Zion berdiri membelakangi Zeroun dan Serena. Pria itu masih memikirkan cara agar bisa menemukan Daisy. Sangat sedikit petunjuk yang ia dapat hingga ia tidak tahu harus bagaimana. Satu-satunya orang yang ia tuduh masih Foster. Belum ada tersangka lain karena memang semua bukti menuju ke Foster.
Walau Zion tahu Opa Zen bisa membantunya untuk menemukan Daisy, tapi tetap saja dia tidak mau meminta bantuan pria tua tersebut. Zion ingin menemukan Daisy tanpa bantuan siapapun. Terutama orang-orang hebat yang sudah berpengalaman seperti Opa, GrandNa dan kedua orang tuanya.
"Zion, sebenarnya aku ingin menceritakan sebuah kisah. Aku tahu ini bukan waktu yang tepat. Tapi, ambil nilai positifnya," ucap Opa Zen.
Zion memutar tubuhnya agar bisa menatap Opa Zen secara langsung. Pria itu memandang Serena sejenak sebelum menghela napas panjang.
"Apa yang ingin Opa ceritakan? Aku pasti akan mendengarkannya," sahut Zion. Pria itu sama sekali tidak keberatan mendengar cerita Opa nya yang mungkin akan membosankan.
"Dulu saat Opa masih muda, Opa juga kehilangan adik Opa. Dia Oma Zetta." Zeroun memandang ke arah lain. "Sebagai seorang kakak memang selalu merasa gagal jika sampai adik kita hilang atau celaka. Apapun akan kita lakukan demi adik kita. Bahkan nyawa sekalipun akan dikorbankan. Melihat semangat yang sekarang kau miliki untuk mencari Daisy, Opa jadi ingat sama diri Opa dulu. Opa tidak menyalahkanmu. Tapi, pikirkan juga perasaan kedua orang tuamu, Zion. Mereka akan khawatir jika kau bertindak sendirian. Ini bukan solusi yang tepat. Tadi papa dan mamamu marah karena mereka sayang padamu. Opa harap, kau tidak membenci mereka."
"Opa salah. Papa marah karena dia kecewa padaku. Dia marah karena Aku gagal menjaga Daisy," ketus Zion. Dia terlihat sakit hati atas perkataan yang tadi sempat diletuskan Jordan terhadap dirinya.
Memang tadi antara Zion dan Jordan sempat ada perdebatan. Ayah dan anak itu sama-sama keras kepala. Mereka berpegang pendirian mereka masing-masing tanpa mau mengalah. Leona mengajak Jordan pergi karena tidak mau keadaan semakin rumit.
Serena yang melihat Zion dan Zeroun di atas kursi roda hanya bisa tersenyum. Keras kepala Zion sangat mirip dengan Leona saat masih muda dulu. Apapun yang sudah dia putuskan harus terjadi seperti itu.
"Sepertinya Leona menurunkan sifat keras kepalanya ke Zion dan Norah. Beruntung sekali Daisy mewarisi ilmu Oma Emelienya. Dia terlihat anggun dan cerdas. Entah apa yang akan terjadi jika keturunan Leona dan Jordan ketiga-tiganya keras kepala seperti ibunya," gumam Serena di dalam hati.
Mengingat nama Emelie membuat Serena kembali ingat dengan Daniel. Entah apa yang sudah dituliskan takdir, hingga di masa tua seperti ini. Dia dan juga Zeroun ditinggal oleh pasangan mereka masing-masing. Emelie pergi setelah satu tahun kepergian Daniel. Zeroun yang tadinya menguatkan Serena agar tidak bersedih pada akhirnya juga terpuruk karena kehilangan istri yang sangat dicintainya.
Zeroun memandang Serena yang kini terlihat sedih. Pria itu memijat dahinya yang sudah keriput. Sebenarnya memang bukan tugasnya lagi ikut campur dalam masalah cucunya seperti ini. Bahkan Zeroun angkat jempol melihat keberanian Zion Zein untuk mengambil keputusan seperti ini. Hanya saja dia tidak mau Jordan dan Zion bertengkar seperti tadi. Hal ini yang membuatnya terpaksa turun tangan.
"Baiklah. Terserah kau saja. Apapun yang sudah kau rencanakan, Opa hanya bisa berdoa agar cucu-cucu Opa baik-baik saja. Tapi, apa boleh Opa memberi sebuah petunjuk untuk mempermudah pencarian Daisy?" tawar Zeroun dengan begitu serius.
"Tidak, Opa. Tidak! Aku tahu Opa sudah tahu sesuatu. Bahkan mungkin saat ini Opa sudah tahu dimana Daisy berada dan bagaimana keadaannya. Bukankah begitu Opa?"
"Tidak. Opa tidak tahu. Akhir-akhir ini Opa lebih sering menghabiskan waktu di rumah. GrandNa yang tahu semuanya." Zeroun memandang Serena. "Zion, kau harus tahu satu hal. Grandna mu tidak akan duduk diam di sini jika Daisy dalam bahaya."
Serena mengukir senyuman. Ia memandang ke arah Zion. "Zion, lakukan apa yang sudah kau persiapkan. Ajak Livy dan juga Norah. GrandNa yakin kau bisa menemukan Daisy," ucap Serena. Ia hanya ingin memberi cucunya semangat.
"Terima kasih GrandNa. Sejak dulu Grandna dan Opa Zen yang selalu mengerti aku."
Livy berdiri beberapa meter dari lokasi tempat Zion berada. Wanita itu terlihat bahagia mendengar perbincangan tiga orang yang ada di pinggir sungai tersebut.
Tanpa sengaja Zion memandang ke arah Livy. "Livy, kemarilah!" teriaknya.
Livy mengeryitkan dahi. Wanita itu melangkah mendekati Zion. Ia melirik Serena sekilas sebelum memandang Zeroun dan menunduk hormat.
"Selamat malam, Opa. Apa kabar? Livy dengar kesehatan Opa akhir-akhir ini mengalami penurunan," tanya Livy dengan nada yang lembut.
"Itu hal yang wajar, Livy. Opa sudah tua. Sudah sewajarnya Opa seperti ini. Apa tadi kau sudah bertemu dengan Opa Lukas dan Daddy mu? Apa yang mereka katakan?"
"Mereka hanya ingin aku membawa The Filast saat mencari keberadaan Daisy," jawab Livy apa adanya.
"Ya, saran yang bagus. Mereka hanya ingin kau bertanggung jawab dengan geng yang sudah kau bentuk. Walau kau seorang wanita, kau tetap harus kuat Livy," ujar Zeroun dengan penuh semangat.
"Terima kasih, Opa." Livy memandang ke arah Serena. "Grandna, ini sudah malam. Angin di sini sangat dingin. Sebaiknya GrandNa tidak berlama-lama di sini. Tidak bagus untuk kesehatan GrandNa."
"Terima kasih Livy sayang. Grandna memang sudah mau pergi. Paman Aleo sudah menunggu GrandNa di hotel yang ada di dekat sini. Besok pagi GrandNa akan berangkat ke Cambridge. Grandna akan ada di sana sampai Daisy pulang," jawab Serena Dengan senyuman. Entah kenapa dia sangat percaya sama Zion dan percaya kalau Zion pasti bisa membawa Daisy pulang sebelum pesta tiba.
"Grandna tenang saja. Livy akan membantu Kak Zion menemukan Daisy. Daisy juga adik Livy."
"Terima kasih sayang." Serena mengeluarkan sebuah pistol dan menyodorkannya kepada Zion. "Senjata ini selalu membawa keberuntungan bagi hidup GrandNa dulu. Sekarang Grandna ingin kau yang menjadi pemilik senjata ini. Walau terbilang barang lama, tali dia cukup bisa diandalkan."
Zion menerima senjata api tersebut dan memperhatikannya dengan saksama. Alisnya saling bertaut melihat sebuah tulisan kecil berwarna silver di sana.
"Queen Star?"
Serena dan Zeroun saling memandang sebelum memandang ke arah Zion lagi. Memang selama ini Queen Star seperti hilang di telan bumi. Padahal yang sebenarnya terjadi Queen Star masih tetap ada. Namun, Letty dan keturunan Letty yang memilikinya. Serena tidak mau tahu lagi. Dia merasa tidak berhak lagi di sana walau sebenarnya dialah generasi kedua Queen Star kala itu.
"Itu hanya merk dagang," sahut Zeroun. Sekarang bukan waktu yang tepat untuk menceritakan Queen Star kepada Zion. Saat ini mereka hanya perlu fokus terhadap pencarian Daisy.
"Merk dagang? Wah, nama yang bagus," puji Livy.
"Terima kasih, GrandNa. Zion akan menjaga senjata ini seperti GrandNa menjaga Zion selama ini."
Serena hanya mengangguk pelan mendengar janji Zion. "Waktu terus berlalu. Waktu itu aku yang berdiri sambil memegang senjata itu. Sekarang, cucuku yang berdiri dan akan menggunakannya," gumam Serena di dalam hati.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 254 Episodes
Comments
wiens
bakalan seru nih......
2023-03-21
0
🌼 Pisces Boy's 🦋
Queen Start apa.mungkin Foster anak Letty🤔
2022-12-28
1
Santi Rahma
wah wah wah ada quin star
2022-12-18
1