Setengah hari ku habiskan waktu menjadi kaum rebahan. Tubuhku yang penat dan kepala yang pusing sudah menghilang, aku mengirim pesan pada Mas Adit untuk memberitahu, jika sesepuh yang akan membantu pencarian kepala mayat itu tak bisa datang. Ku katakan pula alasannya, dan meminta Mas Adit untuk segera menguburkan jenazah mayat perempuan itu. Tak ada balasan dari Mas Adit, bahkan pesanku hanya centang satu. Mungkin ia sedang sibuk dengan kasus yang lain.
"Rania!" seru seseorang dari depan.
"Eh Mbak Ayu, ada apa nih Mbak?"
"Yuk temenin gue ngopi ke Starbeek, kebetulan gue punya voucher free dessert, kan lumayan ngirit nongkrong. Gue yang traktir deh yuk kopinya."
"Gimana ya Mbak, gue lagi banyak yang dipikirin nih."
"Ya elah Ran, timbang banyak pikiran doang diribetin. Santai aja ngapa, sesekali refreshing jangan kerja dan di kamar terus." desak Mbak Ayu terus memaksa.
"Ya udah gue mandi dulu ya, setengah jam lagi kita otewe."
"Wah cepet amat lu setengah jam udah siap?"
"Gue kan gak pernah dandan Mbak, apa adanya aja begini."
"Iya sih lu gak dandan aja cantik gimana pake dandan segala, ntar yang lain kalah cantik sama lu." ledek Mbak Ayu dengan menaikan alis matanya.
Mbak Ayu kembali ke kamar dan bersiap, sementara aku bergegas mandi dan berpakaian. Celana jeans warna hitam dengan kaos hitam andalanku, tak lupa ku bawa selendang berwarna merah peninggalan Simbahku.
"Dengan memakai selendang Simbah, aku merasa nyaman dan tenang." gumamku seraya melihat foto Simbah di galeri ponselku.
Nampak Mbak Ayu menatapku dengan heran, ia mengatakan jika selendang merahku merusak penampilan gothic ku.
"Ya gimana lagi Mbak, ini peninggalan dari almarhumah Nenekku. Ketika aku banyak pikiran seperti ini, aku sering membawanya kemanapun. Ada perasaan tenang jika aku membawa selendang ini." jelasku dengan tersenyum simpul.
Mbak Ayu membalas senyumku dengan menggandeng tanganku, kami berjalan ke teras depan rumah utama.
"Kita pesen taksi online aja ya biar kerenan, masa naik ojol gak keren dong, kan mau nongkrong di Starbeek." kata Mbak Ayu dengan mengambil ponsel di tas nya.
Tiin tiin tiin.
Suara klakson mobil mengagetkanku, kenapa bisa secepat itu taksi online nya datang.
"Wah hebat lu Mbak, baru pegang hape taksi nya langsung datang!" seruku berdecak heran.
"Dih ngarang cerita aja lu, gue kan baru masukin lokasi, belum juga dapat Driver."
Kami berdua saling pandang, merasa heran dengan mobil yang berhenti di depan kost. Seseorang di dalamnya terus membunyikan klakson, sampai akhirnya seseorang turun dari mobil dan menyapaku.
"Rania kesini!" serunya dengan melambaikan tangan.
Ternyata Mas Adit datang ke kost tanpa memberitahu, aku berjalan menghampirinya dan menanyakan tujuannya datang ke kost an.
"Tadi aku ke kantormu, tapi resepsionis mengatakan jika kau sedang off. Aku tak bisa menghubungi ponselmu, karena batre ponselku habis." jelas Mas Adit dengan menunjukkan ponselnya yang mati.
"Pantas aja aku chat cuma centang satu."
"Bisa gak kita ngobrol sebentar?"
"Duh gimana ya Mas, aku udah janjian sama Mbak Ayu mau ngopi ke Starbeek. Ini kita mau otewe, mau pesen taksi online dulu."
Setelah mempertimbangkan, akhirnya Mas Adit ingin bergabung dengan kami. Sekalian ngobrolin masalah yang belum jelas juntrungannya. Mbak Ayu mempersilahkan Mas Adit untuk bergabung, apalagi ia membawa mobil, jadi kami tak perlu memesan taksi online.
"Sorry ya kalau ganggu acara kalian, kebetulan saya ada perlu juga sama Rania." ucap Mas Adit nampak formal dengan Mbak Ayu.
"Santai aja Pak, gak masalah kok buat kita. Ya gak Ran?" sahut Mbak Ayu menaikan alis matanya.
"Duh saya jadi ngerasa tua sekali dipanggil Pak, lebih enak panggil nama aja ya Mbak. Nama saya Adit, senior Rania waktu di kampus dulu."
Kini Mbak Ayu menggoda ku, menurutnya pandangan Mas Adit berbeda ketika menatapku. Mas Adit menundukkan wajahnya malu-malu, sementara aku merasa tak enak dengan godaan Mbak Ayu.
"Mbak Ayu nih gak usah becanda gitu deh, kami ini cuma temenan aja Mbak. Dan kebetulan ada urusan yang mengharuskan kita sering komunikasi." kataku panjang lebar, supaya Mbak Ayu tak menggoda kami lagi.
Akhirnya mobil yang kami tumpangi sampai di Mall Taman Bougenville, Mas Adit memarkir mobil di depan pintu masuk. Supaya kami lebih mudah melihat mobilnya. Mbak Ayu banyak bertanya tentang profesi Mas Adit, ia penasaran bagaimana cara kerja Polisi menguak banyak kasus. Mas Adit menjelaskan seadanya, ia bilang banyak investigasi yang dilakukan oleh anggotanya sebelum menyelesaikan kasus-kasusnya.
Kami sampai di Kedai Starbeek, aku memesan minum Caramel Machiato, Mbak Ayu penyuka kacang memesan rasa Hazelnut, dan Mas Adit memesan Kopi hitam, supaya kesegaran matanya tetap terjaga.
"Gimana Ran, ada kabar apa dari para sesepuh itu?" tanya Mas Adit memulai obrolan.
"Eh iya itu Mas, tadi aku udah chat ke wassap mu. Menjelaskan tentang itu, keduanya belum bisa membantu saat ini. Lebih baik kau kuburkan saja jenazahnya."
"Hah jenazah? kalian lagi ngomongin apa an sih? serem amat bahas jenazah segala?" Mbak Ayu memandangku dengan wajah penasaran.
"Itu Mbak, Rania ngomongin jenazah tanpa kepala yang ditemukan beberapa hari kemarin di gedung tua. Emangnya Mbak Ayu gak lihat beritanya? berita itu sempet viral di tok tak loh kemarin." kata Mas Adit dengan menyeruput kopi hitamnya.
"Astaga, berita yang itu toh. Kirain udah kelar kasusnya, soalnya gak ada pemberitaan lagi sih. Emang belum ketangkep ya pelaku pembunuhannya?" ucap Mbak Ayu dengan mengaitkan kedua alis matanya.
Aku dan Mas Adit saling pandang, tak tahu harus mengatakan apa pada Mbak Ayu. Karena sebenarnya ini adalah rahasia polisi, hanya aku saja orang luar yang mengetahui kejelasan kasus itu.
"Sebenarnya ada yang gak bisa di ungkap ke publik Mbak. Makanya gak ada satupun media yang naikin berita ini, kasusnya masih menjadi misteri."
"Terus kalau ada keluarga dari jenazah itu yang nyariin gimana Ran? kan kasihan keluarganya kalau gak tahu apa-apa. Pasti mereka sangat hawatir, kan gue lihat di berita yang viral kemarin, katanya identitas korban belum diketahui kan?" Mbak Ayu semakin penasaran dan bertanya lebih banyak lagi mengenai mayat perempuan tersebut.
"Duh gimana nih, gak mungkin kan gue dan Mas Adit menjelaskan semuanya ke Mbak Ayu. Lagipula kasus ini agak rumit, banyak hal-hal gaib yang berhubungan di dalamnya." batinku dengan memijat pangkal hidungku.
Seakan tahu jika aku sudah kebingungan menjawab pertanyaan Mbak Ayu, Mas Adit mengatakan pada Mbak Ayu jika kasus itu masih di selidiki lebih lanjut.
"Mbak Ayu penasaran ya? tunggu aja, Polisi pasti akan menguak semuanya, gak akan ada yang ditutupin. Rania juga lagi nunggu informasi lengkap dari kepolisian, dia juga mau dapat bahan berita supaya masuk hot news Mbak." jelas Mas Adit dengan suara tegas.
Nampak Mbak Ayu diam dengan menganggukkan kepalanya, menurutnya ia tak tega mengetahui kondisi jenazah perempuan tak dikenal itu. Mbak Ayu teringat kedua orang tuanya yang entah berada dimana, ia tak ingin orang tuanya mengalami nasib yang sama seperti mayat tersebut.
Apakah Mbak Ayu punya feeling lain dengan mayat itu? menurut pendapat kalian ada hubungan gak sih Mbak Ayu dengan mayat itu?
...Bersambung. ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 299 Episodes
Comments
Sarita
kayanya ayu itu adalah anak dari wanita yg bunuh diri itu deh
2023-10-29
0
Sekar Sekar
ada
2023-05-25
1
Anisah Ani
Jgn jangan c mba Ayu itu anak nya yg nyembah leak itu..
2023-02-09
0