Setelah menunggu beberapa saat hasil autopsi keluar, dan dijelaskan bahwa korban dipastikan meninggal dunia karena luka di lehernya. Meski tak ada tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban.
"Terkadang sesuatu diluar nalar terjadi ketika menangani kasus-kasus pembunuhan. Tapi berbeda dengan kasus ini, tak ada kekerasan tapi ada korban yang meninggal dunia. Terpaksa kami sebagai petugas, harus membuat alibi, dan memberi penjelasan pada keluarga ataupun publik, jika kasus masih dalam penyidikan." kata Mas Adit dengan membawa berkas autopsi yang akan diserahkan pada Komandan nya.
"Kasihan keluarganya, pasti mereka sedang hawatir karena tak ada kabar dari ibu itu."
Ponsel di kantong celanaku bergetar, ada pesan wassap masuk dari Mbak Rika. Katanya aku harus meliput berita kericuhan di sebuah stadiun sepak bola. Belum selesai kasus yang ku selidiki, aku harus mengambil liputan berita di tempat lain. Ya seperti itulah pekerjaan ku, tak akan pernah selesai hanya dengan satu kasus saja. Segera ku ambil tas ransel di atas meja kantin, lalu aku berpamitan pada Mas Adit, jika aku harus pergi meliput berita.
"Apakah ada kasus pembunuhan lagi? Dimana? Kenapa tak ada yang memberitahuku." katanya dengan mengaitkan kedua alis matanya.
"Eh! siapa yang bilang aku akan meliput kasus pembunuhan? aku ini kan jurnalis Mas, tak hanya meliput berita pembunuhan saja. Yang akan ku liput tentang kericuhan suporter sepak bola di Stadiun Kalimati." jelasku seraya memesan ojek online.
Tak lama setelah itu, seorang lelaki bertubuh gempal datang menghampiri Mas Adit. Nampak Mas Adit memberi hormat padanya. Oh rupanya lelaki itu adalah petugas yang di utus komandannya mengambil hasil autopsi. Aku berjalan meninggalkan mereka, menghampiri Mas ojol yang sudah menungguku di depan. Setelah mengenakan helm, Mas ojol langsung memacu kecepatan. Sepertinya ia lebih terburu-buru daripada aku.
"Mas tolong hati-hati ya, saya memang buru-buru sih, tapi tetep jaga keselamatan ya." kataku dengan jantung yang berdegup kencang.
"Oh iya maaf Kak. Saya lupa sedang bawa customer, karena kebetulan tujuan saya sama dengan Kakaknya."
Aku mengernyitkan kening mendengar penjelasan nya, karena penasaran dengan ucapannya. Aku pun bertanya, untuk apa ia ingin pergi ke Stadiun Kalimati. Dan ia mengatakan, jika Adik dan teman-temannya ada yang pergi melihat pertandingan sepak bola disana. Dan Mas ojol itu hawatir, jika orang-orang yang ia kenal menjadi korban kericuhan di tempat tersebut.
"Kebetulan sekali ya Mas, saya kesana juga mau meliput berita. Masnya bisa masuk bareng saya, karena saya punya kartu jurnalis. Semoga adik dan teman-temannya gak kenapa-napa ya Mas."
Perjalanan sore itu menempuh waktu hampir satu jam lebih. Karena lalu lintas menuju ke lokasi sangat ramai dan padat. Apalagi sebagian jalan kesana ditutup oleh pihak yang berwajib. Mungkin untuk menghindari datangnya masa yang lebih banyak. Ku katakan pada Mas ojol untuk mencari jalan tikus menuju ke Stadiun itu. Dengan bantuan Pak Ogah, orang yang biasa membantu mengatur jalanan. Kami berhasil menemukan jalan pintas melalui rumah warga, yang kebetulan ada di belakang Stadiun.
Partner kerja ku Agus terlihat melambaikan tangan ketika melihatku datang ke lokasi. Kami bergegas mengambil gambar, sedangkan Mas ojol pergi mencari orang-orang yang ia kenal. Mas Agus menemukan lokasi yang tepat untuk mengambil gambar, karena kami tak bisa terlalu dekat ke lokasi. Nampak keadaan di luar Stadiun sangat kacau, banyak suporter yang mengamuk dan merusak beberapa mobil polisi. Entah apa yang sebenarnya terjadi disana, aku belum bisa meminta penjelasan dari siapapun.
"Duh Gus, gimana nih caranya kita dapat informasi? Keadaan tak memungkinkan buat mewawancarai orang. Yang ada kita bisa terjebak dengan amukan masa." kataku dengan memandangi keributan antara suporter dan petugas kepolisian.
"Kita meliput lokasi disini aja deh Ran, wawancaranya nanti aja kalau keadaan udah kondusif." Agus masih sibuk dengan kameranya, sementara aku memperhatikan orang-orang di sekitar lokasi. Siapa tahu aku menemukan celah untuk masuk ke dalam stadiun.
Asap mengepul ke seluruh penjuru, entah darimana datangnya asap tebal itu. Nampak sekumpulan lelaki muda, sedang membakar ban mobil di depan gerbang stadiun. Aku menggelengkan kepala, merasa sia-sia saja usahaku datang ke tempat ini. Karena tak ada satupun orang yang bisa ku mintai keterangan. Aku menerima panggilan telepon dari Mbak Rika, ia sedang melihat siaran langsung yang sedang direkam Agus melalui kamera. Dan Mbak memerintahkan untuk segera meninggalkan lokasi, hawatir jika kami ikut menjadi incaran para suporter yang mengamuk.
"Nanggung Mbak, kami jjuga susah keluar dari TKP. Lebih baik kami disini sampai keadaan sedikit kondusif, siapa tahu ada yang bisa di wawancarai." jelasku dengan memandang kericuhan yang terjadi di depanku.
Terdengar suara lantang dari pengeras suara, seorang lelaki dengan suara berat meminta semua orang meninggalkan lokasi. Supaya tak terjadi bentrokan di antara suporter dan para petugas polisi. Agus memasukan kembali kamera ke dalam tas, ia mengaku cemas jika kericuhan disana merembet sampai ke tempat kami berada. Jadi ia memutuskan merekam gambar dengan kamera yang ada di ponselnya saja. Setelah beberapa petugas dengan jumlah yang lebih banyak datang, hampir semua suporter berhasil di tenangkan. Mereka dikumpulkan jadi satu di tanah lapang belakang stadiun. Aku merasa ini saatnya meliput dan mencari informasi, baru saja aku melangkah menghampiri seorang petugas. Aku terkejut mendengar teriakan seorang lelaki, yang sepertinya sedang marah-marah pada petugas.
"Saya ingin menemani adik saya Pak, lepaskan tangan saya!" teriaknya dengan wajah memerah.
"Loh itu kan Mas ojol tadi." batinku di dalam hati.
Nampak ia sedang berjalan di ikutii seorang lelaki yang sepertinya sedang terluka, keningnya berdarah membasahi sebelah wajahnya. Dan di depan mereka, ada seseorang yang ditandu oleh empat orang petugas.
"Sepertinya ada korban yang terluka Ran, semoga gak bertambah banyak korban ya." kata Agus sibuk merekam video di ponselnya.
Setelah korban dimasukan ke Ambulance, Mas ojol berjalan melewatiku. Lalu aku menyapanya karena penasaran, ia nampak sedih dan wajahnya sendu.
"Adik saya Kak jadi korban di dalam stadiun itu, ia terluka parah karena terinjak-injak."
"Loh tadi teman Masnya ikut masuk ke dalam Ambulance ya? sepertinya dia juga terluka bagian kepalanya."
"Teman saya? Memangnya Kakak lihat saya sama siapa? Di dalam tak ada siapapun selain petugas, semua suporter sudah dikumpulkan di lapangan belakangan. Saya sendirian mengantar adik saya ke Ambulance."
Degh! siapa yang ku lihat bersamanya tadi ya? apa mungkin orang lain yang dibawa bersama adik Mas ojolnya ya. Batinku penasaran.
"Ya udah Mas, semoga adiknya baik-baik aja ya. Oh iya tadi sudah saya bayar lewat aplikasi ya Mas."
Mas ojol itu berlalu meninggalkan ku, dari kejauhan nampak lelaki dengan kening yang berdarah tadi melihat ke arahku. Ku perhatikan tatapan matanya sayu, dan tiba-tiba ia menghilang entah kemana. Jangan-jangan dia bukan manusia lagi? Ah masa bodolah, aku tak mau berurusan dengan hantu lainnya lagi. Aku hanya ingin fokus menyelesaikan misteri penemuan mayat di gedung tua itu.
...Bersambung. ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 299 Episodes
Comments
Ray
Bagus orang awam soal mistis sangat tabu dan lebih baik tidak berurusan dengan itu🙏🙏
2022-11-17
3
Milah
adaada Ajja Hantu Yang Nyasar 😁
2022-11-08
2
Milah
Klo Soal Mistis Emng Nggak Adaa Habis¹Nyaa😁
2022-11-08
2