Sapporo
Di sebuah rumah mewah, seorang pria baru saja keluar dari kamar tidur. Penampilannya sangat rapi dan wangi. Beberapa pelayan yang tadi sempat membantunya bersiap kini sudah pergi meninggalkan kamar.
Baru beberapa meter menjauh dari kamar, pria itu sudah di sambut oleh seorang wanita cantik berambut pendek. Wanita itu membawa setumpuk berkas dan berjalan mengejarnya dari belakang. Agak kesulitan memang. Sepatu high heels nya sangat tinggi dan beban yang ia bawa lumayan banyak. Namun, pria itu sama sekali tidak peduli. Bahkan bersikap seolah wanita itu tidak ada.
"Tuan, beberapa gedung yang ingin kita resmikan beberapa hari lagi mengalami kendala. Sepertinya acara peresmian gedung baru harus di tunda!" ujar seorang wanita sambil terus mengikuti pria yang kini berjalan di depannya. Sesekali dia merapikan berkas di tangannya yang hampir terjatuh.
"Aku tidak mau tahu. Peresmian gedung harus segera dilaksanakan sesuai dengan tanggal yang telah ditentukan!" ujar pria tersebut tanpa mau tahu bagaimana kesulitan yang akan dihadapi bawahannya. Dia selalu mendapatkan apa yang ia inginkan. Semustahil apapun itu, pasti bisa terjadi.
Wanita itu mengeryitkan dahi mendengar permintaan tidak masuk akal atasannya. "Tapi, Tuan-"
Pria itu berhenti hingga membuat si sekretaris juga ikut berhenti dan menunduk ketakutan. "Akan ada masalah di bagian lift. Ini sangat berbahaya. Mengingat, acara akan dilaksanakan di lantai atas dan semua tamu harus menggunakan lift," jelas wanita itu berharap atasannya mau mengerti. Sejauh ini usahanya sudah optimal. Namun, memang gedung baru itu belum siap untuk beroperasi.
Pria itu mendengus kesal. Sebenarnya memang seharusnya gedung baru itu masih tahap pengerjaan. Selesainya bisa memakan waktu hampir satu bulan lagi. Tetapi, dia meminta semua pekerja untuk menyelesaikannya dalam waktu satu minggu. Sungguh permintaan yang mustahil. Walau mereka bekerja siang malam juga tidak akan sanggup.
"Aku harus segera ke Universitas Yale! Masa depanku ada di sana! Apa kau mengerti apa yang ku maksud?" teriaknya kesal. Dia memijat dahinya sebelum mengibaskan tangannya. "Pergilah. Jangan ganggu aku! Acara tetap di laksanakan ada atau tanpa lift! Pindahkan saja acaranya di lantai bawah! Dengan begitu tidak ada masalah lagi."
"Baik, Tuan," sahut wanita itu. Dia sudah tidak tahu bagaimana caranya menjelaskan persoalan yang terjadi kepada atasannya. Hingga akhirnya ia lebih memilih untuk menyiapkan acara tersebut agar bisa berlangsung sukses walau gedung belum siap di tempati.
Si pria masuk ke dalam ruangan pribadinya. Dia melangkah dengan begitu gusar sebelum duduk di kursi putar yang ada di dekat jendela. Kakinya di angkat ke meja dan dia mengambil ponselnya sambil mendengarkan musik.
Tiba-tiba saja ujung senjata api mendarat di pelipis kirinya. Pria itu mematung untuk sejenak. Ia bahkan belum berani memandang ke samping. Rasa dingin benda yang biasa mengeluarkan api itu seperti membuat tubuhnya mematung. Bagaimana bisa ada orang yang berani menyentuh kulitnya dengan senjata berbahaya seperti itu. Bukankah gedung ini sudah dilengkapi dengan keamanan yang canggih?
"Kau yang bernama Foster?"
Pria itu mengangguk pelan. Kali ini dia memberanikan diri memandang ke samping ketika mendengar suara wanita di sampingnya.
Norah berdiri dengan topeng dan tatapan yang begitu menikam. Wanita itu seperti sudah tidak sabar menghabiskan musuh di depannya.
"Ya, lalu anda?"
Foster melakukan hal yang sama kali tidak terduga. Pria itu tiba-tiba saja berdiri dan menodongkan senjata api di hadapan Norah. Bahkan hal yang membuat Norah kaget, senjata milik Foster jauh lebih canggih dari senjata miliknya.
"Siapa anda? Ini rumah saya. Berani sekali anda masuk ke rumah orang lain tanpa izin. Anda mau mati?" ancam Foster. Kali ini pria itu juga melempar tatapan tajam ke arah Norah. Dia seperti sudah tidak sabar untuk menghukum wanita yang telah lancang memasuki wilayahnya tersebut.
"Dimana Daisy?" tanya Norah tanpa mau basa basi. "Serahkan dia, maka anda akan aman."
Zion yang kini mengamati Norah dan Foster dari gedung lain, hanya bisa bersiap-siap menembak jika keadaan adiknya dalam bahaya. Sambil mengamati apa yang terjadi, pria itu juga mendengar apa yang dibicarakan oleh Norah dan Foster melalui alat yang telah mereka siapkan.
"Daisy?" Foster mengeryitkan dahi. Bagaimana bisa wanita di depannya ini mengenal Daisy? Itu nama wanita yang sangat dicintai Foster. Dipuja-puja setiap waktu. Bahkan sampai saat ini selalu dirindukan kehadirannya. Daisy adalah nama wanita yang ingin segera ditemui Foster. "Apa yang terjadi pada Daisy?"
Ketika Foster lengah, Norah memanfaatkan itu untuk mengalahkan Foster. Wanita itu merebut senjata Foster dan memelintir tangan pria itu hingga berada di belakang. "Jangan berakting di hadapanku! Aku tahu kau pria yang tergila-gila pada Daisy sampai memiliki niat untuk menculiknya!" bisik Norah dengan emosi tertahan.
"Tunggu! Daisy hilang? Siapa yang berani melakukan semua ini?" Foster lagi-lagi memasang ekspresi wajah seperti pria bodoh. Dia masih tidak habis pikir kalau wanita pujaannya kini hilang karena di culik seseorang.
"Berhenti bersikap bodoh! Katakan atau aku akan-"
Norah tidak sempat melanjutkan kalimatnya ketika pintu terbuka dan segerombolan pria bersenjata masuk ke ruangan tersebut. Mereka seperti tahu kalau atasan mereka dalam bahaya.
Foster merasa tenang melihat bawahannya datang untuk menolong. Namun, pria itu tidak bisa diam saja mendengar Daisy hilang.
"Kita bicara baik-baik. Sepertinya anda sudah salah paham. Saya tidak mungkin menculik Daisy," ucap Foster berharap lawannya kali ini percaya.
Satu pria tertembak ketika Zion melepas pelurunya. Foster memandang ke jendela yang kacanya bolong sebelum tersenyum tipis.
"Cara seperti ini tidak akan berhasil!" ledek Foster. Dia memberikan kode kepada bawahan hingga kaca jendela tertutup dan berlapis kaca anti peluru. Norah yang merasa terjebak memilih untuk bertarung melawan Foster dan yang lainnya. Ia percaya kalau Zion akan segera tiba untuk menolongnya.
"Kau cari mati!" ujar Norah sebelum memukul Foster. Tetapi, pukulannya meleset. Foster ternyata cukup handal dalam bela diri. Pria itu tidak ada niat untuk bertarung. Ia hanya butuh informasi tentang Daisy.
"Aku akan menemukan Daisy! Tenanglah. Seseorang menjebakku!" ucap Foster dengan nada kuat.
Bawahan Foster maju untuk membantunya. Norah tetap tidak mau di ajak kerja sama. Wanita itu menghajar satu persatu orang yang mendekatinya. Foster mundur dan mengambil ponselnya. Pria itu pergi begitu saja tanpa peduli dengan Norah yang sedang bertarung dengan bawahannya.
"Halo, apa yang terjadi dengan Daisy? Semua baik-baik saja kan?" Ada penekanan di nada bicara Foster.
"Daisy hilang. Kamarnya dipenuhi dengan darah," jawab lawan bicara Foster.
"APA?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 254 Episodes
Comments
🌼 Pisces Boy's 🦋
wow Foster sultan dan bukan orang sembarang mantaaaf jodoh Daisy😁
2022-12-28
1
Fadilah Herbalis Nasa
makin menegangkan dan seru
2022-10-24
2
Sehrazat
Waaaaaaduuh
2022-10-15
1