Setelah perbincangan dengan Mas ojol di sepanjang perjalanan, akhirnya ia bersedia mampir ke tempat kost ku. Aku beralasan ingin sedikit bertanya-tanya tentang profesinya sebagai Driver ojek online, karena tak enak menolak permintaan ku, si Mas ojol bersedia ku wawancarai. Meski sebenarnya itu hanya alasan ku, supaya aku bisa menyampaikan pesan terakhir adiknya.
"Duduk dulu Mas, saya masuk bentar bikin kopi. Maaf ya Mas, mengganggu pekerjaan nya." ucapku tak enak.
Nampak roh sang Adik melesat mengikutiku ke dalam, ia mengatakan sesuatu supaya sang Kakak percaya pada ucapanku. Ia menceritakan masa lalunya, ketika ia masih sekolah di tingkat menengah atas. Kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan, sejak saat itu sang Kakak yang harus membiayai semua kebutuhannya. Karena putus asa setelah kepergian orang tuanya, ia menjadi anak yang arogan, dan bolos sekolah hingga memakai uang yang seharusnya dipakai untuk biaya pendidikan nya. Karena sang Kakak tak sanggup menutup biaya sekolah itu, akhirnya ia di keluarkan dari Sekolahnya. Sering terjadi perdebatan di antara keduanya, hingga ia pergi dari rumah dan merantau ke luar kota bekerja di sebuah pabrik kayu selama beberapa tahun ini. Setelah ia dewasa barulah ia menyadari kesalahannya, dan ia memutuskan pulang ke rumah. Baru sepekan tinggal bersama sang Kakak, ia dan teman-teman Kakaknya pergi menonton pertandingan sepak bola, yang menjadi hari na'asnya saat itu.
"Ceritakanlah semua padanya, katakan saja aku ada disini untuk berpamitan padanya. Karena cepat atau lambat, ragaku tak akan bertahan lama, mintalah ia menuruti permintaan terakhir ku, supaya peralatan medis itu tak menghentikan kepergian jiwaku ke alam keabadian." katanya dengan wajah sendu.
Aku menghembuskan nafas panjang, rasanya dadaku sesak tak sanggup mengatakan itu semua. Aku menyuguhkan secangkir kopi hitam dengan sepiring biskuit kelapa, Mas ojol sesekali melihat ponselnya, sepertinya ia sedang menunggu orderan masuk.
"Silahkan diminum Mas, maaf seadanya aja."
Mas ojol meneguk kopi dan satu biskuit, ia bertanya padaku, kapan dimulai wawancaranya. Sontak saja aku terkesiap, dan menelan saliva ku.
"Sebelumnya maaf ya Mas, saya mau tanya Masnya percaya dengan hal-hal gaib gak?" tanyaku membuka pembicaraan.
"Dibilang percaya ya gak terlalu juga sih Kak, tapi kalau saya gak percaya salah juga, bukannya ada ulamak mengatakan jika kita hidup di dunia ini tidak sendirian. Itu artinya ada makhluk lain yang tak terlihat ada di antara kita." jelasnya dengan mengaitkan kedua alis matanya.
Aku menjetikan jari, ketika mendengar penjelasan Mas ojol. Ada kemungkinan ia akan percaya dengan ucapanku.
"Jadi begini Mas, kebetulan saya punya kelebihan untuk melihat makhluk tak kasat mata seperti yang Masnya jelaskan tadi. Saya mendapat pesan dari sosok itu, ia adalah jiwa tanpa raga. Sepertinya jiwanya keluar dari raga karena tahu waktunya di dunia ini tak akan lama, Mas tahu gak siapa yang sedang saya bicarakan?" kataku dengan wajah serius.
Mas ojol membetulkan posisi duduknya, ia melihatku lalu menoleh ke kanan dan ke kiri. Raut wajahnya terlihat sendu, dengan mata berkaca-kaca.
"Apakah itu adalah jiwa Adik saya Kak?"
Degh! darimana ia tahu itu, aku terkejut mendengar jawabannya. Tak ku sangka, akan lebih mudah untukku menjelaskan semua padanya.
"Hmm. Iya Mas, itu adalah jiwa Adik Masnya. Saat ini ia ada disini sedang mendengar semua pembicaraan kita. Ia meminta maaf atas semua perbuatan nya di masa lalu, ia telah banyak menyusahkan Mas, dan selama ia pergi meninggalkan rumah, ia bekerja di Pabrik kayu yang ada di Kota Cirebon. Selama bertahun-tahun ia bekerja, dan memiliki asuransi yang bisa Mas cairkan untuk membantu kebutuhan Masnya. Dan ada satu lagi yang ia minta." aku tak sanggup melanjutkan perkataan, kini Mas ojol sudah benar-benar meneteskan air mata.
"Yang sabar ya Mas, mungkin Adiknya ingin membalas budi, karena sebelumnya ia sudah melakukan kesalahan."
"Saya gak anggap itu sebagai kesalahan Kak, buat saya itu adalah prosesnya menuju dewasa. Jadi saya memaklumi kenakalan nya pada waktu itu. Justru saya yang merasa bersalah, gak bisa jadi pengganti orang tua yang baik untuknya."
Kami sama-sama terdiam sebelum akhirnya Mas ojol melanjutkan perkataannya.
"Jika Adik saya sedang koma di Rumah Sakit, berarti saat ini jiwanya sedang gentayangan disini Kak? tolong mintalah padanya untuk masuk ke dalam raganya, supaya ia dapat bangun dari komanya. Saya ingin menebus waktu yang terbuang sia-sia setelah kepergian Adik saya. Mintalah padanya untuk kembali ke raga nya Kak, saya mohon dengan sangat." pinta Mas ojol dengan menyatukan kedua tangannya di depan dada.
"Aduh Mas jangan seperti itu, jadi saya yang gak enak. Sebenarnya ada satu hal yang belum saya sampaikan, pesan terakhirnya adalah untuk merelakan nya, ia meminta keikhlasan Mas supaya semua alat medis yang menempel di tubuhnya dilepaskan saja. Karena sesungguhnya ia sudah tahu, kalau waktunya di dunia ini gak akan lama. Mas harus ikhlas, supaya Adiknya dapat pergi dengan damai ke alam keabadian." jelasku dengan hati terenyuh, tak sanggup melihat ekspresi wajah Mas ojol itu.
"Gak! saya gak akan melepaskan semua peralatan medis itu, hanya itu satu-satunya harapan saya supaya Adik saya sadar kembali." kini Mas ojol benar-benar berlinang air mata, ia meratapi nasib sang Adik dan berteriak memanggil namanya berulang kali.
Nampak jiwa sang Adik ikut hanyut dalam duka sang Kakak, jiwa nya melesat mendekati Kakaknya, ia berusaha memeluk Kakaknya, tapi usahanya sia-sia saja. Jiwanya selalu menembus tubuh sang Kakak. Pemandangan menyedihkan terjadi dihadapanku, membuatku teringat dengan kepergian Simbahku.
"Kak dimana Adik saya saat ini?"
Aku menunjuk ke sebelahnya, supaya ia tahu dimana keberadaan sang Adik. Mas ojol berdiri menghadap ke arah jiwa Adiknya berdiri mengambang, ia berkata jika apapun yang terjadi ia tak akan putus harapan. Berapapun biaya Rumah Sakit akan ditanggungnya. Kini tak ada lagi yang bisa ku lakukan, jika itu sudah menjadi keputusan Kakaknya. Jiwa tanpa raga itu berusaha meyakinkanku untuk memaksa sang Kakak mendengar permintaan terakhirnya, tapi ku tekankan padanya, jika itu sudah menjadi keputusan nya. Aku hanya bisa membantu menyampaikan pesan nya saja, dan untuk keputusan yang di ambilnya merupakan hak sang Kakak sebagai keluarga. Kesempatan terakhir ku meyakinkannya, jika ia tetap pada pendiriannya, aku tak bisa memaksa lagi.
"Bukannya saya lancang Mas, tapi jiwa Adikmu sudah tahu jika kesempatan hidupnya tak akan lama lagi. Menurutnya hanya akan membuang biaya percuma saja, dan dengan kerendahan hati saya sampaikan permohonan maaf, kalau perkataan saya terdengar lancang."
Nampak Mas ojol terdiam dengan meneteskan air mata, ia memijat pangkal hidungnya seakan mempertimbangkan ucapanku. Entah apa yang akan menjadi pilihannya, hanya Mas ojol itu saja yang tahu, dan kini tugasku menyampaikan pesan sudah selesai. Semoga jiwa tanpa raga itu bisa beristirahat dalam damai untuk selamanya.
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 299 Episodes
Comments
Ray
Ikhlasin Bang Ojol, semua Outhor yg atur ceritanya🙏🙏
2022-11-17
2
Milah
Kasian Sama Abang OjolNya:(
2022-11-08
2
ɳσνιρυтяι😻IG•Author_noviputri
buat besok ada doubel up ya teman-teman, semoga otak othor encer terus biar bisa nulis banyak tiap hari 😂
2022-10-17
3