Sayang, aku harus pulang, aku takut Bian mencariku kalau aku pergi terlalu lama," seru Ririn.
"Jadi kamu lebih mementingkan Bian dibandingkan aku?"
"Bukanya begitu sayang, kalau Bian sampai curiga dan tahu akan hubungan kita, bisa-bisa dia marah dan aku tidak jadi mendapatkan sebagian saham itu."
"Kenapa mesti takut, bukanya dia yang sudah merebut kamu dari aku? Seharusnya yang marah itu aku, bukanya dia."
"Iya, tapi ini situasinya berbeda sayang, aku janji nanti sore aku datang lagi ke sini."
"Janji ya, awas kalau kamu bohong."
Ririn pun segera mengambil tasnya dan dengan terburu-buru langsung meninggalkan apartemen Bima.
"Mudah-mudahan saja Bian tidak curiga," batin Ririn.
Ririn dengan cepat menghentikan taksi dan segera pulang menuju kediaman Ganendra. Sedangkan Bian baru saja sampai di rumahnya, untungnya Papinya sudah pergi ke kantor dan Maminya entah ke mana soalnya kalau mereka tahu Bian pulang tanpa Ririn, Bian akan bingung apa yang harus dia jawab.
"Astaga, Ririn ke mana?" gumam Bian.
Bian terus saja menghubungi ponsel Ririn namun sayang ponsel Ririn mati, beberapa saat kemudian sebuah mobil berhenti di depan rumahnya dan Bian mengintip dari jendela ternyata itu adalah Ririn.
Ririn pun dengan cepat masuk ke dalam rumah, tapi betapa terkejutnya Ririn saat melihat Bian yang sudah menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Bi-bian."
"Kamu dari mana?"
"Aku..aku..dari rumah Mama Bi, soalnya tadi pagi aku mendapat kabar kalau Papa sakit," dusta Ririn.
"Oh, jadi Papa sakit? Kenapa kamu tidak membangunkanku dan mengajakku?"
"Ah, itu karena aku lihat tadi kamu tidur nyenyak sekali jadi aku gak enak untuk membangunkanmu, maafkan aku Bi," seru Ririn dengan bergelayut manja di lengan Bian.
Bian hanya sedikit menyunggingkan senyumannya karena dia tahu kalau Ririn sedang berbohong, tapi Bian tidak tahu Ririn berbohong untuk apa dan mau ke mana yang jelas Bian akan menyelidikinya.
Bian mengajak Ririn untuk ke kamar, Ririn tahu Bian sudah sangat menginginkannya hingga Ririn pun izin kepada Bian untuk le bawah sebentar.
Ririn membuatkan jus untuk Bian dan tidak lupa Ririn memasukan obat itu ke dalam jus Bian.
"Sayang, ini jus buat kamu."
"Wah, terima kasih, sayang."
Bian pun langsung meminumnya sampai tandas, kemudian menghampiri Ririn dan mencium bibir Ririn baru saja sebentar, Bian langsung terjatuh ke atas tempat tidur dan tidak sadarkan diri.
Ririn tampak menyunggingkan senyumannya dan mengusap bibirnya yang barusan Bian cium.
"Selamat bersenang-senang, Bian," gumam Ririn.
Seperti biasa, Ririn segera melepaskan semua pakaian Bian dan menutupinya dengan selimut.
"Dasar bodoh," gumam Ririn dengan senyumannya.
Ririn pun keluar dari kamar Bian dan memilih untuk ngeteh sendirian di halaman belakang.
Beberapa saat kemudian....
"A, Aa harus janji ya, jangan pernah tinggalkan Mika."
"Iya Mika, aku janji apa pun yang terjadi, aku tidak akan pernah meninggalkanmu."
Bian menggenggam tangan Mika dan menciumnya, hingga perlahan mereka berdua pun bercinta.
"Aku sangat mencintaimu, Mika."
Seketika Bian terbangun
"Mika juga sangat mencintai, Aa."
Seketika Bian terbangun dengan memegang kepalanya yang tiba-tiba terasa berdenyut.
"Mika, siapa dia? Kenapa aku memimpikan wanita lain selain Ririn," batin Bian.
Tiba-tiba pintu kamar mandi pun terbuka, Ririn baru saja selesai mandi dan Ririn sangat terkejut saat melihat Bian yang sudah bangun.
"Bian, kamu sudah bangun?"
"Iya sayang."
Bian pun mengambil handuk yang berada di atas nakas kemudian melilitkannya di bagian bawahnya, Bian menghampiri Ririn dan mencium kening Ririn.
"Terima kasih sayang, aku sangat mencintaimu," seru Bian yang langsung masuk ke dalam kamar mandi.
***
Malam pun tiba....
Malam ini Bian mengajak Ririn untuk makan malam di luar, dan dengan terpaksa Ririn pun harus menyetujuinya walaupun saat ini Ririn malas banget untuk keluar rumah.
Mobil Bian pun sampai di sebuah restoran mewah, Ririn terpaksa mengalungkan tangannya ke lengan Bian supaya Bian bahagia.
Di saat mereka masuk ke restoran, tiba-tiba seseorang menabrak Bian. Seketika pandangan keduanya saling bertatapan, yang satu tatapan bingung dan yang satu lagi tatapan benci.
"Tunggu, bukanya kamu Bima Kusuma, ya?" seru Bian.
Ririn dan Bima saling lirik, hingga Ririn pun menganggukan kepalanya pelan sebagai isyarat.
"Ah iya, kamu Biantara Ganendra kan?"
"Astaga, apakabar Bro? Sudah lama tidak bertemu," seru Bian dengan merangkul Bima.
"Baik."
Bian melepaskan pelukannya. "Sayang, apa kamu masih ingat dengan Bima? Dia kan, teman kita juga dulu. Dulu kita kan selalu bertiga dan ke mana-mana pun selalu bertiga, apa kamu ingat?" tanya Bian kepada Ririn.
"Ah, iya aku baru ingat. Hallo apakabar?"
Ririn dan Bima pura-pura tidak saling mengenal dan saling berjabat tangan.
"Kamu mau makan di sini?" tanya Bian.
"Iya."
"Bagaimana kalau kita makan bersama saja, kebetulan kita kan, sudah lama tidak bertemu sekalian kita berbincang-bincang," seru Bian.
"Tidak usah, kalian kan mau makan malam bersama masa iya, aku ikut makan dengan kalian, aku tidak mau menjadi pengganggu," sahut Bima basa-basi.
"Enggak kok. Sayang, gak apa-apa kan kalau Bima ikut bergabung dengan kita?"
"Terserah kamu saja."
"Baiklah, ayo kita cari meja."
Ketiganya pun berjalan bersamaan dan setelah mendapatkan meja, mereka duduk dan memesan makanan.
"Sayang, aku ke toilet dulu ya."
"Iya."
Bian pun segera pergi ke toilet....
"Sayang, ngapain kamu ke sini juga?" tanya Ririn.
"Aku mau makanlah," ketus Bima.
"Kamu marah ya, sayang?" seru Ririn dengan menggenggam tangan Bima.
"Menurutmu? Memangnya aku akan bahagia kalau melihat kekasihku jalan dengan pria lain?"
"Maafkan aku sayang, aku tidak punya pilihan, kalau aku tidak mau ikut dengannya bisa-bisa Bian curiga."
Sementara itu, Bian pun keluar dari toilet dan segera melangkahkan kakinya kembali menuju Ririn dan Bima. Bian menghentikan langkahnya saat dari kejauhan, dia melihat Ririn sedang mengobrol akrab dengan Bima.
"Kok, mereka seperti sudah kenal lama dan terlihat akrab," batin Bian.
Bian tidak merasa curiga sama sekali, dia pun tersenyum dan kembali melanjutkan langkahnya. Merasa Bian mendekat, Ririn pun menggeser duduknya supaya sedikit menjauh dari Bima.
"Maaf ya, aku lama."
"Tidak apa-apa."
"Oh iya Bim, sekarang kamu kerja di mana?" tanya Bian.
"Aku punya restoran kecil-kecilan, masih kalah jauhlah kalau dibandingkan denganmu," sahut Bima.
"Apa kamu sudah menikah?"
"Mana bisa aku menikah kalau calon istriku direbut olehmu," batin Bima dengan kesalnya.
"Kok kamu diam?"
"Aku belum menikah, soalnya kekasihku di rebut oleh pria lain," sahut Bima membuat Ririn melotot.
"Hah, kok bisa?"
"Bisalah dia memang pria brengsek yang dari dulu selalu saja merebut apa pun yang jadi milikku," sahut Bima.
"Kok kamu kalah sama pria itu, rebut sajalah," goda Bian terkekeh.
"Kalau kamu menyuruhku merebutnya, aku akan merebutnya," sahut Bima dengan melirik ke arah Ririn.
Bian hanya terkekeh, dia tidak tahu kalau pria di depannya itu adalah orang yang sudah mencelakainya dan selingkuhan istrinya sendiri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments
¢ᖱ'D⃤ ̐𝙽❗𝙽 𝙶
parahhhh kolaborasi yang sangat Daebak sangat licik semoga segera kena batunya
dan untuk mika gentayangin bian terus biar inget kamu🙃
2022-12-10
1
DSN5
Nahkan malah mimpiin Mika ,bagus dong brrtii
2022-11-26
2
kayla azzahra
bian gk ingat sama sx dg mika, hedewww ....
next kak, semangat.... 🥳🥳🥳🥳🥳
2022-11-15
1