Seorang perempuan dengan rambut di gelung, memakai kebaya putih dan selendang jingga sedang memandangku. Ia tersenyum padaku seraya melambaikan tangannya, sepertinya ia memintaku mengikutinya. Di antara banyaknya yang hadir di pura itu, hanya satu perempuan saja yang seakan bisa melihatku. Semua yang hadir disana nampak acuh padaku, bahkan sepertinya mereka tak melihat keberadaanku. Aku menggaruk kepala yang tak gatal, ku pandangi semua orang yang ada disana.
Beberapa dari mereka sedang melakukan ibadahnya, ada yang membakar dupa dan berdoa di depan patung dewa. Ya, tentu saja mereka sedang beribadah di tempat ini. Lalu ku perhatikan lagi, beberapa dari mereka meninggalkan pura tersebut setelah melakukan ibadahnya. Mereka berjalan menyusuri bukit dengan membawa persembahan di atas kepalanya, entah kemana mereka akan pergi. Perempuan yang sedari tadi melihatku memberi kode supaya aku mengikuti mereka. Semakin jauh aku mengikuti langkah mereka, semakin jauh pula dari pura yang ku datangi tadi. Perjalanan mereka terhenti di puncak tertinggi bukit itu, ada sebuah Goa dengan air terjun yang mengalir di atasnya. Perempuan yang ku ikuti langkahnya masuk ke dalam Goa tersebut, nampak gelap tak ada cahaya di dalamnya. Aku berjalan perlahan dengan meraba-raba bagian tembok Goa itu. Cahaya yang menyilaukan mata terpampang di depan mata. Kini aku sudah berada di bagian terdalam Goa, tertata beraneka sesajen dan juga persembahan, nampak patung besar yang menyeramkan dengan taring-taring besar yang mencuat dari mulutnya.
"Bukankah wujudnya mirip dengan Leak yang menyerangku?" batinku di dalam hati dengan nafas yang berderu kencang.
Aku memundurkan langkah kaki, ingin rasanya pergi dari tempat itu. Tapi pemandangan menyeramkan muncul di hadapanku, sosok di patung itu menjelma hidup. Sosok itu mirip raksasa yang siap menyantap mangsanya, tak lama kemudian, nampak lelaki dan seorang perempuan berjalan menggendong seorang bayi mungil yang di bedong kain jarik. Keduanya meletakan bayi itu di antara sesajen yang tertata rapi di depan altar persembahan. Leak itu nampak menari-nari sesuai alunan gamelan yang berbunyi entah darimana.
Deegh!
Bayi itu menangis kencang ketika Leak yang menyeramkan itu berjalan ke arahnya. Seakan bayi mungil itu tahu, jika dirinya sedang dalam bahaya. Kedua orang yang meletakan bayi itu ikut hanyut dalam tangisan sang bayi, rupanya keduanya adalah sepasang suami istri. Perlahan tapi pasti Leak menyeramkan itu sampai di depan altar, lalu mengangkat bayi itu dengan satu tangannya. Jari-jari besar dengan kuku hitam yang panjang, nampak mencengkeram sebelah kaki bayi itu. Aku berteriak kencang, memohon pada semua orang yang ada disana untuk menolong bayi itu. Tapi tak ada satupun dari mereka mendengarkan ku, bahkan satu-satunya perempuan yang bisa melihatku juga nampak acuh mendengar teriakan ku. Sosok Leak dengan air liur yang menetes mengangkat tinggi bayi mungil yang terus menangis, kini bayi itu sudah berada tepat di atas mulut Leak yang sudah terbuka lebar.
Owek owek oweek. Tangis sang bayi memekakan telinga.
Haaps.
Aku menutup wajahku dengan kedua tangan, tak sanggup melihat adegan selanjutnya. Tak dapat ku bayangkan bagaimana reaksi kedua orang tua bayi itu. Dan kenapa semua yang hadir disini diam saja, bahkan ikut menyaksikan kejadian keji itu.
Sunyi tak ada lagi suara tangisan bayi itu, ketika ku buka kedua tanganku, nampak Leak itu sudah melahap bayi mungil itu hanya dengan sekali telan saja, hatiku bergetar menyaksikan semuanya, darahku mendidih ingin sekali memaki semua yang hadir disana. Setelah Leak itu memangsa bayi tak berdosa, semua pengikutnya nampak menyembah-nyembah sosok menyeramkan itu. Kini kedua sepasang suami istri itu berjalan ke depan altar, dan membawa beberapa kotak peti entah berisi apa. Keduanya menyembah sosok Leak, dan bersujud di bawah kakinya yang besar. Aku menangis sejadi-jadinya, tak sanggup rasanya melanjutkan penglihatan ini. Bagaimana mungkin ada orang tua yang tega menumbalkan darah dagingnya sendiri. Tangisku semakin kencang, ketika melihat semua yang hadir disana ikut membuka beberapa peti yang berisi emas dan berlian. Aku memaki semua yang ada disana, sumpah serapah ku lontarkan dengan tangisan kencang.
Tiba-tiba Malik mendatangiku dan menarik tubuhku dengan kasar.
Whuuus.
Jiwaku kembali ke dalam ragaku, ternyata disaat aku tertidur, ada sosok lain yang membawa jiwaku pergi ke masa lalu. Ia memberi penglihatan padaku, tentang kejadian mengerikan yang berhubungan dengan sosok Leak itu.
Aku duduk di ranjang menyandarkan tubuhku pada tembok. Peluh membasahi seluruh tubuhku, jantungku berdetak sangat kencang. Ternyata Malik mengetahui jika jiwaku terlepas dari ragaku, dan ia menyusulku membawaku kembali ke alam manusia.
"Tenangkan dirimu Rania. Jangan mengatakan apapun dulu, aku sudah mengetahui semuanya. Ambilah minum supaya kau sedikit tenang." ucap Malik berdiri mengambang di depan tempat tidurku.
Aku menangis sesegukan mengingat kejadian keji yang baru saja ku lihat. Hatiku teriris-iris terbayang-bayang wajah bayi tadi, ingin sekali rasanya ku musnahkan makhlum menjijikkan itu. Nampak Malik melesat ke arahku, ia memandangku dengan sendu.
"Jangan menangis lagi Rania, aku tak tahu harus berbuat apa jika kau seperti ini terus."
"Jika kau tahu jiwaku dibawa pergi ke tempat itu, kenapa tidak dari awal kau membawaku kembali hah? jika kau tak terlambat menjemputku, pasti aku tak akan melihat kejadian keji itu!" ucapku lantang dengan sesegukan.
Kini Malik hanya menundukkan kepalanya, ia tak dapat berkata apapun karena aku terus menyalahkannya.
Tok tok tok.
Aku terkejut mendengar suara ketukan pintu, ku lihat jam dinding masih di angka dua. Itu artinya masih jam dua malam, dan ada yang mengetuk pintu kamarku. Dengan sisa tenaga yang ku punya, aku berjalan gontai membuka pintu depan.
"RANIA LU KENAPA?" tanya Mbak Ayu dengan wajah panik.
Aku tak tahu harus berkata apa, hatiku yang rapuh membutuhkan sandaran. Segera ku peluk Mbak Ayu dengan berderai air mata. Seakan tahu aku butuh ketenangan Mbak Ayu hanya diam sambil memelukku, ia menepuk-nepuk punggungku, membuatku sedikit tenang dan perlahan tangisku terhenti.
"Ini minum dulu, kalau udah tenang baru lu cerita ke gue." kata Mbak Ayu membawakan segelas air dari dalam kamarku.
Aku meminum air itu tanpa jeda, kini nafasku masih agak berat. Entah kenapa aku begitu terguncang, nampak Mbak Ayu hanya diam duduk di sampingku dengan menggenggam tanganku.
"Kalau belum siap cerita sekarang gak apa-apa kok Ran, yang penting lu udah tenang. Lain kali kalau ada masalah cerita ke gue aja, jangan dipendam sendiri."
"Gue gak ada masalah kok Mbak, tadi gue habis mimpi buruk aja."
Mana mungkin aku menceritakan dengan detail kejadian yang ku lihat tadi. Apalagi aku tak tahu siapa saja yang ku lihat tadi, meski wajahnya nampak tak asing bagiku. Bisa saja mereka adalah orang-orang yang ku kenal, dan aku tak bisa menceritakan penglihatanku pada sembarang orang. Hawatir jika ada pihak-pihak tertentu yang tersinggung dengan ceritaku.
"Bagaimana ini, apakah aku harus menceritakan semuanya pada Mbak Ayu? aku takut jika ia mengetahui ceritaku, dan menceritakan nya pada orang yang salah. bisa-bisa aku yang akan terkena masalah." batinku di dalam hati resah.
...Bantu kasih saran ke othor dong, menurut kalian lebih baik Rania cerita ke Mbak Ayu atau enggak? tulis komentar kalian yuk di bawah. ...
...Bersambung. ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 299 Episodes
Comments
Ibu Bogor
lgan bkn buru" di kembalikan mlh lp jdnya
2024-02-04
1
Kartika Novianty
Alhamdulillah akhirnya sudah ketemuuu
desa rawa belatung udah keren bgt apalagi ini wow lebih keren lagi
2023-02-15
1
Afra Amia Haya
jangan dulu deh cerita ke orang lain
2022-12-01
1