Setelah membersihkan diri dan menunaikan shalat magrib, aku duduk di ruang depan kamar. Samar-samar masih ada aroma dupa yang terhirup di hidung, lalu aku membuka sedikit pintu kost supaya ada pergantian udara. Nampak bayangan lampu gantung bergoyang-goyang. Seketika ku picingkan kedua mata, mengamati bayangan lampu di ujung lorong sana.
"Kenapa hanya satu lampu gantung itu saja yang bergoyang, seharusnya kalau memang tertiup angin kan yang sebelah sini juga ikutan goyang dong? Lagian dahan pohon di depan juga tak bergerak, kok aneh ya. " gumamku dengan menggaruk kepala yang tak gatal.
"Rania." sapa Mbak Ayu dengan membawa sepiring tahu bulat.
"Eh Mbak Ayu, sini masuk Mbak."
"Tadi aku habis goreng tahu bulat nih, yuk makan bareng-bareng. Oh iya Wati mana nih? kok gak kelihatan dari tadi?"
"Wati pulang kampung Mbak, Ibu nya sedang sakit dan gak ada yang ngerawat. Mungkin dia akan di Desa selama beberapa hari, lagian belum ada panggilan kerja untuknya." jelasku sambil melahap tahu bulat dengan cabai rawit hijau.
"Enak ya kalau masih ada Ibu. Kalau kangen tinggal pulang kampung, masih bisa lihat dan ngobrol sama Ibu." kata Mbak Ayu dengan mata berkaca-kaca.
"Memangnya Mbak Ayu gak bisa pulang kampung karena apa? Kan PNS punya jatah libur tiap hari besar Mbak, jadi Mbak Ayu bisa ketemu orang tua. Gak kaya gue ini, hari liburnya gak jelas Mbak, maklum pengejar berita yang teraktual." ku pandangi wajah Mbak Ayu, ia tertunduk dengan air mata yang hampir saja terjatuh dari kelopak matanya.
"Eh maaf Mbak. Gue gak tahu kalau." belum sempat ku lanjutkan perkataan ku, Mbak Ayu menggelengkan kepala seraya mengusap air matanya.
"Untuk apa minta maaf Ran? lu kagak ada salah kok. Udah ya, gak usah dibahas lagi. Ntar gue bisa nangis beneran lagi." katanya dengan menghembuskan nafas panjang.
Karena tak ingin membahas hal yang sama, aku mencoba mencari topik pembicaraan yang lain. Dan aku teringat dengan aroma dupa, yang sekarang sudah menghilang.
"Mbak Ayu, tadi kerasa gak ada aroma dupa di sekitar sini?" ku perhatikan wajah Mbak Ayu sedikit terkejut.
"Hmm dupa? hmm enggak tuh Ran. Gue gak tahu malahan. Sejak kapan lu ngerasa ada aroma dupa disini?" tanya Mbak Ayu dengan menolehkan kepala ke kiri dan ke kanan.
"Tadi Mbak pas magrib, makanya gue buka pintu. Eh tiba-tiba Mbak Ayu datang bawa tahu bulat, kebetulan yang mengenyangkan bukan hehehe."
Mbak Ayu mengatakan jika di dekat kost ini ada tempat sembahyang orang china, mungkin saja dupa itu berasal dari klenteng sekitar kost.
Ya, masuk akal juga sih penjelasan Mbak Ayu. Aku pun tak menanyakan laginsoal dupa itu, dan yang masih mengganggu pikiranku adalah soal lampu gantung yang bergoyang tadi.
"Mungkin saja emang beneran angin, atau ulah demit yang iseng." batinku dengan mengerutkan kening.
Kami pun ngobrol tanpa terasa sudah hampir jam sembilan malam. Aku melewatkan shalat isya, karena saking seru nya ngobrol membahas banyak hal tentang semua penghuni kost. Maklum saja, Mbak Ayu lebih lama tinggal disini, jadi ia yang lebih banyak mengenal semua orang yang tinggal di kost.
"Ran, gue balik kamar dulu ya. Lain kali kita ngobrol lagi kalau pas senggang."
"Oke deh Mbak makasih tahu bulatnya, sory loh gue cuma punya air sirup jadi gak bisa nyuguhin minuman yang lain."
"Ya elah Ran, biasa aja kali gak usah repot-repot gitu. Sory ya gue jadi bikin lu telat shalat deh."
"Gak apa-apa kok Mbak, kita sama-sama telat shalat nih. Apa mau jama'ah sekalian aja Mbak?" aku tersenyum seraya mengambil dua mukena, yang kebetulan ditinggalkan oleh Wati.
"Eh gue gak shalat Ran, lu aja sono gih. Ya udah gue balik dulu ya." jelas Mbak Ayu dengan melambaikan tangannya.
Aku berjalan ke arah kamar mandi untuk mengambil wudhu, tapi pandangan ku teralihkan dengan tas ransel yang resleting nya terbuka dan keluar suar cahaya kekuningan.
"Mungkin ponselku hidup karena ada yang menelepon." batinku mengacuhkannya dan berjalan ke kamar mandi.
.
.
Seorang perempuan dengan senyum teduh berjalan menghampiriku, ia memegang tanganku dan menatap dalam ke kedua mataku.
"Cepat berikan kotak itu padanya, cepaat!!! teriak perempuan itu dengan kedua matanya melotot.
Jantungku berdetak kencang, nafasku tak beraturan, ingin sekali aku melarikan diri dari hadapan perempuan itu. Tapi kaki ku enggan beranjak dari hadapan perempuan itu. Dan sesuatu yang lebih mengejutkan ku baru saja terjadi di depan mata kepalaku. Kepala perempuan itu terlepas dari lehernya, darah segar seketika berhamburan. Kepala itu jatuh menggelinding tepat di bawah kaki ku, sontak saja aku berteriak kencang.
"Aaaaaaaaaa!" aku berusaha lari sekuat tenaga, dan akhirnya kakiku terasa ringan. Dan aku berlari sejauh yang ku bisa. Tapi aku tersandung sesuatu dan terjatuh ketika ku pandangi sesuatu yang membuatku terjatuh. Ternyata itu adalah kepala dari perempuan tadi.
.
.
Braaak. Duugh!!!
Aku terjatuh dari tempat tidur, dan kepalaku membentur lantai kamar. Aah, syukurlah ternyata itu hanya mimpi buruk. Aku mengusap peluh yang membasahi kening, nyatanya seluruh tubuhku berpeluh. Aku benar-benar seperti berlari disaat tidur. Segera aku berdiri dan berjalan setengah pincang, karena lututku sakit akibat benturan dengan lantai keramik. Ku ambil segelas air putih, dan menenggaknya tanpa jeda.
"Ya Allah mimpi apa aku tadi? kenapa rasanya seperti nyata, seluruh tubuhku rasanya sakit semua deh." gumamku dengan meregangkan otot-otot di badan.
Aku lihat masih jam setengah tiga pagi, dan aku teringat dengan deadline esok pagi. Aku penasaran ingin melihat bagaimana tanggapan atasanku. Ya Mbak Rika, selain dia atasanku, dia juga kakak dari sahabatku yang sekarang sudah tiada. Karena Mbak Rika, aku bisa langsung bekerja di kantor besar yang sudah memiliki reputasi bagus di antara saingannya.
Aku lupa dimana terakhir menaruh ponselku. Oh iya, di dalam tas ransel. Segera ku bongkar isi tas ransel, tapi tak ku temukan ponsel itu. Perasaan tadi malam aku melihat cahaya di dalam tas ini, kalau bukan berasal dari ponsel. Darimana datangnya cahaya itu? entahlah, aku pun bingung dan kembali mengingat dimana ku letakan ponsel itu.
Aku menjentikan jari setelah berhasil mengingat, ku raih celana panjang yang menggantung di tembok. Di dalam saku celana terletak ponsel yang ternyata sudah kehabisan daya batrei. Untung saja belum sempat ku rendam di dalam ember, kalau gak bisa jagi barang rongsokan nih hape. Batinku dengan menghembuskan nafas panjang.
Tiing!!! ada pesan masuk dari Mas Adit.
"Ran ada berita yang aneh nih, masa ga ditemukan tanda-tanda kekerasan dari tubuh mayat itu. Bahkan leher yang terputus dari kepalanya, gak meninggalkan bekas dari benda tajam. Dan yang lebih anehnya, kepala mayat itu gak ditemukan oleh semua petugas. Aneh gak sih menurutmu?" kata Mas Adit di dalam pesan wassap.
...**Jangan lupa berikan dukungan kalian di Novel ini, tinggalkan jejak favorit, like ataupun komentar. Bisa juga memberikan gift atau Vote nya, supaya othor terus semangat dan kalian bisa dapetin Novel Cetak DRB sekian dulu See You 👋...
...Bersambung**. ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 299 Episodes
Comments
Herlina Lina
lanjut thor
2024-05-11
1
Lena Sari
seru Thor.
2023-09-19
2
Sekar Sekar
makanya ransel itu bercahaya .. karna kalung itu dekat dngan Ayu sang keturunan
2023-05-25
0