Rula menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang. Kepalanya terasa pusing ketika dia tidak berhasil mendapatkan petunjuk apapun mengenai Zion Zein. Kali ini misinya memang sangat sulit. Tidak ada pilihan lain selain pulang ke rumah. Rula butuh ketenangan agar ia bisa berpikir jernih mengenai masalah ini. Gagal belum pernah ada di dalam kamus Rula. Dia yakin, dia pasti akan berhasil mendapatkan foto asli Zion Zein.
Suara ketukan pintu membuat Rula semakin mencari posisi nyamannya. Sepertinya wanita itu sudah tahu siapa yang datang.
"Kakak, apa kakak di dalam? Aku masuk ya?" Pintu terbuka.
Esme masuk ke dalam kamar dan tersenyum ramah melihat Rula. "Kakak sudah pulang? Jam berapa kakak sampai rumah?" Wanita itu segera naik ke atas tempat tidur dan berbaring di samping Rula. Ia terlihat sangat bahagia.
"Kak, aku kangen kakak. Kakak pulang kok gak bilang-bilang sih!" protes Esme. "Apa kakak pulang karena kakak tahu kalau hari ini aku juga pulang ke rumah?"
Rula hanya bersikap cuek dengan mata terpejam seolah Esme tidak ada. Wanita itu mengangkat satu tangannya di atas kepala agar tidak tidak terkena cahaya lampu secara langsung. Bersikap bodoh amat terhadap ocehan yang keluar dari mulut adiknya Esme.
Ya, Esme yang tidak lain adalah sahabat Daisy itu adalah adik kandung Rula!
"Bagaimana dengan pria yang kakak suka? Apa kakak berhasil mendapatkan hatinya?"
"Esme, berhentilah berbicara. Aku lelah! Aku ingin istirahat. Bukan mendengar ocehan tidak jelasmu itu!" ketus Rula. Wanita itu memiringkan tubuhnya hingga posisinya membelakangi Esme. Esme yang kesal dan sakit hati segera beranjak dari tempat tidur. Wanita itu berdiri di sana dengan tangan terlipat di depan dada.
"Seperti ini ucapan terima kasih dari kakak? Kakak lupa kalau aku juga sudah berjuang selama ini untuk membantu kakak? Tanpa bantuanku, kakak tidak akan berhenti menangkap Daisy!"
Rula kembali emosi mendengar ocehan adiknya. Wanita itu duduk di atas tempat tidur dan menatap Esme dengan tatapan menikam. "Apa yang kau inginkan? Kau ingin uang? Hem?" Rula mengambil dompetnya dan melempar beberapa lembar uang ke depan wajah Esme. "Ambil semua dan gunakan sesuka hatimu!"
Esme menangis. Dia merasa terhina. Bukan mengutip lembaran uang di lantai, justru wanita itu berlari pergi meninggalkan kamar. Rula masih bersikap tidak peduli. Wanita itu kembali berbaring untuk melanjutkan istirahatnya yang telah tertunda.
Esme masuk ke dalam kamarnya dan memeluk boneka beruang cokelat yang ada di sana. Wanita itu kembali ingat dengan apa yang sudah ia lakukan selama ini untuk membantu kakaknya menangkap Daisy tanpa diketahui siapapun.
Beberapa hari yang lalu.
Esme masuk ke dalam kamar setelah dia bertemu dengan Daisy. Dia tersenyum melihat kakaknya Rula ada di dalam kamar. Wanita itu duduk di kursi dengan kaki terlipat. Menatapnya dengan sorot mata yang tajam.
"Bagaimana? Apa wanita itu ada di kamarnya? Aku tidak memiliki waktu lagi. Sekarang adalah waktu yang tepat untuk menangkapnya. Bersikaplah seolah kau sahabat Daisy. Sahabat terbaiknya. Dengan begitu, kau bisa membantuku mendapatkan informasi tentangnya," ujar Rula tanpa memandang.
"Aku sudah melakukan apa yang kakak perintahkan," ucap Esme dengan wajah takut.
"Bagus!" Rula beranjak dari kursi yang ia duduki. Ketika wanita itu melangkah menuju ke pintu, Esme memegang tangannya dengan wajah khawatir.
"Kak, apa yang mau kakak lakukan? Apa ini akan membahayakan kakak?"
"Berhentilah merengek!" Rula menghempaskan tangan Esme dan pergi meninggalkan kamar. Esme hanya diam saja di dalam kamar dengan perasaan khawatir.
Esme melangkah ke jendela. Di sana ia melihat beberapa orang latihan menembak. Karena memang di dekat asrama mereka ada arena latihan menembak. Di waktu yang bersamaan, terdengar suara tembakan dari kamar Daisy. Esme yakin tidak akan ada yang curiga karena semua orang berpikir suara itu berasal dari arena latihan. Di tambah lagi, mahasiswi yang ada di lorong itu rata-rata menghidupkan music dan memiliki ruangan kedap udara.
Pintu kembali terbuka. Rula membawa tubuh Daisy yang kini terbungkus kain berwarna merah. Dia meletakkan tubuh Daisy di atas tempat tidur dan membalut lukanya dengan perban.
"Kak, apa yang kakak lakukan? Kenapa tangan Daisy terluka?"
"Diamlah. Cepat keluar dan alihkan perhatian semua orang. Pastikan tidak ada yang curiga. Jangan sampai ada yang masuk ke dalam kamar ini. Aku akan sudah menghubungi polisi. Jika polisi tiba, kau pura-pura pingsan dan tidak tahu apa-apa!" ujar Rula. Esme hanya mengangguk saja. Ia segera keluar untuk memeriksa keadaan di depan.
***
Esme menutup wajahnya dengan bantal. Rasanya dia sekarang menyesal sudah membuat Daisy terluka. Wanita itu sangat baik padanya. Bahkan sangat mempercayainya. Bagaimana bisa Esme berkhianat. Tapi, mau bagaimana lagi? Rula tidak akan menganggapnya sebagai adik lagi jika dia tidak mau menuruti apa yang diperintahkan oleh Rula.
"Daisy ... maafkan aku. Aku juga tidak tahu sebenarnya apa yang sudah direncanakan kak Rula sampai dia mencelakaimu. Tapi, percayalah kalau Kak Rula tidak akan melukaimu. Kak Rula seperti ini karena dia ingin mendapatkan perhatian dan cinta dari pria yang ia puja-puja selama ini. Jangan marah sama aku ya Daisy?" gumam Esme di dalam hati.
Esme kembali ingat dengan kalung Foster yang sengaja ia ambil dari kamar pribadi Foster dan ia lemparkan di kamar mandi. Wanita itu menghela napas panjang dengan peraturan tidak tenang.
"Bagaimana kalau Kak Foster tahu kalau aku yang sudah mengambil kalung itu dari kamarnya dan meletakkannya di kamar mandi Daisy? Bagaimana ini? Bukankah Kak Foster orang yang berkuasa? Memang malam itu aku menggunakan topeng. Tapi ...." Esme menggeleng dengan wajah ketakutan. "Tidak. Aku yakin Kak Foster tidak akan menuduh aku. Sekarang aku harus pikirkan cara agar Lyn yang menjadi tersangka. Bukankah dia selalu bermusuhan dengan Daisy? Aku yakin, Kak Foster pasti akan langsung menuduh Lyn sebagai dalang dari masalah ini."
Esme berusaha kembali tenang. Sebenarnya dia juga tidak mau sampai melibatkan banyak orang seperti ini. Tetapi mau bagaimana lagi? Dia harus mencari orang lain untuk dijadikan kambing hitam agar Foster tidak menangkapnya dan menghukumnya karena sudah terlibat dalam hilangnya Daisy.
Jangankan Esme. Satu Universitas Yale juga sudah tahu bagaimana gilanya Foster terhadap Daisy. Dan bagaimana cemburunya Lyn terhadap Daisy. Semua ini bukan sekedar kebetulan semata. Esme akan memanfaatkan kecemburuan Lyn dan cinta Foster untuk melindungi dirinya sendiri kali ini.
"Semoga saja rencana Kak Rula berhasil agar dia bisa segera menikah dengan pria pujaannya itu dan aku tidak perlu pusing membantunya mencar informasi tentang Daisy dan keluarganya."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 254 Episodes
Comments
🌼 Pisces Boy's 🦋
ternyata o ternyata Esme kamu penghianat
2022-12-28
1
Santi Rahma
ternyata oh nyatater selimut berbulu domba🤨🤨🤨🤨
2022-12-18
0
Fadilah Herbalis Nasa
sahabat penghianat esme
2022-10-24
2