Nyonya Gulnora di buat kaget ketika segerombolan orang tak dikenali masuk ke dalam ruang pribadinya. Ia melangkah mundur hendak mengambil telepon yang ada di atas meja. Namun, gerakannya terlambat karena Norah sudah lebih dulu melempar belatih dan menancap di meja. Nyonya Gulnora hanya bisa berdiri sambil memandang belatih yang tertancap dengan tubuh gemetar. Ia tidak lagi sanggup berlari atau menyelamatkan diri. Kedua kakinya terasa kaku melihat orang-orang bertopeng yang kini memenuhi ruangannya.
“Kami tidak akan menyakiti anda, Nyonya.” Norah maju ke depan. Ia memandang sekeliling ruangan tersebut sebelum tersenyum tipis. “Saya dengar-dengar anda kenal dengan pria bernama Fores. Boleh ceritakan kepada saya sedikit tentang pria itu?” Nada bicara Norah sungguh lembut. Namun, selembut apapun nada bicara wanita itu. Lawan bicaranya tidak akan menganggapnya sebagai wanita baik.
"Kenapa anda takut? Apa anda takut sama benda ini?" tunjuk Norah pada belatih miliknya. "Baiklah. Akan saya simpan saja."
Norah mencabut belatihnya dan duduk di sofa. Wanita itu meletakkan kedua kakinya di atas meja sambil menatap wajah Nyonya Gulnora. “Anda bisa duduk, Nyonya. Sepertinya akan lebih nyaman jika kita mengobrol sambil duduk.” Norah menunjuk sofa yang ada di depannya.
Tetapi, mana bisa Nyonya Gulnora duduk di sana. Sekarang saja dia ingin segera kabur dan menyelamatkan diri. Wanita itu juga tidak mau membahas masalah Fores. Ia tidak mau terlibat di dalam masalah yang telah terjadi.
“Saya tidak kenal dengan Fores. Saya hanya pernah dengar namanya saja,” sahut Nyonya Gulnora. Berharap wanita di hadapannya percaya.
“Ckckckck,” decak Norah. “Sudah tua tapi tukang bohong,” ledek Norah.
“Dia bukan mahasiswa saya. Saya sama sekali tidak mengenalnya. Jika anda ingin mengetahui informasi lengkap tentang Fores, anda bisa temui rektor langsung. Dia yang lebih tahu masalah mahasiswa yang ada di universitas Yale!” ucap Nyonya Gulnora dengan nada tinggi. Zion yang sejak tadi memperhatikan Nyonya Gulnora, mulai mengerti kalau wanita itu bukan hanya ketakutan melihat Norah. Tapi, seperti sedang menyembunyikan sesuatu.
Norah diam sejenak seperti sedang memikirkan apa yang baru saja dia dengar. Berbeda dengan Zion yang kini mulai mengambil tindakan. Ia mendekati Nyonya Gulnora sambil memegang senjata api.
“Apa yang ingin anda lakukan?” ucap Nyonya Gulnora. Ia terus saja melangkah mundur agar tidak tersentuh oleh Zion. Hingga akhirnya tubuhnya bersandar di dinding. Nyonya Gulnora tidak memiliki ruang untuk kabur. Dia telah terjebak di sudut rumahnya sendiri.
Norah berdiri sambil melihat apa yang ingin dilakukan kakaknya. Wanita itu tidak setuju jika Zion sampai membunuh wanita tua tidak bersalah seperti Nyonya Gulnora. Tidak ada bukti-bukti yang menunjukkan kalau Nyonya Gulnora bersalah. Tidak sepantasnya mereka memperlakukan Nyonya Gulnora seperti ini. Melihat Nyonya Gulnora, rasanya Norah sama seperti melihat ibu kandungnya sendiri. Apa lagi kalau dilihat sepintas, usia Nyonya Gulnora sepertinya sama dengan usia Leona.
“Kak,” ucap Norah. Sebenarnya itu sudah sebuah kode agar Zion berhenti. Menghilangkan segala niat jahat untuk mencelakai Nyonya Gulnora.
“Siapa Foster? Apa hubungannya dengan Daisy?” tanya Zion dengan nada menekan. Ini sungguh mengerikan bagi Nyonya Gulnora. Seolah-olah dia sedang di suruh memilih antara hidup atau mati.
“Ternyata mereka bagian dari keluarga Daisy, lalu apa yang sekarang harus aku lakukan?” gumam Nyonya Gulnora di dalam hati.
“SIAPA!”
“Saya tidak tahu.” Nyonya Gulnora berlutut di kaki Zion. Wanita itu mengatupkan kedua tangannya dan menangis. Ia menggeleng pelan sambil menunjukkan sebuah kalung yang kini dia kenakan.
Zion mengeryitkan dahi melihat kalung tersebut. Dia tahu kalau kalung itu berisi camera. Seseorang sedang mengamati mereka. Zion tidak mau bertindak gegabah. Kini dia tahu alasan Nyonya Gulnora tidak mau bicara bukan karena wanita itu ingin melindungi Fores. Tetapi, wanita itu juga dalam keadaan di ancam oleh seseorang.
“Kau pantas mati wanita tua!” teriak Zion.
“KAKAK!” teriak Norah kaget.
DUARR DUARRR
Suara tembakan itu sungguh memekakan telinga. Nyonya Gulnora hanya bisa memejamkan mata sambil menunduk pasrah. Jika harus di tembak dan mati hari ini, dia pasrah. Usianya sudah tua. Cepat atau lambat dia memang akan mati.
Namun, satu hal tidak terduga terjadi. Kalung itu terlepas dan entah di bawah ke mana. Zion mendorong Nyonya Gulnora ke arah Norah. Norah segera menarik tangan Nyonya Gulnora agar pergi dari sana. Sedangkan Zion seperti sedang bercakap-cakap dengan pasukan Gold Dragon.
Nyonya Gulnora dibuat tidak sadarkan diri dengan cara di pukul saraf bagian belakangnya. Melihat Nyonya Gulnora sudah tidak sadarkan diri, Zion memandang pasukannya lagi. Hanya Nyonya Gulnora yang bisa membantunya untuk menemukan Daisy. Dengan begitu, wanita tua itu harus ia jaga dengan sebaik mungkin saat ini.
“Bakar wanita tua ini! Dia sama sekali tidak berguna! Pastikan dia mati dan menjadi abu di dalam ruangannya sendiri. Buat kebakakaran ini seolah-olah sebuah kecelakaan!” teriak Zion.
Pasukan Gold Dragon langsung paham. Karena dari kalimat yang diucapkan Zion, itu memiliki arti yang jelas. Zion meminta mereka membakar seseorang di dalam ruangan ini. Pastikan ruangan ini menyisakan satu mayat agar semua orang berpikir kalau Nyonya Gulnora telah tewas terbakar.
“Baik, Bos,” jawab pasukan Gold Dragon sebelum mereka melakukan tugas masing-masing.
“Satu lagi! Cari informasi tentang keluarganya. Aku ingin membunuh mereka satu persatu. Jika sudah berani menolong musuh, maka dia juga termasuk musuh kita!” sambung Zion dengan nada yang menyakinkan.
“Baik, Bos!”
Pasukan Gold Dragon segera melakukan misi yang diperintahkan Zion. Zion memandang kalung yang sudah terlepas dan tersenyum kecil. “Apa dia pikir dia lebih pintar dari aku? Tunggu tanggal mainnya. Secepatnya kita akan bertemu dan kau akan merasakan bagaimana rasanya menyesal karena sudah berani mengusik keluargaku!” ancam Zion di dalam hati.
Norah menunggu Zion di depan pintu. Nyonya Gulnora sudah di amankan oleh pasukan Gold Dragon. Wanita itu tersenyum melihat kakaknya yang begitu cerdik. “Aku tidak sadar kalau-”
Zion segera membungkam mulut Norah. “Ayo kita pergi. Bisa saja dia mendengar pembicaraan kita sekarang!” ucap Zion sebelum menarik tangan Norah pergi dari sana. Norah hanya diam tanpa berani berkata lagi karena takut melakukan kesalahan.
“Trik yang dilakukan Kak Zion sangat rapi. Bagaimana caranya agar aku bisa seperti Kak Zion. Jika aku sendirian yang menangani kasus ini sejak awal, mungkin aku sudah kalah,” gumam Norah di dalam hati.
Di sisi lain, seorang wanita mengepal kuat tangannya mendengar perbincangan yang ia dengar di ruangan Nyonya Gulnora. Posisi wanita itu sebenarnya tidak terlalu jauh dari posisi Zion dan pasukannya berada walau dia berada di gedung yang berbeda. Kini Nyonya Gulnora sudah tiada Ya, seperti itu yang ia pikirkan. Namun, dia lagi-lagi hanya bisa mendengar suaranya saja. Tidak berhasil melihat wajah asli seorang pemimpin geng Gold Dragon. Tadinya dia pikir dengan memakaikan kalung berisi camera di leher Nyonya Gulnora, dia akan bisa melihat jelas wajah pemimpin Gold Dragon.
“ARRGGH! SIAL!”
Wanita itu melempar laptop yang ada di depannya. Baginya camera itu sudah tidak berguna lagi. Ia mengambil ponselnya dan menekan nomor seseorang. Wajahnya terlihat emosi karena harus gagal secepat ini.
“Bebaskan semuanya. Wanita tua itu sudah tidak berguna lagi!” perintahnya kepada seseorang. Wanita itu beranjak dari kursi dan berjalan ke jendela. Ia melihat api mengepul di gedung yang ada di depannya. “Aku masih memiliki cara lain. Tidak semudah ini mengalahkanku, Zion Zein!”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 254 Episodes
Comments
🌼 Pisces Boy's 🦋
siapa tuh wanita apa Zion pernah bersinggungan dengannya🤔
2022-12-28
0
indah_kajoL
ow ow siapaaa diaaaa?
2022-10-13
2
Waode Daniati
zerouan apa kabar? walaupun cucu sdh PD besar smga zeroun masih sehat dan kuat
2022-10-09
1