Kedua sosok di depanku masih beradu kekuatan, tapi sosok besar itu memang sedikit kuat dibandingkan sosok perempuan yang menolong ku. Namun pemandangan yang mengejutkan membuatku terperanjat dari dudukku. Sosok perempuan memakai kain jarik itu adalah seseorang yang ku kenal, ia adalah Simbah Parti. Mendiang Nenekku yang sudah tiada, bagaimana mungkin beliau kembali ke alam manusia hanya untuk menolongku. Terlihat senyum teduh menghiasi wajah keriputnya, ia memandangku dengan sorot mata sayu.
"Aku harus membantu Simbah, meski aku tak tau pasti dapat berbuat apa. Setidaknya aku bisa memohon pada Yang Maha Kuasa." batinku seraya menengadahkan kedua tangan, dan membaca ayat-ayat suci Allah.
Tak lama terdengar suara Adzan dari Masjid sekitar kantor, sosok menyeramkan itu tiba-tiba menghilang setelah melewati kaca besar. Ternyata ia merubah wujudnya menjadi burung gagak, dan terbang entah kemana. Kini Simbah Parti memandangku dengan sendu, ia melesat ke arahku seraya tersenyum simpul dan mengusap rambutku.
"Ati-ati yo Nduk, makhluk jahat kui arep ngincer awakmu." (Hati-hati ya Nak, makhluk jahat itu akan mengancammu). Ucap Simbah Parti sebelum akhirnya menghilang dari pandangan mataku.
Aku masih terduduk lemas di lantai, tubuhku rasanya lemas dan tak bertenaga. Satu persatu listri di kantor mulai nyala, ku perhatikan keadaan sekitar, tak ada benda-benda yang jatuh berserakan. Tapi apa yang aku alami adalah nyata, berbeda dengan situasi yang ku lihat saat ini. Terdengar suara langkah kaki yang berjalan ke arahku, nampak Agus sedang memandangku dengan tatapan aneh.
"Gus ngapain lu diem aja disitu? tolongin gue bangun dong, badan gue sakit semua nih!" kataku dengan lantang.
Tak lama setelah itu dua orang Satpam datang melihatku, mereka bertanya kenapa tadi aku berteriak-teriak. Tak bisa ku jelaskan apapun pada mereka, meski salah satu Satpam itu akan memahami ceritaku.
"Lu ngapain masih di kantor sendirian Ran? semua karyawan sedang ada acara makan-makan bersama bos besar, merayakan hari ulang tahun Putra nya." jelas Agus seraya membantuku bangkit berdiri.
"Pantes aja sepi banget dari sore, lu juga kenapa gak ngajak gue Gus? malahan Mbak Rika juga sibuk di ruangan nya, sampai-sampai gue ajakin ngobrol malah diem aja."
"Mbak Rika? dimana lu lihatnya?" tanya Agus dengan mengaitkan kedua alis matanya.
"Di ruangannya lah Gus, makanya gue tetep ngerjain kerjaan gue."
Nampak mereka semua saling pandang, raut wajah mereka keheranan. Lalu mereka dengan kompak mengatakan, jika tak ada siapapun yang bekerja saat itu selain diriku.
"Mbak Rika justru tadi sama gue Ran, dia yang ngajakin gue ikutan makan di Restoran. Lu dihubungi susah sih, hape lu mati ya? karena itulah Mbak Rika nyuruh gue balik kantor, buat ngecek lu masih ada disini atau enggak. Eh ternyata bener kata Mbak Rika, kalau lu pasti masih ada di kantor." penjelasan Agus membuatku berpikir keras, jika Mbak Rika memang bersama karyawan lainnya di Restoran. Lalu siapa yang ada di ruangannya tadi ya?
Satpam yang memiliki penglihatan sama sepertiku memberikan kode, jika aku harus meninggalkan kantor saat itu juga. Meski tak tahu apa yang salah denganku hari ini, ku putuskan untuk pulang ke kost saja. Lagipula seluruh tubuhku benar-benar sakit luar biasa, mungkin karena sudah lama aku tidak diganggu oleh makhluk dengan kekuatan besar seperti tadi.
"Saya tahu apa yang Mbaknya alami barusan, maaf saya terlambat menyadari, dan tak dapat membantu apapun." kata Pak Satpam berbicara agak pelan, dan ku balas dengan anggukan kepala.
Agus mengambil motor di parkiran, ia ingin mengantarku sampai ke tempat kost. Tapi tiba-tiba Mas Adit datang, dan mengatakan jika ada hal penting yang harus dibicarakan denganku.
"Bisa dibicarakan lain waktu gak Mas? aku habis ada insiden kecil nih, butuh istirahat dan menenangkan diri." jelasku dengan memegangi kening yang memar.
"Ayo Ran, jadi pulang gak? gue harus pergi ke lokasi lain nih, ada liputan mendadak!" kata Agus sedikit berteriak.
"Ya udah lu duluan aja deh Gus, biar gue pulang naik ojol."
Agus mengendarai motornya ke arahku, ia meminta maaf karena tak bisa mengantarku. Karena tuntutan pekerjaan kami memang seperti itu, jadi aku memahaminya. Setelah Agus berpamitan pergi, aku segera memesan ojek online.
"Gak usah naik ojol lah Ran, aku amterin aja yuk. Kita ngobrolnya lain waktu gak apa-apa kok." ucap Mas Adit, tapi terlambat karena pesananku sudah diterima Driver ojolnya.
"Udah terlanjur dapat Driver nih Mas, aku pulang naik ojol aja deh. Besok aku kabarin, kapan kita bisa ketemu."
Sepuluh menit kemudian Driver ojol pun tiba, Mas Adit akhirnya pergi setelah aku bersiap naik ojel online itu. Nampak raut wajah lelah si Driver ojol ini, eh sepertinya aku pernah melihatnya. Ya benar, Mas ojol yang mengantarku ke Stadiun Kalimati. Sepanjang perjalanan Mas ojol ini hanya diam seribu bahasa, seperti ada banyak beban pikiran.
"Astaga, aku lupa dengan janjiku. Dia kan saudara dari si jiwa tanpa raga yang akhir-akhir ini mengikutiku." batinku dengan menepuk jidat.
Dengan basmalah aku mengawali niat baikku, untuk menyampaikan pesan terakhir adiknya. Ku buka awal pembicaraan dengan mengingatkan nya padaku. Si Mas ojol akhirnya mengingatku, meski sempat lupa-lupa ingat. Maklum saja, banyak penumpang yang sudah ia antarkan.
"Jadi inget sama saya gak Mas?" tanyaku meyakinkannya.
"Iya saya udah inget kok, Kakaknya yang bantuin saya masuk ke stadiun. Untung ada Kakak yang bantu saya masuk, kalau enggak, mungkin saya gak akan bisa menolong Adik saya." jawabnya dengan menceritakan kondisi terakhir sang Adik yang terbaring koma.
Entah bagaimana caraku menyampaikan pesan terakhir Adiknya, aku tak tega berkata apapun padanya. Dari samping kiriku melesat sosok yang tak asing bagiku, ia adalah roh Adik si Mas ojol. Aku berkomunikasi melalui hati dengan roh itu, ku katakan padanya jika aku tak tega mematahkan harapan kakaknya. Tapi ia memaksaku menjelaskan semua yang akan terjadi padanya, karena cepat atau lambat raganya tak dapat bertahan lama. Dan itu hanya akan membuang biaya perawatan saja. Ku hembuskan nafas panjang, ada benarnya juga roh sang Adik ingin meringankan beban Kakaknya.
"Mas nanti sampai kost mampir ngopi dulu ya, habis hujan gini istirahat sambil ngopi biar melek matanya." ajakku berusaha mencari waktu, untuk berbicara dengannya.
"Wah gak usah repot-repot Kak, saya mau langsung narik aja. Kejar setoran buat biaya Rumah Sakit Adik saya."
"Duh gimana nih, apa aku bisa menyampaikan pesan terakhir dari Adiknya?" batinku resah, dengan mengusap peluh yang membasahi keningku.
Mau tak mau aku harus segera menyampaikan amanah yang sudah diberikan padaku, karena setelah ku katakan ini pada Mas ojol itu. Jiwa sang Adik akan pergi dengan tenang dan damai, dan aku pun bisa lebih fokus menyelesaikan satu kasus yang belum terpecahkan. Misteri penemuan mayat di gedung tua.
...Bersambung. ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 299 Episodes
Comments
Tina
Wahhh ternyata aq salah tebak ya....duhhh malunya.....🤗🤗🤗🤗🤗 ✌️✌️✌️✌️✌️✌️
2023-07-04
0
Tina
Wahhh ternyata aq salah tebak ya....duhhh malunya.....🤗🤗🤗🤗🤗 ✌️✌️✌️✌️✌️✌️
2023-07-04
1
Risma Farna
Lama tak baca niat nabung episode... sekalinya buka dah banyak aja yg ter up... Semangat thor... Makin seru aja...
2022-11-23
2