Livy memasukkan ponselnya ke dalam tas. Ia tertawa geli sambil membayangkan bagaimana ekspresi Zion dan Norah saat ini. Sebenarnya kalimat yang baru saja ia ucapkan di dalam telepon tadi hanya candaan semata. Entah kenapa dia kepikiran untuk mengerjai Zion dan Norah walau keadaannya sedang genting seperti ini. Seperti sebuah hiburan tersendiri bagi Livy.
"Mereka pasti sekarang saling memandang dengan wajah bingung. Memikirkan alasan yang tepat jika memang benar Opa Zein telepon," gumam Livy di dalam hati. "Tapi, aku tidak boleh sampai memberi tahu masalah ini sama Opa Zein. Kasihan Kak Zion. Dia pasti sedih." Livy memang selalu mengerti bagaimana perasaan Zion. Maka dari itu dia sangat dekat dengan Zion sejak kecil.
Ekspresi wajah Livy berubah ketika ia kembali ingat dengan hilangnya Daisy. Wanita itu juga sangat menyayangi Daisy. Ia tidak mau sampai Daisy celaka. Belum pernah Daisy sampai hilang tanpa kabar seperti ini. Biasanya wanita itu menghilang hanya dalam hitungan jam saja. Zion selalu bisa di handalkan untuk menjaga Daisy. Jika sampai Daisy hilang tanpa kabar seperti ini, sudah pasti memang lawan yang mereka hadapi tidak main-main.
"Daisy … aku harus membantu Kak Zion dan Norah. Aku harus menemukan Daisy sebelum semua orang sadar."
Livy mengambil ponselnya dan menekan nomor seseorang. Wanita itu menahan gerakannya ketika seorang perawat berjalan mendekati. Sesegera mungkin Livy memutuskan panggilan telepon tersebut.
"Dok, pasien di kamar nomor 224 marah-marah. Dia ingin bertemu dengan anda," ucap perawat itu dengan wajah khawatir.
"Baiklah," sahut Livy. "Aku akan segera ke sana. Aku ingin menghubungi keluargaku. Ada masalah penting yang tidak bisa aku abaikan," ucap Livy.
"Baiklah, Dok. Saya tunggu di depan ruangan pasien." Perawat itu segera pergi untuk memberikan privasi kepada Livy. Setelah memastikan tidak ada lagi orang di sana, Livy segera mengangkat panggilan masuk ke ponselnya.
"Kak Livy cantik, ada apa?"
"Apa kau bisa membantuku?" sahut Livy dengan wajah malas. Sebenarnya kalau tidak butuh kali, dia tidak mungkin menghubungi pria tersebut.
"Apa yang bisa aku bantu untuk kakak?"
"Aku ingin cuti untuk beberapa hari. Mamaku …." Livy memejamkan mata. Dia harus bawa-bawa Katterine agar bisa mendapatkan izin dari pemilik rumah sakit untuk tidak bekerja selama beberapa hari.
"Baiklah, kakak cantik."
"Ehm, sekarang ada pasien yang ingin bertemu denganku. Sepertinya aku tidak bisa menemuinya," ujar Livy lagi.
"Baiklah, akan saya minta dokter lain untuk mengurusnya. Semoga masalah Kak Livy cantik segera selesai ya," ujar pria yang usianya terpaut dua tahun di bawah Livy.
Livy menghela napas sebelum bicara lagi. "Terima kasih atas pengertiannya."
Livy tahu kalau pria yang menjadi pemilik rumah sakit tempatnya bekerja, tergila-gila padanya. Hanya saja Livy tidak pernah menanggapinya dengan serius. Bahkan pria itu berulang kali mengajak Livy untuk berpacaran.
"Pria aneh. Tapi, aku masih butuh bantuannya karena aku bekerja di rumah sakit miliknya. Sekarang saatnya aku pergi dari sini. Aku harus fokus mencari Daisy untuk membantu Kak Zion dan Norah. Jangan sampai masalah ini sampai ke telinga Opa Zein. Bisa gawat urusannya," gumam Livy di dalam hati.
Wanita itu pergi meninggalkan ruangan kerjanya tanpa mau menemui pasien yang ingin bertemu dengannya. Bahkan perawat yang sempat ia suruh menunggu juga ia tinggalkan begitu saja tanpa kabar. Jika hal yang berhubungan dengan keluarga, Livy tidak pernah nanti-nanti. Wanita itu akan bertindak agar masalah yang dihadapi keluarganya cepat menemukan jalan keluar.
Livy memang cepat menuju ke parkiran rumah sakit. Langkah wanita itu terhenti ketika dia melihat sosok yang sangat tidak asing berdiri di depan mobilnya. Berdiri memandang wajahnya sambil membuka kaca mata. Satu tangannya di masukkan ke dalam saku dan mengukir senyuman yang membuat Livy ingin segera berlari untuk memeluknya.
"Opa Lukas!" teriak Livy.
Lukas terlihat bahagia. Ia membuka kedua tangannya agar cucu kesayangannya itu mau memeluknya dengan erat. Tanpa pikir panjang dan lihat kanan kiri lagi, Livy segera berlari dan memeluk Lukas. Dia sangat merindukan Opanya yang sudah lama tidak bertemu dengannya itu.
Sejak Livy lahir, Lukas dan Lana memilih untuk membeli kebun anggur dan merawatnya bersama. Mereka menghabiskan masa tua mereka dengan penuh kebahagiaan di sana. Jauh dari kata action karena memang mereka tidak mau mempedulikan bagaimana kabar geng mafia mereka. Semua diserahkan kepada cucu-cucu mereka yang kini sedang tumbuh untuk mencari jati diri mereka.
"Kenapa Opa tidak bilang akan datang? Ini sebuah kejutan," ujar Livy. "Dimana Oma Lana? Aku juga merindukannya."
"Oma tidak ikut. Ada yang ingin kau ceritakan sama Opa sebelum Opa bertanya sesuatu?"
Sejak dulu sampai tua seperti ini, Lukas memang tidak terlalu suka bertele-tele. Dia selalu saja ingin langsung membahas pada intinya.
Livy di sejenak. Dia paham kalau apa yang dimaksud Opa Lukas adalah masalah hilangnya Daisy. Tetapi, rasanya dia tidak mau memperburuk keadaan dengan memberi tahu detail yang terjadi. Livy tetap mendukung keputusan Zion untuk tidak meminta bantuan siapapun.
"Tidak ada," jawab Livy tanpa memandang.
"Kenapa tidak berani memandang lawan bicaramu, Livy? Kau menyembunyikan sesuatu? Opa melatihmu menjadi seperti sekarang bukan untuk menjadi pembohong!" ujar Lukas hingga berjalan menusuk jantung Livy dan membuatnya merasa bersalah.
"Opa, apakah Opa Zein yang sudah memerintahkan Opa turun tangan seperti ini? Sampai kapan Opa melindungi Opa Zein? Sampai kapan Opa menjadi bawahan Opa Zein?"
"Sampai kau tidak lagi menganggap Zion sebagai saudaramu," sahut Lukas tenang.
"Itu tidak mungkin. Selamanya aku dan Kak Zion bersaudara!" protes Livy.
"Sama seperti yang sekarang Opa rasakan. Seluruh napas ini pernah mengabdi padanya. Jika dia dalam keadaan tidak berdaya maka Opa akan turun tangan untuk menjadi tangan dan kaki Opa Zein," jawab Lukas dengan nada lembut berharap cucunya mau mengerti.
"Bukankah masih ada Paman Jordan dan Tante Leona?" Livy masih belum mau mengerti.
"Kau mulai hitung-hitungan?" Opa Lukas sepertinya mulai marah melihat sikap cucunya yang tidak sesuai harapan. Sangat perhitungan dan tidak memiliki jiwa toleransi terhadap leluhurnya. Yaitu Zeroun Zein.
"Tidak. Aku hanya tidak mau Opa bertarung di usia Opa yang sudah tua seperti ini. Daddy Oliver juga pasti akan marah. Oma Lana juga pasti tidak setuju," jawab Livy dengan ekspresi tenang. Dia yakin, kalau kali ini dia benar. Opa Lukas yang salah.
"Sayangnya dia juga sudah tahu," sahur Opa Lukas dengan tenang.
Livy mengangkat wajahnya. Dia memandang sosok yang ternyata sejak tadi berdiri di samping mobil. "Daddy?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 254 Episodes
Comments
wiens
wah para leluhur geng mafia, jadi penisirin, reuni lagi nih🤗🤗
2023-03-21
0
🌼 Pisces Boy's 🦋
para leluhut bakal reunian nih makin seru 👏👏👏
2022-12-28
0
🌸𝓐𐝥𐔎𐒻𐀁🍒⃞⃟🦅OFF
wah pd kumpul semua nih... jdi seru
2022-10-28
2