Kejutan Untuk Ririn

Saat ini Mami Maharani sedang menyuapi Bian bubur.

"Ririn mana, Mi?"

"Ririn ada di rumah, dia belum tahu kamu ada di sini karena Mami dan Papi sengaja tidak memberitahukannya."

"Kenapa?"

"Karena Mami dan Papi ingin membuat kejutan untuk Ririn, minggu depan Ririn wisuda dan kami ingin membuat kejutan di hari wisuda Ririn dengan mendatangkan kamu," seru Mami Maharani.

"Bian kenapa sampai bisa di rumah sakit?" tanya Bian.

"Memangnya kamu tidak ingat apa-apa Bian?" seru Papi Ganendra.

Bian menggelengkan kepalanya, dia sama sekali tidak ingat apa pun yang dia ingat, terakhir kali dia akan pergi ke luar kota dan mengalami kecelakaan.

"Yang Bian ingat, hanya Bian akan pergi ke luar kota dan diperjalanan Bian mengalami kecelakaan, setelah itu Bian tidak ingat apa-apa lagi," sahut Bian.

"Ya sudah, jangan dipaksakan mengingat kalau kamu tidak ingat apa-apa, yang penting sekarang kamu selamat dan bisa mengingat Mami dan Papi," seru Mami Maharani.

Bian hanya tersenyum, sedangkan Mami Maharani dan Papi Ganendra saling pandang satu sama lain.

Sementara itu di kediaman Ganendra, Ririn pun baru saja bangun. Sehabis mandi dan berganti pakaian, Ririn pun turun ke bawah dan ternyata meja makan terlihat sepi.

"Ke mana semua orang? Apa Mami dan Papi tidak pulang ya?" gumam Ririn.

Ririn pun duduk dan mengambil selembar roti tawar kemudian mengolesinya dengan selai coklat kesukaannya.

"Bi, Bibi!"

"Iya Nona, ada apa?"

"Mami dan Papi ke mana, kok gak kelihatan?" tanya Ririn.

"Nyonya dan Tuan besar tidak pulang Nona."

"Apa mereka ada memberi tahu mau ke mana?"

"Tidak Nona."

"Ya sudah, Bibi boleh kembali bekerja."

"Baik Nona."

Ririn pun mengotak-ngatik ponselnya dan menghubungi Mami mertuanya itu, Mami Maharani mengatakan kalau saat ini sedang ada di rumah saudaranya karena saudaranya sakit.

Ririn memutuskan sambungan teleponnya dan menghembuskan napasnya secara kasar.

"Aku sungguh sudah bosan tinggal di rumah ini, aku ingin sekali cepat menikah dengan Bima supaya bisa keluar dari rumah yang membosankan ini," batin Ririn dengan senyumannya.

Sedangkan Bian tampak cemberut karena Maminya tidak membiarkan dia untuk bicara dengan Ririn.

"Kenapa Mami tidak membiarkan Bian bicara, padahal Bian sudah sangat merindukan Ririn," kesal Bian.

"Sabar sayang, Mami sengaja tidak membiarkan kalian bertemu dulu supaya kamu lebih semangat lagi untuk sembuh."

Bian tampak kesal, padahal Bian sudah sangat merindukan istrinya itu.

Lain halnya dengan Mika, saat ini Mika mengajak Mamanya untuk pergi ke kantor polisi untuk menanyakan perihal korban kecelakaan kemarin.

Sesampainya di kantor polisi, Mika pun langsung menanyakan perihal korban kecelakaan.

"Kemarin rekan kami memang ada yang membawa salah satu korban ke rumah sakit yang berbeda, mungkin saja itu suami Mba dan Mba bisa cek ke rumah sakit xxx," seru Polisi.

"Baiklah, terima kasih, Pak."

"Sama-sama, Mba."

Mika dan Mama Nuri pun segera menuju rumah sakit yang dikatakan oleh Polisi barusan.

"Mudah-mudah itu A Rian ya, Ma."

"Amin."

Selama dalam perjalanan, Mika tampak tidak sabaran dia ingin sekali cepat sampai di rumah sakit dan bertemu dengan suaminya itu.

Hingga beberapa saat kemudian, taksi yang ditumpangi Mika dan Mamanya pun sampai di rumah sakit yang dituju. Mika dengan terburu-buru masuk dan menuju meja resepsionis.

"Sus, saya mau tanya, apa kemarin ada korban kecelakaan yang dibawa ke sini atas nama Rian?" tanya Mika.

"Tunggu sebentar ya Mba, saya periksa dulu."

Suster pun segera memeriksa semua pasien yang masuk kemarin.

"Maaf Mba, pasien atas nama Rian tidak ada."

"Masa sih Sus? Coba Suster cek lagi, korban kecelakaan kemarin," seru Mika kesal.

"Kemarin memang ada korban kecelakaan yang dibawa ke sini, tapi atas nama Biantara Ganendra bukan Rian."

Mika tampak lemas. "Ya Allah Ma, terus A Rian ke mana?" seru Mika lemas.

"Sudah, lebih baik kita istirahat dulu. Terima kasih ya Sus, atas informasinya," seru Mama Nuri.

"Sama-sama Bu."

Mama Nuri pun mengajak Mika untuk duduk terlebih dahulu di kursi yang ada di lobi rumah sakit itu.

"Ma, Mika takut kenapa-napa sama A Rian, sekarang kita harus mencarinya ke mana lagi?" seru Mika dengan deraian airmata.

"Mama juga tidak tahu Mika, apalagi ini kota sulit sekali kita menemukan orang."

"Mika tidak punya foto A Rian, hanya foto pernikahan yang saat ini di pajang di rumah," seru Mika.

Mika dan keluarganya tinggal di sebuah desa yang penduduknya tidak terlalu banyak, bahkan di zaman yang modern seperti ini, Mika hanya mempunyai ponsel jadul yang tidak ada kameranya sama sekali.

"Tunggu sebentar ya, Mama mau beli minum dulu."

Mika menganggukan kepalanya, Mama Nuri pun dengan cepat pergi ke luar rumah sakit untuk membeli air mineral.

"A, kamu ada di mana? Mika sangat merindukan Aa," batin Mika.

Mama Nuri pun sudah kembali dengan air mineral yang baru saja dibelinya dan diberikan kepada Mika, setelah beberapa saat beristirahat, mereka berdua pun memutuskan untuk kembali ke penginapan.

***

1 Minggu kemudian....

Mami Maharani dan Papi Ganendra berhasil menyembunyikan tentang Bian kepada Ririn hingga saat ini Bian pun sudah sembuh dan bersiap-siap akan datang di acara wisuda istrinya itu.

"Sayang, aku datang, aku sudah sangat merindukanmu," gumam Bian.

Bian saat ini sudah sangat tampan dengan memakai jas biru dongker dengan membawa buket bunga mawar merah.

Bian segera keluar dari apartemennya dan masuk ke dalam mobilnya menuju kampus Ririn. Sedangkan di kampus, Ririn sudah tampak bahagia karena kedua orangtua dan juga kedua mertuanya sudah hadir.

"Selamat ya sayang, akhirnya kamu wisuda juga," seru Mami Maharani sembari memeluk menantunya itu.

"Iya, terima kasih Mami."

"Oh iya, Mami punya kejutan untukmu."

"Apa itu Mami?"

"Tunggu, sebentar lagi kejutannya datang."

Ririn tampak bahagia dengan berfoto-foto ria, hingga tidak lama kemudian, Bian datang dengan membawa buket bunganya.

"Sayang."

Ririn dan kedua orangtuanya membalikan tubuhnya dan betapa terkejutnya mereka saat melihat kedatangan Bian yang tiba-tiba.

"Bi-bi-bian...."

Ririn tampak membelalakan matanya, bahkan tubuhnya sampai bergetar melihat Bian yang dia anggap sudan meninggal, sekarang berdiri di hadapannya.

Bian melangkahkan kakinya dan langsung memeluk Ririn.

"Aku sangat merindukanmu, sayang."

Tubuh Ririn diam membeku, dia tidak percaya kalau Bian ternyata masih hidup. Sedangkan Bima yang saat ini baru saja sampai, tanpa sadar menjatuhkan buket bunga yang dia bawa untuk Ririn.

"Bian...."

Bima tidak kalah terkejutnya dari Ririn, sungguh dia tidak percaya kalau sekarang Bian ada di hadapannya.

Terpopuler

Comments

¢ᖱ'D⃤ ̐𝙽❗𝙽 𝙶

¢ᖱ'D⃤ ̐𝙽❗𝙽 𝙶

masak iya bian nggak ingat sama sekali sama mika kak😢😢😢😢huwaaa aku kepikiran mika ish🙈

2022-12-10

1

DSN5

DSN5

Yaampun apakah kamu gak inget tentang Mika sedikitpun Bian ?

2022-11-26

2

Bunda Elsa Caca

Bunda Elsa Caca

duhhh kasihan sekali Mika,Bian sama sekali gk ingat Mika

2022-11-13

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!