Jatuh Cinta

💜

💜

💜

💜

💜

1 bulan pun berlalu, Bian sudah sehat dan sekarang bekerja membantu Parman di perkebunan. Walaupun Parman tidak menyukai Bian, tapi tetap saja Parman harus membantu Bian dan mengajari Bian.

"Hai Rian, dengarkan saya ya. Neng geulis teh hanya milik Parman seorang, kamu jangan coba-coba mendekati Neng geulis," seru Parman.

Saat ini keduanya sedang menyusun hasil panen sayuran ke dalam mobil bak, untuk dibawa ke rumah Pak Rusdi.

"Oh, Mika itu gebetan kamu gitu? Tapi Mikanya suka gak sama kamu?" sahut Rian dengan santainya.

"Eh, kurang ajar pisan kamu teh. Saya yakin, Neng geulis juga suka sama saya cuma si Neng geulis masih malu-malu mengakuinya," seru Parman dengan percaya dirinya.

Bian hanya tersenyum saja, Bian paling malas meladeni orang yang punya tingkat kepercayaan diri di atas rata-rata. Secara logika, kalau Mika memang menyukai Parman, mungkin sudah sejak dulu mereka menikah tapi buktinya sampai sekarang si Parman masih saja betah sendiri.

"A Rian! A Rian!"

Mika berlari sembari teriak-teriak, membuat Rian terkejut dan panik.

"Ada apa, Mika?" tanya Rian panik.

"A, bisa antarkan Mika ke kampung sebelah tidak? Tadi katanya ada yang mau melahirkan, tapi dia sudah tidak sanggup untuk datang ke Klinik jadi biar Mika saja yang datangi dia," sahut Mika.

"Bisa, sebentar aku ambil motor dulu."

Bian pun dengan cepat mengambil motor yang biasa dia pakai untuk ke kebun.

"Ayo Mika, naik."

"Ah iya."

Mika pun segera naik ke atas motor dan pergi dari sana tanpa berpamitan kepada Parman. Parman semakin kesal kepada Bian, bisa-bisanya Mika minta tolong kepada pria itu dibandingkan kepada dirinya.

Butuh waktu 15 menit untuk sampai di kampung sebelah, Mika segera masuk ke dalam rumah si Ibu yang mau melahirkan dan membantunya. Sedangkan Bian memilih duduk di kursi yang ada di teras dan menunggu.

Bian mendengarkan Mika yang membantu Ibu itu melahirkan, hatinya bergetar dan bangga bisa kenal dengan Mika. Bian pun mulai merasakan jatuh cinta kepada Mika, tapi entah dengan Mika, apakah dia merasakan hal yang sama dengannya atau tidak.

Oek..oek..oek..

Suara tangisan bayi akhirnya menggema membuat Bian yang ikut merasakan tegang, akhirnya bisa bernafas lega. Mika pun segera mengurus Ibu dan bayinya, setelah selesai Mika pun pamit.

"Ayo A, kita pulang."

Bian pun kembali menyalakan motornya...

"Kamu benar-benar hebat ya Mika, aku bangga melihat seorang wanita dengan pekerjaan yang mulia seperti itu," seru Bian.

"Aa bisa saja, memang dari dulu Mika punya cita-cita ingin menjadi Bidan, entah kenapa? Mungkin karena Mika suka bayi jadi Mika ingin menjadi Bidan."

Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya mereka pun sampai di klinik milik Mika.

"Terima kasih A, maaf Mika sudah merepotkan A Rian."

"Tidak apa-apa, aku senang kok bisa membantu kamu. Ya sudah aku kembali ke kebun ya, pasti A Parman marah karena aku perginya lumayan lama."

"Iya, Aa hati-hati di jalan."

Bian pun tersenyum dan menganggukan kepalanya, Bian mulai menaiki motornya dan melajukan menuju kebun. Mika tersenyum-senyum sendiri, wajahnya memerah saat mengingat Bian.

"A Bian ternyata kasep pisan," gumam Mika.

Malam pun tiba....

Seperti biasa, sehabis makan malam Bian akan duduk seoranh diri di teras rumah Mika. Entah kenapa seperti ada yang hilang dalam dirinya.

"Aa lagi apa?"

"Eh Mika, aku lagi cari angin saja."

"Apa Aa sudah ingat sesuatu?"

Bian lagi-lagi menggelengkan kepalanya. "Belum Mika, aku sama sekali tidak ingat apa-apa."

"Pasti orangtua Aa, khawatir dengan keadaan Aa."

"Mungkin saja mereka mengira kalau aku sudah meninggal, soalnya aku kan sudah satu bulan lebih di sini."

"Aa yang sabar ya, Mika pasti akan bantu Aa untuk mengingat kembali," seru Mika dengan menyentuh lengan Bian.

Bian melihat lengannya yang disentuh oleh Mika, seketika Mika tersadar dan melepaskan sentuhannya.

"Maaf."

Bian dan Mika sama-sama canggung, bahkan Bian sudah menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Sementara itu di kediaman Bian...

"Pi, bagaimana ini polisi sudah menghentikan pencarian Bian, tapi perasaan Mami mengatakan kalau Bian masih hidup," seru Mami Maharani dengan deraian airmatanya.

"Iya, Papi juga merasa kalau Bian masih hidup tapi mau bagaimana lagi kalau kenyataannya sudah satu bulan berlalu tapi polisi belum juga menemukan jasad Bian," sahut Papi Ganendra.

"Pokoknya Mami tidak mau tahu, walaupun polisi sudah menghentikan pencarian, Mami ingin Papi menyuruh anak buah Papi untuk terus mencari keberadaan Bian."

"Iya, Mami yang tenang ya."

Papi Ganendra pun memeluk istrinya itu, sedangkan Ririn yang mendengar pembicaraan mertuanya itu hanya mampu tersenyum.

"Dasar bodoh, mana ada mobil hancur seperti itu orangnya selamat, ya pasti ikut hancurlah," batin Ririn.

Ririn memang sangat bahagia karena sebentar lagi dia pasti bisa bersatu dengan Bima, tapi tetap saja dia harus menunggu satu tahunan supaya lebih meyakinkan.

***

Keesokan harinya...

Seperti biasa, Mika bangun subuh setelah shalat subuh, Mika membuat sarapan untuk semuanya bersama Mama Nuri.

"Mika, sana kamu bangunkan Rian."

"Baik Ma."

Mika pun segera menuju kamar Bian, Mika baru saja mau mengetuk pintu kamarnya Bian, tiba-tiba Bian membuka pintu membuat Mika terkejut dan tubuhnya oleng.

Bian dengan sigap menangkap tubuh Mika, hingga mereka berdua pun saling tatap satu sama lain. Cukup lama mereka saling tatap, hingga deheman Ayah Rusdi mengejutkan keduanya.

Mika segera berdiri dan membenarkan posisinya.

"Ta-di Mika hampir jatuh Ayah, untung ada A Rian yang menolong Mika," seru Mika gugup.

"Ya sudah, ayo kita sarapan mumpung masih hangat."

Akhirnya semuanya pun menuju meja makan untuk sarapan, sebenarnya Bian merasa aneh dengan sarapannya soalnya dia merasa kalau dia tidak pernah sarapan nasi melainkan roti.

Tapi karena sudah terbiasa, akhirnya dia pun menjadi biasa sarapan nasi apalagi masakan Mika sangat enak, membuat Rian selalu bersemangat.

Setelah sarapan, Mika pun bersiap-siap menuju klinik yang tempatnya tidak jauh dari rumahnya dan Mika terbiasa jalan kaki kalau pergi ke klinik.

"Neng Mika, mau Akang antarin ke klinik?" seru Parman.

"Tidak usah Kang, Mika bisa jalan kaki saja," tolak Mika secara halus.

"Nanti kamu capek."

"Mika kan, biasa jalan kaki Kang masa Akang tidak tahu. Ya sudah, Kang Parman, A Rian, kalau begitu Mika berangkat dulu."

"Iya Mika, hati-hati," seru Bian.

"Iya A."

Mika dan Bian saling melempar senyum dan itu lagi-lagi membuat Parman kesal dan tambah membenci Bian tapi Bian tetap menyunggingkan senyumannya.

💜

💜

💜

Untuk para readerku tersayang, maaf ya cerita yang ini jarang up, soalnya Author mau tamatin dulu cerita yang satu lagi🙏🙏

Jadi cerita ini dilanjut lagi tanggal 1 november ya habis The Black Hunter tamat, nanti up tiap hari. Mohon bersabar, dan tetap setia menunggu kelanjutannya.

Terpopuler

Comments

¢ᖱ'D⃤ ̐𝙽❗𝙽 𝙶

¢ᖱ'D⃤ ̐𝙽❗𝙽 𝙶

cieee yang udah mulai saling memandang uhuy lanjutkan a Rian UPS bian maksud nya😁

2022-12-08

1

DSN5

DSN5

dasar Parman nih yaa kelewat PD

2022-11-25

2

ghan sha

ghan sha

Uda ada getaran ni...

2022-11-08

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!