Mbak Ayu masih menungguku bercerita, ia terlihat sangat penasaran, berulang kali ia mendesakku untuk menceritakan mimpi yang telah membuatku menangis histeris tengah malam begitu.
"Ayo dong Ran cerita ke gue, masa lu tega bikin gue penasaran. ntar yang ada gue gak bisa tidur lagi karena kepo." ucap Mbak Ayu sedikit cemberut.
"Tapi mimpinya serem banget Mbak, gue aja masih deg-degan sampai sekarang. Naudzubillah semoga gak akan ada lagi kejadian seperti itu yang terulang kembali." kataku dengan menghembuskan nafas panjang.
"Dih lu bikin makin penasaran aja sih Ran, cerita dong ke gue please!" kini Mbak Ayu memohon dengan menyatukan kedua tangannya, membuatku tak enak hati jika terus bungkam.
Akhirnya aku menceritakan semua penglihatanku tadi, dari awal aku tertidur dan terasa terlempar dari ranjang. Yang aku rasakan aku berpindah tempat ke sebuah bukit dengan pura tinggi di atasnya. Ku ceritakan sedetail-detailnya, ketika aku melihat orang-orang yang melakukan persembahan di dalam Goa.
"Dan lu tau gak Mbak, apa yang jadi persembahan utamanya?" tanyaku dengan menelan saliva.
Mbak Ayu merapatkan duduknya ke sampingku, ia mengaitkan kedua alis matanya dan menaikan dagunya. Memberi kode padaku untuk melanjutkan cerita.
"Seorang bayi dipersembahkan untuk sosok yang mereka sembah di dalam Goa itu Mbak." kataku dengan wajah sendu.
"Astaga.Serem amat mimpi lu Ran, tapi kan itu hanya mimpi Ran? jadi lu gak usah kebawa perasaan gitu. Mana ada sih orang tua yang tega menumbalkan darah dagingnya sendiri."
"Justru itu yang mau gue jelasin ke lu Mbak, yang awalnya gue kira mimpi, gak tau nya itu benar-benar pernah terjadi di masa lalu. Jadi tuh ya, jiwa gue pergi ke masa lalu buat ngelihat kejadian yang pernah terjadi saat itu. Semacam flashback gitu loh Mbak, kayaknya ada sosok gaib yang sengaja ngasih penglihatan itu ke gue. Tapi emang gue nya aja yang gak siap, atau lebih tepatnya sih gue gak tega Mbak. Dengan mata kepala gue ini, gue ngelihat bayi yang tak berdosa itu ditelan begitu aja sama sosok menyeramkan, sosok itu mirip Leak Mbak. Raksasa jahat yang di cerita rakyat Bali itu loh." jelasku dengan deru nafas kencang.
Nampak Mbak Ayu terdiam, tak menanggapi ceritaku. Ada kecemasan pada raut wajahnya, matanya bergerak ke kanan dan ke kiri. Lalu ia meneguk habis air minum yang tadi ia siapkan untukku. Karena penasaran dengan reaksinya, aku bertanya kenapa ia seperti orang yang sedang cemas.
"Gu gue ngeri denger cerita lu Ran, apa lu beneran pergi ke masa lalu? kok bisa sih lu berpindah ke dimensi lain, dan ngelihat kejadian mengerikan seperti itu?"
"Sumpah demi Allah Mbak, buat apa gue ngarang cerita. Justru sekarang gue makin penasaran, siapa dan apa tujuannya sosok gaib itu ngasih penglihatan ke gue. Padahal gue gak pernah berhubungan dengan sosok Leak itu. Astaghfirullah, kenapa harus gue yang ngelihat semuanya." aku menundukkan kepala, ku pijat pangkal hidungku karena rasa pusing tiba-tiba menyerang kepalaku.
"Ya udah lu istirahat dulu deh Ran, kayaknya lu kecapean deh. Besok kita bahas lagi, kebetulan besok hari sabtu dan gue libur kerja. Keluar ngopi aja sekalian refreshing, biar lu agak santai, gimana lu mau gak?" tanya Mbak Ayu dengan menaikan alis matanya.
Aku menganggukkan kepala, memberi kode jika aku menyetujui ajakannya. Lalu Mbak Ayu berpamitan kembali ke kamarnya, aku mengunci pintu kamar. Dan merebahkan tubuhku di ranjang. Sosok Malik tak nampak dimanapun setelah aku memarahinya tadi, ada perasaan bersalah di dalam hatiku. Padahal Malik bertujuan baik dengan membawaku kembali, tapi dengan egoisnya aku menyalahkan nya.
"Duh kepalaku pusing banget lagi, sepertinya ini efek karena melepas jiwa. Sudah lama aku tak melakukan hal-hal semacam itu, mungkin ragaku belum terbiasa." gumamku dengan memandang langit-langit kamar.
Tak terasa matahari terbit, cahaya menyilaukan mata masuk melalui ventilasi kamar. Ternyata aku tertidur sampai melewatkan shalat subuh, ku lihat jam dinding sudah pukul tujuh tiga puluh pagi. Dan aku teringat dengan tujuanku hari ini untuk meminta cuti pada Mbak Rika. Kegiatanku setiap hari selalu tertulis rapi di buku jurnal, supaya memudahkanku melakukan segalanya. Setelah mengirim pesan pada Mbak Rika, aku bersiap mandi dan melakukan segalanya. Saat aku sudah siap dan melihat alamat melalui Google maps, ada panggilan masuk dari Pak Jarwo. Dengan antusias aku segera menerima panggilan telepon itu. Pak Jarwo menanyakan kabarku dan tujuanku meneleponnya waktu itu, tanpa basa-basi ku ceritakan segalanya pada beliau. Dari awal kejadian penemuan mayat di gedung tua, beberapa sajen dan sosok Leak yang tiba-tiba menyerangku.
"Astaghfirullah Nduk, kenapa kau ingin mencampuri urusannya, jika itu akan mendatangkan bahaya untukmu. Mayat yang kau sebutkan itu adalah pengikut sosok menyeramkan yang menyerang mu malam itu. Pantas saja arwah Simbah Parti mendatangiku, dan memintaku melindungimu. Aku sudah menerawang melalui batinku, karena itulah sosok penjagamu dulu kembali. Aku memanggilnya supaya ia lebih leluasa menjagamu, karena saat ini aku dibutuhkan di beberapa Desa. Ada wabah penyakit yang tiba-tiba menyerang warga disana. Kau tahu sendiri to Nduk, Mbah Karto sedang sakit keras, dan tak ada lagi yang bisa membantu warga Desa selain diriku." jelas Pak Jarwo yang mengatakan belum bisa datang ke Kota, karena dirinya lebih dibutuhkan disana.
Ya, aku mengerti dengan tanggung jawab Pak Jarwo. Beliau tak bisa meninggalkan warga desa yang kini bergantung padanya, selain berurusan dengan hal-hal gaib beliau juga ahli dalam menyembuhkan penyakit dengan cara alternatif. Aku mengatakan pada Pak Jarwo, jika ia bisa menyelesaikan tugasnya terlebih dulu. Dan bisa datang ke Kota kapan saja ia bisa, lalu beliau mengakhiri panggilan telepon itu setelah istrinya memberitahu ada warga yang sudah menunggu nya di ruang tamu.
"Apa yang akan ku katakan pada Mas Adit ya? Keduanya tak bisa membantu saat ini, biarlah jenazah itu dikuburkan saja. Lagipula arwah ibu itu sudah rela dikubur tanpa kepala." gumamku seraya mencari jasa ojek online melalui ponsel.
Triing.
Seorang Driver lelaki menyapaku melalui aplikasi ojol, ia memberitahu akan tiba dalam waktu lima menit. Wah cepat juga ya Drivernya, aku bergegas memakai sepatu dan berjalan keluar kamar. Segarnya udara pagi di depan kamar, embun-embun berjatuhan dari dahan pohon. Ku lihat kamar Mbak Ayu masih tertutup dari dalam, sementara kamar Umi dan Janni terbuka sedikit. Ternyata Umi sedang sarapan di ruang depan, sementara Janni masih terlelap di dalam kamar.
"Loh Janni kenapa gak dibangunin sekalian Um?"
"Eh Rania, sini sarapan dulu bareng gue. Kebetulan gue masak nasi goreng agak banyak nih, eh gak taunya si Janni sift siang. Jadinya gue sarapan sendirian deh." jelasnya dengan melahap kerupuk di tangan kanany.
"Bukannya nolak nih, tapi sorry gue udah di tunggu Mas ojol. Gue duluan ya Um, Assalamualaikum." kataku seraya berjalan ke pagar depan.
Nampak lelaki dengan Sepeda motor bebek menyunggingkan senyumnya padaku. Ia menyapaku dengan ramah dan memberikan helm.
"Sesuai Aplikasi ya Kak?" katanya dengan ramah.
"Ya elah Mas, formal banget sih!" seruku dengan menepuk pundaknya.
...Bersambung....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 299 Episodes
Comments
Tina
💪💪💪💪💪 terus ya thor....jgn bosan & marah atau sebal dengan kerenah kami para readersmu ☺️☺️☺️☺️☺️ habisnya karyamu memang layak ditunggu sih... Author memang hebat 👍👍👍👍 dan terbaik sih 🥰🥰🥰🥰🥰🥰
2023-07-04
0
Ray
Serem amat penglihatan yg terjadi sama Rania 😱🙏
2022-11-17
1
Milah
CeritaNyaa Jdi Bikin Yang Baca Dag-dig-dug Seeerrrr🤣
2022-11-11
1