Waktu pun berjalan dengan sangat cepat, tidak terasa usia kandungan Mika sudah menginjak usia 5 bulan dan Rian sudah tepat satu tahun tinggal di kampung itu.
Semenjak kejadian pupuk itu, Parman jadi lebih berhati-hati lagi dan memilih mengikuti apa yang dikatakan Rian walaupun itu terlihat terpaksa.
Dan setiap panen pun, Rian yang akan pergi ke kota menggantikan Parman sehingga Parman semakin membenci Rian.
Malam ini Rian dan Mika sedang rebahan di atas tempat tidur, Rian tidak henti-hentinya mengusap perut Mika yang sudah terlihat membuncit itu.
"A, besok Aa jangan pergi ke kota ya," rengek Mika.
"Loh, kok tumben melarang Aa pergi ke kota? Biasanya juga kamu tidak pernah melarang Aa?"
"Pokoknya jangan pergi, soalnya perasaan Mika tiba-tiba merasa tidak enak, A."
"Itu cuma perasaan kamu saja, kamu jangan terlalu memikirkannya yang jelas kamu harus selalu mendo'akan Aa semoga selamat sampai pulang lagi ke sini."
"Kalau soal itu, Mika tidak pernah lupa untuk selalu mendo'akan untuk keselamatan Aa, tapi kali ini perasaan Mika benar-benar tidak enak A."
"Sudah ah, jangan banyak pikiran kamu itu sedang hamil, Aa tidak mau kamu sampai stres yang akan berakibat kepada kandunganmu. Besok Aa tidak akan lama kok, hanya mau menandatangi surat perjanjian dengan sebuah restoran karena mereka ingin memasok sayuran dari kebun kita."
Mika masih tampak cemberut dengan Rian yang tidak mau menuruti keinginannya.
"Jangan cemberut seperti itu dong, nanti cantiknya hilang lagi," goda Rian.
"Aa mah malah bercanda, padahal Mika serius loh A, kalau perasaan Mika benar-benar tidak enak."
"Iya-iya, sudah ya, lebih baik sekarang kita tidur, Ibu hamil jangan bergadang gak baik."
Akhirnya Mika dan Rian pun memutuskan untuk tidur, Rian mengusap punggung Mika hingga tidak lama kemudian Mika pun tertidur.
Sekarang giliran Rian yang melamun, sebenarnya dia juga merasakan hal yang sama dengan Mika, akhir-akhir ini perasaannya tidak enak ditambah dia juga sering bermimpi buruk dan anehnya di dalam mimpi itu selalu terlintas wajah wanita yang dulu dia lihat di kota.
"Ya Allah, apa yang akan terjadi ke depannya? Aku tidak mau sampai berpisah dengan Mika, apalagi saat ini Mika sedang mengandung anakku, aku sangat mencintai Mika dan aku takut kalau ingatanku akan kembali. Apa boleh, aku meminta supaya ingatanku jangan kembali lagi karena aku tidak sanggup menerima kenyataan," batin Rian.
Rian menatap wajah tenang istri cantiknya itu, sangat lama Rian menatap wajah Mika.
"Aku harap, aku tidak akan pernah melupakan wajah cantik ini," batin Rian.
Rian mengeratkan pelukannya dan tidak lama kemudian, mata Rian pun mulai sayu dan perlahan Rian menyusul Mika ke alam mimpinya.
***
Keesokan harinya.....
Semenjak bangun subuh, Mika tidak henti-hentinya merengek supaya Rian tidak pergi ke kota bahkan saat sarapan pun Mika masih terlihat cemberut.
"Neng kenapa? Cemberut seperti itu? Apa kalian sedang bertengkar?" tanya Ayah Rusdi.
"Tidak Ayah, Mika melarang Rian untuk pergi ke kota," sahut Rian.
"Neng, kenapa Neng melarang Rian ke kota? Biasanya juga kamu teh tidak seperti itu?"
"Mika juga tidak tahu kenapa Ayah, pokoknya Mika merasa tidak enak saja jadi lebih baik sekarang Aa gak usah ke kota dulu," seru Mika dengan cemberut.
"Mika, suamimu ke kota tidak akan lama hanya sehari kok, jadi tidak usah berlebihan seperti itu," seru Mama Nuri.
"Tapi Ma----"
"Neng, ini ada peluang bagi kita, ada sebuah restoran yang ingin memasok sayuran dari perkebunan Ayah, ini kesempatan dan kita akan mendapatkan untung besar. Kalau Ayah saat ini sedang tidak sakit, mungkin Ayah yang akan ke kota tapi tubuh Ayah masih lemas jadi Ayah menyuruh Rian dan Parman, hanya menandatangani surat persetujuan saja habis itu Rian akan langsung pulang, iya kan Nak Rian?"
"Iya Ayah, boleh ya sayang Aa ke kota?" seru Rian.
Mika tidak ada pilihan lagi, akhirnya dengan terpaksa Mika pun menganggukan kepalanya dan itu membuat Rian lega.
"Sayang, Aa berangkat dulu ya, Aa janji, Aa akan segera pulang."
"Iya A."
"Jangan cemberut gitu dong."
Mika pun langsung memeluk Rian dengan deraian airmata, entah kenapa airmata Mika keluar dengan sendirinya.
"Kok nangis sih? Jangan seperti ini dong, Aa kan jadi tidak enak meninggalkan kamu seperti ini."
"Mika tidak apa-apa, pergilah Mika do'akan semoga Aa kembali lagi dengan selamat."
"Amin."
Rian pun menciumi seluruh wajah Mika, tidak lupa Rian pun mencium perut buncit Mika.
"Ayah pergi dulu ya Nak, jaga Bundamu baik-baik."
Parman yang melihat interaksi Rian dan Mika merasa sangat kesal, Rian pun akhirnya masuk ke dalam mobil dan Parman yang menjadi sopirnya.
Rian melambaikan tangannya ke arah Mika dan Mika membalas lambaian tangan suaminya dengan deraian airmata, lagi-lagi airmata Mika mengalir dengan sendirinya.
Rian hanya mampu menghembuskan napasnya secara kasar, dia bingung kenapa istrinya begitu sangat melarangnya untuk ke kota.
"Kamu teh beruntung punya istri sebaik dan secantik Neng geulis, saya harap kamu akan menjaga dan menyayangi si Neng geulis," ketus Parman.
"Pasti Kang, aku tidak akan pernah menyakiti Mika apalagi sekarang Mika sedang mengandung anakku," sahut Rian.
"Yang saya khawatirkan itu bukan sekarang, tapi saya takut kamu teh kembali ingatan kamu dan malah melupakan Neng geulis."
Rian hanya diam, memang hal yang sangat Rian khawatirkan adalah itu. Berjam-jam, Rian dan Parman dalam perjalanan menuju kota dan selama itu tidak ada pembicaraan sama sekali diantara keduanya.
Hingga mereka pun sampai di kota, dan langsung menuju restoran yang akan memasok sayuran dari perkebunan Pak Rusdi.
Parman tampak berhenti sebentar karena restoran yang dituju berada di seberang jalan dan Parman harus menyebrangkan mobilnya.
"Hati-hati Kang, soalnya kendaraan di sini lajunya cepat-cepat," seru Rian was-was.
"Iya, saya juga tahu kamu tidak usah memperingati saya."
Parman mulai celingukan lihat kanan kiri dan benar saja menyebrang di sana benar-benar susah, sedangkan Rian sudah melambaikan tangannya sebagai tanda kalau mobilnya akan belok.
Tidak di sangka dari arah berlawanan ada sebuah mini bus yang hilang kendali karena rem blong.
"Kang Parman awaaaaaaassss!" teriak Rian.
"Aaaaaaaaaaaaa....."
Bruuuuaaaakkkkk.....
Mobil mini bus itu menabrak mobil yang ditumpangi Parman dan Rian, mobil mereka pun berguling-guling di jalan hingga mengenai mobil yang ada di sana dan terjadilah tabrakan beruntun.
Prannngggg....
Gelas yang dipegang Mika terjatuh dan pecah membuat Mika terkejut.
"Astagfirullah, A Rian," gumam Mika dengan memegang dadanya yang tiba-tiba sesak.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments
¢ᖱ'D⃤ ̐𝙽❗𝙽 𝙶
firasat seorang istri yang tulus kepada suaminya itu sangat kuat jadi ikatan batin nya itu kuat banget hufff semoga terbaik deh buat mika dan bian
2022-12-10
1
DSN5
Ya Alloh Rian sembuh dari amnesia nih jangan2 nanti
2022-11-26
2
Bunda Elsa Caca
jangan2 nanti ingatan Rian kembali,trus gimana dengan Mika
2022-11-11
1