Hari berganti minggu, sudah satu minggu sejak pertemuan terakhir ku dengan Mas ojol itu. Dan dua malam sebelumnya, jiwa sang Adik sudah menemuiku untuk mengucapkan terima kasih dan salam perpisahan. Sepertinya si Mas ojol sudah mengambil keputusannya, tak berselang lama si Mas ojol meninggalkan surat di depan kost. Ternyata ia memberi kabar, jika sang Adik sudah beristirahat dengan tenang. Setelah ia berusaha menuruti permintaan terakhir Adiknya. Aku tersenyum lega, karena dapat membantu satu jiwa pergi dengan tenang ke alam keabadian.
"Chiyee yang dapat sepucuk surat lagi bahagia nih, dari tadi senyum-senyum terus. Dari gebetannya ya? emang masih zaman surat menyurat gitu." goda Mbak Ayu yang baru saja pulang kerja.
"Eh apa an sih Mbak, bukan dari gebetan, ini dari si Mas ojol yang sempat gue bantu permasalahannya, dia ngucapin terima kasih, dia ngasih surat karena emang gak punya nomer hape gue tau!"
"Berarti lu kenal dong?" tanya Mbak Ayu seraya duduk di kursi depan teras kamarku.
"Ya kenal lah Mbak, udah beberapa kali naik ojeknya." jawabku dengan menyenderkan kepala di tembok.
"Berarti sayang dong."
"Lah sayang gimana Mbak?" ku tatap wajah Mbak Ayu dengan serius.
"Ya sayanglah, kan katanya kalau tak kenal maka tak sayang. Ya gak, ya gak?" katanya dengan menaikan alis matanya.
"Ya elah Mbak, itu mah pepatah doang kali."
"Ngomong-ngomong masalah apa an sih Ran? gue jadi kepo, kenapa si Mas ojol sampai ngirim surat segala?"
"Adalah Mbak, ntar gue ceritain lu gak percaya lagi."
Karena terus memaksa, akhirnya ku ceritakan segalanya pada Mbak Ayu. Dari awal pertemuanku dengan Mas ojol, hingga jiwa Adiknya yang terus mengikutiku. Nampak wajah Mbak Ayu sangat terkejut, ia terlihat tak percaya dengan ceritaku.
"Lu serius Ran bisa lihat makhluk yang gak kasat mata? serem amat sih hidup lu, di ikutin dan digentayangin sama makhluk-makhluk menyeramkan setiap hari."
"Ya gimana lagi Mbak, itu juga bukan mau gue. Sebenarnya dari kecil gue gak bisa ngelihat mereka, tapi semenjak gue pindah ke Desa Nenek, semuanya jadi berubah. Mendadak gue bisa ngelihat mereka, bahkan gue pernah diculik sama hantu yang kastanya lebih tinggi." jelasku dengan menatap langit-langit atap teras.
"Yang bener aja lu Ran, masa hantu punya kasta segala? udah kaya orang ningrat aja." sahutnya dengan mengaitkan kedua alis matanya.
"Emang beneran berkasta Mbak, levelnya di atas hantu biasa, yang gue maksud itu siluman Mbak. Siluman itu ilmunya lebih tinggi dari hantu biasa, karena mereka biasanya punya pengikut yang menyembahnya." jelasku panjang lebar, dengan menceritakan segala masa laluku sewaktu tinggal di Desa Rawa Belatung.
"Gak nyangka gue kalau lu punya jalan hidup yang sedemikian rupa. Kalau gue jadi lu, gak tau deh bisa apa enggak ngelewatin semuanya." kata Mbak Ayu dengan menggelengkan kepalanya.
Lalu Mbak Ayu juga berbagi sedikit cerita tentang dirinya. Ia mengatakan jika sejak kecil sudah jauh dari orang tuanya, ia sering berpindah-pindah tempat tinggal. Karena ada masalah rumit dalam keluarganya, yang susah ia jelaskan. Menurut Mbak Ayu, kedua orang tuanya tak mampu mencukupi biaya hidupnya. Sehingga ia di asuh oleh keluarganya yang berkecukupan.
"Memang yang jadi wali gue itu ya Om Dewa, tapi sejak kecil gak cuma Om Dewa aja yang menuhin kebutuhan hidup gue. Dan beruntungnya gue diterima jadi PNS setelah lulus kuliah, jadi gue bisa nyari duit sendiri. Gak bergantung sama keluarga lagi." Mbak Ayu menghela nafas lalu menundukan kepalanya, ada aura kesedihan dari dua bola matanya, entah apa yang ia pikirkan.
"Mbak Ayu kenapa kelihatan sedih gitu? apa ada masalah lain lagi Mbak?" tanyaku penasaran.
"Gue gue. Gue gak apa-apa kok Ran, hanya sedih aja kalau keinget masa lalu. Hidup gue gak seberuntung anak lain, yang bisa deket sama orang tuanya."
"Sabar ya Mbak, meski dulu lu gak deket sama orang tua, seengaknya sekarang udah bisa bantu kedua orang tua lu."
"Justru itu Ran, gue gak tahu dimana orang tua gue. Menurut Om Dewa, keduanya merantau untuk memperbaiki ekonomi nya, dan entah kemana perginya gak ada yang tahu. Kadang gue suka ngerasa kesepian, kalau lihat anak-anak murid gue ke Sekolah di antar sama orang tuanya. Karena sejak kecil sampai segini gedenya, gue gak pernah sekalipun ngerasain perhatian orang tua." Kali ini Mbak Ayu benar-benar meneteskan air mata, aku hanya bisa berusaha menghiburnya.
Tak ku sangka kehidupan Mbak Ayu tak kalah rumitnya, tapi ia selalu terlihat tegar dengan senyum teduhnya pada semua orang. Lalu aku teringat dengan Om Dewa, sejak aku tinggal di kostan nya belum pernah sekalipun kami saling bertatap muka.
"Ngomong-ngomong Om Dewa kemana sih Mbak? sejak gue nempatin kost ini, belum pernah ketemu beliau sama sekali. Terakhir ketemu itu udah lama banget, waktu Papa ada acara di Kantor cabangnya. Kebetulan Om Dewa juga hadir disana, jadi gue tau kalau Om Dewa masih saudara jauh Papa. Itu juga ketemunya pas gue masih SMP, jadi sekarang gue lupa-lupa inget wajahnya hehehe." kataku berusaha mengingat kembali kejadian dulu.
"Kalau baru sekali ketemu dan itu udah lama banget, pasti lu bakal lupa Ran. Kalau lu waktu itu SMP mungkin gue udah kuliah, jadi kemungkinan kami baru menempati rumah ini. Dulu Om Dewa ngontrak sama anak istrinya, dan gue ngekost di deket kampus. Setelah almarhum orang tua istrinya meninggal, mereka semua pindah ke rumah kuno ini. Kebetulan Ayah dari Istrinya Om Dewa pensiunan TNI, dan dapet warisan rumah kuno ini. Berawal dari rumah kuno ini, Om Dewa membuka usaha kostan yang lumayan membantu ekonominya. Sampai sekarang ia memiliki bisnis properti di Kota-kota besar, jadi ya Om Dewa sekeluarga suka pindah-pindah rumah. Apalagi anak tunggalnya baru masuk kuliah di Australia, jadi ya gitu deh Ran, Om Dewa susah buat ditemuin." ucap Mbak Ayu padat dan jelas.
Aku hanya mengangguk-anggukan kepala, setelah mendengar cerita dari Mbak Ayu. Dan tiba-tiba ada aroma dupa yang sangat pekat, aroma dupa ini sangat mengganggu pernafasanku. Aku mengibaskan tangan supaya aroma dupa tak terhirup olehku, sementara Mbak Ayu nampak biasa saja, malahan dia langsung membuka ponsel yang sejak tadi di dalam tasnya.
"Astaga!" kata Mbak Ayu agak berteriak.
Sontak saja aku terkejut dan memandang wajahnya dengan heran, nampak ia panik dan segera berpamitan padaku.
"Emang ada apa an sih Mbak? kok lu tiba-tiba buru-buru gitu? ada acara yang kelupaan ya?" tanyaku dengan mengaitkan kedua alis mata.
"Ehm anu itu Ran, gue ada perlu nih. Gue balik kamar dulu ya, harus ada yang gue kerjain nih. Lain kali kita lanjutin lagi ngobrolnya." katanya seraya berjalan terburu-buru.
Aneh, kenapa Mbak Ayu tiba-tiba memutus pembicaraan begitu saja sih. Ah iya, mungkin karena sekarang sudah magrib, jadi ia buru-buru pergi. Dan yang lebih aneh lagi, setelah beberapa hari tak ada aroma dupa, sekarang kok ada lagi ya? pasti pas menjelang magrib, aku jadi berpikir yang tidak-tidak.
...Kira-kira siapa yang menyalakan dupa itu ya? apa benar kata Mbak Ayu, jika itu dari tempat sembahyangnya orang China? yuk main tebak-tebakan lagi. ...
...Bersambung. ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 299 Episodes
Comments
Tina
Nggak dech thor, dah nyerah aq 🤗🤗🤗🤗 takut salah tebak lgi , bukannya betul tebakan aq,, tp malu yg aq dapat 😁😁😁😁
2023-07-04
1
Ray
Mungkin mbak ayu itu anak ibu yg memakai kain jarik yg kepalanya hilang 🤔😱
2022-11-17
2
Milah
Jdi Penasaran Sma Mbak Ayuuu 😳
2022-11-11
1