Setelah membaca pesan wassap Mas Adit, aku jadi semakin penasaran. Bagaimana mungkin petugas kepolisian yang sudah ahli dalam bidangnya, tidak dapat menemukan kepala mayat tersebut. Jangan-jangan ini ada sangkut pautnya dengan hal-hal mistis. Aku memijat pangkal hidungku, karena kepalaku terasa sedikit berat.
"Apa lebih baik aku konsultasi ke Mbah Karto atau Pak Jarwo ya?" batinku di dalam hati.
Tak terasa adzan subuh berkumandang, ternyata aku memikirkan misteri penemuan mayat itu sudah hampir satu jam. Ditambah rasa pusing di kepalaku, mungkin efek terjatuh dari tempat tidur tadi. Segera ku ambil air wudhu, dan melaksanakan shalat.
Drett drett drett. Ponselku bergetar dengan nada dering yang nyaring di telinga. Astaga rupanya aku ketiduran di atas sajadah, aku buru-buru berdiri dan mematikan alarm di hape. Takut mengganggu tetangga di kamar sebelah.
Seperti biasanya aku segera bersiap untuk berangkat kerja. Jika pagi seperti ini biasanya jalan ninjaku adalah memesan ojek online, karena jika harus menunggu busway akan terlalu lama, dan membuatku terlambat sampai kantor.
"Atas nama Kak Rania?" tanya seorang lelaki dengan jaket berwarna hijau.
Segera ku pakai helm, dan Mas ojol mengendarai motornya melewati gang-gang kecil supaya tak terjebak kemacetan di jalan raya.
"Wah Mas nya pinter cari jalan tikus ya, kalau gini saya bisa sampai di kantor lebih cepat dari biasanya." ucapku dengan menyunggingkan senyum lega.
"Iya Kak, kebetulan saya asli sini. Jadi paham jalan tikus kaya gini. Ngomong-ngomong Kakak ini sudah lama atau masih baru di kost itu?" tanya Mas Ojol tampak ragu berbicara.
"Hmm belum lama sih Mas, kebetulan pemilik kost itu masih saudara jauh Papa saya. Jadi ya saya memilih tinggal disana, selain dapat harga murah, tempat kerja saya juga tidak terlalu jauh dari kost itu. Memangnya kenapa ya Mas?"
Sesaat Mas ojol itu terdiam tak menjawab pertanyaan ku, ia sedang terjebak dengan kemacetan karena ada mobil yang berhenti di tengah jalan yang sempit. Setelah semua pengguna jalan membunyikan klakson, si pengemudi mobil itu akhirnya mengemudikan mobilnya kembali.
Plakk. Ku tepuk pundak Mas Ojol, dan ku ingatkan tentang pertanyaan ku yang belum sempat ia jawab.
"Oh itu. Anu Kak itu. Hmm... Kakak gak takut ya tinggal disana? Biasanya yang ngekost disana gak akan bertahan lama sih kak, kecuali Mbak Dahayu yang masih keponakan si pemilik kost." jelasnya agak kikuk.
"Saya sih gak takut Mas, emang sih ada sedikit keanehan disana. Tapi buat saya masih normal aja, selama gak terlalu mengganggu, ya saya diemin aja Mas. Tapi makasih info nya Mas."
Setelah menempuh empat puluh menit perjalanan, motor yang ku tumpangi sampai di depan Kantor.
"Mas sudah saya bayar pakai aplikasi ya, dan ada sedikit tips buat Mas nya." kataku dengan menyerahkan helm padanya.
"Makasih ya Kak, semoga harinya menyenangkan, dan semua pekerjaannya lancar. Permisi." ucapnya seraya memacu kembali motornya.
Aku berdiri di lobby kantor, ku pandangi beberapa karyawan yang mulai berdatangan. Nampak bayangan putih di antara karyawan yang memasuki pintu lift, ku picingkan kedua mata melihat ke arah lift dengan sesekali mengucek mata. Perempuan berkebaya putih dengan selendang yang melingkar di pinggulnya, kini sedang menatapku tanpa berkedip.
Degh!
"Di dia. Jangan-jangan dia adalah mayat tanpa kepala itu?" gumamku dengan jantung yang berdetak tak beraturan.
Plaakk. Mbak Rika datang dari belakang, dan menepuk pundakku. Sontak saja aku terkejut, dan menjatuhkan sebungkus nasi kuning, yang ku beli di dekat kost an.
"Ya elah Ran, gitu aja kaget lu. Lagi ngelamunin apa sih, sampai gue segede ini lu kagak lihat?" tanya Mbak Rika dengan wajah heran.
Aku tak langsung menjawab pertanyaan Mbak Rika, karena fokusku masih pada perempuan berkebaya itu. Tapi ketika ku melihat ke arah yang sama, pintu lift terlanjur tutup, dan aku tak dapat melihat wujud perempuan berkebaya itu lagi. Segera ku ambil bungkusan nasi ku, dan ku jelaskan pada Mbak Rika jika aku mengalami gangguan mistis setelah mendatangi gedung tua kemarin.
"Ya udah lah Ran, lagipula itu sudah kemarin kan. Emangnya lu masih mau lanjutin investigasi kasus penemuan mayat itu?"
"Gimana lagi Mbak, gue udah terlanjur tau dan melihat hal-hal yang gak seharusnya gue lihat. Mau gak mau gue harus tuntasin kasus itu, apalagi penelusuran gue nantinya juga akan menguntungkan media kita kok. Doain gue ya Mbak, supaya gak ada masalah yang rumit nantinya." ucapku dengan menghembuskan nafas panjang.
"Tunggu deh Ran, kok lu kelihatannya serius banget? Masalah rumit yang lu maksud itu ada hubungannya dengan hal-hal gaib yak?" Mbak Rika menatap wajahku dengan kedua alis yang mengait. Kini ia memegang tanganku dan berkata, jika aku tak perlu melakukan itu hanya untuk menaikan rating berita.
"Gue gak mau lu ngebahayain nyawa lu Ran, cukup gue kehilangan Luna, sepupu gue yang udah gue anggep seperti adik sendiri. Gue udah banyak denger tentang lu dari almarhum Luna, dulu lu juga kan yang bantuin dia terlepas dari demit yang suka sama dia?"
"Bukan masalah pekerjaan juga sih Mbak, gue ada urusan pribadi yang gak bisa gue jelasin ke lu. Dan tentang Luna, gue minta maaf ya Mbak, gak bisa nyelametin dia lagi waktu itu." jelasku dengan wajah sendu.
"Udah lah Ran, mungkin udah takdir Luna begitu. Sepertinya dia emang pengen nyelametin lu, karena Luna tau lu lebih dibutuhin sama banyak orang."
Untuk sesaat kami sama-sama terdiam, kami kembali teringat kejadian beberapa bulan lalu. Sebelum aku menyelesaikan kuliah, aku dan Luna mengalami kecelakaan. Tapi ia mengorbankan dirinya, mendorongku supaya tak tertabrak mobil yang memacu kecepatan di jalan depan kampus. Semoga Luna husnul khatimah ya Allah. Ponselku berdering dan membuat kami kembali tersadar, jika masih berada di depan lobby. Segera ku terima panggilan telepon dari Mas Adit, dia mengatakan ingin bertemu denganku di Rumah Sakit Medika secepatnya.
"Aduh Mas, aku baru sampai kantor dan belum absen nih. Bisa tunggu sejaman lagi gak? aku mau sarapan dulu nih." jelasku dengan memegangi perut yang keroncongan.
"SEKARANG! INI MASALAH HIDUP SESEORANG RAN!" ucap Mas Adit dengan tegas.
Nafasku berderu kencang begitu mendengar ucapan Mas Adit, kini ku pandangi Mbak Rika yang ada di sebelahku. Ku berikan bungkusan nasi kuning, dan meminta ijin darinya untuk pergi menemui Mas Adit.
"Aku akan segera kesana Mas, tunggu aku di pintu depan ya." segera ku matikan panggilan telepon dan berlari ke mesin absensi karyawan.
Tak ada waktu untuk menjelaskan banyak hal pada Mbak Rika, aku hanya mengatakan ini menyangkut hidup seseorang. Dan bisa saja ada keuntungan nya untuk kantor media kami. Mbak Rika memberikan ijin dengan syarat, harus menjaga diri dari makhluk-makhluk tak kasat mata, yang bisa kapan saja menggangguku. Aku memeluk Mbak Rika, dan mengatakan jika akan segera memberinya kabar.
...Hayooloh kalian semua ada yang masih inget sama Luna gak? coba di ingat-ingat, tulis di kolom komentar ya. Apa yang kalian ingat tentang Luna? Jangan lupa berikan Gift dan Votenya, supaya othor yang baperan ini tambah semangat nulisnya. ...
...Bersambung. ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 299 Episodes
Comments
🥀princes_novel❤️🥀
kasian sekali Luna meninggal juga pada akhirnya walaupun udh bebas dari si Pardi... ters kabar si Lala gmna ya Thor?
2024-02-21
1
Gamer GAMING
ini berdasarkan pengalaman apa fiktif
2023-07-03
2
Putri
luna hamil ank arwah ny pardi...jdi dia harus tinggal dlu d alam gaib...
2023-07-02
1