Bab. 5

Cambridge

"Sayang, apa yang kau lakukan di sana?"

Jordan mendekati Leona yang kini duduk di pinggir kolam ikan. Wanita itu seperti sedang memikirkan sesuatu. Di tangannya ada sebuah foto yang berisi orang yang sangat ia rindukan.

Leona menghapus air matanya dan meletakkan foto itu terbalik. Ia memejamkan mata ketika Jordan mengecupnya sebelum mengukir senyuman manis.

"Apa ini?" Jordan mengambil foto yang ada di genggaman Leona. Pria itu tersenyum. "Kau merindukan mama dan papa?"

Leona mengangguk. "Bisakah kita berangkat ke Sapporo?"

"Sekarang?" tanya Jordan dengan alis saling bertaut.

"Ada masalah?"

Jordan menghela napas. Pria itu duduk di samping Leona. Ia meletakkan foto tersebut ke meja. "Tidak ada. Tapi, bukankah sebaiknya kita ke sana sambil membawa Zion, Norah dan Daisy? Mama dan papa pasti senang bertemu dengan mereka bertiga," ucap Jordan memberi solusi.

"Tapi, Daisy masih sibuk dengan kuliahnya. Sebentar lagi dia akan ujian. Kita tahu sendiri bagaimana marahnya Daisy kalau saat dia ingin ujian kita memintanya pulang," ujar Leona. "Bahkan aku harus menahan rindu terhadap ketiga anakku. Zion dan Norah juga tidak mau pulang ketika Daisy memutuskan kuliah."

"Anak-anak kita sangat hebat. Mereka pasti bisa menjaga diri dimanapun mereka berada. Terutama Zion. Dia pasti akan menjaga adiknya dengan baik. Menjamin adiknya selalu bahagia dan tersenyum," sahut Jordan sambil membayangkan wajah anak-anaknya. "Seperti dulu aku menjaga Katterine."

"Tapi, bagaimanapun juga. Mereka anak kita. Aku merindukan mereka. Aku ingin mereka kecil lagi agar rumah ini ramai dengan suara mereka. Tidak seperti sekarang. Sunyi. Hanya ada kita berdua di sini," protes Leona.

"Sayang ... Sebelum mereka pergi, aku sempat bertanya. Apa kau baik-baik saja jika mereka pergi dari rumah ini. Kau menjawab, aku akan bahagia jika anak-anakku bahagia," ledek Jordan.

"Itu lain lagi." Leona memandang ke depan sambil membayangkan Zion dan Norah saat masih kecil dulu. Ketika Daisy masih di dalam perut. "Waktu begitu cepat berlalu. Tidak terasa, yang baru lahir sudah dewasa. Yang sudah lama bersama kita kini telah tiada. Aku sendiri tidak menyangka kalau kedua kakiku ini masih bisa menginjakkan bumi di usiaku yang sekarang. Bersama dengan suamiku."

"Mau telepon Daisy?" tawar Jordan. Berharap setelah mendengar suara putri kecil mereka Leona bisa kembali bahagia.

"Zion saja. Daisy pasti sudah tidur," sahut Leona.

Jordan mengukir senyum. Sebenarnya bukan hanya Leona saja. Jordan juga sangat merindukan anak-anaknya. Hanya saja dia seorang pria. Kalau dia cengeng seperti Leona, siapa yang akan melindungi Leona nanti?

Sekali dua kali panggilan telepon itu tidak di angkat. Membuat Jordan khawatir. Tidak biasanya Zion mengabaikan panggilan teleponnya seperti ini. Bahkan di saat mandi atau makan saja masih bisa angkat telepon.

"Kenapa lama sekali?" protes Leona.

"Aku akan coba sekali lagi," sahut Jordan. Kali ini dia menekan nomor Norah. Berharap Zion dan Norah berada di satu tempat yang sama.

"Halo, Dad. Apa kabar?" ucap Norah di kejauhan sana. "Daddy belum tidur?"

"Berikan padaku," pinta Leona. Ia mengukir senyuman bahagia walau belum mengucapkan satu katapun. Menarik napas dengan hati yang menggebu-gebu. "Sayang ... Ini mommy."

"Mommy, I Miss you."

"I Miss you too sayang. Apa kau baik-baik saja? Kau baru saja menangis?" Firasat seorang ibu memang selalu kuat. Mendengar nada bicara Norah, Leona sudah bisa menebak kalau putrinya sedang bersedih.

"Aku flu, Mom. Ini benar-benar menyiksa," dusta Norah asal saja. "Kak Zion bersamaku. Dia lagi di luar membeli obat," sambung Norah lagi. Sebenarnya dia tahu kalau tadi Zion membiarkan panggilan telepon itu. Pria itu belum siap bicara dengan Jordan. Dia merasa bersalah dan gagal sebagai seorang kakak dan anak pertama.

"Syukurlah. Bagaimana dengan Daisy? Apa dia ada membuat masalah akhir-akhir ini?"

"Dia melakukan praktek di hutan kemarin. Kelihatannya Daisy sangat menikmati masa-masa kuliahnya Mom. Tapi, sepertinya dia sangat sibuk. Bahkan ketika aku ajak keliar sebentar saja dia menolak. Apa mommy ada menghubungi Daisy? Norah sarani sih jangan Mom. Dia pasti marah," ucap Norah dengan tawa kecil agar Leona percaya.

"Mommy tidak akan ganggu Daisy. Setelah dia selesai ujian, mommy akan memintanya segera pulang. Mommy sangat ingin memeluknya. Kau dan Zion juga sayang...."

"Baik, Mom. Aku ingin istirahat. Nanti akan aku sampaikan salam mommy sama Kak Zion."

"Terima kasih sayang. Selamat tidur. Cepat sembuh," ucap Leona ditambah dengan kecupan kasih sayang seorang ibu. Wanita itu menahan air mata agar tidak menetes karena rindu. Setelah panggilan telepon itu berakhir, Jordan segera memeluk Leona sambil mengusap punggungnya.

"Semua akan baik-baik saja. Akan ada masa dimana anak-anak kita kembali ke rumah ini dan berkumpul bersama kita. Untuk saat ini, kita beri saja mereka kebebasan dan kepercayaan. Seperti dulu orang tua kita mempercayai kita."

"Ya, kita harus bisa mempercayai anak-anak kita," sahut Leona. Ia beranjak dan menarik tangan Jordan. "Ayo kita tidur."

***

Norah meletakkan ponselnya dan memandang wajah Zion yang kini sedang fokus dengan layar laptop di depannya. Wanita itu bersandar dan mengangkat kedua kakinya di atas meja. "Bagaimana? Apa kakak berhasil mendapatkan informasi tentang pria bernama Foster?"

"Ada banyak nama Foster di negara ini. Rata berasal dari anak orang ternama. Aku tidak tahu, Foster yang mana yang dimaksud wanita itu!" sahut Zion tanpa memandang.

"Itu sangat mudah. Sudah pasti Foster yang kuliah di universitas yang sama dengan Daisy," sahut Norah dengan santainya.

Zion melirik Norah dengan tatapan protes. "Ada lima nama Foster di Universitas Yale. Kelimanya tidak ada yang satu jurusan dengan Daisy."

Norah kembali diam. Tadinya dia pikir akan mudah mencari informasi tentang Foster. Tidak di sangka pria itu juga sangat misterius. Sama seperti hilangnya Daisy yang kini sangat misterius.

"Kak, aku ingin melihat langsung kamar Daisy. Aku ingin tahu sebenarnya apa yang sudah di alami adikku." Norah beranjak dari sofa. Wanita itu membawa senjata tajam dan senjata api sambil mencari jaket hitam favoritnya.

"Tidak sekarang, Norah. Aku akan menemanimu nanti!"

"Aku bisa jaga diri, Kak. Percaya padaku!" bantah Norah.

"Norah! Duduk!" teriak Zion.

Norah yang tadinya sudah siap berangkat hanya bisa kembali duduk ketika Zion menatapnya dengan begitu tajam. Memang Zion tidak akan mungkin berani melukai Norah. Namun, Norah sangat mematuhi segala perintah yang diberikan Zion. Dia tahu, keputusan kakaknya yang terbaik. Walau terkadang rasa ingin membantah itu selalu ada.

"Baiklah." Norah mengambil ponselnya yang berdering. Ternyata panggilan telepon itu dari rumah sakti tempat mereka meletakkan sampel darah. Norah terlihat sangat antusias mengangkat panggilan telepon tersebut.

"Halo."

"Apa ini dengan Nona Norah?"

"Ya, benar. Ini saya sendiri," jawab Norah. "Bagaimana dengan hasil tesnya? Pasti tidak cocokkan?"

"Darahnya cocok, Nona. Anda dan pemilik darah ini adalah saudara kandung," jawab pria di dalam telepon.

Secara otomatis Norah syok. Dia tidak bisa membayangkan sakit yang dirasakan Daisy ketika darah segar itu keluar dari tubuhnya. Pasti wanita itu sangat kesakitan.

"Nona, apa anda masih di sana?"

"Ya," jawab Norah dengan nada tidak semangat lagi.

"Hasil tesnya apa mau dikirim?"

"Tidak perlu. Buang saja!" Ujar Norah sebelum memutuskan panggilan telepon itu secara sepihak. Zion yang tahu perubahan sikap Norah segera mengalihkan pandangannya.

"Ada apa?"

"Hasil tes sudah keluar," jawab Norah dengan nada pelan. Zion segera beranjak dari kursi dan mendekati Norah. Ia juga ingin tahu apa hasil tesnya.

"Lalu, bagaimana? Apa dugaanku benar? Darah itu sengaja di sebar di kamar Daisy untuk menjebak kita?"

"Itu memang benar darah Daisy," lirih Norah. ia menutup wajahnya dengan tangan. "Daisy terluka."

Zion mematung. Dia juga tidak rela menderita kabar buruk ini. Pria itu segera berangkat dari sofa dan mengambil senjata apinya.

"Kakak mau kemana?"

"Aku akan meminta semua pasukan Gold Dragon melakukan pencarian ke segala lorong yang ada di kota ini. Memeriksa semua cctv yang ada. Aku ingin segera menemukan Daisy!"

"Aku ikut!" teriak Norah. Zion hanya mengangguk setuju. Mereka bersama-sama meninggalkan rumah sederhana tersebut.

Terpopuler

Comments

wiens

wiens

jadi kangen sama Serena, zeroun, Daniel, kok cepet jadi kakek nenek ya....

2023-03-20

1

Nining Sulastri

Nining Sulastri

panik panikkk akuu paniiikkk

2023-02-22

0

🌼 Pisces Boy's 🦋

🌼 Pisces Boy's 🦋

cepet banget Mom Serena dan dad Daniet uda keriput 😂🤭🤭

2022-12-28

0

lihat semua
Episodes
1 Bab. 1
2 Bab. 2
3 Bab. 3
4 Bab. 4
5 Bab. 5
6 Bab. 6
7 Bab 7
8 Bab. 8
9 Bab. 9
10 Bab. 10
11 Bab. 11
12 Bab. 12
13 Bab. 13
14 Bab. 14
15 Bab. 15
16 Bab. 16
17 Bab. 17
18 Bab. 18
19 Bab. 19
20 Bab. 20
21 Bab. 21
22 Bab. 22
23 Bab. 23
24 Bab. 24
25 Bab. 25
26 Bab. 26
27 Bab. 27
28 Bab. 28
29 Bab. 29
30 Bab. 30
31 Bab. 31
32 Bab. 32
33 Bab. 33
34 Bab. 34
35 Bab. 35
36 Bab. 36
37 Bab. 37
38 Bab. 38
39 Bab. 39
40 Bab. 40
41 Bab. 41
42 Bab. 42
43 Bab. 43
44 Bab. 44
45 Bab. 45
46 Bab. 46
47 Bab. 47
48 Bab. 48
49 Bab. 49
50 Bab. 50
51 Bab. 51
52 Bab. 52
53 Bab. 53
54 Bab. 54
55 Bab. 55
56 Bab. 56
57 Bab. 57
58 Bab. 58
59 Bab. 59
60 Bab. 60
61 Bab. 61
62 Bab. 62
63 Bab. 63
64 Bab. 64
65 Bab. 65
66 Bab. 66
67 Bab. 67
68 Bab. 68
69 Bab. 69
70 Bab. 70
71 Bab. 71
72 Bab. 72
73 Bab. 73
74 Bab. 74
75 Bab. 75
76 Bab. 76
77 Bab. 77
78 Bab. 78
79 Bab. 79
80 Bab. 80
81 Bab. 81
82 Bab. 82
83 Bab. 83
84 Bab. 84
85 Bab. 85
86 Bab. 86
87 Bab. 87
88 Bab. 88
89 Bab. 89
90 Bab. 90
91 Bab. 91
92 Bab. 92
93 Bab. 93
94 Bab. 94
95 Bab. 95
96 Bab. 96
97 Bab. 97
98 Bab. 98
99 Bab. 99
100 Bab 100
101 Bab. 101
102 Bab. 102
103 Bab. 103
104 Bab. 104
105 Bab. 105
106 Bab. 106
107 Bab. 107
108 Bab. 108
109 Bab. 109
110 Bab. 110
111 Bab. 111
112 Bab. 112
113 Bab. 113
114 Bab. 114
115 Bab. 115
116 Bab. 116
117 Bab. 117
118 Bab. 118
119 Bab. 119
120 Bab. 120
121 Bab. 121
122 Bab. 122
123 Bab. 123
124 Bab. 124
125 Bab. 125
126 Bab. 126
127 Bab. 127
128 Bab. 128
129 Bab. 129
130 Bab. 130
131 Bab. 131
132 Bab. 132
133 Bab. 133
134 Bab. 134
135 Bab. 135
136 Bab. 136
137 Bab. 137
138 Bab. 138
139 Bab. 139
140 Bab. 140
141 Bab. 141
142 Bab. 142
143 Bab. 143
144 Bab. 144
145 Bab. 145
146 Bab. 146
147 Bab. 147
148 Bab. 148
149 Bab. 149
150 Bab. 150
151 Bab. 151
152 Bab. 152
153 Bab. 153
154 Bab. 154
155 Bab. 155
156 Bab. 156
157 Bab. 157
158 Bab. 158
159 Bab. 159
160 Bab. 160
161 Bab. 161
162 Bab. 162
163 Bab. 163
164 Bab. 164
165 Bab. 165
166 Bab. 166
167 Bab. 167
168 Bab. 168
169 Bab. 169
170 Bab. 170
171 Bab. 171
172 Bab. 172
173 Bab. 173
174 Bab. 174
175 Bab. 175
176 Bab. 176
177 Bab. 177
178 Bab. 178
179 Bab. 179
180 Bab. 180
181 Bab. 181
182 Bab. 182
183 Bab. 183
184 Bab. 184
185 Bab. 185
186 Bab. 186
187 Bab. 187
188 Bab. 188
189 Bab. 189
190 Bab. 190
191 Bab. 191
192 Bab. 192
193 Bab. 193
194 Bab. 194
195 Bab. 195
196 Bab. 196
197 Bab. 197
198 Bab. 198
199 Bab. 199
200 Bab. 200
201 Bab. 201
202 Bab. 202
203 Bab. 203
204 Bab. 204
205 Bab. 205
206 Bab. 206
207 Bab. 207
208 Bab. 208
209 Bab. 209
210 Bab. 210
211 Bab. 211
212 Bab. 212
213 Bab. 213
214 Bab. 214
215 Bab. 215
216 Bab. 216
217 Bab. 217
218 Bab. 218
219 Bab. 219
220 Bab. 220
221 Bab. 221
222 Bab. 222
223 Bab. 223
224 Bab. 224.
225 Bab. 225
226 Bab. 226
227 Bab. 227
228 Bab. 228
229 Bab. 229
230 Bab. 230
231 Bab. 231
232 Bab. 232
233 Bab. 233
234 Bab. 234
235 Bab. 235
236 Bab. 236
237 Bab. 237
238 Bab. 238
239 Bab. 239
240 Bab. 240
241 Bab. 241
242 Bab. 242
243 Bab. 243
244 Bab. 244
245 Bab. 245
246 Bab. 246
247 Bab. 247
248 Bab. 248
249 Bab. 249
250 Bab. 250
251 Bab. 251
252 Bab. 252
253 Bab. 253 (Part Ending)
254 Pesan Author
Episodes

Updated 254 Episodes

1
Bab. 1
2
Bab. 2
3
Bab. 3
4
Bab. 4
5
Bab. 5
6
Bab. 6
7
Bab 7
8
Bab. 8
9
Bab. 9
10
Bab. 10
11
Bab. 11
12
Bab. 12
13
Bab. 13
14
Bab. 14
15
Bab. 15
16
Bab. 16
17
Bab. 17
18
Bab. 18
19
Bab. 19
20
Bab. 20
21
Bab. 21
22
Bab. 22
23
Bab. 23
24
Bab. 24
25
Bab. 25
26
Bab. 26
27
Bab. 27
28
Bab. 28
29
Bab. 29
30
Bab. 30
31
Bab. 31
32
Bab. 32
33
Bab. 33
34
Bab. 34
35
Bab. 35
36
Bab. 36
37
Bab. 37
38
Bab. 38
39
Bab. 39
40
Bab. 40
41
Bab. 41
42
Bab. 42
43
Bab. 43
44
Bab. 44
45
Bab. 45
46
Bab. 46
47
Bab. 47
48
Bab. 48
49
Bab. 49
50
Bab. 50
51
Bab. 51
52
Bab. 52
53
Bab. 53
54
Bab. 54
55
Bab. 55
56
Bab. 56
57
Bab. 57
58
Bab. 58
59
Bab. 59
60
Bab. 60
61
Bab. 61
62
Bab. 62
63
Bab. 63
64
Bab. 64
65
Bab. 65
66
Bab. 66
67
Bab. 67
68
Bab. 68
69
Bab. 69
70
Bab. 70
71
Bab. 71
72
Bab. 72
73
Bab. 73
74
Bab. 74
75
Bab. 75
76
Bab. 76
77
Bab. 77
78
Bab. 78
79
Bab. 79
80
Bab. 80
81
Bab. 81
82
Bab. 82
83
Bab. 83
84
Bab. 84
85
Bab. 85
86
Bab. 86
87
Bab. 87
88
Bab. 88
89
Bab. 89
90
Bab. 90
91
Bab. 91
92
Bab. 92
93
Bab. 93
94
Bab. 94
95
Bab. 95
96
Bab. 96
97
Bab. 97
98
Bab. 98
99
Bab. 99
100
Bab 100
101
Bab. 101
102
Bab. 102
103
Bab. 103
104
Bab. 104
105
Bab. 105
106
Bab. 106
107
Bab. 107
108
Bab. 108
109
Bab. 109
110
Bab. 110
111
Bab. 111
112
Bab. 112
113
Bab. 113
114
Bab. 114
115
Bab. 115
116
Bab. 116
117
Bab. 117
118
Bab. 118
119
Bab. 119
120
Bab. 120
121
Bab. 121
122
Bab. 122
123
Bab. 123
124
Bab. 124
125
Bab. 125
126
Bab. 126
127
Bab. 127
128
Bab. 128
129
Bab. 129
130
Bab. 130
131
Bab. 131
132
Bab. 132
133
Bab. 133
134
Bab. 134
135
Bab. 135
136
Bab. 136
137
Bab. 137
138
Bab. 138
139
Bab. 139
140
Bab. 140
141
Bab. 141
142
Bab. 142
143
Bab. 143
144
Bab. 144
145
Bab. 145
146
Bab. 146
147
Bab. 147
148
Bab. 148
149
Bab. 149
150
Bab. 150
151
Bab. 151
152
Bab. 152
153
Bab. 153
154
Bab. 154
155
Bab. 155
156
Bab. 156
157
Bab. 157
158
Bab. 158
159
Bab. 159
160
Bab. 160
161
Bab. 161
162
Bab. 162
163
Bab. 163
164
Bab. 164
165
Bab. 165
166
Bab. 166
167
Bab. 167
168
Bab. 168
169
Bab. 169
170
Bab. 170
171
Bab. 171
172
Bab. 172
173
Bab. 173
174
Bab. 174
175
Bab. 175
176
Bab. 176
177
Bab. 177
178
Bab. 178
179
Bab. 179
180
Bab. 180
181
Bab. 181
182
Bab. 182
183
Bab. 183
184
Bab. 184
185
Bab. 185
186
Bab. 186
187
Bab. 187
188
Bab. 188
189
Bab. 189
190
Bab. 190
191
Bab. 191
192
Bab. 192
193
Bab. 193
194
Bab. 194
195
Bab. 195
196
Bab. 196
197
Bab. 197
198
Bab. 198
199
Bab. 199
200
Bab. 200
201
Bab. 201
202
Bab. 202
203
Bab. 203
204
Bab. 204
205
Bab. 205
206
Bab. 206
207
Bab. 207
208
Bab. 208
209
Bab. 209
210
Bab. 210
211
Bab. 211
212
Bab. 212
213
Bab. 213
214
Bab. 214
215
Bab. 215
216
Bab. 216
217
Bab. 217
218
Bab. 218
219
Bab. 219
220
Bab. 220
221
Bab. 221
222
Bab. 222
223
Bab. 223
224
Bab. 224.
225
Bab. 225
226
Bab. 226
227
Bab. 227
228
Bab. 228
229
Bab. 229
230
Bab. 230
231
Bab. 231
232
Bab. 232
233
Bab. 233
234
Bab. 234
235
Bab. 235
236
Bab. 236
237
Bab. 237
238
Bab. 238
239
Bab. 239
240
Bab. 240
241
Bab. 241
242
Bab. 242
243
Bab. 243
244
Bab. 244
245
Bab. 245
246
Bab. 246
247
Bab. 247
248
Bab. 248
249
Bab. 249
250
Bab. 250
251
Bab. 251
252
Bab. 252
253
Bab. 253 (Part Ending)
254
Pesan Author

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!