💜
💜
💜
💜
💜
Bima terlihat tertawa saat mendengar kabar kalau orang suruhannya sudah berhasil melaksanakan tugasnya.
“Aku tinggal menunggu berita di tv besok, tentang kematianmu, Bian,” gumam Bima dengan tawanya.
***
Keesokan harinya....
“Ma, Mika ke kebun dulu mau memberikan bekal ini untuk Ayah!” teriak Mika.
“Iya Nak, kamu hati-hati.”
“Iya, Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Mika pun segera mengayuh sepedanya menuju kebun milik Ayahnya. Mika merupakan Bidan desa, selain cantik, Mika juga terkenal dengan gadis yang ramah dan baik hati, sehingga semua orang menyukai Mika.
Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya Mika pun sampai di kebun milik Ayahnya itu. Kebunnya tidak terlalu luas tapi juga tidak terlalu kecil, jadi sedang-sedang saja.
“Ayah, Mika bawakan makanan untuk Ayah, sini makan dulu!” teriak Mika.
“Iya Neng, sebentar tanggung,” sahut Rusdi.
Mika menunggu Ayahnya di sebuah saung yang sengaja Ayahnya buat, untuk beristirahat. Beberapa saat kemudian, Rusdi pun mulai menghampiri putrinya dan duduk di saung.
“Ini Ayah minum dulu, Mika bawakan air teh hangat kesukaan Ayah.”
“Wah, terima kasih Neng.”
Mika dan Rusdi makan dengan lahapnya, biasanya setelah membawakan bekal untuk Ayahnya, Mika kemudian pergi ke klinik tempat dia bekerja.
“Alhamdulillah, perut Ayah sampai kenyang Neng, kalau begini mah bawaannya ngantuk atuh,” seru Rusdi.
Mika hanya tersenyum, Mika pun membawa semua rantang dan gelas kotor karena seperti biasa, Mika akan mencucinya di sungai yang tidak jauh dari kebun Ayahnya.
“Sebentar ya Yah, Mika mau cucj ini dulu.”
“Iya Neng.”
Mika pun dengan semangat menuju sungai, air sungai itu sangatlah jernih karena belum tercemar oleh apa pun.
Di saat Mika sedang mencuci rantangnya, Mika tidak sengaja melihat seseorang terdampar di pinggir sungai yang berada di sebrang Mika.
“Astagfirullah, itu teh manusia apa bukan ya?” gumam Mika.
Mika awalnya takut kalau orang itu orang mabuk, tapi Mika merasa penasaran juga dengan orang itu, dan akhirnya Mika memutuskan untuk menghampirinya.
Perlahan Mika mendekatinya dan betapa terkejutnya Mika saat melihat seorang pria tak sadarkan diri dengan darah yang memenuhi wajah dan kepalanya.
Mika memeriksa urat nadinya. “Alhamdulillah, orang ini masih hidup,” gumam Mika.
Mika yang merasa kebingungan, langsung berlari menyusul Ayahnya dan juga pekerja yang lain.
“Ayah, Ayah, di sana ada orang tak sadarkan diri, dan Mika periksa, dia masih hidup,” seru Mika panik.
“Apa?”
Rusdi pun memanggil semua karyawannya untuk melihat orang yang disebutkan oleh Mika.
“Bagaimana ini, Yah?” tanya Mika.
“Kita bawa ke Puskesmas saja dulu, ayo semuanya bantu saya mengangkat tubuh dia dan masukan saja ke mobil pick up saya,” seru Rusdi.
Rusdi dan semua karyawan laki-laki pun langsung membawanya ke puskesmas, Mika mengikuti mobil Ayahnya dari belakang.
Sesampainya di Puskesmas, Mika langsung meminta bantuan dokter jaga di sana untuk menolong pria yang baru saja di temukannya.
“Bagaimana ini Neng? Siapa pria tadi?” seru Rusdi khawatir.
“Mika juga tidak tahu, apa mungkin dia korban kecelakaan?” sahut Mika.
“Kalau kecelakaan, di mana kendaraannya Neng? Sepertinya tadi Ayah tidak menemukan kendaraan sama sekali,” sahut Rusdi.
“Kalau begitu, apa mungkin pria tadi korban pembunuhan,” seru Mika ketakutan.
“Jangan buat Ayah takut atuh Neng, serem banget kalau sampai korban pembunuhan,” sahut Rusdi bergidik ngeri.
Setelah beberapa jam menunggu, akhirnya dokter Puskesmas selesai mengobati Bian.
“Bagaimana dok, dengan keadaan orang itu?” tanya Mika.
“Sepertinya kepalanya luka parah Mika, dan untung saja luka sobek di kepalanya tidak terlalu lebar sehingga saya bisa menanganinya tanpa harus di bawa ke rumah sakit kota,” sahut dokter yang bernama Deti itu.
“Syukur Alhamdulillah kalau begitu.”
“Sebenarnya dia siapa, Mika?” tanya Dr.Deti.
“Mika juga tidak tahu dokter, tadi Mika menemukannya di pinggir sungai dekat kebun Ayah.”
“Oh begitu, ya sudah kalau begitu biar dia di rawat dulu di sini sampai dia sadar nanti kalau sudah sadar, saya hubungi kamu lagi.”
“Baiklah, terima kasih Bu Dokter, kalau begitu Mika sama Ayah pamit dulu soalnya Mika harus ke klinik juga dan Ayah harus kembali ke kebun.”
“Iya Mika.”
“Bu Dokter terima kasih sudah menolong, nanti kalau ada apa-apa hubungi kami saja,” seru Rusdi.
“Iya, Pak Rusdi.”
Akhirnya Mika dan Rusdi pun pergi dari Puskesmas itu meninggalkan Bian yang belum sadarkan diri.
***
Sementara itu di kediaman Ganendra, Maharani dan Ririn tampak terkejut dengan kedatangan Polisi yang memberitahukan kalau mobil yang di kendarai Bian kecelakaan dan masuk jurang.
“Terus sekarang bagaimana kondisi anak kami, Pak?” tanya Maharani dengan deraian airmata.
“Untuk sementara di dalam mobil itu hanya ada sopir yang dalam keadaan tewas, kami belum menemukan keberadaan anak Tuan dan Nyonya kemungkinan anak Tuan dan Nyonya terpental dari dalam mobil, anak buah kami sedang berusaha mencari keberadaan anak anda, tapi kami membutuhkan waktu yang lumayan lama, soalnya itu posisinya di bibir jurang dan anak anda bisa saja terpental ke dasar jurang,” seru Polisi.
“Astaga, Bian. Pak, kami mohon tolong temukan anak kami,” seru Maharani dengan tangisannya.
“Baik Nyonya, kami akan berusaha sekuat tenaga untuk menemukan anak Tuan dan Nyonya, kalau begitu saya pamit dulu.”
Ririn hanya bisa memeluk mertuanya itu, di satu sisi Ririn bersorak bahagia karena bisa terlepas dari Bian, tapi di sisi lain Ririn merasa bersalah padahal keluarga Bian sudah membantu keluarga Ririn.
2 hari pun berlalu, akhirnya Bian pun sadar. Dr.Deti menghubungi Mika dan tentu saja Mika dan Ayahnya langsung melesat ke Puskesmas.
“Bagaimana dokter, dengan keadaannya?” tanya Mika saat sampai di Puskesmas.
“Sepertinya fisiknya baik-baik saja, tapi---?”
“Tapi apa dokter?” tanya Mika.
“Sepertinya akibat benturan keras di kepalanya, dia mengalami amnesia.”
“Apa? Jadi maksud dokter, dia tidak ingat siapa-siapa?”
“Iya Mika.”
Mika menghampiri Bian yang saat ini masih terbaring di ranjang.
“Maaf, apa kamu ingat siapa namamu?” tanya Mika.
Bian menggelengkan kepalanya.
“Bagaimana ini, Ayah? Dia tidak mengingat apa pun, terus bagaimana kita bisa mengembalikan kepada keluarganya,” seru Mika khawatir.
“Nak, apa kamu benar-benar tidak mengingat apa pun?” tanya Rusdi.
“Ti-tidak Pak, aku tidak tahu siapa aku dan di mana aku tinggal,” sahut Bian.
“Terus, sekarang kamu mau ke mana? Kamu mau tinggal di mana, Nak?” tanya Rusdi.
Bian langsung menggenggam tangan Rusdi dengan tatapan memelas.
“Bolehkah aku tinggal di rumah Bapak? Biarkan aku ikut Bapak, aku tidak tahu harus pergi ke mana?” keluh Bian.
Rusdi menatap Mika dan Mika hanya diam saja, Mika dan Rusdi tidak tahu harus berbuat apa, tapi mereka juga tidak tega jika harus meninggalkan Bian dalam posisi amnesia.
“Ya sudah, kamu boleh tinggal di rumah Bapak,” seru Rusdi.
“Terima kasih, Pak.”
Akhirnya Rusdi dan Mika pun membawa Bian ke rumah mereka. Mereka memutuskan untuk merawat Bian sampai Bian bisa sembuh dan mengingat lagi tentang dirinya dan juga keluarganya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments
¢ᖱ'D⃤ ̐𝙽❗𝙽 𝙶
air susu dibalas dengan air tuba
aku iklas bian amnesia terus sama mika daripada sama istinya malah dikasih obat terus
2022-12-08
1
DSN5
itu jodohmu Mika yg udah disiapin mba Poppy 🤭
smoga Ririn kena karma nanti
2022-11-25
2
ghan sha
bian jdhxa mika xa
.
2022-11-08
1