Kemudian aku menanyakan pada warga yang berada disana setelah mobil polisi berdatangan. Aku penasaran siapa orang pertama yang menemukan mayat tersebut. Tapi warga tersebut terdiam, ia menatap orang yang ada disebelahnya seraya mengangkat bahunya.
“Kami tidak tau apa-apa mbak, kami justru datang kesini karena penasaran banyak mobil polisi berhenti di depan gedung tua ini.”
Tapi beberapa dari mereka juga berkata, jika mereka datang karena mendengar desas-desus tentang penemuan mayat. Aku hanya mengambil kesimpulan, jika mereka ada yang memang sengaja diam tak ingin bercerita tentang seseorang yang menemukan mayat itu pertama kalinya. Hal ini semakin menguatkan kecurigaan ku, bahwa ada sesuatu yang disembunyikan dari kasus ini.
Aku menunggu di depan mobil, mataku tertuju ke arah petugas yang masih sigap berjaga di depan garis kuning. Anjing polisi dibawa menyusuri sekitar TKP, untuk mencari barang bukti yang kemungkinan tertinggal.
Tiba-tiba sebuah mobil jeep datang, nampak seorang lelaki bertubuh tinggi besar dengan kumis tipis di wajahnya, berjalan tergesa-gesa ke arah garis kuning yang sedang di jaga petugas.
“Mas Adit.” aku menjentikan jariku karena melihat mantan senior ku di kampus dulu.
Ya Mas Aditya sekarang bekerja sebagai petugas kepolisian, mungkin dia juga ikut menangani kasus ini. Aku berjalan setengah berlari menghampiri Mas Adit, tapi lelaki itu semakin mempercepat langkah kakinya.
“Mas Adiiit!” panggilku seraya melambaikan tangan.
Lelaki itu tampak menoleh ke arahku, dan menghembuskan nafas panjang.
“Ada apa Rania? Jika ingin menanyakan kabar nanti saja, aku sedang sangat sibuk saat ini.”
Aku menarik tangannya dan membisikkan sesuatu di telinganya. Jika aku ingin masuk bersamanya ke dalam gedung tua itu. Nampak kedua mata Mas Adit melotot terkejut, ia memandangi wajahku dengan lebih serius.
“Ran, ini bukan tempat wisata yang bisa seenaknya dimasuki orang. Di dalam sana ada mayat yang harus segera di identifikasi, karena tanpa identitas sama sekali.”
“Aku tau kok mas, justru itu aku ingin masuk bersamamu. Aku ingin meliput TKP, dan mendapatkan berita untuk headline besok.” Jelasku sambil menunjukkan kartu jurnalis yang menggantung di leherku.
“Oh jadi sekarang kau benar-benar menjadi wartawan, seperti yang pernah kau katakan padaku dulu. Baguslah kalau begitu, tapi kita tunda dulu obrolan nya. Aku harus segera masuk ke dalam.”
“Tolonglah mas ijinkan aku masuk ke dalam sebentar saja, please!” aku memohon dengan menyatukan kedua tangan.
Mas Adit terpaksa mengijinkan ku masuk ke dalam, dengan syarat tak boleh memegang apapun yang ada di dalam gedung tua itu. Aku pun dengan cepat menganggukkan kepala, menyetujui persyaratan yang diberikan mas Adit. Tentu saja mas Adit akan luluh dengan permintaan ku, karena dulu ia sempat dekat denganku. Dan menurut teman-temannya, ia memiliki perasaan padaku. Karena setelah ia lulus kuliah kami sempat lost contact, dan baru kali ini kami bertemu kembali dengan situasi yang berbeda.
Setelah berjalan selama lima belas menit, akhirnya kami sudah masuk ke dalam lokasi penemuan mayat itu. Dan anehnya banyak sekali petugas yang berjaga di sekitar lokasi. Aku melangkah semakin masuk ke dalam TKP, nampak tatapan ketus dari beberapa petugas. Mereka semua terlihat sinis melihatku berada disana.
“Rania, jangan bikin masalah disini ya. Nanti aku bisa malu dihadapan para petugas lainnya. Ingat ya, kau cuma boleh melihat, jangan mengambil foto atau menyentuh apapun. Ngerti kamu?” ucap Mas Adit dengan nada suara tegas. Aku hanya membalas dengan anggukan kepala, meski tak yakin dapat menepati ucapannya atau tidak.
Aku melangkah masuk ke area dimana petugas keluar masuk. Di salah satu ruangan, aku menghirup aroma tidak sedap seperti aroma bangkai. Ya mungkin saja mayat itu sudah mengeluarkan aroma busuk, pikirku dengan menutupi hidungku. Setelah melihat ke berbagai sudut, aku berjalan masuk ke dalam sebuah ruangan yang sangat gelap. Tapi seorang petugas menghentikan langkahku.
“Siapa anda? Kenapa anda bisa masuk kesini?”
Aku terdiam melihat mas Adit, lalu ia berjalan mendekati kami.
“Dia datang bersamaku, biarkan saja dia disini.”
“Tapi pak, dia ini wartawan.”
“Iya, saya tahu kok.”
Nampak si petugas menatapku dengan sorot mata sinis, seakan ia sangat kesal padaku. Tapi aku berusaha bodo amat, dan segera pergi meninggalkannya.
Aku berjalan perlahan masuk melihat kondisi mayat. Aku melihat secara langsung seorang perempuan menggunakan baju kebaya dan kain jarik, sedang duduk bersila di lantai dengan tangan menyatu di depan dada. Terlihat kondisi mayatnya sangat mengenaskan, karena kepala yang terpisah dari tubuhnya. Aroma bangkai yang sangat menyengat memenuhi ruangan tersebut, aku langsung menutup hidungku sebelum semua isi dalam perutku menyeruak keluar. Setelah melihat dan menulis apa saja yang ku lihat, aku segera pergi meninggalkan ruang tersebut. Kepalaku masih menerka-nerka bagaimana hal itu bisa terjadi.
“Siapa perempuan itu?” batinku bertanya-tanya.
Dari kejauhan terlihat mas Adit berjalan ke arahku, ia memberikan sapu tangan yang ada di dalam tas ranselnya.
"Ini ambilah. Setelah melihat semua yang ada di dalam, kau bisa pergi sekarang kan Ran. Kau sudah mendapatkan apa yang kau mau. Kau bisa menulis semua yang kau lihat untuk deadline besok.” Kata mas Adit dengan lembut.
“I iyaa mas, terima kasih sudah membawaku masuk. Tapi ada yang masih menjadi pertanyaan di kepalaku, siapa sebenarnya perempuan itu? Aku belum mendapat informasi apapun mengenai itu.”
“Tak ada yang tahu identitas mayat itu, jika nanti hasilnya sudah keluar akan ku kabari. Berikan saja nomer wassap mu.”
Aku pun segera menulis nomor wassap ku di selembar kertas putih, dan segera ku berikan pada mas Adit. Setelah itu mas Adit segera pergi meninggalkanku untuk melanjutkan pekerjaannya, aku hanya diam terpaku dengan menerka-nerka. Ada kejadian apa di gedung tua ini sebenarnya. Ketika aku sedang sibuk dengan pikiran ku sendiri, tiba-tiba ada bayangan hitam yang terbang masuk ke dalam sudut ruangan yang paling gelap. Fokusku seketika teralihkan, dan aku mengikuti kemana perginya bayangan tersebut.
Di dalam sudut ruangan yang gelap terasa pengap, bayangan hitam itu menghilang setelah menembus dinding. Aku mengambil ponsel di dalam tas, lalu menghidupkan senter. Ku soroti berbagai sudut ruangan itu, nampak sesajen dengan bunga tujuh rupa, kemenyan, kendi, dan ada canang sajen khas bali.
Aku mencoba mengamati semuanya, dan menulis semua yang ku lihat. Kenapa ada sajen khas Bali disini ya? Apa yang meletakan nya disini orang yang memiliki ilmu mistis, yang masih berdarah Bali. Mengingat mayat yang ditemukan memakai pakaian tradisional seperti perempuan Bali pada umumnya. Tapi mungkinkah hal seperti itu masih ada di Kota besar seperti ini? Batinku bertanya-tanya. Aku benar-benar tak habis pikir, siapa yang tega memotong kepala perempuan itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 299 Episodes
Comments
Mama Jihan
ini Rania yg ada d'rawa belatung bukan kak Author 🤔🙏
2024-02-21
1
Linda Novie
ketemu lagi sama kelanjutan Rania yg di desa rawa belatung sukses ya KK😘😘😘
2023-02-12
1
Ray
Apakah korban itu untuk tumbal pesugihan Outhor🤔?
2022-11-17
1