“Livy, apa seperti ini yang daddy ajarkan? Apa kau masih belum rela jika Gold Dragon jatuh ke tangan Zion dan Norah?” tanya Oliver dengan ekspresi wajah yang serius. Walau Livy seorang wanita, tetapi mereka mendidik Livy layaknya seorang pria tangguh yang tidak mudah dikalahkan.
Memang beberapa tahun yang lalu, masalah Gold Dragon menjadi masalah puncak yang membuat lelah Oliver, Jordan, Lukas dan Zeroun. Tidak mungkin sebuah geng mafia di pimpin oleh dua orang yang memiliki karakter berbeda. Walau Livy dan Zion dekat dan sangat akrab, tetapi jiwa muda antara Livy dan Norah sulit disatukan. Mereka lebih sering bertengkar daripada harus bersatu. Hal itu yang membuat Lukas dan Oliver akhirnya menyerahlan Gold Dragon kepada Zion dan Norah. Bukan tanpa alasan. Kakek Zion dan Norah justru pemilik asli Geng mafia Gold Dragon. Jika keturunan Zeroun ingin memiliki, maka Lukas dan Oliver tidak bisa menghalangi.
Walaupun begitu, Oliver dan Lukas berjuang keras membentuk sebuah geng mafia yang diberi nama The Filast. Yang berasal dari singkatakan First anda Last. Pertama dan terakhir. Bersama dengan geng mafia The Filast, Livy mendapat julukan Tiger Eye. Karena Livy mewarisi sifat dingin Opa Lukas dan kecerdikan Oliver.
“Tidak, Dad. Aku tidak iri dengan Kak Zion. Aku hanya tidak mau ada masalah lagi antara Daddy dan Opa Zein. Seperti yang pernah terjadi. Seperti kejadian beberapa tahun lalu,” ucap Livy dengan wajah bersalah.
“Semua sudah berlalu. Gold Dragon akan tetap menjadi bagian kita. Walau kini Zion yang memimpinnya. Oke, baiklah. Masalah ini sepertinya tidak perlu di bahas lagi. Bagaimana kalau kita kembali ke topik utama. Apa yang terjadi? Kenapa Gold Dragon terlihat sibuk akhir-akhir ini. Bahkan mereka sebagian dari mereka sudah ada di Sapporo,” tanya Oliver dengan ekspresi yang serius.
“Sapporo?” Livy melebarkan kedua matanya.
“Jangan bilang kau tidak tahu, Livy,” sahut Lukas.
Livy benar-benar terjebak. Dia memang sebenarnya tidak tahu kalau Zion dan Norah ada di Sapporo. Dia hanya tahu kalau Daisy hilang. Sudah sampai mana usaha Zion dan Norah untuk menemukan Daisy, Livy sama sekali tidak tahu! Bahkan ditelepon tadi sebenarnya Livy sempat kecewa karena hilangnya Daisy dirahasiakan oleh Zion. Namun, dia wanita yang cerdas. Dengan mudahnya ia membuat Norah memberi tahu apa yang sebenarnya terjadi.
“Aku harus lacak mereka,” ucap Livy. Dia mengambil ponselnya di dalam tas. Wanita itu menekan-nekan layarnya yang hanya dia sendiri yang tahu arti angka-angka di sana. Lukas dan Oliver saling memandang sebelum menghela napas.
“Livy, kau sendirian?” Lukas memandang seseorang yang secara diam-diam menguping pembicaraan mereka dan bersembunyi di balik dinding.
“Ya, opa,” jawab Livy tanpa memandang.
“Kau yakin?” tanya Lukas sekali lagi.
“Ya-” Livy mengeryitkan dahinya. “Apa ada yang mengikutiku?”
Seseorang itu lari. Dengan cepat Oliver berlari untuk mengejarnya. Usianya yang masih 50an tahun jelas saja tidak membuat fisik dan kemampuan Oliver banyak berubah. Pria itu masih tangguh seperti 25 tahun yang lalu.
“Livy memasukkan ponselnya ke dalam tas. “Ayo kita pergi dari sini,” ajak Lukas. Dia menarik tangan cucunya. Langkah Lukas memang tidak secepat dulu lagi. Namun, pria itu masih mampu mendidik dan menjadikan cucunya wanita yang tangguh seperti Lana.
Oliver menarik jaket hitam pria yang kini berlari dengan wajah ketakuan. Rasanya pria itu merasa menyesal sudah lewat sana dan mendengar pembicaraan Oliver, Lukas dan Livy. Ia berada dalam bahaya! Ya, seperti itu yang dia pikirkan ketika dia melihat wajah Oliver yang begitu mengerikan. Seperti ingin melahap manusia hidup-hidup.
“Aku akan membiarkanmu hidup dengan catatan. Kau tidak mendengar apapun dan tidak melihat apapun. Pergilah seperti orang buta dan tuli,” ucap Oliver. Sepertinya kali ini Oliver masih berbaik hati. Dia mau membebaskan orang yang sudah lancang menguping pembicaraan mereka.
Pria itu merasa bahagia. Dia mengangguk sebelum berjalan pergi dengan langkah yang kaku. Dia sebenarnya masih ketakutan. Namun, dia paksa kedua kakinya berjalan pergi. Oliver segera masuk ke dalam mobil. Pria itu harus menjadi supir dari ayah dan putrinya. Mereka harus membahas masalah ini di tempat yang jauh lebih tenang dan nyaman.
***
Livy membawa Oliver dan Lukas ke markas The Filast. Pertama kali Livy memasuki lokasi markas, kedatangannya di sambut hangat oleh anak buah Livy yang mayoritasnya laki-laki. Beberapa wanita tangguh memang ada di sana, namun mereka memiliki tugas yang jauh lebih ringan jika dibandingkan pria. Sangat jarang Livy mengajak bawahannya yang wanita untuk terjun ke lapangan langsung.
“Sejauh ini, apa kau mengalami masalah, Livy? Bagaimana caramu membagi waktu antara pekerjaan di rumah sakit dengan The Filast?” tanya Oliver ingin tahu.
“Itu sangat mudah, Dad. Aku hanya perlu meminta izin untuk tidur lalu aku kabur dari jendela dan bermain dengan The Filast,” sahut Livy dengan santai. Dia segera turun dari mobil ketika Oliver memberhentikan mobilnya. Wanita itu melangkah ke kursi yang letaknya tidak jauh dari mobilnya berhenti. Seorang wanita berpakaian seksi meletakkan laptop dan segala keperluan Livy di atas meja. Tidak lupa mereka menyediakan minum untuk menyambut kedatangan Lukas dan Oliver.
“Dad, aku tahu Daddy dan Opa juga sangat mengkhawatirkan Daisy. Begitu juga dengan Opa Zein. Tapi, bisakan kalian memberi kesempatan kepada Kak Zion untuk menyelesaikan masalah ini sendirian? Beri kami waktu satu minggu. Jika dalam satu minggu kami tidak berhasil menemukan Daisy, Opa dan Daddy boleh turun tangan,” ucap Livy dengan wajah memohon.
Lukas dan Oliver saling memandang. Memang seperti ini jawaban yang ingin mereka dengar. Mereka tidak mau keturunan mereka menjadi pribadi yang lemah dan mudah bergantung pada orang lain. Seperti inilah karakter yang mereka impikan.
“Baiklah. Satu minggu,” sahut Oliver. “Pesan mommymu, kau harus pulang dalam waktu dekat. Dia sangat merindukanmu, Livy.”
“Baiklah, Dad. Menang atau kalah, aku akan pulang. Sekarang, apa Daddy dan Opa bisa pergi dan temui Opa Zein? Katakan padanya kami bisa menyelesaikan semua masalah ini sendiri,” pinta Livy dengan wajah yang sangat serius. Jelas saja hal itu membuat Oliver dan Lukas tidak bisa berkata-kata lagi. Walau sebenarnya mereka masih ingin di sana menemani cucu dan anak mereka.
“Bailah,” jawab Lukas pasrah.
“Terima kasih, Opa.” Livy turun dan memeluk Lukas. “Livy sayang sama Opa.”
Lukas mengukir senyum kecil sebelum mengusap rambut Livy dengan lembut. “Opa juga sangat menyayangimu Livy. Kau nyawa Opa saat ini. Hidupmu adalah napas Opa.”
Livy merasa tersanjung hingga ia memeluk Lukas lebih erat lagi. “Semakin tua Opa semakin bucin,” ledek Livy.
Oliver hanya bisa tersenyum melihat ayah dan putrinya. Pemandangan yang ada di depan matanya sangat indah hingga ia tidak mau momen bahagia itu segera berakhir. “Tuhan, tolong jaga Putriku dimanapun dia berada. Hanya dia harta yang paling berharga yang pernah kami miliki,” gumam Oliver di dalam hati.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 254 Episodes
Comments
Maia Mayong
aq kmri lg , blm siap baca nggu tamat mksdny thor. cm kyk ny blm tamat jg y thor.
rsa ny mw balik baca lukas n lana zein n serena lg ...
2023-07-13
0
Ghaza Syifa Alita
opa Lukas pake tongkat ga ya
2023-02-10
0
🌼 Pisces Boy's 🦋
anak Katt dan Oliver hanya Livy
2022-12-28
0