Pagi ini Bian bangun dengan mood yang sangat jelek, selain tadi malam dia memikirkan siapa pengirim pesan itu, lagi-lagi Bian bermimpi tentang wanita yang bernama Mika.
Namun anehnya, hanya suara saja yang Bian dengar sedangkan wajah Mika sama sekali tidak kelihatan. Bian masuk ke dalam kamar mandi dan mengguyur tubuhnya di bawah shower.
"Mika, siapa Mika? kenapa akhir-akhir ini aku semakin sering memimpikan wanita yang bernama Mika itu?" batin Bian.
Bian mengusap wajahnya kasar, dia juga sangat penasaran siapa pengirim pesan kepada istrinya dan istrinya memberikan nama My Love.
"Apa Ririn sudah selingkuh di belakangku?"
Beberapa saat kemudian, Bian pun keluar dari dalam kamar mandi. Bian melihat Ririn sudah rapi dan saat ini sedang merias dirinya di depan cermin.
"Kamu mau ke mana?" tanya Bian dingin.
"Seperti biasa, aku mau ke rumah Mama."
"Memangnya kalau mau pergi ke rumah Mama, harus dandan secantik itu ya?" sindir Bian.
Ririn menghentikan kegiatannya dan menoleh ke arah Bian.
"Kenapa kamu jadi rewel seperti ini, memangnya kamu mau punya istri kelihatan kucel?" kesal Ririn.
Bian yang saat ini sedang memakai kemejanya sedikit menyunggingkan senyumannya.
"Tidak bisakah, kamu diam saja di rumah dan menungguku pulang kerja?"
"Bi, please kok kamu jadi aneh seperti ini sih? biasanya juga kamu tidak banyak menuntut. Lagipula, aku bosan Bi, kalau harus menunggu kamu sampai pulang kantor nanti sore."
"Kan, di rumah kamu juga sama-sama diam gak ke mana-mana," sinis Bian.
"Ya, tapi kan kalau di rumah setidaknya ada Mama yang akan menemani aku ngobrol."
Bian tidak mau membalas ucapan Ririn lagi, pagi ini dia sedang malas bertengkar karena kalau sampai emosinya tersulut, Bian akan melakukan hal yang tidak-tidak.
Bian hanya ingin memastikannya dulu, siapa orang itu dan benarkah Ririn selingkuh di belakangnya atau tidak.
"Aku berangkat dulu, maaf pagi ini aku tidak bisa mengantarkanmu ke rumah Mama karena ada rapat penting, jadi kamu minta sopir saja antarkan kamu," seru Bian dingin.
Bian pun langsung keluar dari kamarnya tanpa menghiraukan Ririn, padahal biasanya kalau mau berangkat ke kantor akan ada drama peluk dan cium.
"Ada apa dengan Bian? kenapa pagi ini dia begitu berbeda," batin Ririn.
Ririn tidak menghiraukannya, dia melanjutkan dandannya.
Pagi ini Bian benar-benar sangat marah, entah apa yang membuatnya semarah itu. Sesampainya di kantor, Bian langsung masuk ke dalam ruangannya dan dengan cepat memanggil asistennya.
Tok..tok..tok..
"Masuk!"
"Apa Tuan memanggil saya?" seru Irwan.
"Irwan, aku punya kerjaan untukmu. Tolong kamu awasi istriku, ikutin ke mana pun dia pergi karena aku merasa curiga dengannya," seru Bian.
"Baik Tuan."
"Sekarang kamu boleh pergi, ke rumahku karena ARTku bilang, kalau Ririn masih di rumah belum pergi."
"Baik Tuan, kalau begitu saya permisi dulu."
Irwan pun meninggalkan ruangan Bian, Bian menyandarkan tubuhnya ke kursi kebesarannya.
"Kalau sampai benar Ririn selingkuh di belakangku, sungguh keterlaluan dia padahal apa kurangku selama ini? apa yang dia inginkan selalu aku turuti," gumam Bian.
***
Sementara itu, Irwan yang merupakan asisten Bian mulai mengikuti Ririn. Benar saja, Ririn tidak pergi ke rumah orangtuanya tapi ke sebuah restoran.
Irwan tidak langsung melaporkannya kepada Bian karena Irwan pikir, Ririn hanya akan sarapan di restoran itu.
Hingga satu jam pun berlalu, tapi Ririn tidak kunjung keluar dari restoran itu.
"Astaga, apa yang sedang Bu Bos lakukan di restoran itu? sudah satu jam belum keluar juga, apa aku masuk ke dalam saja ya?" gumam Irwan.
Irwan pun hendak keluar dari dalam mobilnya tapi tidak lama kemudian, dia melihat Ririn sudah keluar. Irwan pun dengan cepat masuk kembali ke dalam mobilnya dan langsung mengikuti taksi yang ditumpangi Ririn.
Ternyata Ririn memang pergi ke rumah kedua orangtuanya sampai sore dan Irwan pun langsung laporan kepada Bian dan Bian menyuruh Irwan untuk kembali ke kantor.
***
Sepulang dari klinik, Mika merenung di kamarnya.
"Sepertinya aku harus kembali ke kota, aku tidak bisa diam saja seperti ini, aku harus mencari A Rian sendiri karena perasaanku mengatakan kalau A Rian masih hidup," gumam Mika.
Mika pun mulai membereskan barang-barang yang akan dia bawa ke kota.
"Mika, kamu mau ke mana?" tanya Mama Nuri bingung.
"Ma, Mika mau ke kota mencari A Rian, Mika tidak bisa terus-terusan menunggu seperti ini lebih baik Mika mencari A Ria sendiri," sahut Mika.
"Mika, kalau Ayah kamu tahu bisa marah dia."
"Tolonglah Ma, Mika mohon, Mika harus pergi ke kota," rengek Mika.
Tidak lama kemudian, Ayah Rusdi pun datang dan menatap tajam ke arah Mika.
"Ayah tidak mengizinkanmu pergi ke kota sendirian!" tegas Ayah Rusdi.
"Ayah, Mika mohon Yah, izinkan Mika pergi ke kota," rengek Mika dengan deraian airmatanya.
"Neng, kamu itu sedang hamil, mana mungkin Ayah akan tega membiarkanmu pergi ke kota sendirian."
"Ayah, Mika mohon."
Mama Nuri dan Ayah Rusdi saling pandang satu sama lain, mereka tidak tega melihat putri mereka seperti itu, tapi mereka juga tidak mungkin membiarkan Mika pergi ke kota sendirian.
"Ya sudah, kamu pergi bersama Mama kamu saja karena Ayah tidak mungkin membiarkan kamu tinggal sendirian di kota."
"Terima kasih Ayah, Mika janji kalau Mika menemukan A Rian, Mika akan segera pulang."
Ayah Rusdi sangat mengkhawatirkan putrinya itu, karena ia mempunyai firasat kalau Rian sudah ingat semuanya.
Malam pun tiba....
Bian kembali pulang larut malam, entah kenapa saat ini dia malas sekali untuk pulang tidak seperti biasanya yang selalu semangat kalau pulang, karena ingin cepat-cepat bertemu dengan istrinya.
Penyelidikan Irwan hari ini masih belum menemukan sesuatu yang berarti, hanya saja Ririn berada di sebuah restoran dengan waktu yang lumayan lama dan itu tidak membuktikan apa-apa.
"Apa kecurigaan ku benar atau hanya perasaanku saja," gumam Bian.
Bian melangkahkan kakinya menuju balkon, dia lagi-lagi merasakan hal yang aneh. Hatinya begitu sangat sakit, padahal tidak ada yang menyakiti hatinya.
"Mika, kenapa aku selalu ingat dengan nama itu, siapa sebenarnya wanita itu?"
Bian benar-benar pusing kali ini, dia mengusap wajahnya kasar.
"Apa mungkin, wanita itu bagian dari kehidupanku selama satu tahun menghilang?" gumam Bian kembali.
Bian memegang kepalanya yang terasa sakit, dia benar-benar dibuat penasaran dengan wanita itu. Akhirnya dengan langkah gontai dan memegang kepalanya, Bian pun masuk ke dalam kamarnya dan mulai merebahkan tubuhnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments
¢ᖱ'D⃤ ̐𝙽❗𝙽 𝙶
iya dya istrimu a Rian dia lagi mengandung anakmu ish buruan temuin🙊
2022-12-10
1
DSN5
Semoga nanti Mika ketemu dgn Rian yaa dikota ,kalau bisa sebelum lahiran si Mika
2022-11-26
2
Anasih 11
kasian mika,,, selidiki terus si Ririn bian,,
2022-11-16
1