Aku kembali melangkah, berjalan ke arah lemari tua. Yang sebagian pintunya terbuka, karena kayu penyangga pintu nya hancur termakan usia. Hantu-hantu seperti kuntilanak dan tuyul bersliweran, mengganggu fokusku. Karena salah satu dari kuntilanak itu, seperti ingin mengajakku berkomunikasi. Tapi aku lebih penasaran dengan mayat tanpa identitas itu, dan sengaja aku mencari petunjuk di sekitar lokasi.
Tapi aroma busuk yang sangat kuat menusuk hidung mengganggu konsentrasi ku, ku lirik ke kanan dan kiri. Nampak sesosok kuntilanak yang sedari tadi diam menatapku, kini lebih dekat di samping tubuhku.
Aku menghembuskan nafas panjang, dan berbicara dalam hati. Supaya kuntilanak itu tak mengganggu ku, karena aku masih ada pekerjaan.
Haduh kenapa kunti ini terus dekat-dekat denganku, pasti ada yang ingin ia sampaikan. Batinku di dalam hati. Lalu aku mencoba berkomunikasi dengannya, dan benar saja ia ingin meminta tolong padaku.
“Baiklah Endang, kau bisa menceritakan keluh kesahmu lain waktu. InsyaAllah aku akan membantumu.”Jelasku pada kuntilanak yang baru ku tahu bernama Endang.
Whuus...
Kuntilanak itu terbang, hilang di kegelapan. Aku pun melanjutkan pencarianku, sebelum keberadaanku diketahui Mas Adit ataupun petugas kepolisian. Karena mereka tak akan membiarkan ku berada lebih lama lagi di TKP, padahal aku ingin mencari petunjuk.
Tempat ini dipenuhi debu, serta benda-benda yang terasa dingin dan lembap saat disentuh.
Aku berjongkok di bawah meja untuk melihat-lihat, dan benar saja aku melihat canang yang sudah mengering.
Degh... Aku teringat dengan mayat tanpa kepala itu. Di dalam hatiku bertanya-tanya, siapa yang tega memenggal kepala perempuan itu. Tanpa kepala dengan posisi meninggal yang tidak wajar, apalagi kedua tangannya masih menyatu di depan dada.
Mungkin aku bisa membantu mengungkap misteri ini, setidaknya untuk mengetahui identitas mayat perempuan malang itu.
Tiba-tiba terasa sentuhan dingin di leherku, bulu halusku meremang. Aku berbalik badan dan melihat ke belakang, tapi tak ada siapapun disana. Aah pasti hantu yang iseng menggodaku. Tentu saja aku tak akan takut, hanya tubuhku yang seorang manusia biasa ini masih saja terkejut ketika makhluk astral seperti mereka menunjukkan eksistensinya.
Bodo amatlah terserah kalian mau apa, tujuanku disini bukan untuk mengganggu kalian. Ucapku di dalam hati sambil menggelengkan kepala.
Aku melangkah perlahan ke sebuah kursi panjang yang tertutup kain kotak-kotak hitam putih, sekilas aku melihat wajah perempuan menyeringai dengan wajah sinis. Aku pun tersentak karena melihat pakaian perempuan itu, mirip dengan pakaian yang mayat tanpa identitas itu pakai. Apakah mungkin arwah perempuan itu ingin memberitahu sesuatu ya. Batinku menerka-nerka.
Untuk memastikan penglihatan ku, aku kembali menyibak kain kotak-kotak itu, aku ingin memastikan ada apa di dalamnya. Aku membalikkan tubuh saat ku dengar suara tawa perempuan yang nyaring di telinga, dalam hatiku kembali berkata. Jika hanya gangguan dari hantu macam kalian aku sudah terbiasa, karena sebelumnya aku sudah sering berurusan dengan demit dan siluman yang lebih mengerikan di Desa nenekku.
Sepertinya sia-sia saja penelusuran ku di tempat ini, tak ada apapun disini kecuali barang-barang tua yang sudah usang dan berdebu. Ya, mungkin saja polisi sudah menyisir tempat ini, dan mengamankan sesuatu yang penting. Aku melangkahkan kaki ke arah pintu, tiba-tiba pandangan ku teralihkan pada sesuatu yang menyembul di balik kain kotak hitam putih. Ku putuskan untuk memeriksanya sekali lagi, dan aku menemukan sesuatu yang terselip di antara tembok dan kursi panjang. Aku menggeser kayu penyangga kursi, dan menimbulkan suara bergesek yang menggetarkan dada. Aku harus lebih berhati-hati supaya tak ada lagi suara berisik, karena petugas kepolisian bisa saja mendengar suara berisik ini. Dan mereka pasti akan mengetahui keberadaan ku di dalam sini.
Setelah aku berhasil menggeser dengan susah payah dan berhati-hati, akhirnya aku menemukan sebuah kotak kayu berwarna coklat, ada gembok yang menempel di luarnya. Aku menggoncangkan kotak kayu itu, dan terdengar suara gemeretakan. Wah pasti ada benda di dalam kotak ini, aku jadi penasaran dan ingin mengetahui apa isi nya. Tapi jika aku berlama-lama di tempat ini, dan mereka melihatku sedang mencari sesuatu. Bisa terjadi masalah padaku, karena aku akan di anggap merusak tempat kejadian perkara. Tanpa berpikir panjang, aku memasukan kotak kayu ke dalam tas ransel, dan bergegas meninggalkan ruangan itu.
Kreeaak... Pintu terbuka, nampak Mas Adit sudah berdiri di hadapanku dengan tatapan menyelidik. Kedua tangannya berkacak pinggang, matanya menyipit melihatku dari atas ke bawah.
“Eh Mas Adit, ngagetin aja sih.”ucapku kikuk.
“Ngapain kau disini? teriaknya dengan nada marah.
Kali ini Mas Adit berjalan mengelilingi ku, mungkinkah ia mencurigaiku?.
“Apa kau menemukan sesuatu disini?” kini ia mendekatkan wajahnya tepat di depan wajahku.
Untuk sesaat aku terdiam karena salting dipandang sedekat itu olehnya. Jantung ku berdegup kencang, wajahku tersipu merah. Ah perasaan apa ini, segera ku palingkan wajah dan menjawab pertanyaan Mas Adit.
Tapi apakah aku harus mengatakan apa yang baru saja ku temukan, tapi raut wajah Mas Adit tampak tak meyakinkan.
Aku tahu ia tak akan percaya dengan hal-hal yang berbau mistis, jadi ku putuskan untuk tak mengatakan padanya.
Tiba-tiba seorang petugas mendekati Mas Adit, dan membisikkan sesuatu. Nampak raut wajahnya terkejut dan ia menelan saliva nya.
“Baiklah saya akan segera kesana.” Kata Mas Adit dengan menganggukan kepala.
“Lebih baik kau pergi saja Ran, komandan akan segera datang untuk melihat kondisi mayat dan olah TKP. Aku bisa terkena masalah besar, jika komandan tahu ada wartawan disini.”
Aku pun segera melangkahkan kaki dan mengucapkan terima kasih pada Mas Adit, lalu Mas Adit meraih tanganku dan menariknya. Nampak tatapan matanya sangat dalam memandangku.
“Rania!”
Aku menelan saliva dengan jantung yang berdetak kencang. Apa aku sudah ketahuan mengambil sesuatu dari ruangan ini, batinku resah.
Mas Adit melihatku dengan sorot mata keheranan, ia memegang tas ransel yang ada di punggungku.
“Lain kali jangan bawa barang terlalu banyak, lihatlah tas mu sepertinya penuh dengan barang." ucapnya dengan penuh perhatian.
Ah Mas Adit tak pernah berubah, ia selalu memperhatikan hal-hal kecil tentangku. Aku menghembuskan nafas panjang, rasanya sangat lega karena Mas Adit tak mengetahui apa yang ku lakukan di dalam sana.
Aku mengangguk dan tersenyum padanya, lalu aku berpamitan pergi.
Sesampainya di luar gedung tua itu, komandan yang menangani kasus ini sedang dimintai wawancara langsung oleh jurnalis-jurnalis yang mulai berdatangan di TKP. Nampak sang komandan tak dapat menjelaskan lebih detail lagi, karena banyak hal-hal janggal dalam kasus ini.
“Saya belum bisa mempublikasikan apapun, karena kasus ini masih dalam tahap penyelidikan.” jelas sang komandan.
Aku tersentak ketika sosok Endang mengikuti langkahku, kini kuntilanak itu sedang duduk dengan kaki uncang-uncang di atas pohon. Ternyata hantu yang muncul di malam hari, hanya ada di film saja. Nyatanya para demit itu bebas berkeliaran siang ataupun malam.
“Kembalikan kotak itu pada tempatnya hihihihi.” kata Endang dengan cekikikan khas hantu kuntilanak.
Aku berkata dalam hati, kenapa aku harus mendengarkan ucapan demit sepertimu.
Lalu Endang terbang melesat ke arah ku, dan mengatakan jika kotak itu adalah milik orang yang memelihara Leak.
...Terus berikan dukungan kalian ya teman", siapa tau kalian adalah salah satu yang beruntung mendapatkan Novel Cetak DRB. Sekian dulu ceritanya. ...
...See you. ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 299 Episodes
Comments
Ray
Balikin aja kotaknya ke tempat semula Rania, nanti kamu diteror lagi sama dedemit juga yg memelihara Leak, ihhh serem itu hantu paling menakutkan di Bali 😱🤔
2022-11-17
5
yuli Wiharjo
sumpah Thor ga kuat bacanya. merinding
2022-11-11
2
Milah
Jdi Dag-dig-dug BacaNya 😂
2022-11-08
2