Zion dan Norah berada di dalam mobil yang sama. Norah membersihkan tubuhnya yang kotor terkena debu ketika tadi dia jatuh terguling di tanah saat bertarung bersama anak buah Foster. Bukan hanya bajunya saja yang kotor. Rambutnya juga kotor dan berantakan.
Norah membuka ikat rambutnya sebelum membersihkan sampah yang melekat di rambut. Wanita itu menggunakan cermin kecil yang ada di mobil. Dia terlihat kesal melihat rambutnya kotor. Belum pernah dia bertarung sampai sekotor ini sebelum.
"Kenapa sampahnya sulit dibersihkan! Aku menyesal memilih jatuh di tempat tadi. Sangat kotor dan menjijikkan. Bagaimana bisa rumah semewah dan sebesar itu memiliki tumpukan sampah yang begitu banyak!" umpat Norah kesal. Ingin sekali dia kembali ke rumah Foster dan menghajar orang-orang yang sudah membuatnya seperti ini. Tadi memang pertarungan belum selesai ketika Zion mengajaknya pergi.
"Foster! Akan aku ingat namanya. Ini tidak akan jadi pertemuan terakhir kita. Aku akan menghajarmu nanti ketika Daisy sudah ditemukan. Tanpa bantuan Kak Zion, aku yakin aku pasti menang," gumam Norah lagi.
Wanita itu terus saja mengumpat Foster karena sudah membuatnya kotor seperti ini. Sayangnya, Foster tidak ada di lokasi pertandingan tadi. Pria itu hilang entah kemana. Membiarkan Norah di keroyok oleh anak buah miliknya. Padahal kalau Foster ada di sana, suasana akan semakin ramai. Norah tidak akan membiarkan Foster lolos begitu saja. Belum lagi Zion. Pria itu tidak akan membiarkan adiknya dalam bahaya.
"Pria brengsek! Pria pengecut! Beraninya main keroyokan! Apa dia takut kalah? Sepertinya dia tidak percaya dengan kemampuannya sendiri maka dari itu dia menghubungi anak buahnya untuk membantunya!" umpat Norah untuk kesekian kalinya. Hanya suara wanita itu yang kini memenuhi mobil. Dia mengikat lagi rambutnya sebelum menutup cermin yang ada di depan.
Zion hanya fokus ke laju mobilnya. Pria itu terus saja memikirkan keadaan Daisy sampai tidak mempedulikan ocehan yang keluar dari mulut Norah. Dia sudah mengirim orang untuk memeriksa rumah tempat Foster berada. Namun, anak buah Zion tidak ada yang berhasil menemukan keberadaan Daisy. Entah dimana wanita itu disembunyikan. Seperti itulah jalan pikiran Zion saat ini. Dia tidak sadar kalau sebenarnya Foster tidak terlihat dalam hilangnya Daisy.
"Kalau saja sejak awal aku tahu di rumah itu ada banyak penjaga dan pria bernama Fores itu jago bela diri, maka aku lebih memilih menjadi sniper saja," ujar Norah kesal. "Kakak saja yang langsung menemuinya!"
"Sudah aku bilang sejak awal. Biar aku yang menemuinya," sahut Zion tanpa mau memandang. "Kau begitu keras kepala Norah! Bahkan jauh lebih keras kepala dari Daisy!"
Norah melipat kedua tangannya. "Kenapa kakak tidak bilang kalau ternyata Foster jago bertarung?"
"Aku juga tidak tahu," jawab Zion dengan santai. "Tapi, melihat dia bertarung seperti tadi membuatku semakin yakin kalau Daisy memang disembunyikan olehnya. Dia bukan pria kaya seperti pada umumnya. Yang dominan anak manja. Pria itu sulit di tebak. Kita harus memiliki rencana yang matang jika ingin mengalahkannya."
Zion terlihat serius. Hal itu menandakan kalau memang masalah mereka sangat serius. Musuh yang tadinya di pikir hanya musuh yang kemah ternyata juga memiliki kemampuan yang sama seperti mereka. Padahal dari data yang di dapat oleh pasukan Gold Dragon, Foster terkenal sebagai pria lemah. Anak mami dan sama sekali tidak tahan sakit. Itu yang membuat Zion dan Norah tidak menyangka kalau Foster ternyata jago bela diri.
Norah membayangkan pertemuannya dengan Foster tadi. Wanita itu kembali ingat satu ekspresi Foster yang membuatnya sendiri juga bingung.
"Dia sepertinya juga kaget ketika tahu Daisy hilang. Apa mungkin dia yang melakukan semua ini? Bagaimana kalau kita salah sasaran? Bukankah kemungkinan seperti itu bisa saja terjadi?" ucap Norah.
"Kita tidak akan salah sasaran selama benda ini ada di tangan kita." Zion memamerkan kalung milik Foster yang ia temukan di kamar Daisy. "Kita bisa gunakan benda ini untuk membuatnya mengaku!" Dia tidak akan bisa menghindar lagi karena barang bukti sudah di tangan kita."
"Kakak yakin akan berhasil?" tanya Norah dengan wajah kurang yakin. "Sepertinya dia juga pria yang cerdas."
"Aku sudah mengirim orang untuk masuk ke dalam rumah Foster. Kita akan tahu, apa benar Daisy ada di rumah itu atau tidak. Aku juga sudah memasak alat pelacak di mobil yang kini di kemudian Foster. Sekarang, kemanapun pria itu pergi akan berada dalam pengawasan kita."
"Lalu, sekarang kemana pria itu pergi kak?"
Zion memberhentikan laju mobilnya. Pria itu membuka ponselnya untuk memeriksa posisi Foster berada. Alisnya saling bertaut melihat Foster berada di sebuah bandara.
"Apa yang dia lakukan di bandara? Apa dia ingin kabur dari kita?" umpat Zion kesal.
"Kak, aku akan meminta seseorang untuk memeriksa negara mana yang ingin dia kunjungi. Dengan begitu, kita tetap bisa mengikutinya."
"Apa kau bisa melakukannya?" tanya Zion dengan sedikit keraguan di wajahnya. Adiknya itu tidak terlalu pintar dalam tekhnologi. Bisa di bilang, Daisy jauh lebih unggul jika dalam bidang tekhnologi jika dibandingkan dengan Norah.
Norah tertawa kecil mendengar ledekan kakaknya. "Aku minta bantuan Kak Livy," jawabnya malu-malu.
Zion menaikan satu alisnya. "Kalian sudah berteman lagi?"
"Sepertinya bermusuhan dengan saudara sendiri tidaklah baik. Jadi, aku putuskan untuk memaafkannya tadi malam." Norah memandang ke layar ponselnya lagi.
"Bukankah memang sejak awal kau yang salah?"
"Kakak!" protes Norah.
"Lanjutkan. Aku ingin Daisy segera ditemukan." Zion melajukan mobilnya lagi. Pria itu tidak mau menyia-nyiakan sedetikpun. Dia hanya ingin Daisy segera ditemukan. Minimal mendapat petunjuk yang jelas atas keberadaan Daisy saat ini.
"Halo Kak Livy, Kak bisakah kakak bantu aku? Aku sudah mengirimkan apa-apa saja yang harus kakak lakukan. Apa kakak bisa memberiku informasi itu secepatnya?"
"Baiklah. Setelah ini aku akan membaca pesanku, Norah. Aku juga akan membantumu," jawab Livy.
"Terima kasih, Kak."
"Bagaimana dengan Daisy? Apa dia sudah ditemukan?"
Norah diam sejenak. "Kakak tahu kalau Daisy hilang?"
"Tentu saja aku tahu. Informasi seperti itu sangat mudah aku ketahui. Walau kalian tidak cerita, aku bisa tahu segalanya."
"Apa kakak juga sudah menyelidikinya?"
"Masih diselidiki tapi belum juga mendapat petunjuk. Hilangnya Daisy sambat misterius. Bahkan camera cctv saja tidak terbaca. Sepertinya lawan kita lumayan hebat di bidang tekhnologi," jelas Livy.
"Apa mama tahu? Apa kakak ada cerita sama Mama?"
"Tidak ada. Tapi, sepertinya Opa Zen tahu. Dia sempat meminta nomor Kak Zion yang baru. Mungkin tidak lama lagi dia akan menghubungi kalian."
"Apa? Opa Zein tahu kalau Daisy hilang?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 254 Episodes
Comments
Aleta Henderinahauteas
opa Zein 😘😘
2024-03-29
0
wiens
wah opa Zen tambah hot sekarang, kangen niiihhh
2023-03-21
1
🌼 Pisces Boy's 🦋
opa Zein kami kangeeeeeen🤩🤩
2022-12-28
0