Norah melajukan sepeda motornya dengan kecepatan tinggi setelah Zion memberi kabar. Wanita itu akan tiba dalam waktu 20 menit di asrama Daisy. Walau kota dimana Asrama Daisy jaraknya cukup jauh dari lokasinya berada, tetapi ia yakin bisa sampai dalam waktu 20 menit. Wanita itu memegang erat gas sepeda motornya dan fokus ke depan. Menyalip satu persatu mobil yang melintas tanpa mempedulikan keselamatannya sendiri.
Walau seorang wanita, tapi Norah sangat menyukai sepeda motor. Bahkan dia selalu menang jika memutuskan untuk ikut balapan motor. Sepeda motor Ducati Panigale V4 Superleggera berwarna hitam menjadi teman setianya kemanapun dia berada. Berada di atas sepeda motor itu Norah merasa melayang seperti di udara. Walau terlihat berat, tapi di tangan Norah sepeda motor itu sangat ringan.
"Daisy, kamu gadis yang kuat. Kakak akan segera datang untuk menolongmu," rasanya Norah tidak sabar untuk segera tiba di asrama Daisy. Namun, mau bagaimana lagi? Jarak tempuhnya cukup jauh. Ia tidak bisa tiba di lokasi secepat Zion. Di tambah lagi, pada malam hari, jalan lintas yang dilewati Norah sangat padat.
Norah mungkin tidak akan peduli dengan keselamatan dirinya sendiri. Namun, bagaimana kalau aksi brutalnya membuat orang lain celaka? Norah tidak mau membuat orang yang tidak berdosa kehilangan nyawa. Bukan seperti itu prinsip hidupnya!
Di detik yang sama. Zion sudah tiba di asrama Daisy. Pria itu berdiri mematung melihat darah dimana-mana. Bahkan di dinding juga ada. Darah itu membekas menuju ke kamar mandi yang letaknya beberapa meter dari posisi Zion berdiri. Letaknya sedikit ke samping. Dari posisi Zion, keadaan di dalam kamar mandi tidak terlihat.
"Daisy ...," lirihnya dengan nada lemah.
Rasanya Zion tidak sanggup melangkah lagi. Dia tidak akan siap untuk melihat adiknya celaka. Pria itu menggeram. Kedua tangannya terkepal kuat sampai memutih. Rahangnya mengeras. Wajahnya terlihat menahan marah. Namun, ada satu bagian yang kini rasanya begitu menyiksa. Debaran jantungnya. Jantung Zion memompa dengan begitu cepat karena kini dia sangat was-was.
Belum pernah Zion takut seperti ini. Dia bahkan kesulitan untuk melangkahkan kakinya lebih jauh lagi. Seolah-olah di telapak sepatunya ada lem yang membuatnya kesulitan untuk melangkah lagi.
"Siapa kau?"
Esme muncul di depan pintu. Wanita itu juga syok melihat ada darah di lantai kamar sahabatnya. Dia menuduh Zion yang sudah melakukan semua ini karena memang Esme tidak tahu kalau Daisy memiliki kakak.
"TOLONG! ADA PENJAHAT!" teriak Esme. "Tolong!"
Zion memutar tubuhnya dan memandang Esme. Dia tidak mau melukai Esme karena Zion tahu wanita itu sahabat adiknya. Sedangkan Esme berlari untuk mencari pertolongan. Dia ketakutan ketika melihat pandangan mata Zion yang terlihat menakutkan.
Semua orang yang mendengar teriakan Esme segera keluar dari kamar. Salah satunya adalah Lyn. Wanita itu berdiri di depan kamar sambil melipat kedua tangannya. Ada handuk di atas kepalanya yang masih melilit rambut basah. Tatapannya terlihat tidak suka ketika mendengar Esme teriak di jam istirahat.
"Apa yang kau lakukan wanita bodoh!" umat Lyn.
Esme yang memang kini berada tepat di depan Lyn, hanya bisa berdiri dengan tubuh gemetar. Bahkan bibirnya sampai kesulitan untuk bicara.
"Dai .... Dai ...." Gagapnya dengan bibir pucat.
"Maksudmu, Daisy?" Lyn memeriksa kukunya dengan ekspresi wajah cuek. "Ada apa yang wanita udik itu?"
"Darah darah," lanjut Esme lagi. Masih terus mengiang di ingatannya tatapan menakutkan Zion hingga membuatnya tidak bisa bicara.
"Darah?" Lyn menghela napas panjang. Wanita itu masih belum mengerti dengan apa yang dikatakan Esme. "Apa maksudmu Daisy berdarah?"
Esme mengangguk. Belum juga sempat menjelaskan dia sudah pingsan. Wanita itu terhuyung ke depan hingga terjatuh di tubuh Lyn. Lyn mengeryitkan dahinya dan segera mendorong tubuh Daisy dengan wajah jijik.
"Iuhhh! Apa-apaan dia!" umpat Lyn tidak suka. Wanita itu memandang ke kiri. Di sana beberapa orang juga keluar dari kamar dengan wajah bingung.
"Ada apa? Seseorang berteriak ada orang jahat! Di mana?" tanya salah satu penghuni asrama.
Lyn hanya mengangkat kedua bahunya. "Paling juga si wanita bodoh dan wanita udik lagi buat sensasi. Yuk kita masuk saja. Gak penting juga ," sahut Lyn.
Ucapan Lyn membuat yang lainnya juga ikut masuk ke kamar. Memang kamar Daisy dan Esme ada di sudut lorong. Dua kamar mereka seperti kamar yang di asingkan. Karena sebelum mendapatkan kamar mereka, ada dinding panjang yang harus dilalui.
"Ada apa ini?"
Seorang wanita berusia sekitar 45 tahun berdiri di depan tangga. Wanita itu memandang satu persatu wajah mahasiswinya dengan tatapan penuh tanya. "Kenapa kalian ribut sekali? Ini sudah malam!"
"Dia pingsan di depan kamarku, madam. Nyonya Gulnora. Bisakah anda singkirkan dia dari hadapanku? Aku tidak mau virus dari tubuhnya terbang ke kamarku!" ujar Lyn.
Nyonya Gulnora segera mendekati Esme. Wanita itu memandang ke depan. Ia merasa ada yang aneh. Biasanya dimana ada Esme di situ ada Daisy. Sekarang, dimana wanita cerdas itu?
Semua masuk ke dalam kamar lagi. Sedangkan Nyonya Gulnora tertarik untuk memeriksa ke kamar Daisy. Ia bahkan membiarkan Esme tergeletak di lantai karena sangat mengkhawatirkan Daisy. Hanya Nyonya Gulnora satu-satunya orang yang mengetahui identitas asli Daisy. Sisanya hanya menganggap Daisy sebagai wanita kampung tidak berguna.
Setibanya di kamar Daisy, Nyonya Gulnora di buat syok melihat kamar berantakan dan darah dimana-mana. Dia menutup mulutnya dengan tangan dan menahan pita suaranya agar tidak menjerit karena ketakutan. Wanita itu terus melangkah untuk memeriksa ke arah kamar mandi. Jejak darah itu berakhir di sana.
Zion keluar dari kamar mandi hingga membuat Nyonya Gulnora syok bukan main. Pria itu menatap Nyonya Gulnora dengan tatapan menikam dan berjalan mendekati wanita itu.
"Siapa Foster?"
"Foster? Anda siapa? Kenapa anda ada di kamar Daisy? Apa yang terjadi pada Daisy?" tanya Nyonya Gulnora dengan sisa keberanian yang ia miliki.
Zion memperlihatkan kalung yang ia temukan di kamar mandi. Kalung itu ada inisial huruf F yang di belakangnya tertulis jelas nama Foster. Di dalam kamar mandi tidak ada siapapun selain ceceran darah yang begitu mengerikan.
"Katakan atau aku akan-" Zion menahan langkah kakinya ketika mendengar suara sirine polisi. Pria itu mengepal kuat kalung yang ia temukan dan membawanya pergi. Ia tidak lagi peduli dengan Nyonya Gulnora.
"Dia mahasiswa yang suka sama Daisy!" teriak Nyonya Gulnora sebelum Zion melompat dari jendela. Zion memandang Nyonya Gulnora sekilas sebelum melompat. Pria itu tidak mau berurusan dengan polisi. Dia bisa mencari adik kandungnya tanpa bantuan dari polisi-polisi tersebut.
Nyonya Gulnora terduduk di lantai. Ia masih tidak sanggup memandang darah di lantai. "Daisy ... apa yang terjadi padamu Nak? Apa seseorang telah mencelakaimu? Dimana kamu nak?" lirih Nyonya Gulnora dengan wajah menahan tangis.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 254 Episodes
Comments
🌼 Pisces Boy's 🦋
kangen dengan generasi pertama dragon gold masih belum bisa move on dengan pesona mereka
2022-12-28
1
Santi Rahma
wooooiw wooowwww sukses selalu krya2 nya selalu kereeeeeeeen
2022-12-17
0
indah_kajoL
yessss,,,,
golek i dewehhhh,,,🔫🔥🔥🔥🔥
2022-10-13
1