Bab. 13

Livy memasukkan ponselnya ke dalam tas. Ia tertawa geli sambil membayangkan bagaimana ekspresi Zion dan Norah saat ini. Sebenarnya kalimat yang baru saja ia ucapkan di dalam telepon tadi hanya candaan semata. Entah kenapa dia kepikiran untuk mengerjai Zion dan Norah walau keadaannya sedang genting seperti ini. Seperti sebuah hiburan tersendiri bagi Livy.

"Mereka pasti sekarang saling memandang dengan wajah bingung. Memikirkan alasan yang tepat jika memang benar Opa Zein telepon," gumam Livy di dalam hati. "Tapi, aku tidak boleh sampai memberi tahu masalah ini sama Opa Zein. Kasihan Kak Zion. Dia pasti sedih." Livy memang selalu mengerti bagaimana perasaan Zion. Maka dari itu dia sangat dekat dengan Zion sejak kecil.

Ekspresi wajah Livy berubah ketika ia kembali ingat dengan hilangnya Daisy. Wanita itu juga sangat menyayangi Daisy. Ia tidak mau sampai Daisy celaka. Belum pernah Daisy sampai hilang tanpa kabar seperti ini. Biasanya wanita itu menghilang hanya dalam hitungan jam saja. Zion selalu bisa di handalkan untuk menjaga Daisy. Jika sampai Daisy hilang tanpa kabar seperti ini, sudah pasti memang lawan yang mereka hadapi tidak main-main.

"Daisy … aku harus membantu Kak Zion dan Norah. Aku harus menemukan Daisy sebelum semua orang sadar."

Livy mengambil ponselnya dan menekan nomor seseorang. Wanita itu menahan gerakannya ketika seorang perawat berjalan mendekati. Sesegera mungkin Livy memutuskan panggilan telepon tersebut.

"Dok, pasien di kamar nomor 224 marah-marah. Dia ingin bertemu dengan anda," ucap perawat itu dengan wajah khawatir.

"Baiklah," sahut Livy. "Aku akan segera ke sana. Aku ingin menghubungi keluargaku. Ada masalah penting yang tidak bisa aku abaikan," ucap Livy.

"Baiklah, Dok. Saya tunggu di depan ruangan pasien." Perawat itu segera pergi untuk memberikan privasi kepada Livy. Setelah memastikan tidak ada lagi orang di sana, Livy segera mengangkat panggilan masuk ke ponselnya.

"Kak Livy cantik, ada apa?"

"Apa kau bisa membantuku?" sahut Livy dengan wajah malas. Sebenarnya kalau tidak butuh kali, dia tidak mungkin menghubungi pria tersebut.

"Apa yang bisa aku bantu untuk kakak?"

"Aku ingin cuti untuk beberapa hari. Mamaku …." Livy memejamkan mata. Dia harus bawa-bawa Katterine agar bisa mendapatkan izin dari pemilik rumah sakit untuk tidak bekerja selama beberapa hari.

"Baiklah, kakak cantik."

"Ehm, sekarang ada pasien yang ingin bertemu denganku. Sepertinya aku tidak bisa menemuinya," ujar Livy lagi.

"Baiklah, akan saya minta dokter lain untuk mengurusnya. Semoga masalah Kak Livy cantik segera selesai ya," ujar pria yang usianya terpaut dua tahun di bawah Livy.

Livy menghela napas sebelum bicara lagi. "Terima kasih atas pengertiannya."

Livy tahu kalau pria yang menjadi pemilik rumah sakit tempatnya bekerja, tergila-gila padanya. Hanya saja Livy tidak pernah menanggapinya dengan serius. Bahkan pria itu berulang kali mengajak Livy untuk berpacaran.

"Pria aneh. Tapi, aku masih butuh bantuannya karena aku bekerja di rumah sakit miliknya. Sekarang saatnya aku pergi dari sini. Aku harus fokus mencari Daisy untuk membantu Kak Zion dan Norah. Jangan sampai masalah ini sampai ke telinga Opa Zein. Bisa gawat urusannya," gumam Livy di dalam hati.

Wanita itu pergi meninggalkan ruangan kerjanya tanpa mau menemui pasien yang ingin bertemu dengannya. Bahkan perawat yang sempat ia suruh menunggu juga ia tinggalkan begitu saja tanpa kabar. Jika hal yang berhubungan dengan keluarga, Livy tidak pernah nanti-nanti. Wanita itu akan bertindak agar masalah yang dihadapi keluarganya cepat menemukan jalan keluar.

Livy memang cepat menuju ke parkiran rumah sakit. Langkah wanita itu terhenti ketika dia melihat sosok yang sangat tidak asing berdiri di depan mobilnya. Berdiri memandang wajahnya sambil membuka kaca mata. Satu tangannya di masukkan ke dalam saku dan mengukir senyuman yang membuat Livy ingin segera berlari untuk memeluknya.

"Opa Lukas!" teriak Livy.

Lukas terlihat bahagia. Ia membuka kedua tangannya agar cucu kesayangannya itu mau memeluknya dengan erat. Tanpa pikir panjang dan lihat kanan kiri lagi, Livy segera berlari dan memeluk Lukas. Dia sangat merindukan Opanya yang sudah lama tidak bertemu dengannya itu.

Sejak Livy lahir, Lukas dan Lana memilih untuk membeli kebun anggur dan merawatnya bersama. Mereka menghabiskan masa tua mereka dengan penuh kebahagiaan di sana. Jauh dari kata action karena memang mereka tidak mau mempedulikan bagaimana kabar geng mafia mereka. Semua diserahkan kepada cucu-cucu mereka yang kini sedang tumbuh untuk mencari jati diri mereka.

"Kenapa Opa tidak bilang akan datang? Ini sebuah kejutan," ujar Livy. "Dimana Oma Lana? Aku juga merindukannya."

"Oma tidak ikut. Ada yang ingin kau ceritakan sama Opa sebelum Opa bertanya sesuatu?"

Sejak dulu sampai tua seperti ini, Lukas memang tidak terlalu suka bertele-tele. Dia selalu saja ingin langsung membahas pada intinya.

Livy di sejenak. Dia paham kalau apa yang dimaksud Opa Lukas adalah masalah hilangnya Daisy. Tetapi, rasanya dia tidak mau memperburuk keadaan dengan memberi tahu detail yang terjadi. Livy tetap mendukung keputusan Zion untuk tidak meminta bantuan siapapun.

"Tidak ada," jawab Livy tanpa memandang.

"Kenapa tidak berani memandang lawan bicaramu, Livy? Kau menyembunyikan sesuatu? Opa melatihmu menjadi seperti sekarang bukan untuk menjadi pembohong!" ujar Lukas hingga berjalan menusuk jantung Livy dan membuatnya merasa bersalah.

"Opa, apakah Opa Zein yang sudah memerintahkan Opa turun tangan seperti ini? Sampai kapan Opa melindungi Opa Zein? Sampai kapan Opa menjadi bawahan Opa Zein?"

"Sampai kau tidak lagi menganggap Zion sebagai saudaramu," sahut Lukas tenang.

"Itu tidak mungkin. Selamanya aku dan Kak Zion bersaudara!" protes Livy.

"Sama seperti yang sekarang Opa rasakan. Seluruh napas ini pernah mengabdi padanya. Jika dia dalam keadaan tidak berdaya maka Opa akan turun tangan untuk menjadi tangan dan kaki Opa Zein," jawab Lukas dengan nada lembut berharap cucunya mau mengerti.

"Bukankah masih ada Paman Jordan dan Tante Leona?" Livy masih belum mau mengerti.

"Kau mulai hitung-hitungan?" Opa Lukas sepertinya mulai marah melihat sikap cucunya yang tidak sesuai harapan. Sangat perhitungan dan tidak memiliki jiwa toleransi terhadap leluhurnya. Yaitu Zeroun Zein.

"Tidak. Aku hanya tidak mau Opa bertarung di usia Opa yang sudah tua seperti ini. Daddy Oliver juga pasti akan marah. Oma Lana juga pasti tidak setuju," jawab Livy dengan ekspresi tenang. Dia yakin, kalau kali ini dia benar. Opa Lukas yang salah.

"Sayangnya dia juga sudah tahu," sahur Opa Lukas dengan tenang.

Livy mengangkat wajahnya. Dia memandang sosok yang ternyata sejak tadi berdiri di samping mobil. "Daddy?"

Terpopuler

Comments

wiens

wiens

wah para leluhur geng mafia, jadi penisirin, reuni lagi nih🤗🤗

2023-03-21

0

🌼 Pisces Boy's 🦋

🌼 Pisces Boy's 🦋

para leluhut bakal reunian nih makin seru 👏👏👏

2022-12-28

0

🌸𝓐𐝥𐔎𐒻𐀁🍒⃞⃟🦅OFF

🌸𝓐𐝥𐔎𐒻𐀁🍒⃞⃟🦅OFF

wah pd kumpul semua nih... jdi seru

2022-10-28

2

lihat semua
Episodes
1 Bab. 1
2 Bab. 2
3 Bab. 3
4 Bab. 4
5 Bab. 5
6 Bab. 6
7 Bab 7
8 Bab. 8
9 Bab. 9
10 Bab. 10
11 Bab. 11
12 Bab. 12
13 Bab. 13
14 Bab. 14
15 Bab. 15
16 Bab. 16
17 Bab. 17
18 Bab. 18
19 Bab. 19
20 Bab. 20
21 Bab. 21
22 Bab. 22
23 Bab. 23
24 Bab. 24
25 Bab. 25
26 Bab. 26
27 Bab. 27
28 Bab. 28
29 Bab. 29
30 Bab. 30
31 Bab. 31
32 Bab. 32
33 Bab. 33
34 Bab. 34
35 Bab. 35
36 Bab. 36
37 Bab. 37
38 Bab. 38
39 Bab. 39
40 Bab. 40
41 Bab. 41
42 Bab. 42
43 Bab. 43
44 Bab. 44
45 Bab. 45
46 Bab. 46
47 Bab. 47
48 Bab. 48
49 Bab. 49
50 Bab. 50
51 Bab. 51
52 Bab. 52
53 Bab. 53
54 Bab. 54
55 Bab. 55
56 Bab. 56
57 Bab. 57
58 Bab. 58
59 Bab. 59
60 Bab. 60
61 Bab. 61
62 Bab. 62
63 Bab. 63
64 Bab. 64
65 Bab. 65
66 Bab. 66
67 Bab. 67
68 Bab. 68
69 Bab. 69
70 Bab. 70
71 Bab. 71
72 Bab. 72
73 Bab. 73
74 Bab. 74
75 Bab. 75
76 Bab. 76
77 Bab. 77
78 Bab. 78
79 Bab. 79
80 Bab. 80
81 Bab. 81
82 Bab. 82
83 Bab. 83
84 Bab. 84
85 Bab. 85
86 Bab. 86
87 Bab. 87
88 Bab. 88
89 Bab. 89
90 Bab. 90
91 Bab. 91
92 Bab. 92
93 Bab. 93
94 Bab. 94
95 Bab. 95
96 Bab. 96
97 Bab. 97
98 Bab. 98
99 Bab. 99
100 Bab 100
101 Bab. 101
102 Bab. 102
103 Bab. 103
104 Bab. 104
105 Bab. 105
106 Bab. 106
107 Bab. 107
108 Bab. 108
109 Bab. 109
110 Bab. 110
111 Bab. 111
112 Bab. 112
113 Bab. 113
114 Bab. 114
115 Bab. 115
116 Bab. 116
117 Bab. 117
118 Bab. 118
119 Bab. 119
120 Bab. 120
121 Bab. 121
122 Bab. 122
123 Bab. 123
124 Bab. 124
125 Bab. 125
126 Bab. 126
127 Bab. 127
128 Bab. 128
129 Bab. 129
130 Bab. 130
131 Bab. 131
132 Bab. 132
133 Bab. 133
134 Bab. 134
135 Bab. 135
136 Bab. 136
137 Bab. 137
138 Bab. 138
139 Bab. 139
140 Bab. 140
141 Bab. 141
142 Bab. 142
143 Bab. 143
144 Bab. 144
145 Bab. 145
146 Bab. 146
147 Bab. 147
148 Bab. 148
149 Bab. 149
150 Bab. 150
151 Bab. 151
152 Bab. 152
153 Bab. 153
154 Bab. 154
155 Bab. 155
156 Bab. 156
157 Bab. 157
158 Bab. 158
159 Bab. 159
160 Bab. 160
161 Bab. 161
162 Bab. 162
163 Bab. 163
164 Bab. 164
165 Bab. 165
166 Bab. 166
167 Bab. 167
168 Bab. 168
169 Bab. 169
170 Bab. 170
171 Bab. 171
172 Bab. 172
173 Bab. 173
174 Bab. 174
175 Bab. 175
176 Bab. 176
177 Bab. 177
178 Bab. 178
179 Bab. 179
180 Bab. 180
181 Bab. 181
182 Bab. 182
183 Bab. 183
184 Bab. 184
185 Bab. 185
186 Bab. 186
187 Bab. 187
188 Bab. 188
189 Bab. 189
190 Bab. 190
191 Bab. 191
192 Bab. 192
193 Bab. 193
194 Bab. 194
195 Bab. 195
196 Bab. 196
197 Bab. 197
198 Bab. 198
199 Bab. 199
200 Bab. 200
201 Bab. 201
202 Bab. 202
203 Bab. 203
204 Bab. 204
205 Bab. 205
206 Bab. 206
207 Bab. 207
208 Bab. 208
209 Bab. 209
210 Bab. 210
211 Bab. 211
212 Bab. 212
213 Bab. 213
214 Bab. 214
215 Bab. 215
216 Bab. 216
217 Bab. 217
218 Bab. 218
219 Bab. 219
220 Bab. 220
221 Bab. 221
222 Bab. 222
223 Bab. 223
224 Bab. 224.
225 Bab. 225
226 Bab. 226
227 Bab. 227
228 Bab. 228
229 Bab. 229
230 Bab. 230
231 Bab. 231
232 Bab. 232
233 Bab. 233
234 Bab. 234
235 Bab. 235
236 Bab. 236
237 Bab. 237
238 Bab. 238
239 Bab. 239
240 Bab. 240
241 Bab. 241
242 Bab. 242
243 Bab. 243
244 Bab. 244
245 Bab. 245
246 Bab. 246
247 Bab. 247
248 Bab. 248
249 Bab. 249
250 Bab. 250
251 Bab. 251
252 Bab. 252
253 Bab. 253 (Part Ending)
254 Pesan Author
Episodes

Updated 254 Episodes

1
Bab. 1
2
Bab. 2
3
Bab. 3
4
Bab. 4
5
Bab. 5
6
Bab. 6
7
Bab 7
8
Bab. 8
9
Bab. 9
10
Bab. 10
11
Bab. 11
12
Bab. 12
13
Bab. 13
14
Bab. 14
15
Bab. 15
16
Bab. 16
17
Bab. 17
18
Bab. 18
19
Bab. 19
20
Bab. 20
21
Bab. 21
22
Bab. 22
23
Bab. 23
24
Bab. 24
25
Bab. 25
26
Bab. 26
27
Bab. 27
28
Bab. 28
29
Bab. 29
30
Bab. 30
31
Bab. 31
32
Bab. 32
33
Bab. 33
34
Bab. 34
35
Bab. 35
36
Bab. 36
37
Bab. 37
38
Bab. 38
39
Bab. 39
40
Bab. 40
41
Bab. 41
42
Bab. 42
43
Bab. 43
44
Bab. 44
45
Bab. 45
46
Bab. 46
47
Bab. 47
48
Bab. 48
49
Bab. 49
50
Bab. 50
51
Bab. 51
52
Bab. 52
53
Bab. 53
54
Bab. 54
55
Bab. 55
56
Bab. 56
57
Bab. 57
58
Bab. 58
59
Bab. 59
60
Bab. 60
61
Bab. 61
62
Bab. 62
63
Bab. 63
64
Bab. 64
65
Bab. 65
66
Bab. 66
67
Bab. 67
68
Bab. 68
69
Bab. 69
70
Bab. 70
71
Bab. 71
72
Bab. 72
73
Bab. 73
74
Bab. 74
75
Bab. 75
76
Bab. 76
77
Bab. 77
78
Bab. 78
79
Bab. 79
80
Bab. 80
81
Bab. 81
82
Bab. 82
83
Bab. 83
84
Bab. 84
85
Bab. 85
86
Bab. 86
87
Bab. 87
88
Bab. 88
89
Bab. 89
90
Bab. 90
91
Bab. 91
92
Bab. 92
93
Bab. 93
94
Bab. 94
95
Bab. 95
96
Bab. 96
97
Bab. 97
98
Bab. 98
99
Bab. 99
100
Bab 100
101
Bab. 101
102
Bab. 102
103
Bab. 103
104
Bab. 104
105
Bab. 105
106
Bab. 106
107
Bab. 107
108
Bab. 108
109
Bab. 109
110
Bab. 110
111
Bab. 111
112
Bab. 112
113
Bab. 113
114
Bab. 114
115
Bab. 115
116
Bab. 116
117
Bab. 117
118
Bab. 118
119
Bab. 119
120
Bab. 120
121
Bab. 121
122
Bab. 122
123
Bab. 123
124
Bab. 124
125
Bab. 125
126
Bab. 126
127
Bab. 127
128
Bab. 128
129
Bab. 129
130
Bab. 130
131
Bab. 131
132
Bab. 132
133
Bab. 133
134
Bab. 134
135
Bab. 135
136
Bab. 136
137
Bab. 137
138
Bab. 138
139
Bab. 139
140
Bab. 140
141
Bab. 141
142
Bab. 142
143
Bab. 143
144
Bab. 144
145
Bab. 145
146
Bab. 146
147
Bab. 147
148
Bab. 148
149
Bab. 149
150
Bab. 150
151
Bab. 151
152
Bab. 152
153
Bab. 153
154
Bab. 154
155
Bab. 155
156
Bab. 156
157
Bab. 157
158
Bab. 158
159
Bab. 159
160
Bab. 160
161
Bab. 161
162
Bab. 162
163
Bab. 163
164
Bab. 164
165
Bab. 165
166
Bab. 166
167
Bab. 167
168
Bab. 168
169
Bab. 169
170
Bab. 170
171
Bab. 171
172
Bab. 172
173
Bab. 173
174
Bab. 174
175
Bab. 175
176
Bab. 176
177
Bab. 177
178
Bab. 178
179
Bab. 179
180
Bab. 180
181
Bab. 181
182
Bab. 182
183
Bab. 183
184
Bab. 184
185
Bab. 185
186
Bab. 186
187
Bab. 187
188
Bab. 188
189
Bab. 189
190
Bab. 190
191
Bab. 191
192
Bab. 192
193
Bab. 193
194
Bab. 194
195
Bab. 195
196
Bab. 196
197
Bab. 197
198
Bab. 198
199
Bab. 199
200
Bab. 200
201
Bab. 201
202
Bab. 202
203
Bab. 203
204
Bab. 204
205
Bab. 205
206
Bab. 206
207
Bab. 207
208
Bab. 208
209
Bab. 209
210
Bab. 210
211
Bab. 211
212
Bab. 212
213
Bab. 213
214
Bab. 214
215
Bab. 215
216
Bab. 216
217
Bab. 217
218
Bab. 218
219
Bab. 219
220
Bab. 220
221
Bab. 221
222
Bab. 222
223
Bab. 223
224
Bab. 224.
225
Bab. 225
226
Bab. 226
227
Bab. 227
228
Bab. 228
229
Bab. 229
230
Bab. 230
231
Bab. 231
232
Bab. 232
233
Bab. 233
234
Bab. 234
235
Bab. 235
236
Bab. 236
237
Bab. 237
238
Bab. 238
239
Bab. 239
240
Bab. 240
241
Bab. 241
242
Bab. 242
243
Bab. 243
244
Bab. 244
245
Bab. 245
246
Bab. 246
247
Bab. 247
248
Bab. 248
249
Bab. 249
250
Bab. 250
251
Bab. 251
252
Bab. 252
253
Bab. 253 (Part Ending)
254
Pesan Author

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!