"Bagaimana? Apa kau berhasil? Seperti apa wajah Zion Zein? Segera kirimkan fotonya!"
"Dia memakai topeng!" sahut wanita di dalam telepon. "Aku tidak berhasil mendapatkan wajahnya."
"Kau menjadikan topeng sebagai alasan?" Nada pria itu seperti menikam. Hingga wanita di seberang sana tidak berani menjawab lagi.
"Aku sudah berusaha. Aku sudah lakukan segala cara agar-"
"Aku beri waktu satu minggu. Jika dalam waktu satu minggu kau tidak berhasil menemukan wajah pemimpin geng Gold Dragon, aku akan-"
"Baiklah. Satu minggu," sahut wanita di dalam telepon. "Aku yakin satu minggu aku bisa mendapatkan foto pemimpin Gold Dragon. Tapi ... ada satu hal yang ingin aku tanyakan."
"Kau minta uang?"
"Tidak! Aku minta status. Jika aku berhasil mendapatkan foto pria itu, aku ingin kau berjanji untuk menikahiku. Bagaimana?" tawar si wanita.
Sebenarnya bisa di bilang ia sedang bertarung nyawa menanyakan pertanyaan seperti itu. Anehnya, ia memiliki keberanian untuk mengatakannya. Wanita itu butuh kepastian. Selama ini hanya dia yang tergila-gila mencintai pria tersebut. Namun, sang pria tidak pernah membalas perasaannya. Bahkan selalu memperlakukannya seperti sampah yang tidak berguna. Walau begitu, karena sudah cinta mati si wanita tetap saja mau menuruti apa yang diperintahkan pria tersebut.
Pria itu terlihat tidak suka dengan tawaran wanita di seberang sana. Tetapi, jasa wanita itu masih ia butuhkan. Ia tidak mau mengotori tangannya untuk mencari keberadaan pemimpin Gold Dragon.
"Baiklah," jawabnya walau terdengar jelas nadanya terpaksa.
"Terima kasih Austin, I love you," teriak si wanita di dalam telepon. Pria itu segera memutuskan sambungan teleponnya karena tidak mau mendengar ocehan tidak jelas yang keluar dari mulut wanita bernama Rula tersebut.
"Apa dia pikir semudah itu menikah denganku?" ujar Austin. Dia melempar ponselnya ke sofa yang ada di seberang sebelum beranjak. Pria itu melangkah menuju ke arah pintu. Dia ingin memeriksa keadaan seseorang. Ya, seseorang. Tepatnya seorang wanita cantik yang kini sedang tidur di sebuah kamar yang dipenuhi dengan camera cctv.
Austin adalah pemimpin geng mafia bernama The Bloods. Dia memiliki dendam terhadap geng Gold Dragon karena sebuah misi yang ia lakukan harus gagal di tengah jalan. Secara sengaja pemimpin geng mafia Gold Dragon yang tidak lain adalah Zion, meledakkan gudang senjata yang akan mereka gunakan untuk menyerang sebuah rumah sakit.
Memang awalnya Austin tidak ada niat menghancurkan rumah sakit tersebut. Tetapi, ketika dia tahu kalau orang yang ia cari bersembunyi di tempat yang tidak diketahui, mau tidak mau dia memerintahkan bawahannya untuk menghancurkan rumah sakit yang tidak lain adalah rumah sakit tempat Livy bekerja.
Austin hanya mendapat informasi kalau pemimpin geng Gold Dragon bernama Zion. Sisanya dia sama sekali tidak tahu. Bahkan Austin baru-baru ini aja tahu kalau Zion Zein memiliki adik perempuan yang sekolah di universitas Yale.
Austin yang sudah menculik Daisy. Tentu saja semua ini tidak dilakukannya sendiri. Ada Rula yang menjadi tangan dan kaki bagi Austin. Wanita itu yang menyusun semua rencana penculikan Daisy. Sosok Foster hanya dijadikan kambing hitam agar jejak mereka tidak ketahuan.
Austin berhenti di depan monitor yang memperlihatkan Daisy yang sedang tidur di atas ranjang berseprei putih. Ada selang infus yang sengaja di pasang dan obat yang selalu di suntikkan setiap enam jam sekali. Daisy tidak pernah bangun setelah dia di culik dari asrama. Wanita itu sengaja di buat tidur agar tidak merepotkan Austin.
"Daisy ... namanya cukup bagus. Apa dia adik kesayangan seorang Zion Zein?" gumam Austin dengan senyuman penuh arti. "Aku ingin lihat, seperti apa cerdasnya pemimpin geng Gold Dragon? Aku ingin lihat, bagaimana cara dia menemukan adiknya yang hilang tanpa jejak."
...***...
Norah memandang Nyonya Gulnora yang masih belum sadarkan diri. Wanita itu sudah menyiapkan air minum untuk Nyonya Gulnora.
"Kenapa dia lama sekali bangunnya? Seharusnya dia sudah bangun sekarang!" protes Norah tidak sabar.
"Reaksi tubuh setiap orang berbeda-beda. dia sudah tua. Wajar saja dia lama sadar. Jangan-jangan dia langsung pindah dunia. Kau yakin memukul saraf yang tepat tadi? Gak meleset kan?" ujar Zion. Pria itu memeriksa ponselnya sambil menyahuti pertanyaan yang keluar dari bibir Norah.
"Kak, jangan menakutiku! Hanya wanita ini satu-satunya orang yang bisa membantu kita menemukan Daisy. Aku tidak mau dia celaka!" sahut Norah.
Nyonya Gulnora mulai memberikan reaksi. Wanita itu memegang kepalanya yang terasa pusing sebelum membuka kedua matanya.
"Dimana ini?" tanyanya sambil memijat kepalanya yang pusing.
"Anda ada di tempat yang aman. Tidak ada lagi orang yang mengancam anda, Nyonya," sahut Norah dengan senyum ramah. Ia bersikap selembut mungkin agar Nyonya Gulnora mau membantunya.
Nyonya Gulnora menunduk. "Dimana kalungnya?"
"Sudah di buang. Maafkan kami, karena kami harus membakar ruangan tadi. Kami terpaksa melakukan semua itu agar-"
"Membakar ruang kerjaku?" sahut Nyonya Gulnora. Wajah wanita itu syok.
"Maafkan kami, Nyonya. Tapi, apa anda bisa bekerja sama dengan kami untuk menemukan Daisy?"
Zion yang terlihat tidak peduli sebenarnya sedang menguping pembicaraan Norah dan Nyonya Gulnora. Hanya saja pria itu ingin menilai bagaimana cara kerja adiknya ketika mengatasi sebuah masalah.
"Daisy?" Wajah Nyonya Gulnora berubah sedih. "Dia anak yang baik dan pintar. Kenapa dia harus mengalami hal buruk seperti ini. Anda kakak Daisy? Bukankah Daisy hanya memiliki satu orang kakak dan itu seorang pria?"
Norah menyipitkan kedua matanya. "Apa Daisy yang bilang kalau dia hanya memiliki seorang kakak?"
Nyonya Gulnora tertawa kecil. "Tidak. Hanya saja setiap kali saya memeriksa Daisy. Dia sedang menelepon seseorang. Dan dia menyebutnya dengan sebutan Kak Zion," sahut Nyonya Gulnora apa adanya.
Norah mengangguk sambil melirik ke arah Zion. "Ya, saya memang jarang menelepon Daisy. Tapi, saya yang lebih sering menjaganya!" teriak Norah agar Zion mendengarnya.
Zion hanya tersenyum saja mendengar teriakan Norah. Pria itu masih terlihat sibuk seolah sedang melakukan tugas penting.
"Itu berarti Daisy memiliki dua orang kakak? Satu laki-laki dan satu lagi perempuan?" tanya Nyonya Gulnora.
"Benar, tapi maaf. Kami tidak bisa membuka topeng kami. Identitas kami disembunyikan," sahut Norah. Dia berharap Nyonya Gulnora tidak memaksa dia dan Zion membuka topeng. Karena memang sampai saat ini juga mereka masih memakai topeng agar identitas mereka tidak diketahui.
"Baiklah. Saya bisa paham. Tapi, saya juga ingin minta tolong kepada anda. Tolong selamatkan anak-anak saya. Mereka di sembunyikan oleh seseorang," ucap Nyonya Gulnora khawatir. "Seorang wanita sempat menghubungi saya dan mengancam saya agar saya mau memakai kalung itu. Jika saya tidak menurut apa yang dia perintahkan, dia akan membunuh anak-anak saya. Saya takut kehilangan dua anak saya. Mereka masih terlalu muda. Masa depan mereka masih panjang." Wajah Nyonya Gulnora berubah sedih.
"Tenang saja. Kami sudah menemukan keberadaan mereka. Sekarang mereka berada di tempat yang aman. Nyonya Gulnora, apa anda mau memberi tahu kami, dimana kami bisa bertemu dengan pria bernama Foster? Kami menemukan kalung bertuliskan Foster di kamar mandi. Itu sudah menunjukkan bukti kalau Foster yang sudah melakukan semua ini."
Nyonya Gulnora mengangguk setuju. "Ya, sepertinya memang semua ini ulah Foster. Dia sangat tergila-gila dengan Daisy. Kabar terakhir yang saya dapat, sekarang Foster ada di Sapporo. Ya, Sapporo," sahut Nyonya Gulnora.
"Sapporo?" Norah mengeryitkan dahi. Ia memandang Zion yang kini juga memandang ke arah dirinya. "Apa kita harus meminta bantuan Grandna?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 254 Episodes
Comments
Aleta Henderinahauteas
wahhh kangen nih sama serena
2024-03-29
0
🌼 Pisces Boy's 🦋
grandna Serena kami merindukan aksi mu yang memukau🤩🤩🤩
2022-12-28
0
Maia Mayong
ksian foster jd kmbing hitam
2022-11-13
2