Setelah berhasil mewawancarai beberapa petugas, aku dan Agus bersiap meninggalkan lokasi. Menurut pengakuan petugas yang berjaga di lokasi saat kericuhan itu berlangsung, keributan bermula ketika salah satu suporter tidak terima dengan kekalahan team yang mereka dukung. Lalu terjadi bentrokan antar suporter, sehingga petugas kepolisian harus turun tangan untuk mengendalikan kericuhan tersebut. Dan menurutnya ada beberapa korban terluka, tapi belum bisa dipastikan jumlahnya. Mereka masih menunggu investigasi terkait, lalu Agus memintaku kembali ke kantor untuk menyerahkan deadline hari ini pada Mbak Rika.
"Lu balik kantor dulu deh Ran, gue masih mau meliput suporter yang masih ada di lapangan belakang. Mungkin ada informasi yang berbeda versi mereka." jelas Agus dengan wajah serius.
"Emangnya lu yakin, petugas bakal ngasih lu nginterogasi para suporter? itu kan tugas Polisi Gus." aku menjelaskan pada Agus yang terlihat percaya diri bisa mengambil informasi dari pada masa itu.
"Hmm. Gimana ya Ran? gue gak yakin sih bisa dikasih ijin. Tapi kenapa gak gue coba aja, siapa tau ada celah buat meminta keterangan dari mereka."
"Ya udahlah yuk, gue temenin aja. Biar kita bisa sama-sama balik kantor. Kan lumayan gue bisa nebeng lu Gus." kataku seraya berjalan ke hamparan rumput luas, dimana banyak suporter yang sedang berkumpul disana.
Beberapa petugas polisi sedang berjaga disana, aku menghampiri mereka dan meminta ijin untuk meliput. Lalu mereka memberi ijin hanya untuk meliput tanpa memperbolehkan mewawancarai para suporter. Nampak Agus ingin protes di hadapan petugas, lalu aku memberi tanda padanya untuk diam. Sialnya Agus tak mengerti kode yang ku berikan, ia mengatakan jika itu adalah kebebasan publik untuk di wawancarai. Sempat terjadi adu mulut antara Agus dan dua orang petugas. Keduanya tetap dengan pendiriannya, jika tak ada suporter yang boleh diwawancarai. Terpaksa ku tarik lengan Agus, dan memintanya untuk pergi dari sana. Kemudian aku meminta maaf pada kedua petugas itu, dan mengatakan jika kami hanya akan mengambil gambar saja. Keduanya melunak, lalu membiarkanku berjalan meliput lokasi di sekitar lapangan itu.
"Aneh.Kenapa tak boleh meminta keterangan dari mereka? apa ada yang disembunyikan dari kericuhan ini? batinku bertanya-tanya.
Kami terus berjalan berusaha mencari celah, berharap dapat berbicara dengan salah sayu suporter. Mungkin ini kebetulan yang tak terduga, ada seorang suporter yang sedang duduk di bawah pohon seorang diri. Sepertinya ia sedang ditangani oleh petugas medis, karena ada cedera di bagian kaki nya.
"Selamat Sore Kak, kami dari Media boleh minta keterangan nya perihal kejadian hari ini gak?" tanyaku dengan memberikan mikrofon padanya.
Lelaki itu mengangguk dan menceritakan beberapa kejadian, menurutnya semua berawal dari salah satu suporter yang tak terima dengan kekalahan team sepak bola yang didukungnya. Dan diperparah dengan aksi saling lempar antar suporter, lalu petugas berusaha menghalangi kericuhan tersebut. Dan ada pihak-pihak yang menjadi biang keladi keributan itu, menurutnya jika tak ada yang mengawali, kericuhan itu tak akan terjadi dan petugas turun tangan dengan melemparkan gas air mata. Banyak korban terinjak-injak, karena ingin melarikan diri dari kericuhan itu.
"Lalu menurut anda, siapa yang harus bertanggung jawab atas kejadian ini?" tanyaku dengan wajah serius.
"Hei kamu! Sudah saya peringatkan untuk tidak melakukan wawancara disini. Kenapa kalian tidak mendengarkan peringatan saya?" katanya dengan tegas.
Aku dan Agus saling pandang, nampak raut wajah Agus sudah benar-benar kesal. Kali ini ia mengatakan pada petugas itu, jika hak nya sebagai media untuk menyampaikan berita pada masyarakat. Karena petugas itu hampir tersulut amarah, aku menengahi perdebatan mereka, lalu meminta maaf atas kelancangan kami. Lalu aku mengajak Agus segera pergi dari sana.
"Apa-apaan sih Ran! gue belum selesai bicaranya, kenapa lu main tarik tangan gue aja sih?" kata Agus dengan nada suara keras.
"Ya udah sih Gus, buat apa lu ladenin petugas itu. Yang penting kan kita udah dapet apa yang kita mau, siapa tau hanya media kita saja yang mendapatkan kesempatan buat mewawancarai salah satu suporter itu."
Akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke kantor, samar-samar aku melihat lelaki yang terluka di bagian keningnya tadi. Lelaki yang sempat ku lihat bersama Mas ojol.
Whuuss. Ia melesat ke arahku dengan cepat. Aku yang sedang menunggu Agus mengambil motornya, sempat terkejut dengan kehadiran hantu itu.
"Ja jadi kau benar-benar bukan manusia? kenapa kau terus menampakkan diri padaku?" aku terkejut dengan kedatangannya yang tiba-tiba, ia memasang wajah sendu dengan setengah wajah dipenuhi darah.
"Tolong aku, sampaikan pesan terakhirku pada saudaraku. Aku tak tenang meninggalkan nya begitu saja, dengan hutang yang menumpuk karena ulahku semasa hidup. Apalagi sekarang ia harus menanggung biaya Rumah Sakit, minta ia merelakanku. Supaya aku dapat pergi dengan tenang dan damai, tak perlu ia menanggung biayaku di Rumah Sakit, karena waktuku tak akan lama di dunia ini." jelasnya sambil menundukkan wajah.
Belum sempat aku mengatakan apapun, Agus sudah datang lalu memberikan helm padaku. Tak tega rasanya melihat roh lelaki itu, ia belum menjadi hantu, karena raganya masih ada, hanya jiwa nya yang bergentayangan karena tau waktunya tak akan lama lagi. Tapi apa yang harus aku lakukan? pekerjaan ku menyita waktu, belum lagi kasus penemuan mayat itu belum terselesaikan, apa iya aku harus membantunya? batinku resah, tak tau harus mengatakan apa.
Dugh. Helm yang ku pakai membentur helm yang dikenakan Agus, ia menggeber motornya mendadak dan membuatku terkejut.
"Aduh Gus yang bener aja dong, kepala gue jadi sakit nih!" teriakku dengan membenarkan posisi dudukku.
"Sorry Ran, habisnya lu gue tanyain malah ngelamun terus. Lagi ngelamunin apa sih? udah siap berangkat belum?"
"Bentar deh Gus, gue turun bentar ya. Mendadak ada yang urgent nih." kataku seraya turun dari boncengan motornya.
Aku berjalan agak menjauh dari Agus. Ku panggil roh lelaki tadi, dan seketika ia melesat ke arahku. Karena tak tega melihatnya, aku menerima permintaan terakhirnya. Mengingat ia akan segera meninggalkan dunia fana ini. Lalu ia mengatakan banyak hal padaku, tentang usahanya selama hidup. Ia bekerja di sebuah pabrik, dan memiliki asuransi yang cukup banyak. Dan ia memintaku untuk memberitahu saudaranya, supaya kelak asuransi itu bisa berguna. Dan meminta saudaranya, untuk melepas semua alat kedokteran yang masih menempel pada tubuhnya.
"Tapi aku tak yakin soal yang satu itu? mana mungkin saudaramu mau mendengarkan ku, dia pasti tak akan semudah itu percaya dengan ucapanku." jelasku dengan menghembuskan nafas panjang.
"Kau harus meyakinkannya, bukankah tadi kau sempat berbicara dengannya? harusnya ia mau mendengarkanmu, karena hanya kau saja yang bisa ku mintai tolong. Awalnya aku ragu jika jiwaku terlepas dari raga, tapi aku tau kesempatan hidupku tak akan lama. Itu hanya akan membuang biaya yang sia-sia, ketika ku tahu kau bisa melihatku, aku berusaha mencari kesempatan untuk berbicara denganmu. Karena itulah aku terus mengikutimu, dan menampakkan diri di hadapanmu."
Sesaat aku terdiam, berusaha mencerna penjelasannya. Apa jiwa tanpa raga ini adalah adik dari Mas ojol tadi ya? batinku di dalam hati.
...Hai mau kasih info nih, yang bisa dapetin buku cetak DRB yang disamping namanya muncul tanda fans Diamond ya. Di tunggu dalam waktu yang belum ditentukan, asal disamping kolom komentar nama kalian udah muncul tanda fans diamond di Novel ini. Terima kasih 😘💕...
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 299 Episodes
Comments
Ray
Korban lagi karena emosi hanya karena tak terima kalah tim kesayangannya😱😀
2022-11-17
4
yuli Wiharjo
Oo itu jiwa nya lara..
2022-11-11
2
Milah
Emng Gak Salah lLgi Itu Maah AdikNyaa Abang Ojol😂
2022-11-08
2