Zion dan Norah berdiri di sebuah gedung sambil memandang kegelapan malam. Langit terlihat mendung seperti sedang sedih atas hilangnya Daisy. Kakak adik itu terdiam sambil memikirkan nasip adik mereka saat ini. Seumur hidup mereka, malam ini adalah malam paling sedih yang pernah mereka alami. Apapun yang sudah terjadi di kamar itu, mereka berharap adik mereka masih hidup.
Daisy memang wanita yang pintar. Namun, dia tidak setangguh Norah dan Zion. Tahunya hanya nangis ketika sakit. Mudah menangis. Sangat manja dan yang pasti dia gadis yang lembut. Jangankan melukainya, berkata kasar saja di depannya Zion dan Norah tidak sanggup. Walaupun Daisy yang buat masalah duluan. Mereka berdua selalu ngalah jika sudah berhubungan dengan Daisy. Entah apa yang kini dirasakan Daisy. Mereka sudah tahu, pasti adik kecil mereka itu sedang menangis dan sangat ketakutan.
"Ini darah yang aku ambil dari kamar mandi. Ada genangan darah di sana. Semoga saja darah ini bukan milik Daisy," ucap Zion sambil memberikan sampel darah yang ia dapat kepada Norah.
Norah memandang botol kecil itu sebelum mengambilnya. "Aku akan meminta Kak Livy untuk memeriksanya."
"Jangan!" tolak Zion. "Aku tidak mau masalah ini sampai ke telinga Livy. Terlebih lagi Mommy dan Daddy. Ini akan jadi rahasia kita berdua. Kita harus bisa membawa Daisy pulang ke rumah."
"Tapi, waktunya sebentar lagi," protes Norah. Menang tidak lama lagi Leona dan Jordan akan mengadakan pesta perayaan hari jadi pernikahan mereka. Sudah pasti semua orang di undang dan anak-anak mereka harus hadir. Norah takut nantinya Jordan dan Leona menanyakan keberadaan Daisy.
"Kita masih punya waktu," sahut Zion berusaha tetap tenang.
"Mommy dan Daddy bisa membantu kita untuk segera menemukan Daisy!" Norah masih bersih keras memberi tahu masalah ini kepada Leona dan Jordan. Orang tua kandung mereka. Rasanya apapun masalahnya, entah itu berat atau masalah sepele. Norah tidak akan bisa tenang sebelum kedua orang tuanya mengetahuinya.
"Tidak, Norah! Daddy akan kecewa padaku! Aku sudah gagal menjaga adikku!" protes Zion.
Pria itu mengepal kuat tangannya. Entah seperti apa rasa bersalah yang kini ia rasakan. Ia seperti ingin berteriak sekerasnya untuk melampiaskan rasa kesal itu. "Aku kakak yang tidak berguna! Adikku hilang di depan mataku!"
Zion mendekati dinding dan tanpa pikir panjang ia memukulkan tangannya yang terkepal dengan sekuat tenaga. Berulang kali! Sampai-sampai kulit tangannya pecah dan mengeluarkan darah. Dinding itu berwarna merah ketika darah segar mengalir jari jari-jari Zion.
Norah tidak bisa membendung air matanya. Sekuat apapun dia! Dia hanya seorang wanita. Memiliki hati dan rasa tidak tega. Wanita itu berlari untuk mencegah Zion agar tidak menyakiti dirinya sendiri lagi.
"Kakak, sudah Kak! Sudah!" Norah menarik tubuh Zion agar tidak terus menerus memukul dinding beton tersebut. Sayangnya Zion seperti orang kesetanan. Pria itu terus saja menyakiti dirinya sendiri untuk melampiaskan rasa bersalahnya terhadap Daisy.
"KAKAK!" teriak Norah. Wanita itu berdiri di depan Zion. Zion menahan pukulannya ketika melihat wajah Norah dipenuhi dengan genangan air mata. "Jangan seperti ini. Kita harus bersatu kak. Daddy tidak akan marah sama kakak. Percaya padaku."
"Aku tidak akan mengajakmu dalam misi pencarian Daisy juga kau berani menceritakan semua ini sama Mommy dan Daddy!" ancam Zion. "Aku akan mencari Daisy dengan bantuan Gold Dragon!"
Norah kali ini menyerah. "Baiklah. tapi, jika di ulang tahun pernikahan mommy dan Daddy nanti Daisy belum juga ditemukan. Aku akan memberi tahu masalah ini sama Mommy dan Daddy. Tidak peduli kakak setuju atau tidak!"
Zion mengangkat tangannya dan menghapus air mata yang tersisa di pipi Norah. "Jangan menangis. Jika kau meneteskan air mata seperti ini, aku akan semakin bersalah karena tidak bisa menjaga adikku dengan baik."
Norah mengangguk. Justru ucapan Zion membuatnya semakin ingin menangis. Wanita itu memeluk Zion dan menangis sejadi-jadinya. "Kita pasti akan menemukan Daisy. Daisy pasti baik-baik saja."
Zion memejamkan matanya. "Kita pasti bisa menemukan Daisy!"
...***...
Polisi melakukan pemeriksaan di kamar Daisy. Semua mahasiswi yang ada di lorong kamar itu di pindahkan ke gedung lain. Lokasi itu di kosongkan untuk mempermudah pemeriksaan.
Nyonya Gulnora masih belum bisa tenang. Di sampingnya ada seorang dosen yang kini membantu menenangkan Nyonya Gulnora.
"Tenanglah, Nyonya. Semua akan baik-baik saja."
"Bagaimana dengan darah di kamar ini? Kekacauan ini! Apa yang harus aku katakan kepada orang tua Daisy jika mereka menanyakan kabar putri mereka?"
Dosen wanita itu mengeryitkan dahi. "Anda kenal dengan orang tua Daisy? Dimana mereka? Kenapa mereka tidak pernah terlibat? Apa mereka tinggal di kota ini?"
Nyonya Gulnora terdiam. Dia sudah keceplosan. Rahasia tentang Daisy tidak boleh banyak yang tahu. Semakin banyak yang tahu, maka semakin banyak orang yang tertarik untuk mencari tahu.
"Maksud saya ... orang yang mendaftarkan Daisy ke Universitas ini. Mereka pasti akan mengkhawatirkan keadaan Daisy jika tahu keadaannya sekarang seperti ini."
"Saran saya tidak perlu diberi tahu. Nanti, kita tunggu keputusan polisi saja dulu bagaimana hasilnya. Jika memang Daisy sudah ditemukan dan dinyatakan tidak bernyawa, baru kita beri tahu orang terdekat Daisy. Ya, saya tahu Daisy mahasiswi yang berprestasi dan cukup membanggakan. Tapi, dia selalu menjadi saingan Lyn. Anda pasti tahu, bagaimana pentingnya keluarga Lyn untuk kemajuan universitas kita ini."
Nyonya Gulnora geleng-geleng mendengar perkataan dosen wanita tersebut. "Anda benar-benar tidak punya hati! Anda seorang wanita! Seorang ibu! Apa seperti ini respon anda ketika anda tahu kalau putri anda dalam bahaya?" ujar Nyonya Gulnora dengan emosi tertahan.
"Keadaannya akan berbeda. Karena di dunia ini orang yang paling penting yang berhak di utamakan. Anda juga jangan lupa Nyonya Gulnora! Anda di gaji dari uang yang berasal dari donasi keluarga Lyn!"
Dosen wanita itu segera pergi ketika Nyonya Gulnora tidak lagi bisa di ajak kerja sama. Ketika Nyonya Gulnora ingin memaki dosen itu, tiba-tiba seorang polisi sudah berdiri di samping Nyonya Gulnora.
"Saya menemukan banyak darah di sekitar kamar. Tetapi, tidak ada jejak apapun dari jendela maupun dari pintu. Kalau memang mahasiswi itu sempat di siksa di dalam kamar ini, seharusnya dia tetap ada di dalam kamar. Karena jejaknya benar-benar tidak terlacak," ujar polisi itu apa adanya.
"Pak, tolong bantu saya menemukan mahasiswi saya. Dia sangat berarti bagi saya," pinta Nyonya Gulnora dengan wajah memohon.
"Kami akan terus melakukan pencarian sampai korban ditemukan. Anda tenang saja, Nyonya!"
Entah kenapa Nyonya Gulnora merasa ada yang aneh dari sikap polisi yang ada di depannya. Polisi itu seperti tidak serius menangani kasus ini. Seolah-olah dia datang ke TKP bukan karena peduli, tetapi karena sekedar formalitas saja.
"Untuk beberapa hari ke depan, tidak diperbolehkan siapapun masuk ke kamar ini. Kami permisi dulu, Nona," ucap polisi itu lagi sebelum pergi bersama rekannya yang lain.
Setelah polisi itu sedikit menjauh, Nyonya Gulnora berteriak lagi.
"Pak polisi, kalau boleh saya tahu. Siapa yang sudah menghubungi anda?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 254 Episodes
Comments
kusgrisela
aku senang menemukan novel ,soalnya lama sekali aku sdh baca tamat kisah orangbtuanya dan kakek neneknya sampai lupa nama authornya,lalu aku cari" kisah mafia di novelthon dan ketemu lagi sama karya mbk Sisca nasti dan ini yg aku tunggu" kisah anak" nya Leona dan Jordan kyk ketemu hadiah yg TDK disangka" 🥰🥰😍
2024-01-31
0
🌼 Pisces Boy's 🦋
bisa rata kampus dibuat grandpa Zeroun dan Grandma Serena saat tau cucu mereka diculik
2022-12-28
0
Maia Mayong
nyonya gulnora kenal ma leona n jordan knp ga kenal ma zion.
2022-11-13
2