Cambridge
"Sayang, apa yang kau lakukan di sana?"
Jordan mendekati Leona yang kini duduk di pinggir kolam ikan. Wanita itu seperti sedang memikirkan sesuatu. Di tangannya ada sebuah foto yang berisi orang yang sangat ia rindukan.
Leona menghapus air matanya dan meletakkan foto itu terbalik. Ia memejamkan mata ketika Jordan mengecupnya sebelum mengukir senyuman manis.
"Apa ini?" Jordan mengambil foto yang ada di genggaman Leona. Pria itu tersenyum. "Kau merindukan mama dan papa?"
Leona mengangguk. "Bisakah kita berangkat ke Sapporo?"
"Sekarang?" tanya Jordan dengan alis saling bertaut.
"Ada masalah?"
Jordan menghela napas. Pria itu duduk di samping Leona. Ia meletakkan foto tersebut ke meja. "Tidak ada. Tapi, bukankah sebaiknya kita ke sana sambil membawa Zion, Norah dan Daisy? Mama dan papa pasti senang bertemu dengan mereka bertiga," ucap Jordan memberi solusi.

"Tapi, Daisy masih sibuk dengan kuliahnya. Sebentar lagi dia akan ujian. Kita tahu sendiri bagaimana marahnya Daisy kalau saat dia ingin ujian kita memintanya pulang," ujar Leona. "Bahkan aku harus menahan rindu terhadap ketiga anakku. Zion dan Norah juga tidak mau pulang ketika Daisy memutuskan kuliah."
"Anak-anak kita sangat hebat. Mereka pasti bisa menjaga diri dimanapun mereka berada. Terutama Zion. Dia pasti akan menjaga adiknya dengan baik. Menjamin adiknya selalu bahagia dan tersenyum," sahut Jordan sambil membayangkan wajah anak-anaknya. "Seperti dulu aku menjaga Katterine."
"Tapi, bagaimanapun juga. Mereka anak kita. Aku merindukan mereka. Aku ingin mereka kecil lagi agar rumah ini ramai dengan suara mereka. Tidak seperti sekarang. Sunyi. Hanya ada kita berdua di sini," protes Leona.
"Sayang ... Sebelum mereka pergi, aku sempat bertanya. Apa kau baik-baik saja jika mereka pergi dari rumah ini. Kau menjawab, aku akan bahagia jika anak-anakku bahagia," ledek Jordan.
"Itu lain lagi." Leona memandang ke depan sambil membayangkan Zion dan Norah saat masih kecil dulu. Ketika Daisy masih di dalam perut. "Waktu begitu cepat berlalu. Tidak terasa, yang baru lahir sudah dewasa. Yang sudah lama bersama kita kini telah tiada. Aku sendiri tidak menyangka kalau kedua kakiku ini masih bisa menginjakkan bumi di usiaku yang sekarang. Bersama dengan suamiku."
"Mau telepon Daisy?" tawar Jordan. Berharap setelah mendengar suara putri kecil mereka Leona bisa kembali bahagia.
"Zion saja. Daisy pasti sudah tidur," sahut Leona.
Jordan mengukir senyum. Sebenarnya bukan hanya Leona saja. Jordan juga sangat merindukan anak-anaknya. Hanya saja dia seorang pria. Kalau dia cengeng seperti Leona, siapa yang akan melindungi Leona nanti?
Sekali dua kali panggilan telepon itu tidak di angkat. Membuat Jordan khawatir. Tidak biasanya Zion mengabaikan panggilan teleponnya seperti ini. Bahkan di saat mandi atau makan saja masih bisa angkat telepon.
"Kenapa lama sekali?" protes Leona.
"Aku akan coba sekali lagi," sahut Jordan. Kali ini dia menekan nomor Norah. Berharap Zion dan Norah berada di satu tempat yang sama.
"Halo, Dad. Apa kabar?" ucap Norah di kejauhan sana. "Daddy belum tidur?"
"Berikan padaku," pinta Leona. Ia mengukir senyuman bahagia walau belum mengucapkan satu katapun. Menarik napas dengan hati yang menggebu-gebu. "Sayang ... Ini mommy."
"Mommy, I Miss you."
"I Miss you too sayang. Apa kau baik-baik saja? Kau baru saja menangis?" Firasat seorang ibu memang selalu kuat. Mendengar nada bicara Norah, Leona sudah bisa menebak kalau putrinya sedang bersedih.
"Aku flu, Mom. Ini benar-benar menyiksa," dusta Norah asal saja. "Kak Zion bersamaku. Dia lagi di luar membeli obat," sambung Norah lagi. Sebenarnya dia tahu kalau tadi Zion membiarkan panggilan telepon itu. Pria itu belum siap bicara dengan Jordan. Dia merasa bersalah dan gagal sebagai seorang kakak dan anak pertama.
"Syukurlah. Bagaimana dengan Daisy? Apa dia ada membuat masalah akhir-akhir ini?"
"Dia melakukan praktek di hutan kemarin. Kelihatannya Daisy sangat menikmati masa-masa kuliahnya Mom. Tapi, sepertinya dia sangat sibuk. Bahkan ketika aku ajak keliar sebentar saja dia menolak. Apa mommy ada menghubungi Daisy? Norah sarani sih jangan Mom. Dia pasti marah," ucap Norah dengan tawa kecil agar Leona percaya.
"Mommy tidak akan ganggu Daisy. Setelah dia selesai ujian, mommy akan memintanya segera pulang. Mommy sangat ingin memeluknya. Kau dan Zion juga sayang...."
"Baik, Mom. Aku ingin istirahat. Nanti akan aku sampaikan salam mommy sama Kak Zion."
"Terima kasih sayang. Selamat tidur. Cepat sembuh," ucap Leona ditambah dengan kecupan kasih sayang seorang ibu. Wanita itu menahan air mata agar tidak menetes karena rindu. Setelah panggilan telepon itu berakhir, Jordan segera memeluk Leona sambil mengusap punggungnya.
"Semua akan baik-baik saja. Akan ada masa dimana anak-anak kita kembali ke rumah ini dan berkumpul bersama kita. Untuk saat ini, kita beri saja mereka kebebasan dan kepercayaan. Seperti dulu orang tua kita mempercayai kita."
"Ya, kita harus bisa mempercayai anak-anak kita," sahut Leona. Ia beranjak dan menarik tangan Jordan. "Ayo kita tidur."
***
Norah meletakkan ponselnya dan memandang wajah Zion yang kini sedang fokus dengan layar laptop di depannya. Wanita itu bersandar dan mengangkat kedua kakinya di atas meja. "Bagaimana? Apa kakak berhasil mendapatkan informasi tentang pria bernama Foster?"
"Ada banyak nama Foster di negara ini. Rata berasal dari anak orang ternama. Aku tidak tahu, Foster yang mana yang dimaksud wanita itu!" sahut Zion tanpa memandang.
"Itu sangat mudah. Sudah pasti Foster yang kuliah di universitas yang sama dengan Daisy," sahut Norah dengan santainya.
Zion melirik Norah dengan tatapan protes. "Ada lima nama Foster di Universitas Yale. Kelimanya tidak ada yang satu jurusan dengan Daisy."
Norah kembali diam. Tadinya dia pikir akan mudah mencari informasi tentang Foster. Tidak di sangka pria itu juga sangat misterius. Sama seperti hilangnya Daisy yang kini sangat misterius.
"Kak, aku ingin melihat langsung kamar Daisy. Aku ingin tahu sebenarnya apa yang sudah di alami adikku." Norah beranjak dari sofa. Wanita itu membawa senjata tajam dan senjata api sambil mencari jaket hitam favoritnya.
"Tidak sekarang, Norah. Aku akan menemanimu nanti!"
"Aku bisa jaga diri, Kak. Percaya padaku!" bantah Norah.
"Norah! Duduk!" teriak Zion.
Norah yang tadinya sudah siap berangkat hanya bisa kembali duduk ketika Zion menatapnya dengan begitu tajam. Memang Zion tidak akan mungkin berani melukai Norah. Namun, Norah sangat mematuhi segala perintah yang diberikan Zion. Dia tahu, keputusan kakaknya yang terbaik. Walau terkadang rasa ingin membantah itu selalu ada.
"Baiklah." Norah mengambil ponselnya yang berdering. Ternyata panggilan telepon itu dari rumah sakti tempat mereka meletakkan sampel darah. Norah terlihat sangat antusias mengangkat panggilan telepon tersebut.
"Halo."
"Apa ini dengan Nona Norah?"
"Ya, benar. Ini saya sendiri," jawab Norah. "Bagaimana dengan hasil tesnya? Pasti tidak cocokkan?"
"Darahnya cocok, Nona. Anda dan pemilik darah ini adalah saudara kandung," jawab pria di dalam telepon.
Secara otomatis Norah syok. Dia tidak bisa membayangkan sakit yang dirasakan Daisy ketika darah segar itu keluar dari tubuhnya. Pasti wanita itu sangat kesakitan.
"Nona, apa anda masih di sana?"
"Ya," jawab Norah dengan nada tidak semangat lagi.
"Hasil tesnya apa mau dikirim?"
"Tidak perlu. Buang saja!" Ujar Norah sebelum memutuskan panggilan telepon itu secara sepihak. Zion yang tahu perubahan sikap Norah segera mengalihkan pandangannya.
"Ada apa?"
"Hasil tes sudah keluar," jawab Norah dengan nada pelan. Zion segera beranjak dari kursi dan mendekati Norah. Ia juga ingin tahu apa hasil tesnya.
"Lalu, bagaimana? Apa dugaanku benar? Darah itu sengaja di sebar di kamar Daisy untuk menjebak kita?"
"Itu memang benar darah Daisy," lirih Norah. ia menutup wajahnya dengan tangan. "Daisy terluka."
Zion mematung. Dia juga tidak rela menderita kabar buruk ini. Pria itu segera berangkat dari sofa dan mengambil senjata apinya.
"Kakak mau kemana?"
"Aku akan meminta semua pasukan Gold Dragon melakukan pencarian ke segala lorong yang ada di kota ini. Memeriksa semua cctv yang ada. Aku ingin segera menemukan Daisy!"
"Aku ikut!" teriak Norah. Zion hanya mengangguk setuju. Mereka bersama-sama meninggalkan rumah sederhana tersebut.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 254 Episodes
Comments
wiens
jadi kangen sama Serena, zeroun, Daniel, kok cepet jadi kakek nenek ya....
2023-03-20
1
Nining Sulastri
panik panikkk akuu paniiikkk
2023-02-22
0
🌼 Pisces Boy's 🦋
cepet banget Mom Serena dan dad Daniet uda keriput 😂🤭🤭
2022-12-28
0