Foster membuka kedua matanya dan mulai merasakan kalau kaki dan kedua tangannya tidak lagi bisa bergerak dengan bebas. Pria itu berusaha mengingat apa yang terakhir kali ia alami. Alisnya saling bertaut dan ada senyum tipis di bibirnya. Walau tidak tahu siapa lawannya saat ini, tetapi Foster begitu percaya diri kalau dia akan segera bebas. Anak buahnya tidak akan mungkin diam saja. Foster merasa yakin kalau tidak lama lagi anak buahnya akan menyadari kalau dia hilang dan segera mencarinya.
Sebetulnya bisa dibilang penculikan ini bukan pertama kalinya terjadi. Sudah sering Foster mengalami hal yang serupa. Tidak sampai 24 jam dia akan kembali ke rumahnya. Bahkan hal yang sangat aneh, justru orang yang sudah berani menculiknya berakhir dengan cara bertekuk lutut di hadapannya. Kali ini Foster merasa sangat yakin kalau hal-hal seperti itu akan terulang lagi. Ia belum sadar kalau orang yang sudah menculiknya kali ini bukan orang yang biasa.
"Kenapa harus ada masalah seperti ini di saat aku sedang mencari Daisy! Menganggu saja!" umpat Foster kesal.
"Kau mencari Daisy?" sahut Nyonya Gulnora.
Foster segera mengangkat kepalanya dan memandang ke depan. Pria itu sama sekali tidak menyangka kalau sejak tadi Nyonya Gulnora ada di depannya. Wanita paruh baya itu duduk sambil menikmati kopi yang tersaji di atas meja. Foster kaget Bukan main ketika menyadari kalau orang yang sudah menculiknya adalah seorang dosen di Universitas tempatnya belajar.
"Apa yang anda lakukan di sini Nyonya Gulnora. Anda sudah pikirkan matang-matang sebelum membawa saya ke tempat ini? Sebenarnya apa yang ingin anda dapatkan dari saya? Anda ingin uang? Tanpa Anda minta saya akan mengirimkannya setiap bulan selama anda berjanji untuk menjaga Daisy." Foster diam sejenak sebelum melanjutkan perkataannya. "Oh Ya, saya tahu sekarang. Anda menangkap saya karena anda merasa bersalah bukan? Anda takut saya menghukum anda karena anda tidak berhasil menjaga Daisy dengan baik. Sampai-sampai Daisy hilang seperti sekarang. Sebenarnya saya tidak menyalakan Anda sejak saya tahu kalau Daisy hilang. Tetapi jika sikap Anda seperti ini justru saya curiga kepada anda. Jangan-jangan Anda terlibat dalam hilangnya Daisy," tuduh Foster begitu saja.
"Tuan, Kenapa Anda menuduh saya sejahat itu? Saya memang sudah tua dan tidak berguna, tetapi saya tidak mungkin mencari uang dengan cara menyusahkan orang lain. apalagi sampai mencelakai mahasiswi tempat saya bekerja. Semiskin-miskinnya saya, saya masih menggunakan logika ketika mencari rejeki. Jadi, tolong jangan tuduh saya seperti itu jika anda tidak memiliki bukti. Bukankah sebenarnya yang sudah menculik Daisy adalah anda sendiri? Kenapa sekarang anda membalikkan fakta seolah-olah saya yang salah. Apa memang seperti ini sifat orang kaya? Selalu melemparkan kesalahan kepada yang lemah. Mentang-mentang memiliki uang banyak bisa seenaknya saja menuduh orang lain. Tanpa bukti lagi. Mungkin kalau Anda mengatakan tuduhan anda yang seperti tadi di depan polisi, pasti saya sudah ditangkap dan dipenjara. Bukan karena saya bersalah. Tetapi karena orang yang sudah menuduh saya adalah orang yang penting bagi negara ini." Nyonya Gulnora sangat kesal melihat Foster. Namun, dia juga tidak bisa berkata kasar karena selama ini Foster merupakan mahasiswa yang baik dan sopan. Nyonya Gulnora masih memandang sisi baik Foster selama ini.
Foster tertawa hingga suaranya memenuhi ruangan sempit tersebut. "Saya menuduh anda? Apa maksud Anda, Nyonya Gulnora? Dan, Kenapa Anda memiliki pemikiran kalau saya akan menculik Daisy? Jika memang saya ingin menculik dia, sudah sejak kemarin dia saya culik. Kenapa harus sekarang? Saya sangat mencintai Daisy dan menghargai perasaannya. Saya tidak mungkin melakukan hal yang membuat wanita yang saya cintai kecewa," sahut Foster geram.
Nyonya Gulnora semakin ragu untuk menuduh Foster lebih jauh lagi. Jika diingat-ingat lagi memang selama ini Foster sangat menjaga dan menghargai Daisy. Rasanya Nyonya Gulnora sendiri masih tidak percaya kalau Foster yang sudah menculik Daisy.
"Maafkan saya tuan. Mungkin memang awalnya saya sangat percaya sama anda. Bahkan berpikir kalau tidak mungkin anda yang melakukan semua ini. Tetapi bukti sudah kuat. Anda tidak bisa menghindar lagi. Dari bukti itu saja sudah bisa menunjukkan kalau anda terlibat dalam penculikan Daisy!" sahut Nyonya Gulnora. Kali ini dia sangat percaya kalau Foster akan kalah dan mengakui perbuatannya.
"Bukti yang kuat? Coba katakan pada saya bukti apa yang anda miliki hingga Anda berani sekali menuduh saya!" tantang Foster.
"Kalung Anda ditemukan di dalam kamar mandi yang ada di kamar Daisy. Kalung itu tergeletak di lantai dan dipenuhi dengan genangan darah. Seseorang menyimpan kalung tersebut untuk dijadikan barang bukti. Jika sudah seperti ini alasan apalagi yang ingin anda gunakan untuk menghindar dari tuduhan saya?" Wajah Nyonya Gulnora terlihat senang. Bahkan dia ingin tertawa melihat ekspresi kaget Foster saat ini.
"Kalung?" Foster terlihat syok mendengar jawaban nyonya Gulnora. "Maksud Anda, kalung yang biasa saya gunakan?"
"Ya!"
Foster mengepal kesepuluh jarinya. Kali ini dia semakin geram ketika tahu kalau ada orang yang dengan sengaja menjebaknya. Memang kalung miliknya itu hilang dan sudah beberapa hari ini dia cari. Foster masih tidak menyangka kalau seseorang memanfaatkan kalung itu untuk menjadikannya kambing hitam dalam hilangnya Daisy.
"Kalung itu memang hilang. Bahkan saya sudah menempah yang baru tapi belum jadi. Jika memang benar kalung saya ditemukan di dalam kamar mandi Daisy, itu berarti memang ada seseorang yang ingin menjebak saya. Tapi anda tenang saja, saya akan segera menangkapnya. Saya juga tidak mau Daisy lama-lama hilang tanpa kabar seperti ini. Tetapi sebelum saya melakukan semua itu, tolong lepaskan ikatan saya. Saya tidak akan mempermasalahkan perbuatan Anda kali ini. Saya akan memaafkan Anda asalkan Anda mau menuruti perintah saya."
Nyonya Gulnora tertawa mendengar jawaban Foster. "Maafkan saya tuan. Bukan saya tidak mau melepaskan ikatan yang ada di tangan dan kaki anda. Tetapi saya sama sekali tidak memiliki kuasa untuk melakukannya. Karena orang yang sudah melakukan semua ini adalah kakak kandung Daisy. Jadi jika anda ingin bebas bernegosiasilah dengan mereka. Katakan apa yang sebenarnya terjadi. Buat mereka percaya kalau memang Anda tidak terlibat."
"Kakak kandung Daisy? Daisy punya kakak? Bukankah dia anak tunggal? Jika memang dia memiliki Kakak kenapa selama ini tidak pernah menjenguknya?" jawab Foster masih tidak percaya.
"Saya sama sekali tidak tahu apa alasannya, Tuan. Yang saya tahu sekarang kakak kandung Daisy sedang menyusun rencana untuk menghukum anda. Mereka berpikir kalau anda yang sudah menculik Daisy."
"Tidak bisa seperti ini! Saya dijebak!" protes Foster.
"Ya, saya tahu. Memang sejak awal Saya tidak percaya kalau anda yang sudah menculik Daisy. Tetapi saya juga bingung kenapa kalung Anda sampai ada di kamar Daisy."
"Oke, baiklah. Sebaiknya kita tidak perlu membahas topik yang sama. Sekarang Tolong saya Nyonya Gulnora. Panggilkan kakak kandung Daisy! Saya ingin bicara empat mata dengannya. Dia harus tahu dan kenal, Seperti apa pria yang sudah mencintai adik kandungnya!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 254 Episodes
Comments
🌼 Pisces Boy's 🦋
Foster kamu sangat 👍
2022-12-28
1
Waode Daniati
poster..namamu sungguh unik..eh Foster ya
2022-10-21
2
ᴀʀsᴇɴ ꦿ᭄
kok anda pd sekali Foster 🤦
2022-10-21
1