Setibanya di bandara, Foster sudah di sambut oleh pihak universitas Yale. Foster membawa banyak kemajuan bagi Universitas Yale. Bukan hanya dalam bidang pembangunan saja. Mahasiswa yang belajar di sana juga semakin hari semakin meningkat jumlahnya sejak mereka tahu kalau Foster keliah di sana.
Foster memang pria populer. Setiap wanita yang kenapa Foster pasti akan langsung tergila-gila. Bahkan berharap menjadi kekasihnya. Sayangnya Foster bukan tipe pria yang mudah didekati. Dia bukan seorang playboy. Sifat yang seperti itu yang membuat semua wanita jadi semakin tergila-gila kepadanya.
"Tuan, kamar anda sudah kami rapikan. Saya jamin, anda pasti akan betah tidur di dalamnya. Perabotnya sudah kamu ganti dengan yang baru. Bahkan kaki juga sudah mengosongkan kamar yang dekat dengan kamar anda. Di jamin anda akan tenang selama ada di dalam kamar," ucap dosen yang kini menyambut kedatangan Foster. Pria itu membukakan pintu mobil dan meminta Foster masuk ke dalam.
Foster menahan langkah kakinya. Dia memandang dosen tersebut sebelum mengangguk. "Terima kasih. Tapi saya ingin melihat ke asrama wanita," sahut Foster. Dia segera masuk dan duduk tenang di dalam.
Dosen itu terlihat kebingungan. Dia juga masuk ke dalam agar bisa bertanya lebih detail lagi. Sebenarnya apa yang ingin dilakukan oleh seorang Foster di asrama wanita. Bukankah selama ini pria itu sangat cuek dan tidak peduli dengan wanita manapun. Bahkan dosen itu tidak tahu kalau sebenarnya Foster tergila-gila kepada Daisy.
Mobil yang membawa Foster melaju dengan kecepatan sedang. Foster melihat keluar jendela sambil memikirkan nasip Daisy saat ini.
"Tuan, siapa yang ingin anda temui di asrama wanita?" tanya Dosen itu lagi.
"Hanya sebuah kamar," jawab Foster rada malas.
Dosen itu mengeryitkan dahinya. "Apa wanita yang ingin anda temui adalah Lyn?" Hanya itu satu-satunya wanita populer di universitas Yale. Dosen itu juga asal tebak saja.
"Tidak," sahut Foster. Dia memandang wajah Dosen itu dengan tatapan tidak suka. "Anda tidak perlu tahu urusan saya. Saya tidak suka ada yang ikut campur dalam urusan pribadi saya."
Dosen itu merasa takut. Dia tidak mau sampai Foster tersinggung. "Maafkan saya, Tuan. Maafkan saya."
Foster memandang keluar jendela lagi. Dia menghela napas panjang. "Semakin hari semakin banyak saja yang ingin tahu. Jika sampai banyak yang tahu kalau aku suka dengan Daisy, masalah akan semakin rumit. Daisy pasti akan menjadi tidak nyaman. Belum lagi beberapa wanita pasti akan memiliki niat untuk mencelakainya. Sebaiknya aku datang ke kamar Daisy pada malam hari saja di saat semua orang sudah ada di dalam kamar masing-masing," gumam Foster di dalam hati.
Malam kembali tiba. Semua orang di asrama wanita sudah berada di kamar masing-masing. Foster sudah tiba di kamar Daisy. Pria itu kaget bukan main melihat kamar Daisy yang acak-acakan dan dipenuhi darah kering di sana. Memang sudah ada garis polisi yang menandakan kalau tidak sembarang orang boleh masuk dan kasus ini sudah ditangani pihak yang berwajib. Namun, tetap saja rasanya Foster tidak puas. Dia ingin segera menemukan Daisy dimanapun wanita itu berada.
Foster terlihat sangat sedih. Sampai-sampai dia tidak tahu harus bicara apa. “Siapa yang tega melakukan semua ini?” ujar Foster di dalam hati. Setahu Foster, Daisy itu wanita yang sangat baik. Walau memang dia sempat pernah dengar kalau Lyn tidak menyukai Daisy, tapi dia tidak menyangka akan separah ini.
“Tuan, kasus ini masih di selidiki polisi,” ucap pria yang menjadi salah satu penjaga di universitas Yale.
Esme muncul di kamar itu. Dia tahu kalau Foster baru saja tiba. Ini adalah momen yang tepat untuk membuat Foster berpikiran kalau yang sudah melakukan semua ini adalah Lyn. Jangan sampai dirinya yang menjadi sasarannya. “Kak Foster, Kak Foster sudah kembali?” tanya Esme dengan wajah sedih. Bahkan jemarinya mengusap pipi seolah ada air mata yang menetes.
“Esme, apa yang terjadi? Kenapa bisa sampai seperti ini?”
“Aku juga tidak tahu kak. Semua terjadi begitu saja. Saat kami pulang dari hutan, kamar ini sudah berantakan. Lalu, aku masuk ke kamar untuk mandi. Setelah aku keluar karena ingin menemui Esme, sudah seperti ini. Dan ada seorang pria bertopeng yang berdiri di kamar Daisy. Tetapi Daisy tidak kelihatan,” jelas Esme dengan nada yang serius. Seolah dia saat ini ketakutan menceritakan semua yang terjadi.
“Seorang pria bertopeng?” Foster mengeryitkan dahinya. “Tunjukkan aku rekaman cctvnya!”
“Baik, Tuan.” Penjaga itu tidak pernah bisa menolak permintaan Foster. Ia segera pergi untuk mengambil rekaman cctv yang diminta oleh Foster. Foster sendiri memandang Esme dan merasa kasihan dengan wanita itu.
“Apa ini ada hubungannya dengan Lyn?” tanyay Foster kepada Esme.
Esme terlihat tenang. Bahkan ada senyum di dalam hatinya. “Sejak Daisy hilang, Lyn terlihat sangat bahagia. Saya yakin dia terlibat dalam hilangnya Daisy, Kak.”
Foster tidak langsung menuduh. Pria itu juga tidak suka menuduh orang lain tanpa bukti. Dia selalu bekerja dengan tenang hingga menghasilkan keberhasilan di akhir cerita. “Dimana Nyonya Gulnora?”
“Nyonya Gulnora telah tewas. Kamarnya kebakaran malam dimana Daisy hilang. Mayatnya tidak teridentifikasi lagi, Kak,” jawab Esme apa adanya.
Foster mengambil ponselnya dari dalam saku. “Esme, bisakah kau pergi dari sini? Aku ingin bicara dengan seseorang.”
Esme mengangguk pelan. “Tolong temukan Daisy, kak. Aku sangat mengkhawatirkannya. Hanya dia sahabat yang aku miliki saat ini. Aku harap kakak segera menemukannya,” lirih Esme dengan ekspresi yang menyakinkan.
“Aku pasti akan mencari Daisy,” jawab Foster.
Esme segera pergi meninggalkan kamar itu dan masuk ke dalam kamarnya. Setidaknya untuk saat ini dia sudah berhasil lolos. Foster menekan nomor seseorang yang tadinya tidak bisa dihubungi. Alisnya saling bertaut, ketika nomor itu tidak bisa dihubungi lagi. “Dimana dia? Kenapa dia tidak ada saat aku butuh bantuan.”
Foster memandang ke laci Daisy. Biasanya Daisy menyimpan segala barang pribadinya di sana. Ini pertama kalinya bagi Foster masuk ke dalam kamar Daisy. Entah kenapa dia sangat ingin melihat isi di dalam laci meja belajar itu. Foster memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku sebelum menarik laci. Ia menemukan buku diary bersampul emas di dalamnya. Ketika ingin mengambil buku tersebut, tiba-tiba seseorang memukul Foster dari belakang. Foster langsung pingsan detik itu juga. Pria itu tergeletak di lantai dengan posisi tidak sadarkan diri.
Zion berdiri dan segera meminta bawahannya untuk membawa Foster pergi. Pria itu melirik buku diary Daisy sebelum mengambilnya dan memasukkannya ke dalam jaket.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 254 Episodes
Comments
wiens
ayooohh cucu opa Zen dan Oma na, semangat 🤗🤗
2023-03-21
0
🌼 Pisces Boy's 🦋
ayo Zion kerja sama dengan Foster untuk menemukan Daisy
2022-12-28
0
Maia Mayong
zion blm bs ngikuti jejak jordan n leona , ap lg jejak zeroun zein. sngat jauh. .
2022-11-14
2