Aku menggunakan jasa ojek online untuk pergi ke Rumah Sakit Medika, Mas Adit sudah mengirimkan pesan jika ia menunggu di depan Lobby. Jalanan di Ibukota cenderung macet apalagi di jam kerja seperti ini, hampir satu jam lebih perjalanan ku tempuh. Nampak Mas Adit langsung berlari ketika melihatku turun dari motor. Wajahnya berkeringat, dengan nafas tak beraturan.
"Ayo Ran, kita harus cepat." Mas Adit menarik tanganku dengan setengah berlari.
"Aduh Mas, pelan-pelan dong jalannya. Memang ada apa an sih?" tanyaku dengan menghentikan langkah.
"Dengerin aku ya Ran, di dalam kamar jenazah ada seorang petugas polisi yang kerasukan. Sudah ada yang berusaha mengeluarkan demit yang memasukinya, tapi tak lama ia kembali kerasukan. Bukankah kau bisa melihat makhluk seperti mereka, cobalah berbicara pada demit itu, kenapa ia tak mau pergi juga!" jelas Mas Adit dengan wajah panik.
"Bagaimana awalnya itu bisa terjadi Mas? harusnya kalau emang gak ada masalah berat, demit itu pasti mau keluar dari tubuh petugas polisi." kataku dengan menggaruk kepala yang tak gatal.
"Kau lihat aja lah sendiri!" pungkasnya seraya berjalan menyusuri lorong panjang Rumah Sakit.
Sesampainya di depan kamar jenazah, beberapa petugas polisi sedang berjaga di depan. Ada pula petugas kamar mayat yang sedang komat-kamit dengan membawa segelaa air putih. Sepertinya orang itu yang berusaha mengeluarkan demit yang merasuki petugas. Aku berjalan masuk menghampiri petugas kamar jenazah itu, ia menjelaskan padaku jika demit yang merasuki polisi itu sepertinya punya tujuan tertentu.
"Biasanya teh saya gak sesusah ini neng nyadarin orang yang kerasukan, tapi yang satu ini bener-bener melelahkan. Saya jadi lieur euy, ieu demitnya teu mau keluar." jelas bapak penjaga kamar jenazah, yang kebetulan memiliki sedikit kemampuan khusus.
"Bapak sudah nanya belum, mau nya apa? kenapa sudah keluar, malah masuk lagi?"
"Saya susah komunikasi nya atuh neng, demitnya teh teu mau bicara sama sekali. Sok lihat saja, malah melotot terus kaya gitu." tunjuknya ke arah seorang lelaki yang sedang duduk dengan tangan terikat di kursi kayu.
Ku lihat lelaki itu memandangku tanpa berkedip, ia melotot dengan lidah yang menjulur keluar sesekali. Demit macam apa yang merasukinya ya, batinku bertanya-tanya. Aku berjalan mendekatinya bersama Pak Supri si petugas kamar jenazah. Dengan bantuannya, aku berusaha berbicara dengan demit yang merasuki sang petugas polisi.
"Kau kemana saja Nak? Aku sudah lama menunggu untuk bicara denganmu." ucapnya dengan nada suara perempuan.
Degh! pasti demit perempuan yang merasukinya, dan untuk apa dia menunggku?"
"Tak usah membatin seperti itu Nak, aku sudah mengikuti mu sejak pertama kali kita bertemu di gedung tua itu. Apakah sekarang kau sudah mengingatku?" tanyanya dengan kepala yang tak bisa tegak dan bergerak-gerak ke kanan dan kiri, tapi kedua bola matanya melotot tak berkedip.
"Ap apa ibu ini yang ku lihat di parkiran mobil kemarin? dan tadi pagi ibu mengikutiku ke kantor?" aku bertanya padanya dengan menatap ekspresi wajahnya yang datar.
Lalu ia mengatakan padaku, untuk segera memberikan kotak beserta isinya pada seseorang yang bernama Ketut Dewangga. Aku menoleh ke belakang, melihat Mas Adit yang sedang menelan salivanya. Nampak Mas Adit kebingungan dan menggaruk kepala. Aku menundukkan kepala, dan menjelaskan pada demit itu, jika aku membutuhkan waktu untuk menemuka alamat yang ada di surat itu. Tapi ia berteriak padaku, mengatakan jika aku sudah menemukannya, hanya saja aku belum bertemu dengan orang itu.
"Apa yang kau maksud? aku benar-benar tak tahu dimana letak alamat itu. Dan ada satu hal yang ingin ku tanyakan padamu, apakah kau adalah mayat perempuan di gedung tua kemarin? kami semua ingin menolongmu, supaya keluargamu tahu dan mengambil jenazahmu. Apalagi kondisi jenazah yang tak utuh, dimana bagian tubuhmu yang menghilang itu?" tanyaku tanpa henti, tapi ia hanya diam dengan menundukan wajah.
Huhuhuhu. Suara tangis perempuan terdengar, ia sedang menangis tanpa menjawab pertanyaan ku, kini ia tak lagi melotot tapi wajahnya basah dengan air mata yang tak hentinya menetes.
"Kuburkan saja jazad itu meski tanpa kepala, tak perlu ada ritual ngaben. Karena jazadku belum lengkap, dan jika suatu hari kepalaku ditemukan meski hanya tinggal tengkoraknya. Mintalah ke keluargaku untuk menyatukan jazadku dan melakukan ritual terakhir sesuai keyakinan ku, hanya garis keturunan ku saja yang dapat melakukan itu. Karena hanya dengan bantuannya saja jazadku bisa disempurnakan." jelasnya dengan suara parau dan berlinang air mata.
"InsyaAllah saya akan menyampaikan amanah ibu, tapi sekarang tolong tinggalkan raga manusia ini. Jika memang sudah tak ada lagi yang ingin ibu sampaikan." kataku dengan menghembuskan nafas panjang.
Tak lama setelah itu, sang petugas tak sadarkan diri. Sepertinya roh ibu berkebaya itu telah pergi, setelah menyampaikan pesannya.
"Alhamdulilah Neng, si Bapak sudah gak kerasukan lagi. Demitnya udah keluar dari badan si Bapak. Ternyata memang si Eneng yang ditunggu dari tadi, demit itu hanya mau bicara sama Eneng aja itu mah." Pak Supri menjelaskan seraya mengambil segelas air putih yang sudah ia doakan, lalu meminumkan nya pada si petugas yang mulai mendapatkan kesadarannya.
Aku berjalan menghampiri Mas Adit, ia sedang berdiri bersandar di tembok. Tangannya memegangi kening, nampak raut wajahnya kebingungan. Dan aku berusaha menenangkannya, ku katakan padanya jika semua akan baik-baik saja.
"Apanya yang baik-baik saja Ran? kau lihat sendiri, hantu perempuan itu sepertinya sangat putus asa. Mungkin saja ia mengakhiri hidupnya sendiri, karena tak ingin berurusan dengan Leak peliharaan nya. Jika yang memelihara saja putus asa dan mengakhiri hidupnya, bagaimana dengan kita yang tau tau apa-apa? aku tak mau ada korban selanjutnya Ran!" tegas Mas Adit dengan wajah sendu.
"Semua belum pasti Mas, hantu ibu itu tak mengatakan apapun menyangkut kematiannya. Bisa jadi Leak peliharaan nya yang mengambil nyawanya, tak ada yang tahu kecuali arwah itu sendiri Mas. Hanya ada dua orang yang dapat membantu menyelesaikan misteri ini, aku harus meminta tolong pada mereka."
Mas Adit mengerutkan keningnya, menatapku dengan penuh tanda tanya. Lalu ia mengatakan jika aku tak perlu ikut campur terlalu dalam, karena sebenarnya ini adalah tugas pihak yang berwajib.
"Kau tau kan Mas, jika aku sudah terlanjur dalam mengetahui semuanya. Bahkan arwah ibu itu hanya mau berbicara denganku saja, itu sudah menjadi salah satu alasan, supaya aku ikut menyelesaikan misteri ini." ku bisikan di telinga Mas Adit, jika aku sudah pengalaman dengan hal mistis macam itu.
"Maaf ya Ran membuatmu terseret dalam masalah rumit ini."
"Gak apa-apa kok Mas, aku sendiri yang kemarin memaksamu membawaku masuk ke TKP. Jadi bukan sepenuhnya salahmu, kalau sekarang aku terseret dalam kasus gaib ini." kataku dengan tersenyum sambil menyikut lengan Mas Adit.
Meski terlihat biasa saja, sejujurnya hati kecilku merasa tak tenang. Karena sebelumnya aku tak pernah berurusan dengan Leak, entah itu sejenis hantu atau siluman. Aku sendiri tak paham, mungkin lebih baik aku konsultasi saja ke Mbah Karto ataupun Pak Jarwo. Batinku seraya memandang langit-langit atap Rumah Sakit.
...Bincang-bincang dengan othor bentar yuk, menurut kalian Leak itu semacam hantu atau apa? tulis di kolom komentar ya, bagi kalian yang tau atau ingin menebak saja. Terima Kasih😘💕...
...Bersambung. ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 299 Episodes
Comments
Sulfia Nuriawati
bcanya jd deg deg an, tp penasaran
2024-01-30
1
Tina
Terima kasih sudah mempersembahkan karya bagus buat kami para readersmu ya thor 🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰👍👍👍👍👍👍👍👍👍 jangan bosan buat karya2 yang bagus ya thor 💪💪💪💪💪💪💪 ,tp jgn lupa jga diteliti ulang sebelum diserahkan ke NT ya...biar nggak ada cacatnya, memang sih cacat sedikit/typo2 kecil itu wajar...tp lebih baik lgi kalau karya yg dihasilkan sempurna iya kan thor....jadi kerja keras kita nggak sia2 gitu, selain fans readersmu puas author pasti jga bangga kan ya.... pokoknya terima kasih , salut dan bangga padamu thor...
💪💪💪💪💪💪 terus ya , sehat selalu ❤️❤️❤️❤️❤️❤️ U tor.
2023-07-04
1
Nur Fianti
alhamdulillah mbah karto masih hidup
2023-04-14
1