seorang pemuda sedang berada di taman indah, sangat indah seperti taman surga. pemuda itu adalah Fatahillah.
ia mengikuti jalan yang ada di depannya hingga kini jalan itu membawanya ke tempat dimana salah seorang yang berpakaian putih sedang berdiri membelakanginya.
(siapa dia...?) Fatahillah mengamati orang itu dari balik punggungnya
saat itu juga sosok itu membalikkan badan menghadap ke arah Fatahillah
"guru" Fatahillah memanggil orang itu
kakek tua yang berpakaian serba putih menggunakan sorban putih dan tasbih di tangan kanannya. kakek tua itu berbalik dan tersenyum ke arah Fatahillah. ia melambaikan tangan mengisyaratkan agar pemuda itu mendekat ke arahnya.
Fatahillah berjalan dan mengambil tangan kakek itu untuk ia cium sebagai tanda rasa hormat antara murid dan guru.
dia adalah kakek Halim, guru Fatahillah Malik yang mengajarkan pemuda itu ilmu kanurgaran dan mewariskan ilmunya kepada Fatahillah. kini separuh dari kekuatan kakek Halim telah Fatahillah kuasai.
"lama tidak bertemu Malik, bagaimana kabarmu...?" kakek Halim memanggil Fatahillah dengan panggilan Malik, kakek tua itu lebih menyukai ia memanggil Fatahillah dengan sebutan Malik dan Fatahillah tidak mempermasalahkan itu
"baik guru. bukankah guru sedang bertapa di gunung Gangsir, kenapa bisa guru ada di sini...?"
"ini memang gunung Gangsir Malik, aku mengundang mu kemari"
"hah...? bagaimana bisa, bukannya tadi aku..."
"kamu berada di alam bawah sadarmu Malik, ini adalah mimpimu namun tetap saja ini nyata"
Fatahillah baru pertamakali itu bertemu dengan sang guru di dalam mimpi. selama ini, saat gurunya sedang melakukan pertapaan di gunung Gangsir, ia belum pernah bertemu dengan kakek Halim.
"mari ikut aku" ajak Kakek Halim
mereka berdua, kakek Halim dan Fatahillah berjalan beriringan di tempat yang indah itu.
"Malik, apa kamu telah siap untuk menerima kenyataan...?"
(kenyataan...?) Fatahillah membatin
"kenyataan apa maksudnya guru...?" Fatahillah dibuat penasaran oleh perkataan ambigu dari gurunya
"akan kamu tau nanti. semakin kamu melangkahkan maka semakin dekat kamu akan melihat Kenyataan di depan sana. aku hanya berpesan, bantulah mereka"
"mereka.... mereka siapa yang guru maksud...?
keduanya telah tiba di dekat air terjun. airnya yang jernih mengalir mengikuti aliran sungai. kakek Malik duduk di sebuah batu besar di samping air terjun. anehnya tubuhnya tidak mengalami kebasahan, pakaiannya tetap kering tanpa basah sedikitpun. hal itu tidak membuat Fatahillah heran.
"duduklah" perintah kakek Halim, ia menyuruh Fatahillah duduk di batu yang berhadapan dengannya. Fatahillah mengikuti perintah gurunya
"semua yang terjadi dalam hidup manusia adalah karena kehendak Tuhan. pahit manis kehidupan sudah Tuhan gariskan takdirnya untuk setiap umatnya"
"Malik"
"iya guru" Fatahillah menyahut sopan
"tantangan hidupmu sudah dimulai. keseharian mu akan dihadapi dengan mereka yang akan mengejar dan ingin melenyapkan mu"
"maksud guru, aku jadi buronan...?"
"apa kamu takut mati...?"
"mati itu adalah suatu hal yang nyata guru, semua orang akan mati. namun jika jika bisa melawan maka akan aku lawan terlebih dahulu sebelum menyerah"
"mulai sekarang hanya dua pilihan yang ada di tanganmu, membunuh atau dibunuh. salah satunya harus kamu pilih. jika memilih dibunuh maka kamu tidak akan melihat kenyataan yang harusnya kamu lihat namun jika kamu memilih membunuh, selangkah demi selangkah kamu akan lihat kenyataan itu. meskipun berdosa namun jika dalam hal melindungi diri, kamu pantas melakukannya"
"kenapa harus seperti itu guru, apa yang sebenarnya ingin guru sampaikan...?"
"pulanglah, anak muda itu sedang menunggu pertolongan untuk kamu tolong" kakek Halim tidak menjawab pertanyaan Fatahillah, ia hanya tersenyum simpul ke arah muridnya itu
"Fatah, bangun nak sudah subuh"
sayup-sayup Fatahillah mendengar seseorang memanggil namanya.
"Fatah, bangun" suara itu mulai terdengar jelas
perlahan Fatahillah membuka matanya dan mengerjapnya. hal yang pertama ia lihat adalah wanita baya yang masih sangat terlihat cantik sedang tersenyum ke arahnya.
"ibu" Fatahillah mengucek matanya
"sudah subuh, sholatlah dulu" ucap ibu Khadijah
rupanya semalam Fatahillah tertidur di samping ibunya dalam keadaan duduk dan menjadikan lengannya sebagai bantal ternyaman kepalanya.
"apa sudah adzan...?"
"sudah sejak tadi. pergi cuci mukamu dan berwudhu"
"bagaimana keadaan ibu, ibu merasa baikan sekarang...?" Fatahillah memegang tangan ibunya
"ibu baik-baik saja, tidak perlu khawatir. cepat berwudhu sana, tidak baik mengabaikan sholat terlalu lama" ibu Khadijah tersenyum hangat kepada anaknya itu
Fatahillah mengangguk dan masuk ke kamar mandi. ia mencuci muka kemudian berwudhu. setelah bersuci, Fatahillah keluar dari kamar mandi dan sholat di ruang kamar tersebut.
(*kamu tumbuh menjadi pemuda yang tampan, baik dan penurut nak. semoga kebahagiaan selalu mengiringi setiap langkah kakimu. sepertinya ibu sudah tenang jika harus pergi dengan cepat, kamu sudah bisa menjaga diri) ibu Khadijah menatap dalam Fatahillah yang sedang khusyuk melaksanakan sholat subuh
(apa kalian bahagia di sana, lihatlah dia tumbuh menjadi seperti yang diharapkan) wajah ibu Khadijah ia angkat ke atas, bulir bening dari matanya keluar membasahi wajah cantiknya yang sudah tidak muda lagi*
"ibu, kenapa menangis...?"
Fatahillah mengagetkan ibu Khadijah, buru-buru wanita itu mengusap air matanya.
"tidak, ibu tidak menangis. ibu hanya kelilipan" ibu Khadijah beralasan
Fatahillah menatap dalam mata ibunya, kemudian mengambil tangan wanita itu dan menciumnya dengan penuh kasih sayang.
"Fatah sudah menjadi anak ibu sejak dalam kandungan, sudah hidup bersama ibu puluhan tahun. mata ibu tidak bisa membohongi Fatah" Fatahillah memegang pipi ibu Khadijah dengan tangan kanannya
"ibu memang selalu gagal berbohong padamu" ibu Khadijah tersenyum
"ada apa, apa ada yang sakit...?"
"tidak, ibu hanya merindukan ayahmu"
"ayah sudah bahagia di sana bu. ibu jangan menangis lagi. Fatah tidak sanggup melihat air mata berharga ibu jatuh begitu saja" Fatahillah menangkup wajah ibunya dan mencium keningnya kemudian membawa wanita itu kedalam pelukannya
di tempat kediaman pak Umar, pagi ini mereka berada di meja makan. ibu Rosida menyambut kedatangan pak Odir dengan ramah, Fauzan sampai saat ini masih berada di rumah itu. semalam pak Umar tidak mengizinkannya untuk pulang karena akan bahaya jika pemuda itu pulang pada jam larut malam.
"setelah ini saya harus pulang pak, saya juga harus ke kantor" Fauzan memberitahu bosnya
"nanti saja Zan, biarkan Akmal dan Meisya yang mengurus pekerjaan kantor. sekarang ini kamu harus temui Fatahillah di rumah sakit" jawab pak Umar
pak Umar ingin agar pemuda itu datang segera ke rumahnya untuk menolong Hasan.
"jangan sekarang pak, saat ini Fatahillah pasti sedang sibuk mengurus ibunya di rumah sakit. sangat tidak punya hati saya jika harus memintanya datang semenjak saya tau ibunya sedang sakit" Fauzan menimpali
yang dikatakan Fauzan masuk akal juga di pikiran pak Umar. pemuda itu juga sekarang sedang kesulitan, tidak mungkin harus egois memaksanya datang sementara ibunya sedang dirawat.
"benar apa yang dikatakan Fauzan, jangan dulu tergesa meminta Fatahillah untuk datang ke sini, kasian ibunya" pak Odir menimpali
"lalu bagaimana dengan Hanum pak Odir, bukankah bapak ingin membawa kami ke gunung Sangiran tempat kiayi Zulkarnain" ibu Rosida ikut bicara
"bu, waktunya tidak tepat untuk membahas itu" pak Umar menegur istrinya
"saya tetap akan menempatkan janji ibu Rosida, namun mata bukan untuk sekarang. setelah Hasan diselamatkan dan keadaannya baik-baik saja, barulah kita memikirkan itu" pak Odir menjawab dengan ramah
"kalau seperti itu carilah orang yang tau tentang kondisi Hasan jika Fatahillah belum sempat menolongnya sekarang" timpal ibu Rosida
"mencari orang seperti itu akan sangat sulit, siapa yang akan percaya kepada kita kalau sebenarnya Hasan masih hidup. hanya Fatahillah yang mengatakan itu dan hanya dia pula yang tau tentang keadaan Hasan" ucap pak Umar
"Hanum juga semakin hari semakin parah penyakitnya pak" ucap ibu Rosida
semula terdiam, mereka bingung harus melakukan apa. di satu sisi ingin membawa Hanum namun di sisi lain Hasan tidak mungkin ditinggalkan begitu saja.
pagi itu juga masyarakat dihebohkan dengan berita penemuan mayat sembilan ninja hitam. mereka yang belum tau tentu saja bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi sedangkan di tempat pak Umar, mereka terlihat tenang melihat berita itu.
"bodoh, melawan tiga orang saja kalian tidak becus padahal kalian banyak. bego banget" seseorang sedang memarahi seorang ninja yang berhasil kabur pada saat mereka menyerang pak Umar, pak Odir dan Hasan
"m-maafkan saya bos, pemuda dan orang tua itu memiliki beladiri yang mahir"
"mereka hanya dua orang bego, kenapa melawan orang tua saja kalian tidak becus"
buaaaak
buaaaak
bughhh
laki-laki itu mendapat amukan dari bosnya. ia di pukul dan ditendang berkali-kali karena dia dan komplotannya yang dianggap tidak becus dalam menyelesaikan tugas.
"apa pemuda itu yang adalah pemuda yang kemarin menolongnya...?"
"b-bukan bos, dia pemuda yang lain bukan pemuda yang pertama kali menolongnya waktu itu"
"brengsek, siapa lagi yang membantunya" ia begitu kesal dan marah
"bangun kamu"
"laki-laki itu bangun dengan sempoyongan, wajahnya babak belur akibat ulah dari bosnya"
"aku benci seseorang yang tidak becus dalam bekerja" ia mengambil pistol di atas meja
laki-laki itu meneguk ludah saat bosnya melap pistol itu dengan bajunya.
"maafkan saya bos saya akan berusaha lagi. ampuni saya" dia bersimpuh memohon agar tidak di bunuh
"bukankah tidak adil kalau teman-teman mu semula mati sedangkan kamu masih bernafas sekarang"
"berhubung aku baik, aku akan mengirim kamu bergabung bersama teman-teman mu, humm" ia mengarahkan pistol di kepala laki-laki itu
"tolong jangan bunuh saya bos, saya akan melakukan apapun. tolong jangan bunuh saya"
dor
tanpa menghiraukan rengekan laki-laki itu, hanya dalam satu kali tembakan, laki-laki itu mati di tempat. darah merah yang kental mengalir dari kepalanya.
"ini baru permulaan" gumamnya setelah menembak anak buahnya
penyakit Hanum semakin parah saat ini. tubuhnya yang terus mengeluarkan nanah dan darah mengeluarkan bau yang sangat tidak sedap, bau busuk yang sangat menyengat hidung.
bi Asi yang masuk ke dalam kamar itu hampir saja muntah dak segera keluar karena tidak tahan dengan bau busuk yang ada.
"kenapa bi...?" ibu Rosida bertanya saat bi Asi menutup dengan cepat kamar Hanum
"gawat nyonya, nona Hanum penyakitnya semakin parah. tubuhnya mengemuka bau busuk yang sangat menyengat. saya sampai tidak sanggup berlama-lama di dalam" bi Asi memberitahu
ibu Rosida yang kaget langsung membuka pintu kamar Hanum. baru saja membuka pintu itu, bau busuk itu mulai menyengat masuk ke indra penciumannya.
"astaghfirullah, kenapa bisa jadi seperti ini" ibu Rosida menutup pintu kembali
"panggilkan tuan sekarang juga" perintah ibu Rosida kepada bi Asi
"baik nyonya"
bi Asi dengan terburu-buru meninggalkan kamar Hanum menuju ke ruang keluarga. di sana pak Umar dan pak Odir sedang berbincang sedang Fauzan pulang ke rumahnya untuk berganti pakaian.
"tuan... tuan" bi Asi tergopoh-gopoh menghampiri keduanya
"ada apa bi...?" tanya pak Umar saat melihat wanita berumur itu datang tergesa-gesa
"nona Hanum tuan, dia...."
"kenapa dengan Hanum...?"
pak Umar langsung beranjak tanpa mendengarkan lagi penjelasan bi Asi. pak Odir pun ikut menyusul pak Umar ke kamar Hanum.
"ada apa bu...?" tanya pak Umar saat tiba di depan kamar Hanum
"buka saja pintunya pak" suruh ibu Rosida kepada suaminya
pak Umar membuka pintu kamar, saat itu juga bau busuk langsung tercium di hidung mereka, bahkan sampai pak Umar menutup hidung dan menutup pintu kembali.
"bau busuk apa ini...?" tanya pak Umar
"itu adalah bau busuk dari tubuh anak kita pak. luka-lukanya mengeluarkan nanah dan darah yang sangat busuk. apa yang harus kita lakukan sekarang pak, anak kita harus di tolong secepatnya" ucap ibu Rosida
"kita masuk ke dalam untuk melihat Hanum. pakai masker saja baunya tidak tercium" ucap pak Odir
mereka masuk ke dalam dengan masker yang sudah mereka pakai. meskipun begitu bau busuk yang menyengat itu masih saja tercium, namun mereka menahan karena ingin melihat keadaan Hanum.
di ranjang tempat tidur, Hanum terbaring terlentang. matanya sendu menatap mereka yang masuk ke dalam kamarnya.
"i....bu" panggil Hanum dengan suara lirih
"hiks...hiks, anak ibu. kenapa nasibmu seperti ini nak" ibu Rosida menghampiri anaknya dan menangis melihat keadaan Hanum
tanpa rasa jijik, ibu Rosida melap nanah dan darah yang keluar dari luka-luka anaknya. pak Umar tidak dapat menahan air mata melihat penderitaan yang dialami putri satunya itu.
"penyakitnya semakin parah, kalau dibiarkan Hanum akan celaka" ucap pak Odir
"tolong pak Odir, antarkan kami ke gunung Sangiran desa Malanda untuk bertemu kiayi Zulkarnain, tolong pak" ibu Rosida memohon menakupkan kedua tangannya di depan dada
pak Odir serba salah, antara harus pergi dan tidak. jika mereka pergi lalu bagaimana dengan Hasan, itulah yang ada di pikiran pak Odir sekarang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 153 Episodes
Comments
Endro Budi Raharjo
kok ada yg janggal yaa....
2025-03-22
0
Endro Budi Raharjo
gmn yaa....
2025-03-22
0
Har Yanto
crita sampah,,,muter2 ga jelas,,
2024-01-26
0