Agus menghampiriku karena tak sabar menunggu terlalu lama, ia menatapku dengan heran. Ah mungkin saja ia melihatku berbicara sendiri disini.
"Ngapain sih lu? lama banget gue tungguin malah ngomong sendiri. Jangan-jangan bener ya desas-desus di Kantor, kalau lu bisa melihat makhluk halus?" kata Agus dengan mengaitkan kedua alis matanya.
"Makhluk halus apa an sih Gus? tepung terigu yang halus bukan makhluk Gus."
"Gak usah ngeles deh Ran! ngaku aja sama gue, gak akan gue bocorin ke siapa-siapa deh janji!"
"Emangnya ban motor pake bocor segala Gus? udahlah yuk, kita otewe sekarang." aku berbicara di dalam hati dengan roh tersebut, ku katakan jika aku akan berusaha menyampaikan pesan terakhirnya.
Sepanjang perjalanan nampak bayangan roh tersebut seperti mengikutiku, terserah dia sajalah yang terpenting aku sudah berniat membantunya.
"Akhirnya kita sampai juga di Kantor, gila macet parah banget ya tadi. Pegel semua nih badan gue." keluh Agus dengan meregangkan otot di pinggangnya.
"Ya udah lu ngopi aja dulu sono, gue ketemu Mbak Rika dulu."
Aku berjalan menuju pintu masuk gedung kantor. Aku berhenti sejenak dan memandang ke atas langit, terlihat awan gelap di atas sana, sepertinya akan turun hujan. Aku menundukan kepala melihat jam di pergelangan tangan, sudah jam lima sore. Tapi pekerjaan ku belum selesai juga, mungkin pekerjaan ku akan selesai tengah malam nanti. Batinku dengan menghembuskan nafas panjang. Aku berjalan melewati lobby, nampak seorang satpam sedang berjaga. Satpam tersebut melihat ke arahku, ia memberi salam dan juga menyapaku.
"Selamat sore Mbak, belum selesai ya pekerjaannya?" tanyanya dengan gelagat aneh.
Ih kenapa Satpam ini ngelihatin aku begitu ya, aneh banget sih, emang ada yang aneh denganku? batinku di dalam hati. Lalu ia berjalan lebih dekat ke arahku, dan mengatakan sesuatu yang mengejutkan ku.
"Mbak hati-hati ya, ada hantu yang ngikutin Mbaknya dari luar sana." katanya seraya memandang jiwa tanpa raga yang sedari tadi memang mengikutiku.
Degh. Tentu saja aku terkejut mendengarnya, karena setahuku tak ada yang bisa melihat makhluk tak kasat mata di kantor ini selain diriku, atau mungkin karena memang Satpam ini baru di tugaskan di sift yang sama denganku. Aku menoleh ke arah hantu yang dimaksud Satpam itu, ia sedang berdiri mengambang tepat di belakang punggung ku.
"Hehehe, Bapak bisa lihat dia juga ya? gak apa-apa kok Pak, sudah dari tadi roh itu ngikutin saya. Dia emang minta tolong sama saya, ada pesan terakhirnya yang harus saya sampaikan ke keluarganya."
"Astaga, saya kira Mbaknya gak bisa lihat makhluk seperti mereka. Makanya saya hawatir kalau Mbaknya diganggu pas kerja nanti."
Kami sama-sama tersenyum mengetahui bakat aneh yang gak semua orang miliki. Setelah sedikit bincang-bincang, Satpam itu mengaku sering melihat hantu sliweran di Kantor ini ketika berjaga sift malam. Karena tak ingin aku terganggu dengan makhluk seperti mereka, Satpam itu memperingatkan ku untuk lebih fokus ketika bekerja di jam malam.
"Sip deh Pak, makasih udah di ingetin." ucapku dengan mengangkat jari jempol padanya.
Nampak keadaan kantor sedikit sepi tak seperti biasanya. Karena biasanya setelah jam kerja selesai, masih banyak beberapa karyawan mondar-mandir, dan mengejar deadline berita untuk segera dimuat. Entah kemana perginya mereka, mungkin pekerjaan mereka sudah banyak yang selesai. Hingga tak banyak karyawan yang masih bekerja di kantor. Aku segera menemui Mbak Rika di ruangannya, nampak ia masih berjibaku dengan berkas yang menumpuk di meja. Ah leganya, masih ada yang bekerja selain diriku di kantor ini. Entah kemana perginya Agus, ia tak menampakkan batang hidungnya setelah berpamitan ngopi.
"Mbak semuanya udah gue jadiin satu di flashdisk ini ya." kataku seraya menyerahkan flashdisk untuk deadline hari ini.
Sunyi. Tak ada jawaban dari Mbak Rika.
Kenapa Mbak Rika diam saja ya, mungkin dia sedang fokus dengan pekerjaannya. Tanpa pikir panjang, aku meletakkan flashdisk di meja dan berjalan keluar.
"Aneh banget sih kantor ini benar-benar sepi, semua divisi sepertinya sudah banyak yang meninggalkan kantor." batinku dengan memandang ke segala arah.
Aku kembali menyelesaikan pekerjaan, fokusku hanya pada layar komputer mengerjakan headline yang entah akan selesai jam berapa. Nampak makhluk-makhluk tak kasat mata mulai beterbangan, aku berusaha mengacuhkan keberadaan mereka. Tapi tiba-tiba listrik padam, terpaksa membuatku menghentikan pekerjaan. Ah sial, kenapa harus mati listrik segala ya. Samar-samar terdengar alunan gamelan, di ujung ruangan ada bayangan besar seperti menari-nari. Aku bangkit dari dudukku, mengucek kedua mataku dan memperhatikan dengan lebih seksama.
Bayangan hitam dengan tubuh besar menari dengan hentakan kaki, setiap hentakan kakinya terdengar bunyi gemerincing. Aku tak dapat melihay dengan jelas, karena seluruh ruangan gelap gulita. Tanganku meraba-raba ke meja, berusaha mencari ponsel untuk menghidupkan senter penerangan.
Hwaa hwaaa. Hmm hmm.
Suara-suara itu mengganggu fokusku, entah makhluk apa yang sedang mengerjaiku kali ini. Aku berteriak lantang ke arah makhluk itu berada, jika aku tak takut padanya, aku hanya takut pada Allah sang Pencipta Alam Semesta. Tiba-tiba angin berhembus kencang, semua benda-benda beterbangan. Nampak suar cahaya merah di sekitar bayangan tersebut, sosok makhluk besar dengan busana khas patung-patung besar yang ada di Bali.
"Apa itu yang namanya Leak?" batinku di dalam hati dengan jantung yang berdegup kencang.
Nampak wajah menyeramkan dengan gigi taring panjang menutupi hampir sebagian wajahnya, apalagi setelah mulut sosok itu terbuka lebar hingga menyentuh telinga. Begitu menjijikan, karena air liur terus menetes, dengan aroma busuk yang menyengat. Kedua bola mata besar yang mencuat keluar dari kelopak matanya, membuatku sedikit bergidik ngeri. Aku beristighfar, menyebut nama Allah memohon perlindungan padanya. Dan untuk sesaat aku teringat dengan sahabat tak kasat mataku Petter. Dulu ia selalu datang melindungiku dari makhluk menyeramkan sepertinya, tapi kali ini aku seorang diri menghadapi makhluk menjijikkan ini.
Aku menengadahkan kedua tangan seraya membaca ayat-ayat suci, ku pasrahkan diri dalam lindungan Allah.
Whuuss.
Tubuhku terhempas ke udara, sebelum aku selesai memanjatkan doa, makhluk itu berhasil mengecohku.
Bruugh.
Aku terjatuh setelah tubuhku membentur tembok. Keningku terasa sakit, karena benturan tadi. Tak tahu apa yang harus aku lakukan, aku berusaha fokus membaca doa dengan duduk bersila. Ku pasrahkan diri, jika memang ini sudah menjadi akhir hidupku. Samar-samar terdengar keributan di depanku, nampak seorang perempuan menggunakan kain jarik tengah beradu ilmu dengan makhluk besar menyeramkan itu. Tak dapat ku lihat dengan jelas, siapa sosok perempuan yang melawannya.
Keduanya saling adu ilmu dengan kekuatan masing-masing, tak ada pertikaian seperti manusia pada umumnya. Keduanya hanya saling pandang, dengan tangan yang bergerak-gerak seakan memberikan perlawanan.
"Siapa dia? kenapa ia menyelamatkanku dari makhluk itu? batinku di dalam hati, dengan nafas lega.
...Menurut kalian siapa yang datang menolong Rania? main tebak-tebakan yuk 😂...
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 299 Episodes
Comments
Isdi Isdiyanto
bikin penaasaraaaan
2024-01-06
1
Lena Sari
mayat wanita Bali yg nolongin Rania nya ya?
2023-09-19
2
Tina
Pasti Wayan Sukmawati yg udah menolongnya, karena dia kan butuh pertolongan Rania untuk menyampaikan pesan terakhirnya kepada keluarga Wayan Sukmawati hehehe....
2023-07-04
0