Untuk sesaat aku terdiam setelah mendengar ucapan kuntilanak itu. Dan disaat aku memalingkan wajah, ternyata sudah ada seorang perempuan menggunakan kebaya dan selendang yang melilit di pinggulnya. Ia menganggukan kepala seraya tersenyum simpul ke arahku, dan ku balas dengan sedikit menundukan wajah. Tapi setelah aku menegakan kepala, perempuan dengan kebaya itu sudah menghilang. Entah kemana perginya perempuan itu, senyumnya teduh dan sorot mata yang sayu.
"Siapa perempuan tadi ya, kenapa aku merasa pernah melihatnya. Tapi aku tak yakin melihatnya dimana." gumamku dengan mengerutkan kening.
Hihihihihi. Cekikikan Endang berhasil membuyarkan pikiranku.
“Jika kau ingin ku bantu, jangan terlalu sering tertawa seperti itu di dekatku. Lama-lama aku bisa jantungan tau!”gertakku dengan berkacak pinggang.
Lalu Endang melesat pergi meninggalkan ku, tapi aku tau dia akan sering menemuiku. Karena dia sudah meminta tolong padaku.
Setelah itu ku putuskan untuk kembali ke kantor, untuk mulai menulis berita tentang penemuan mayat hari ini.
Aku akan memberi judul “Penemuan Mayat Tanpa Identitas Dengan Keadaan Tak Utuh.”
-----
Segera ku selesaikan pekerjaan ku, supaya berita itu menjadi hot news. Ya, tentunya karena hanya aku yang dapat masuk ke TKP. Meski aku tak diperbolehkan mengambil gambar, setidaknya aku mendapatkan sesuatu dari dalam gedung tua itu. Sesuatu yang mungkin bisa dijadikan barang bukti, atau petunjuk tentang siapa identitas mayat tersebut.
Setelah mengirim berkas berita yang ku tulis, aku segera merapikan meja kerja ku dan bersiap pulang.
Triing. Ada pesan masuk dari Wati.
“Ran, aku harus kembali ke Desa selama beberapa hari. Karena ibu mendadak sakit, dan tak ada yang merawatnya. Kau tak apa-apakan sendirian di kost?”
Segera ku balas pesan dari Wati, jika aku tak apa-apa sendirian. Memang sebelum kami pindah ke Kota, kondisi Bude Walimah sedikit lemah. Karena ia harus mengurus kebun dan sawah yang diwariskan simbah seorang diri, meski ada warga Desa yang membantunya. Tetap saja urusan penting lainnya, harus beliau sendiri yang turun tangan. Untung saja belum ada panggilan kerja untuk Wati, sehingga ia masih bisa pulang ke Desa.
Wati sengaja tinggal di kost bersamaku, hawatir jika aku mendapat gangguan dari demit yang ada di kost. Karena menurut beberapa tetangga, kost yang kami tempati, pernah terjadi tragedi berdarah pada masa lampau. Tapi untungnya selama kami tinggal disana tak ada kejadian apapun.
Aku berjalan sampai halte busway, menunggu bersama beberapa orang dengan wajah lelah. Tiba-tiba terdengar bunyi klakson motor.
Tiiin tiin tiin. Ketika ku melihat sudah ada Mas Adit di samping halte, ia melambaikan tangannya.
“Eh Mas Adit, mau kemana nih? Bagaimana kelanjutan kasusnya? Apa ada fakta-fakta baru yang sudah terungkap?” tanyaku tanpa henti.
“Please deh! Kalau nanya satu-satu jangan diborong dalam satu percakapan!” sahutnya dengan berdecap.
“Hehehe. Iya deh iya, sorry Mas. Memangnya Mas Adit mau kemana nih kok lewat sini?”
“Aku sengaja lewat sini, karena aku ingin berbicara denganmu. Tadi aku sempat membaca kartu anggota jurnalismu, yang alamatnya di daerah sini. Eh malah aku melihatmu melamun di halte, ya sudah aku klakson saja. Ayo, ku antar pulang sekalian ngobrol di jalan.”
Dengan senang hati, aku segera membonceng di motornya. Kami menyusuri padatnya jalan ibu kota ketika jam pulang kerja. Ramai dan dipenuhi beraneka macam kendaraan, disepanjang perjalanan kami habiskan waktu dengan mengobrol ngalor ngidul ga jelas. Membahas masa-masa kuliah pada waktu itu.
“Jika dulu aku tidak cepat-cepat lulus, mungkin sekarang kau sudah menjadi kekasihku Ran.” Ucap Mas Adit dengan menggeber motornya.
“Apaan sih mas gak usah bercanda deh, ayo cepat jalan. Tuh motor di belakang udah klakson dari tadi!” pintaku dengan mencubit lengan Mas Adit.
Tanpa terasa motor yang kami tumpangi sudah sampai di depan kost, aku segera turun dan melihat ke sekeliling. Rasanya sunyi sekali tempat ini, pasti belum ada penghuni yang pulang. Batinku keheranan.
“Ayo Mas silahkan mampir dulu, ku buatkan kopi special untukmu.” Aku sengaja tak membahas ucapan Mas Adit sewaktu di jalan tadi. Dan ku alihkan pembicaraan tentang kasus yang di tanganinya tadi.
“Oh iya tentang itu Ran, aku mendapatkan petunjuk tentang identitas perempuan tersebut. Sepertinya ia perantau seperti kita. Dan kemungkinan ia tinggal di suatu tempat di kota ini, biaa jadi ia tak membawa kartu identitas ketika kejadian buruk itu menimpanya.”
“Sebenarnya aku juga berpikiran hal yang sama denganmu Mas, mayat itu mengenakan kebaya dan selendang di pinggangnua. Lalu ada beraneka sajen disana, termasuk canang yang biasa orang Bali gunakan untuk sembahyang. Apa mungkin beliau berasal dari sana?”
Degh... Jantungku tiba-tiba berdetak kencang dan tak beraturan. Aku teringat dengan seorang perempuan yang mengenakan pakaian yang sama dengan mayat tersebut. Di parkiran mobil di dekat gedung tua, perempuan itu tersenyum ke arahku. Jangan-jangan tadi itu arwah perempuan tersebut. Batinku bergejolak, memikirkan sesuatu yang baru saja ku sadari.
Ah bodohnya aku, sempat ku merasa mengenalnya tapi tak tahu dimana. Karena aku hanya melihat pakaian yang ia kenakan. Karena mayat itu tak memiliki kepala, bagaimana aku bisa mengenali wajahnya. Akupun menepuk kening, merasa bodoh dengan diriku sendiri.
“Hei, kenapa Ran? Katanya mau membuat kopi untukku? Kok malah bengong sendiri?” tanya Mas Adit menyadarkanku.
“Eh iya Mas, sebentar ya. Mau kopi susu atau kopi hitam?”
“Kopi hitam aja deh Ran, biar melek mataku. Habis ini aku harus ke Rumah Sakit Medika, untuk melihat proses autopsi.”
Setelah selesai membuat kopi hitam untuk Mas Adit, segera ku hidangkan bersama biskuit kelapa sebagai camilan nya.
“Mas ada yang ingin ku beritahukan padamu. Tapi janji ya jangan marah, please.”aku memandang wajahnya dengan menyatukan kedua tangan di depan dada.
Nampak kedua matanya menyipit, memandangku dengan alis yang mengernyit. Dia sudah menduga jika aku menemukan sesuatu di gedung tua tempat kejadian perkara. Tanpa berbasa-basi, ku buka tas ransel yang masih ku letakan di kursi teras, ku buka resleting dan mengeluarkan kotak tua berdebu yang ku bawa dari salah satu ruangan gedung tua itu.
“Aku menemukan ini di salah satu ruangan, karena tergembok aku tak dapat membukanya. Karena itulah ku putuskan untuk membawanya. Ada salah satu hantu penunggu gedung tua yang memberitahu ku, jika kotak ini adalah milik seseorang yang memelihara Leak. Mas Adit tahu Leak kan? Entah itu legenda atau mitos yang ada di Bali, yang jelas benda ini bisa jadi petunjuk untuk menguak misteri mayat tersebut. Karena aku tahu, kau tak akan mudah percaya dengan hal-hal gaib semacam itu. Aku putuskan tak memberitahumu, dan ingin menyelidikinya sendiri.” jelasku dengan memegang kotak kayu di pangkuanku.
“Aduh Rania! Kenapa kau melakukan itu, bisa terjadi masalah jika ada yang tahu kau mengambil sesuatu di TKP. Kau akan di anggap merusak barang bukti tau gak!” ucapnya tegas dengan menghembuskan nafas panjang.
...Bersambung. ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 299 Episodes
Comments
Ray
Terus bagaimana dan apa yg akan terjadi sama Rania setelah dua ambil kotak itu🤔Apakah Mas Adit juga ikut melihat apa isi kotak itu🤔? Lanjut💪🙏😍
2022-11-17
5
Milah
Aku Kok Jdi Khawatir Sma RaniaNyaa Yaah Takut Kenapa Napaa 😳😁
2022-11-08
2
Reni Ardiana
smoga rania berjodoh dgn mas adit😍
2022-10-18
1