib yang menyerupai ibunya, kini dirinya semakin waspada. hampir saja dirinya ditipu oleh makhluk itu. untungnya ia langsung tersadar bahwa ibunya tidak mungkin berada di tempat itu.
tap
tap
tap
suara langkah kaki yang mengikuti setiap langkah kakinya terdengar di telinganya. saat berhenti maka suara itu akan berhenti, saat melangkah suara itu akan kembali terdengar. bagi pemuda seperti dirinya, hal gaib bukanlah hal yang tabu bagi Fatahillah. ia tau kalau di belakangnya ada sosok yang mengikutinya.
Fatahillah berbalik untuk melihat siapa yang mengikuti dirinya. seorang nenek tua bersama anak laki-laki umur lima tahun. kedua mata anak itu bolong tanpa bola mata membuat penampilannya menakutkan namun sama sekali tidak membuahkan Fatahillah takut.
nenek tua itu memiliki wajah yang sebelah kiri hancur tinggal tulang dan sebelah kanan masih utuh seperti manusia. nenek tua itu memiliki bola mata yang hanya berwarna putih.
"mau kemana anak muda...?" tanya si nenek dengan khas suara nenek-nenek
"bukan urusanmu, kenapa kalian mengikutiku" Fatahillah bersikap tenang
"siapa yang mengikutimu, ini daerah kekuasaanku. saya yang harusnya bertanya sedang apa kamu di sini, kamu anak manusia bukan makhluk gaib"
"hanya numpang lewat, kalau begitu saya pergi"
Fatahillah berbalik kembali melangkah namun tanpa ia sangka nenek tua dan anak kecil tadi sudah berada di depannya yang berjarak beberapa langkah darinya.
"mau kemana kamu, tidak semudah itu keluar dari daerah kekuasaanku"
"yang berkuasa itu Tuhan semesta alam bukan bukan nenek tua bangka seperti kamu. minggir"
"hahahaha"
nenek tua berputar bersama anak kecil itu dan saat itu juga dirinya berubah menjadi wanita yang sangat cantik dan anak kecil itu berubah menjadi pemuda yang tampan.
wanita itu menggunakan pakaian seperti pakaian seorang ratu. ia menggunakan mahkota di kepalanya dan rambut panjang sampai pinggang tergerai indah.
sedangkan pemuda itu berpakaian layaknya seorang prajurit di kerajaan dan membawa senjata, pedang yang ia pegang di tangan kanannya.
"kalau seperti ini apakah aku sudah layak untuk berkuasa...?" wanita itu menatap Fatahillah
"siapapun kamu, aku tidak punya urusan denganmu. aku hanya sekedar lewat dan tolong minggirlah dari jalanku" Fatahillah sama sekali tidak terpesona dengan kecantikan wanita itu. meskipun memang ia akui kalau wanita itu cantik tapi baginya wanita itu tetaplah makhluk gaib jadi-jadian
"aku adalah ratu penguasa wilayah ini, kamu tidak akan bisa kemanapun. kamu harus ikut denganku, aku menginginkanmu"
Fatahillah tidak menjawab, ia bergeser dari tempatnya dan berniat pergi dari tempat itu namun seketika kakinya sulit untuk ia angkat. bahkan sangat sulit untu melangkah, tubuhnya tidak bisa bergerak.
"sudah aku katakan kamu tidak akan bisa pergi dari tempat ini" wanita itu mendekati Fatahillah
kini wanita itu sudah berada tepat di depan Fatahillah, bahkan wajah keduanya sangatlah dekat.
"rupanya kamu sangat tampan dilihat dari jarak dekat seperti ini"
Fatahillah benar-benar tidak bisa bergerak sama sekali. bahkan untuk memalingkan wajahnya pun tidak bisa ia lakukan.
tangan wanita itu mulai bergelia di dada Fatahillah dan kemudian naik ke atas membelai wajahnya. hingga kemudian Fatahillah terbuai dengan perlakuan wanita itu. Fatahillah terpengaruh oleh sihir yang diberikan oleh wanita itu sehingga dirinya begitu terpesona dengan kecantikan wanita yang ada didepannya.
"malam ini kita akan habiskan waktu bersama" wanita itu menatap dalam mata Fatahillah dan dengan lembut mengecup bibir Fatahillah
semakin lama semakin dalam ciuman mereka dan kini mereka berpindah tempat. bukan lagi di dalam hutan melainkan sudah berada di dalam kamar. dengan nuansa yang penuh lilin dan juga aroma bunga melati, wanita itu membawa Fatahillah duduk di ranjang.
"kamu akan menjadi milikku anak muda" ucapnya
Fatahillah mengangguk dan kini mereka kembali melakukan pagutan bibir. tubuh mereka telah terbaring di atas ranjang, Fatahillah berada di bawah sedangkan wanita itu diatasnya. namun kemudian Fatahillah membalik keadaan, ia memposisikan dirinya berada di atas.
baru saja Fatahillah melakukan hal yang lebih, suara seseorang terdengar memanggil namanya.
"Malik, sadar Malik"
Fatahillah menghentikan aksinya dan melihat sekeliling suara siapa yang ia dengar. Fatahillah hendak beranjak namun wanita itu menahannya dan menangkup wajah Fatahillah kemudian kembali mencium bibirnya dan lagi-lagi Fatahillah terbuai.
"Malik....sadarlah"
Fatahillah kembali menghentikan pagutan mereka dan ia tau suara siapa yang memanggil dirinya dengan panggilan Malik.
"sebut asma Allah" suara itu terdengar lagi
Fatahillah mengikuti perintah suara itu, saat itu juga dirinya tersadar dari perbuatannya. hampir saja dirinya melakukan hal yang tidak seharusnya.
"wanita laknat" Fatahillah mencekik leher wanita itu
Fatahillah lagi-lagi melafazkan asma Allah dan kini mereka kembali berada di tengah hutan bukan lagi di sebuah kamar.
wanita itu melepaskan tangan Fatahillah dari lehernya dan memelintir ke belakang namun Fatahillah memukul dada wanita itu dengan tangan yang lain sehingga wanita itu terseret menjauh darinya.
(astagfirullahaladzim, ampuni aku ya Allah) Fatahillah merasa sangat berdosa dengan perbuatannya tadi
"Malik" panggil seseorang
"guru" Fatahillah berjalan cepat mendekat kakek Halim dan mencium tangannya
"terimakasih telah menyelamatkan ku guru, untung saja guru datang tepat waktu"
"dia menggunakan sihir pemikat untuk membuat dirimu terpikat oleh kecantikannya. ini baru bagimu, tentu saja kamu dengan cepat langsung terkena sihirnya"
"kakek tua bangka, beraninya ikut campur urusanku" wanita itu begitu marah kakek Halim datang mengacaukan kesenangannya
"aku akan hadapi dia, pergilah cari pemuda itu. dia berada di sebuah gubuk sebelah timur hutan ini. namun berhati-hatilah karena ada musuh yang akan kamu hadapi jika berniat menyelamatkannya"
"terimakasih guru, saya pamit"
Fatahillah meninggalkan tempat itu sementara kakek Halim akan menghadapi wanita itu.
"biadab, ku bunuh kamu tua bangka"
pertarungan antara kakek Halim dengan wanita itu pun terjadi. sedangkan Fatahillah berlari menjauh dari tempat itu agar bisa secepatnya menemukan Hasan. Fatahillah sangat bersyukur kakek Halim datang menyadarkan dirinya, kalau tidak entah apa yang akan terjadi jika dirinya masih terpengaruh oleh sihir dari wanita itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 153 Episodes
Comments
Har Yanto
critax muter 2 ja ga jelas,,,,dasar author pemula
2024-01-26
0
Mr.VANO
ujian ilmu fatah,,,,jd walau kakek halim tahu,dia tdk mau menyelamatkan hasan....klo fatah berhasil nyelamatkan hasan,,,semua ilmu akan di turunkan oleh guru halim
2023-04-27
3
Budo
kenapa si Halim yg sdh tau posisi Hasan ngga nolong?
karena ini cerita fiksi haha😂
2023-04-27
1