Yale University
Daisy dan rombongan telah tiba di asrama. Para mahasiswa dan mahasiswi yang baru melakukan praktek lapangan itu segera turun dan menuju ke kamar masing-masing. Sebelum turun, Daisy memeriksa kembali hasil kerjanya hari ini. Dia terlihat serius dalam belajar. Daisy memiliki mimpi kalau dia harus menjadi orang yang di kenal dunia karena prestasi. Bukan kekuasaan. Daisy memasukkan semua laporan ke dalam tas lagi ketika dia rasa laporan yang ia tulis sudah lengkap.
“Daisy, siapa mereka?” Seorang wanita yang duduk di samping Daisy memandang Daisy dengan serius.
Wanita itu bernama Esme. Dia satu-satunya orang yang dekat dengan Daisy. Semua orang terlihat tidak menyukai Daisy dan memusuhi wanita itu karena Daisy di anggap tidak pantas kuliah di universitas elit tersebut. Memang jika di lihat dari penampilan Daisy yang sederhana, tidak akan ada yang menyangka kalau Daisy seorang putri dari kerajaan Cambridge.
Penampilan Daisy sangat sederhana. Dia selalu menggunakan barang-barang yang tidak bermerk. Berbeda dengan teman sekelasnya yang selalu menggunakan barang-barang branded dan memakai fasilitas mewah selama kuliah.
“Siapa?” tanya Daisy bingung. Bahkan karena sangat bingungnya, dia memandang keluar bis. Mencari sosok yang dimaksud temannya itu. Tetapi, Daisy tidak menemukan siapapun di dalam sana.
“Pria-pria yang mengejarmu tadi. Aku melihatnya. Tetapi ….” Wanita itu menunduk dengan rasa bersalah. “Aku tidak berani memberi tahu dosen karena Lyn dan yang lainnya mencegahku.”
Daisy mengangguk dengan senyum tertahan. Kali ini dia tahu siapa yang sudah membuatnya lelah berlari seperti tadi. Memang Lyn bisa di bilang sebagai wanita popular di kampus itu. Dialah ratunya. Semua orang memujanya karena dia anak konglomerat dan berparas cantik. Walau begitu, Daisy tidak pernah peduli. Selama dia tidak di usik, maka Daisy tidak akan pernah mengusik orang lain.
Biasanya juga kalau Lyn membuat masalah dengan Daisy, Daisy tidak langsung marah. Ia lebih sering bersikap masa bodoh. Namun, kali ini jebakan Lyn menyangkut harga dirinya. Andai saja tadi dia tidak di tolong oleh Zion, mungkin harga dirinya telah hilang sudah.
“Wanita itu. Tapi, aku tidak boleh bertindak gegabah. Aku juga tidak memiliki bukti kalau memang benar Lyn yang melakukan semua ini,” gumam Daisy di dalam hati.
“Maafkan aku,” ujar Esme lagi. Dia memegang tangan Daisy dengan kedua mata berkaca-kaca.
“Tidak apa-apa. Sekarang aku baik-baik saja. Kau tidak perlu bersedih seperti ini. Ayo kita turun,” ajak Daisy. Ia merangkul lengan Esme dan membawanya turun bersama-sama. Wanita itu berdiri di depan bis sambil memandang segerombol wanita yang kini memandangnya dengan tatapan menghina. “Awas saja kalian. Aku akan membalas kalian nanti,” umpat Daisy di dalam hati. Dengan bibir tersenyum, wanita itu melangkah menuju ke gedung asrama tempatnya tinggal selama dua tahun terakhir ini.
Setibanya di dalam kamar, Daisy meletakkan semua barang-barang miliknya di meja. Wanita itu di buat syok ketika melihat kamar yang berantakan dan begitu kotor. Bagaimana bisa? Padahal sebelum pergi, Daisy sudah merapikan kamar itu dan menjamin kebersihannya.
“Ini semua pasti ulah Lyn. Dia iri melihat nilai ujianmu mendekati sempurna,” ujar Esme.
Daisy tersenyum sambil menghela napas panjang. “Aku akan bersihkan semuanya. Esme, pergilah istirahat. Aku bisa mengatasinya. Aku tidak mau kau ikut terlibat,” pinta Daisy. Esme hanya mengangguk saja sebelum masuk ke dalam kamarnya. Posisi kamar mereka bersebelahan. Khusus asrama yang di tempati Daisy memang kamar yang satu kamar satu mahasiswa.
Daisy menutup pintu kamarnya dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Aku benar-benar lelah. Tapi, aku kangen sama Kak Zion. Aku telepon dulu Kak Zion baru bersihin kamar.”
Daisy menekan nomor kakak pertamanya sebelum menarik seprei yang dipenuhi sampah. Wanita itu menggantinya dengan seprei yang baru sebelum berbaring. Panggilan telepon sudah tersambung, tetapi Daisy belum juga mau bicara.
“Kau baik-baik saja Daisy? Sekali lagi aku tanya dan kau tidak juga menjawab, aku akan berdiri di hadapanmu dalam waktu lima menit!” ancam Zion.
“Aku baik-baik saja. Aku merindukan kakak,” sahut Daisy. Wanita itu tersenyum ketika membayangkan wajah kesal kakak kandungnya di kejauhan sana.
“Kenapa kamarmu terlihat berantakan? Kau mulai bosan. Eh?” ledek Zion.
“Aku pergi terburu-buru, kak,” jawab Daisy asal saja. Dia tahu, apa resikonya jika sampai menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Bukan hanya Lyn saja yang celaka. Tetapi, kedua orang tua Lyn juga bisa ikut terseret. Zion pria yang tidak pandang bulu. Entah itu muda atau tua, jika berani menyakiti adiknya maka dia akan membalasnya hingga berkali-kali lipat.
Zion berusaha mempercayai jawaban Daisy walaupun sebenarnya dia tidak percaya. Dia tahu ada yang di tutup-tutupi adiknya. Namun, dia juga tidak mau memaksa. “Daisy, kau tidak bisa bertindak seperti tadi terus-menerus. Bagaimana kalau aku pas tidak ada? Apa yang akan kau lakukan?”
“Bukankah masih ada Kak Norah?” sahut Daisy dengan mudahnya.
“Daisy ….”
“Ya, kak. Maaf. Lain kali aku akan lebih hati-hati,” sahut Daisy sambil memajukan bibirnya. “Kak, apa yang sedang kakak lakukan? Kenapa berisik sekali?”
“Aku sedang memperhatikan seseorang,” sahut Zion.
“Seseorang?” Daisy mengganti posisinya dengan posisi duduk. “Apa dia seorang wanita?”
“Hemmm.”
“Dia cantik?”
“Tidak terlalu.”
“Apa dia baik?”
“Tidak juga,” jawab Zion cepat.
“Kakak sedang memperhatikan siapa?” Daisy mulai penasaran. Dia ingin tahu sespesial apa wanita yang sudah berhasil mendapat perhatian Kak Zionnya yang cuek itu.
“Seseorang,” jawab Zion. “Sekarang dia lagi duduk.”
Daisy tersadar. Dia memandang ke luar jendela dan melihat ada banyak sekali gedung di sana. Wanita itu tersenyum sambil melambaikan tangan. “Kak Zion, I miss you,” teriaknya.
Zion hanya tersenyum mendengar suara adeknya di telepon. Dia menurunkan teropongnya karena memang ingin pergi dari gedung tersebut. “Daisy, Kakak juga merindukanmu.”
Zion merasa ada yang aneh. Suara adiknya tidak terdengar lagi. Pria itu memutar tubuhnya dan mengarahkan teropongnya ke kamar adiknya. Kali ini Zion di buat panik. Kamar itu kosong. Zion juga tidak bisa berkomunikasi dengan Daisy lagi karena Daisy tidak bicara sepatah katapun.
“Daisy?”
“KAKAK! TOLONG AKU!”
DUARRRR
Zion di buat syok ketika dari dalam telepon dia mendengar suara tembakan. Pria itu segera mengambil tali dan turun dari gedung dengan tali. Tidak lupa ponsel dan segala barang penting lainnya ia masukkan ke dalam tas dan ia bawa turun bersama dirinya. Secepat kilat ia akan segera tiba di asrama adiknya untuk menolong adiknya yang kini dalam bahaya. “Daisy, kakak akan segera datang,” ujar Zion di dalam hati.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 254 Episodes
Comments
LENY
Kok kamar dimasukin orang sampah apa gak dikunci ya berarti keamanannya jelek
2024-01-27
0
Nining Sulastri
baru juga bab awal udah mulai lari lariii 😮😮😮😮🤭
2023-02-22
0
🌼 Pisces Boy's 🦋
uda mulai aksi kejar kejaran yang menegangkan
2022-12-28
0