Aku tertunduk merasa tak enak hati setelah mendengar ucapan Mas Adit. Tapi ku yakinkan padanya, jika sebelum aku menemukan kotak ini, tak ada siapapun yang mengetahuinya.
"Kotak ini tersimpan rapi di tempat yang tersembunyi Mas, mungkin saja petugas tak menyisir sampai ke tempat itu. Kotak ini tertutup kain dan kayu panjang yang terjepit di antara tembok, harusnya petugas sudah mengambilnya, jika mereka memang menemukannya."
"Masuk akal juga ucapanmu Ran. Tapi bagaimana mungkin para petugas bisa seceroboh itu, mereka tak melihat benda sebesar ini?" kata Mas Adit dengan menggaruk kepala yang tak gatal.
"Apa mungkin penglihatan para petugas ditutup oleh makhluk tak kasat mata ya Mas? Karena sebelumnya aku juga tak menyadari keberadaan kotak ini. Sampai akhirnya aku akan pergi meninggalkan ruangan itu, pandanganku teralihkan dengan sesuatu yang menyembul di balik kain kotak-kotak." aku menunjukan gambar kain yang ku maksud, lewat ponsel yang ku bawa, motifnya seperti catur kain yang biasa di pakai menutupi pohon-pohon besar yang ada di Bali.
"Ran. Apa kau yakin dengan ucapanmu tentang makhluk tak kasat mata itu? Sebenarnya aku bukan tak percaya dengan hal-hal mistis macam itu, karena beberapa kali aku pernah merasakannya ketika sedang menangani kasus-kasus tertentu. Tapi aku berusaha meyakinkan diri, jika hal macam itu hanya perasaan ku saja." jelas Mas Adit dengan mengaitkan kedua alis matanya.
Akhirnya kami memutuskan untuk membuka gembok yang ada di kotak usang itu. Dengan berbekal peralatan seadanya, Mas Adit mencongkel gembok.
Theek. Gembok terbuka setelah Mas Adit mencongkelnya beberapa kali. Bersama-sama kami membuka kotak tua yang sudah usang itu, banyak debu yang membuat kami sedikit terbatuk. Nampak sehelai kain merah di dalamnya, sedikit pudar warna nya, Mungkin karena disimpan terlalu lama. Aku menemukan sepucuk surat dan ada kalung emas, dengan liontin batu permata berwarna jingga.
"Bagaimana ini Mas, ada surat di dalamnya. Apa gak apa-apa kalau kita membacanya?" tanyaku memandang serius wajah Mas Adit.
"Mau bagaimana lagi Ran, sudah terlanjur basah. Lebih baik kita membacanya sekalian, siapa tau ada petunjuk di dalam surat ini." jawab Mas Adit dengan menganggukan kepalanya.
Belum sempat kami membacanya, salah seorang penghuni kost datang dan menyapaku. Seorang perempuan mengenakan baju coklat senada dengan celananya. Namanya Mbak Dahayu, aku biasa memanggilnya Mbak Ayu. Seorang PNS, yang bekerja di salah satu Sekolah Dasar Negeri di Jakarta.
"Eh Rania, bagaimana betah gak ngekost disini? Gue harap lu kerasan ya tinggal disini, karena biasanya gak pernah ada yang lama kost disini. Dan akhirnya gue selalu sendirian. Karena di samping kamar gue selalu kosong." katanya dengan tersenyum simpul.
"Mudah-mudahan aja betah deh Mbak. Karena gue gak tahu mau pindah kemana lagi, harga kost di Jakarta mahal-mahal sih. Disini yang harganya masih masuk di kantong ku, apalagi dapat harga diskon dari Om Dewa." pemilik kost disini masih saudara jauh dengan Papaku, dan kebetulan Mbak Ayu juga masih keponakan Om Dewa. Pastinya Mbak Ayu bakal lebih betah tinggal di kost ini, meski banyak cerita aneh-aneh dari para tetangga sekitar.
Mbak Ayu berpamitan untuk kembali ke kamarnya, ia menyapa Mas Adit yang sedari tadi diam mendengarkan pembicaraan kami.
Plaak! Mas Adit menepuk lenganku, memberi tanda supaya aku melanjutkan penyelidikan yang tertunda tadi. Perlahan ku buka selembak kertas dengan tinta berwarna merah. Aneh tak seperti pada umumnya, tulisan ini ditulis menggunakan tinta merah.
🍁 Untuk Ketut Dewangga 🍁
Kau tahu tut, hidupku di dunia yang fana ini tak akan lama. Apalagi setelah aku mewarisi ilmu Leak dari keluarga kita. Karena kau sebagai penerus anak laki-laki tak mau menerima ilmu ini, aku sebagai kakak tertua terpaksa menerima tanggung jawab besar itu. Setelah kelahiran putriku yang pertama, aku takut jika ia akan mewarisi ilmu hitam yang saat ini menyatu dalam ragaku. Karena itulah ku putuskan hidup sendiri setelah menyerahkan satu-satunya keturunanku padamu. Tapi ada satu hal yang tak ku beritahu padamu, jika suatu hari nanti Leak ini akan mencati garis keturunan ku sebagai penerusnya. Jadi ku minta padamu untuk menjaga putriku, supaya tak terseret dalam ilmu hitam yang telah menjadi turun temurun di keluarga kita. Aku terpaksa mengorbankan diri supaya Leak itu tak menemukan garis keturunan ku. Dan jika kau bisa membaca surat ini, berikanlah kalung mustika jingga itu pada putriku. Kalung itu akan melindunginya dari incaran Leak, ataupun pengikutnya yang lain. Batu permata jingga ini akan memancarkan cahaya yang menyilaukan, jika ia berada di dekat penerusku. Dan untuk siapapun yang menemukan kotak wasiat ini, aku mohon berikanlah pada seseorang yang ku maksud di surat ini. Aku tak sempat mencari tahu dimana alamat Ketut. Di bawah ini sudah ku tuliskan alamat Ketut Dewangga, tapi mungkin akan susah untuk mencarinya. Tapi dengan sepenuh hati, aku meminta tolong pada siapapun yang menemukan kotak ini, untuk memberikan semua isi di kotak ini. Terima Kasih.
🍁 Tertanda Wayan Sukmawati. 🍁
Begitulah akhir dari surat tersebut. Aku dan Mas Adit diam dan saling menatap. Nampak raut wajah Mas Adit kebingungan, peluh membasahi keningnya. Terdengar nafasnya tak beraturan, ia menaikan alisnya memberi tanda, apa yang harus kami lakukan setelah mengetahui isi surat tersebut.
"Hmm bagaimana ya Mas, aku masih baru di kota ini. Aku tak tahu caranya menemukan alamat yang di tulis di balik surat itu." ucapku dengan membalik surat yang di belakangnya tertulis sebuah alamat, yang tak ku tahu dimana.
"Masalahnya bukan itu Ran! Apakah mungkin mayat di gedung tua itu adalah Ibu Wayan Sukmawati? Karena yang masuk di akalku hanya nama Ibu itu yang menulis surat ini, bisa jadi juga identitas mayat itu memang yang menulis surat ini kan?" jelas Mas Adit dengan wajah serius.
Kami sama-sama berpikir sampai tak terasa adzan berkumandang. Sudah saatnya shalat magrib, akhirnya kami menunda pembicaraan ini. Dan Mas Adit berpamitan untuk pergi ke Rumah Sakit, karena beberapa petugas sudah menunggunya untuk melihat hasil autopsi.
"Aku jalan dulu ya Ran, mau sekalian shalat di Masjid depan sana."
Mas Adit segera pergi meninggalkan kost ku, perlahan motornya melaju dan tak terlihat lagi. Aku merapikan kotak tua itu, dan memasukannya kembali ke dalam tas ransel. Nampak beberapa penghuni kost yang lainnya mulai berdatangan, aku hanya menyapa dengan melemparkan senyuman seraya berjalan ke kamar kost. Samar-samar aku menghirup aroma dupa yang mengganggu pernafasan, ku kibas-kibaskan tanganku, supaya aroma dupa tak menyesakan di dadaku.
"Siapa yang menyalakan dupa magrib-magrib begini ya?" batinku bertanya-tanya, baru kali ini aku mendapati aroma dupa di Kost ini.
...Bersambung. ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 299 Episodes
Comments
Ray
Bau dupa barasal dari kotak itu mungkin Rania🤔
2022-11-17
4
Milah
bau Dupa? apa Kaah Arwah lLeak Datang Kek KosNya Rania?
2022-11-08
2
rudy hartono
semakin seru
2022-11-08
2