"Loh Kakak masih inget sama saya?" tanya Driver ojek itu dengan mengendarai motornya.
"Pastinya dong, Mas yang anter saya ke Kantor lewat jalan tikus kan. Kebetulan banget nih Masnya yang nerima orderan saya, Masnya katanya asli sini kan. Tau gak alamat yang tertera di Aplikasi?"
"Ya elah Kak, emangnya kalau asli sini saya bisa tahu semua daerah. Saya juga harus ikuti Maps, soalnya asing juga dengan daerah ini. Jaraknya lumayan kalau dari sini, emangnya Kakak ada perlu apa kesana? urusan pekerjaan ya Kak?"
"Gak juga sih Mas, lagi nyari petunjuk aja. Ada yang harus saya cari tahu."
Tak terasa perjalanan membutuhkan waktu satu jam setengah untuk sampai di daerah tersebut. Rupanya daerah ini sangat padat penduduk, dan mayoritas yang tinggal adalah perantau. Satu persatu orang kami tanyai dengan menunjukkan alamat yang ku salin di buku jurnal, beberapa dari mereka yang ku tanya, mengaku tak mengenal orang yang bernama Ketut Dewangga. Aku dibuat pusing karena hampir semua orang tak mengenal nama itu. Lalu Mas ojol menghentikan motornya, dan memberi saran padaku untuk berpencar supaya memudahkan pencarian.
"Nanti Kakak hubungi saya aja, kita ketemuan dua puluh menit lagi di bawah pohon jambu itu saja." kata Mas ojol yang bersedia membantuku.
"Oke deh Mas, maaf ya merepotkan."
Kami saling berpencar, Mas ojol ke arah kanan dan aku ke kiri. Banyak rumah petak-petak tertutup, sepertinya penghuninya banyak yang pergi meninggalkan rumah.
"Duh gimana nih nomer rumah di daerah ini acak dan ga urut sesuai nomer, pasti bakal susah carinya." gumamku seraya mengusap peluh di kening.
Aku terus melangkah hingga bertemu seorang Kakek tua yang sedang membakar dedaunan yang kering. Aku menyapanya dan menanyakan alamat yang ku cari, dan menurut beliau alamat itu memang di daerah situ. Tapi nomer rumahnya banyak yang sudah ganti, menyesuaikan pembaruan dari pemerintah kota.
"Duh gimana ya Kek, saya ada keperluan mendesak nih. Kira-kira Kakek tahu gak dimana saya bisa mendapatkan keterangan tentang lokasi rumah ini?"
"Kau bisa datang ke Kantor kelurahan, dan minta keterangan dari pegawainya. Pasti ada datanya dimana lokasi rumah tersebut."
Setelah mengucapkan terima kasih, aku bergegas pergi menemui Mas ojol di tempat kami janjian tadi. Mas ojol menggelengkan kepalanya, ia tak mendapat informasi apapun. Lalu kami memutuskan pergi ke Kantor Kelurahan, dan benar saja ada data alamat lengkap yang sudah diperbarui. Pegawai Kelurahan memberikan alamat lengkap sesuai pembaruan data padaku, aku menjentikkan jari setelah berhasil mendapat kejelasan lokasi.
"Ada-ada aja ya Kak nomer rumah pake di ganti-ganti segala." kata Mas ojol dengan memperhatikan satu persatu nomer rumah.
"Iya nih Mas, saya juga bingung kenapa harus diganti segala. Menyusahkan orang yang gak tahu seperti kita, kan kita tahunya alamat dengan Nomer yang lama." sahutku dengan menghembuskan nafas panjang.
Chiiit.
Mas ojol mengerem motornya mendadak, helm yang kami kenakan saling membentur. Lalu aku menepuk pundak Mas ojol menanyakan kenapa ia tiba-tiba berhenti. Ia menunjuk ke sebuah rumah sederhana, ada tiga petak dengan satu nomer rumah yang sama. Aku melepas helm dan menggaruk kepala yang tak gatal, tiga petak rumah dengan satu nomer rumah. Apa itu artinya ini satu rumah yang dijadikan tiga petak, lalu dimana rumah Ketut Dewangga itu.
"Permisi Assalammualaikum!" seruku setengah berteriak, beberapa kali ku ucapkan salam tak ada satupun yang keluar.
Setelah sepuluh menit menunggu tanpa kejelasan, ada seorang perempuan mengenakan daster batik coklat keluar dengan tergopoh-gopoh.
"Waalaikumsalam, maaf tadi saya sedang di kamar mandi ngurusin ibu mertua saya yang sedang sakit stroke. Ada apa ya Mbak?" tanya perempuan itu dengan nafal berderu kencang.
"Duh maaf ya bu, saya jadi ganggu nih. Saya cuma mau nanya apakah disini ada yang bernama Ketut Dewangga? saya ada perlu dengan beliau." jelasku panjang lebar, menceritakan perjalanan ku yang agak tersendat karena nomer rumah yang berubah.
"Wah saya kurang tahu nama-nama penghuni disini, maklum semuanya pendatang. Dan gak semuanya saya tahu namanya." menurut ibu ini, rumah-rumah di sampingnya adalah kontrakan milik mertuanya. Dan sudah banyak yang keluar masuk di kontrakan tersebut, jadi ia tak tahu orang yang mana yang ku cari.
"Apa yang ngontrak disini udah lama semua bu? karena kemungkinan yang saya cari ini udah lama banget tinggal disini." jelasku dengan memberikan perkiraan waktu.
Tapi menurut si Ibu, yang tinggal di kontrakannya belum ada yang terlalu lama, mungkin hanya jangka satu sampai tiga tahun saja yang terlama. Jadi bukan mereka yang ku cari, lalu aku memberikan nomer ponselku pada si Ibu, dan memintanya menghubungiku jika mengetahui sesuatu tentang orang yang bernama Ketut Dewangga.
"Terima kasih ya Bu, maaf merepotkan. Jika suami atau Mertuanya tahu mengenai orang tersebut, tolong segera hubungi saya ya Bu. Saya permisi dulu, Assalamualaikum." aku segera pergi setelah berpamitan dengan ibu itu.
Disepanjang perjalanan, aku hanya terdiam dengan tubuh lesu. Tak ada hasil dari pencarianku, bagaimana aku akan mengembalikan semua isi di kotak itu pada pemilik sebenarnya. Jika aku sendiri tak tahu dimana orang tersebut. Mas ojol berkata padaku, jika ia akan membantu mencari orang tersebut melalui rekan-rekan ojolnya.
"Walaupun belum pasti ketemu sih Kak, seengaknya semakin banyak yang bantu cari, lebih memudahkan Kakak menemukan yang bersangkutan."
Aku mengucapkan banyak terima kasih pada Mas ojol, karena ia banyak membantuku hari ini. Ku berikan tips dan tambahan ongkos karena ia meluangkan waktu untuk menolongku. Lalu aku berjalan dengan gontai ke kamar, nampak Mbak Ayu sedang menjemur pakaian di halaman depan.
"Loh tumben pulang cepet Ran?"
"Iya nih Mbak lagi off ada kerjaan diluar. Tapi gak ada hasil setelah pencarian." ucapku dengan menyandarkan tubuhku di tembok.
"Memang lu lagi cari apa an Ran? kok kayanya penting banget sampai lu putus asa begitu." tanya Mbak Ayu dengan wajah penasaran.
"Urusan pekerjaan Mbak." jawabku tak mengatakan yang sebenarnya.
"Lu lagi cari bahan berita buat deadline gitu?"
"Ya bisa dibilang begitu Mbak, tapi ya udahlah gue cari lain waktu lagi." kini ku pijat pangkal kening, karena penat luar biasa menggelayut di tubuhku.
Aku berpamitan pada Mbak Ayu untuk istirahat di kamar, sedangkan ia melanjutkan kegiatannya. Aku merebahkan tubuh di atas ranjang, tiba-tiba wajah Malik melintas dipikiranku. Sejak semalam ia tak menampakkan wujudnya, apa aku terlalu keras memarahinya. Perasaan tak enak mengganggu ku, aku mencoba memanggil Malik beberapa kali. Tapi ia tak kunjung datang, apakah ia benar-benar meninggalkan ku. Astaga, aku memang bodoh, padahal tak sepenuhnya Malik bersalah, ia hanya datang untuk membawaku kembali, tapi aku malah menyalahkannya.
Kini aku duduk dengan menyilakan kedua kaki, ku panjatkan doa pada yang Maha Kuasa seraya memanggil nama Malik. Tak ada tanda-tanda kehadirannya, kini aku merasa gelisah. Tak sanggup rasanya jika harus kehilangan sosoknya, tanpa sadar air mata menetea begitu deras. Aku merasa kehilangan sosoknya, kenapa aku jadi seperti ini ya? batinku merasa aneh.
...Bersambung. ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 299 Episodes
Comments
Aminya Syauqi
dewangga tu bukan nya om dewa yg dimaksud rania tu ya
2023-07-27
1
Ray
Kemana...kemana...kemana...🤔😄🙏
Si Malik lagi dibutuhin malah ngilang🤔
2022-11-17
1
Milah
Malik Ohh Malikk Kemana Kauu🤣
2022-11-11
1