"Bukan hanya Opa Zen saja. GrandNa juga di sini. Bahkan Mama dan papa juga," ucap Norah dengan nada lemah. "Mereka sudah tahu kalau Daisy hilang. Mereka marah karena Kak Zion tidak memberi tahu mereka sejak awal. Sekarang aku tidak tahu apa yang terjadi di sana. Kak Zion memintaku untuk tetap di sini menjaga pria tidak berguna itu. Sebenarnya aku sangat ingin ke sana. Aku ingin membantu Kak Zion agar tidak disalahkan oleh semua orang. Tujuan Kak Zion baik. Dia hanya tidak mau dipandang sebagai kakak yang gagal. Tapi sepertinya mama dan papa salah paham. Hanya GrandNa dan Opa Zen yang ada di pihak Kak Zion."
Mendengar cerita Norah membuat Livy juga merasa sedih. Namun, dia juga tidak bisa berbuat apa-apa. Ada Zeroun dan Serena. Leona dan Jordan.
"Sekarang apa yang harus aku lakukan? Kenapa tadi Daddy sama Opa Lukas tidak bilang kalau Opa Zen sudah ada di sini. Apa mereka juga tidak tahu?" gumam Livy di dalam hati.
Livy tidak bisa berkutik lagi. Bagaimanapun juga, Livy tidak mau ikut campur terlalu jauh. Dia harus menjaga batasan agar Oliver dan Lukas tidak kecewa padanya. Terutama Oma Lana. Sejak dulu wanita itu selalu saja mengingatkan Livy agar tidak membanggakan status Katterine sebagai seorang putri di kerajaan Cambridge. Lana selalu meminta Livy untuk hidup apa adanya. Tidak tergantung dan tidak suka mengusik orang lain.
"Kak Livy, kenapa kakak bisa ke sini? Apa Kak Zion yang memanggil kakak ke sini?" tanya Norah penuh selidik. Wanita itu melupakan masalah tentang kakaknya dan kini menatap Livy dengan tatapan menyelidik. "Atau jangan-jangan kakak yang sudah memberi tahu semua orang kalau Daisy hilang! Kakak datang ke sini untuk melihat apa yang terjadi setelahnya!"
Tuduhan Norah berhasil menyulut api emosi di dalam dada Livy. Wanita itu mengepal kuat tangannya berusaha menekan emosi yang ingin meledak di ubun-ubun. Bukan saatnya untuk bertengkar walau memang perkataan Norah sangat menyinggungnya. Kalau saja di depannya ini bukan Norah, mungkin sudah habis di hajar oleh Livy.
"Norah, lain kali sebelum bicara pikirkan terlebih dahulu. Kira-kira lawan bicaramu bisa menerima kalimat yang kau ucapkan atau tidak. Karena terkadang, apa yang kita pikir baik belum tentu baik di pikiran orang lain. Apa lagi yang buruk? Sudah pasti tidak akan bisa diterima dimanapun. Kau masih sangat muda, sebaiknya jaga perkataanmu agar kau bisa menjadi wanita yang terhormat. Walau sekarang kau tidak berada di lingkungan istana lagi, tetapi kau ini keturunan kerajaan. Apa jangan-jangan selama ini kau tidak pernah belajar tata krama?"
"Livy!"
Livy melebarkan kedua matanya ketika mendengar teriakan dari seorang yang tidak asing baginya. Ia memandang ke samping untuk memeriksa. Norah menghapus air mata yang menetes sebelum berlari pergi. Livy memandang ke arah Norah sebelum ke samping lagi. Wanita itu pada akhirnya menunduk karena merasa takut dan bersalah.
"Tante Leona? Maafkan saya," ucap Livy dengan nada ketakutan. Walau ibu kandungnya adalah adik ipar Leona. Tetap saja Livy merasa takut jika sampai perkataannya menyinggung perasaan Leona.
Leona memandang ke arah Norah sebelum memandang ke arah Livy lagi. Sebenarnya dia tidak menyalahkan Livy sepenuhnya. Memang sejak awal Norah yang lebih dulu memancing keributan. Bahkan banyak sedikitnya apa yang dikatakan Livy ada benarnya. Sejak dulu memang Norah tidak pernah mau menurut dan mempelajari segala hal yang berhubungan dengan tata krama sebagai seorang wanita. Norah berpenampilan lebih tomboy karena terbiasa berada di dekat Zion. Bahkan tidak pernah peduli dengan kodratnya sebagai seorang wanita.
"Livy, jangan memperkeruh keadaan. Kau pasti sudah tahu bagaimana sikap Norah selama ini. Sejak kecil kalian memang selalu saja bertengkar. Tetapi tidak pernah lama, setelah beberapa saat kalian akan berteman lagi. Tetapi, sekarang situasinya berbeda. Kalian sudah sama-sama besar. Tidak anak-anak seperti dulu lagi. Sebaiknya kalian mulai bersikap dewasa dan belajar untuk mengerti satu sama lain. Sikap yang seperti ini, bisa membuat musuh berada di tengah-tengah kalian untuk memecah bela kalian," ucap Leona dengan tangan terlipat di depan dada. "Tante tahu Norah salah. Tapi, sebagai kakak kau seharusnya bisa membimbing adikmu menjadi lebih baik lagi. Jangan bersikap sama seperti dia."
"Maafkan Livy Tante," ucap Livy masih dengan kepala menunduk.
Jordan juga sudah muncul di sana. Pria itu memandang Livy sejenak sebelum memandang Leona. "Dimana Norah?" Pria itu ingin bertemu dengan Norah. Dia sudah merasa bersalah karena tidak bisa menjaga Daisy dengan baik. Kali ini dia ingin memastikan sendiri kalau Norah baik-baik saja.
"Norah tadi pergi. Dia berselisih paham dengan Livy," sahut Leona apa adanya.
Jordan memandang Livy. Dia tahu kalau kini Livy merasa bersalah sampai gak berani memandang wajahnya. "Livy, semua akan baik saja. Kau tidak perlu bersikap seperti itu. Saat ini, paman dan Tante harus pulang. Apa kau bisa membantu Zion menemukan Daisy? Jika Gold Dragon dan The Filast bersatu, pasti Daisy akan cepat ditemukan."
"The Filast pasti akan membantu Kak Zion mencari Daisy, Paman," jawab Livy. "Paman, jangan salahkan Kak Zion. Dia hanya ingin menjadi kakak yang berguna untuk Daisy. Sebelum disalahkan, dia sudah lebih dulu menyalahkan dirinya sendiri."
Jordan tersenyum mendengar perkataan Livy. "Tidak ada yang menyalahkan Zion. Kami marah karena dia ingin pergi ke rumah sendirian. Tanpa melibatkan Gold Dragon, Norah dan juga kau. Dia menyusun sebuah rencana sendirian. Sayangnya, rencana dia ketahuan GrandNa. Dia tidak bisa berkutik lagi sekarang."
Livy mengeryitkan dahinya. "Kak Zion! Dia memang sulit di tebak. Di depan dia bersikap seperti butuh bantuan. Di belakang ternyata dia sudah memikirkan cara untuk bertindak sendirian," umpat Livy di dalam hati.
"Livy, apa yang kita pikirkan nak?" tanya Leona ketika Livy hanya diam sambil memikirkan Zion.
"Gak, Tante. Gak ada. Sekarang dimana Kak Zion? Apa dia masih bersama Opa Zen dan GrandNa?"
"Ya, mereka di dekat sungai. Di sana suasananya sangat tenang. Kau boleh ke sana. Opa Zen juga merindukanmu," ujar Leona dengan senyuman.
"Nanti Livy ke sana Tante."
"Kok nanti. Sekarang saja. Kau akan sendirian di sini. Kami ingin mencari Norah sebelum pulang."
"Baiklah. Livy ke sana dulu ya Tante," pamit Livy dengan suara pelan.
Livy tersenyum kecil. Dia lebih dekat dengan Opa Lukas daripada Opa Zen. Rasanya Livy kalau ada di dekat Opa Zen, bawaannya canggung. Berbeda ketika dia ada di dekat Lukas.
"Apa yang harus aku ucapkan nanti? Apa aku tanya kabar Opa Zen gitu?" gumam Livy sambil berjalan menuju sungai.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 254 Episodes
Comments
Ayunaa
kemana emailly dan Daniel?
2023-01-08
0
🌼 Pisces Boy's 🦋
opa Zen baik kenapa Livy canggung
2022-12-28
0
Maia Mayong
daniel ud mninggal emilly jg sudh mninggal kah .
knp zeroun ma serena ikt turun jg
2022-11-14
1