Setelah Mbak Ayu berpamitan, aku segera masuk kamar untuk mandi dan shalat maghrib. Triing. ada pesan wassap dari Mas Adit, ia bertanya padaku, apakah aku mengenai seseorang yang bisa membantunya menemukan kepala mayat perempuan itu. Karena jika sampai lusa tak ditemukan, mayatnya harus segera dikuburkan. Dan kasus tepaksa berhenti, karena tak ditemukan bukti apapun atas kematian korban.
"Oh iya, aku kan udah janji mau membantu Mas Adit menyelesaikan kasus ini. Mungkin semua akan terungkap jika aku meminta bantuan Mbak Karto saja." batinku seraya mencari nomer wassap Wati, untuk memintanya ke rumah Mbah Karto dan menyampaikan pesanku.
Setelah Wati menerima panggilan teleponku, ia menjelaskan jika saat ini Mbah Karto sedang sakit. Menurutnya sakit yang diderita Mbah Karto adalah komplikasi, dan ia tak bisa bepergian jauh-jauh. Ya, meski aku tahu Mbah Karto bisa saja menerawangnya dari sana. Tapi aku tak mau membebani beliau dengan masalah lagi, biar saja Pak Jarwo yang akan ku mintai tolong. Mungkin tubuh tua Mbah Karto, sudah membutuhkan istirahat dimasa tuanya.
Beberapa kali ku hubungi Pak Jarwo, tapi panggilan telepon itu belum berdering sejak tadi. Mungkin tak sinyal atau batrei hape nya habis. Ya sudahlah, ku hubungi besok lagi.
Dari dalam kamarku nampak bayangan lampu gantung yang bergoyang-goyang tak beraturan. Aku penasaran kenapa selalu di sudut itu saja yang lampunya bergoyang, aku berjalan ke arah lorong yang nampak remang-remang. Tapi dua orang perempuan dengan baju putih-putih mengagetkanku, ia adalah tetangga kost yang bekerja sebagai perawat di salah satu Rumah Sakit swasta di Jakarta.
"Astaghfirullah Umi, Janni, kalian ngagetin aja sih!" seruku dengan jantung yang berdetak kencang.
"Ups. Sorry deh Ran, kita gak ada maksud buat ngagetin lu. Kebetulan kami baru pulang kerja, karena penasaran ada seseorang mengenakan kain serba putih, akhirnya kami datengin deh. Eh gak taunya lu Ran, udah kelar shalat kenapa gak lepas mukena sih. Bikin takut aja, kirain beneran ada setan disini." jelas Janni dengan nafas lega.
"Iya nih Rania, bikin sport jantung aja. Udah tau lorong ini rada aneh kalau diperhatikan, apalagi samar-samar ada aroma dupa di sekitar sini. Jangan-jangan ada." belum sempat Umi melanjutkan ucapannya, Janni langsung membekap mulut Umi dengan tangannya.
Aku menatap keduanya dengan heran, seperti ada yang mereka sembunyikan. Karena penasaran dengan gerak gerik keduanya, aku memaksa mereka untuk melanjutkan ucapan Umi yang tertunda. Lalu keduanya saling menatap satu sama lain, tanpa berkata apa-apa keduanya menarik tanganku menjauh dari lorong itu.
"Sebenarnya ada yang aneh di lorong sana, tiap magrib lampu gantungnya selalu gerak sendiri, goyang-goyang gitu kaya ada yang mainin. Kalau kena angin sih gak mungkin, karena cuma lampu di lorong itu doang yang gerak. Karena kami gak mau berpikiran yang negatif, kami berusaha cuek aja. Dan yang bikin penasaran lagi nih, di hari-hari tertentu selalu ada yang bakar dupa gitu. Tapi kita gak tahu darimana asalnya." kata Umi dengan peluh yang membasahi keningnya.
Kemudian Janni mengatakan padaku, jika ada sebuah ruangan di balik lorong itu. Ruangan yang gak pernah terbuka, hanya keluarga yang punya kost saja, yang boleh masuk kesana.
"Berarti Mbak Ayu juga pernah masuk kesana dong? kan dia keponakan yang punya kost ini juga, tapi kalau menurut kalian begitu, harusnya gue juga boleh masuk dong kesana. Secara kam gue masih saudara jauh Om Dewa." kataku dengan memandang Umi dan juga Janni.
Nampak mereka sama-sama menganggukkan kepalanya. Mereka berkata padaku, untuk bertanya langsung pada Om Dewa. Padahal semenjak tinggal disini, belum pernah sekalipun kami bertatap muka. Bagaimana aku bisa bertanya langsung pada beliau.
Tap tap tap. Terdengar suara langkah kaki mendekat ke arah kami, nampak bayangan hitam di ujung lorong sana. Umi dan Janni saling berpegangan tangan, tubuh mereka menempel padaku. Aku berdiri paling depan di antara mereka, ku perhatikan dengan seksama siapa yang berjalan ke arah kami. Begitu sosok perempuan dengan baju serba hitam nampak, kedua mataku terbelalak, ternyata itu adalah Mbak Ayu yang sedang membawa beberapa buah-buahan di atas nampan.
"Duh Mbak Ayu ngagetin aja sih, pakai baju hitam-hitam jalannya pelan-pelan lagi." ucap Janni menghembuskan nafas panjang.
"Iya nih, kita jadi takut kirain hantu tadi." kata Umi dengan mengusap peluh di keningnya.
"Wah kalian semua takut ya? sorry deh, gue habis bersihin ruang keluarga nih. Biasanya Om Dewa, suka datang mendadak gitu. Jadi ya terpaksa gue bersihin malam-malam begini, soalnya waktu luang gue memang jam segini." jelas Mbak Ayu dengan senyum datar.
"Oh Om Dewa kadang pulang dadakan ya Mbak? kok bukan Ce Edoh yang bersihin ruangannya? terus buah-buah itu buat apa an Mbak?" tanyaku penasaran karena melihat di balik buah-buahan itu ada janur yang sudah menghitam, tapi tertutup dengan buah-buahan yang sudah nampak layu dan tak segar lagi.
"Ce Edoh hanya bersihin ruangan lainnya aja Ran, sama kamar-kamar anak kost doang. Ruang keluarga di Rumah ini hanya keluarga aja yang boleh masuk, jadi ya gue yang bersihin. Karena banyak barang berharga di dalamnya, Om Dewa udah gak percaya sama orang luar. Karena dulu pernah ada ART yang ngambil barang dan uang simpanannya."
Sebenarnya masuk akal juga penjelasan nya, tapi Mbak Ayu tak menjawab pertanyaan ku mengenai buah-buahan yang ia bawa. Untungnya Janni nyeletuk kalau percuma nyimpan buah di ruangan sana, kalau Om Dewa belum pasti datang.
"Hmm buah ini ya? sebenarnya buah ini emang sengaja gue siapkan buat Om Dewa, jadi kalau sewaktu-waktu beliau pulang, ada yang bisa dimakan buat ganjal perut." nampak gelagat aneh dari Mbak Ayu, tapi aku tak tahu harus mengajukan pertanyaan apa lagi. Aku tak enak hati, kalau ia sampai tersinggung dengan rasa penasaran kami.
Mbak Ayu berpamitan untuk melanjutkan kegiatannya, karena masih ada yang harus ia lakukan di ruangan keluarga itu. Kami sama-sama diam, dan melihatnya berlalu setelah meletakan nampan buah tadi ke dalam kamarnya.
"Kenapa gak di buang ya buah-buahan yang layu itu? sebenarnya aku penasaran dengan janur yang tertutup buah layu itu, tapi aku gak enak kalau harus bertanya pada Mbak Ayu." batinku di dalam hati.
Umi dan Janni kembali ke kamarnya, sedangkan aku langsung masuk ke dalam kamar, melepaskan mukena yang sedari tadi ku pakai. Ketika aku membuka mukena, samar-samar terlihat bayangan putih yang melesat ke dalam kamar. Aku berjingkat karena terkejut, mataku memandang ke segala arah, mencari sosok yang melesat ke dalam kamarku.
"Hei! siapa kau? kenapa kau menggangguku? keluar kalau berani, aku gak takut sama makhluk sepertimu!" teriakku lantang dengan berkacak pinggang.
...Menurut kalian siapa yang mendatangi Rania? main tebak-tebakan yuk, tulis komentar kalian di bawah. ...
...Bersambung. ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 299 Episodes
Comments
Siti Arbainah
si Mbak Ayu itu hbis ganti sajen kyanya
2022-12-09
2
Ray
Oh iya waktu masih di desa Rawa Belatung kan Rania punya penjaga, siapa ya namanya, apakah masih berhungan dengan Rania 🤔🙏
2022-11-17
1
yuli Wiharjo
siapa ya yg datang aku ga konsen soalnya lgi merepetin ank gadis wkwkw. kok bs ya merepet sambil baca memang emk emak sekarang ni
2022-11-11
2