Kepergian Rian

Rian pun segera menyusul Mika ke klinik untuk membicarakan masalah yang terjadi di perkebunan Ayahnya itu.

Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya Rian pun sampai di klinik Mika. Dilihatnya saat ini klinik sedang rame, jadi Rian memutuskan untuk menunggu Mika di luar klinik.

Satu jam kemudian, Mika pun selesai dengan pasien-pasiennya lalu melihat ke kursi tunggu yang ada di luar kalau suaminya sudah tertidur.

"Ya Allah A, kenapa Aa tidur di sini?" seru Mika dengan mengusap kepala Rian.

Rian mengucek-ngucek matanya kemudian menoleh ke arah Mika.

"Sudah selesai?"

"Sudah, kenapa? Kok, wajah Aa kelihatan khawatir seperti itu?" tanya Mika dengan duduk di samping Rian.

"Mika, semua bibit yang aku tanam semuanya gagal dan sudah dipastikan kita akan mengalami kerugian," sahut Rian.

"Apa? Kok bisa, A?"

"Aku juga gak tahu Mika, padahal aku sudah melakukan sesuai yang Ayah Rusdi katakan tapi bibit itu tidak tumbuh sama sekali bahkan mulai membusuk."

"Astagfirullah, ada apa ini?" sahut Mika cemas.

"Bagaimana ini Mika, Ayah pasti akan marah besar kepadaku, terus apa yang harus aku lakukan?" seru Rian khawatir.

Mika menggenggam tangan Rian. "Ya sudah, sekarang kita pulang nanti biar Mika bantu jelaskan kepada Ayah."

Rian dan Mika pun akhirnya pulang, Mika dan Rian pun masuk ke dalam rumah dan menemui Ayah Rusdi yang saat ini sedang duduk terdiam di kebun belakang.

"Assalamualaikum, Ayah."

"Waalaikumsalam."

Mika dan Rian pun dengan ragu-ragu duduk di samping Ayah Rusdi.

"Rian, kenapa semua bisa terjadi?" seru Ayah Rusdi.

"A-yah su-dah mengetahuinya?" sahut Rian gugup.

"Iya, barusan Parman ke sini dan melapor kalau bibit yang ditanam semuanya tidak tumbuh dan membusuk."

"Maafkan Rian, Ayah, Rian tidak tahu kenapa bisa seperti ini? Padahal Rian sudah melakukan semua yang Ayah katakan."

"Ini dari ciri-cirinya, seperti ada yang mencampur pupuk dengan obat perusak tanaman," seru Ayah Rusdi.

"Apa? Maksud Ayah, ini perbuatan yang disengaja begitu?" tanya Mika kaget.

"Iya Mika, tapi Ayah tidak tahu siapa yang melakukannya dan motifnya apa?"

"Kalau itu sudah jelas Yah, motifnya ingin membuat Ayah merugi," sahut Mika.

"Maafkan Rian, Yah, ini semua gara-gara Rian."

"Tidak Rian, kamu tidak salah. Ayah akan mencari siapa orang yang sudah melakukan semua ini."

"Terus, bagaimana dengan gaji karyawan Yah? Bukanya minggu depan mereka gajian? Kalau kita merugi seperti ini, terus mereka akan dibayar pakai apa?" seru Mika.

"Mungkin Ayah akan meminta maaf dan meminta pengertian kepada mereka untuk menunggu sampai Ayah mempunyai uang dulu."

"Mungkin kalau untuk gajian sepuluh orang, Mika masih punya simpanan tapi kalau untuk gajian semua karyawan Ayah, sepertinya Mika tidak punya tabungan sebesar itu," seru Mika.

"Sudah, kamu jangan pikirkan masalah ini, biar Ayah saja yang memikirkan semuanya."

"Tapi Yah----"

"Sudah, kalian mandi dulu sana kita bicarakan lagi nanti."

Akhirnya Mika dan Rian pun memutuskan untuk masuk ke dalam kamarnya.

"Mika, kok aku curiga sama Kang Parman ya," seru Rian.

"Kang Parman gak mungkin melakukan semua ini A, untuk apa dia melakukannya? bukannya kalau dia yang melakukan semua ini, otomatis dia sendiri yang rugi karena dia juga tidak akan mendapatkan gaji," sahut Mika.

"Aku juga tidak tahu, tapi feeling aku mengatakan kalau Kang Parman yang ada dibalik semua ini. Bisa jadi kan, dia cemburu karena aku yang lebih dulu bisa mendapatkanmu, Kang Parman kan, suka sama kamu Mika."

Mika terdiam, entah apa yang harus dia lakukan untuk membantu Ayahnya.

"Mika, apa perlu aku ke kota untuk mencari tahu siapa yang sudah membeli obat itu? Si toko pasti sudah tahu kan, karena karyawan Ayah Rusdi memang sudah menjadi langganan di sana."

"Buat apa Aa ke kota? Lagipula, memangnya Aa tahu di mana letak tokonya?"

"Aku kan perginya sama Odik, gak sendirian sekalian aku beli pupuk yang baru lagi."

Mika kembali terdiam, entahlah ada perasaan tidak enak kalau Rian nanti pergi ke kota.

Malam pun tiba...

Setelah selesai makan malam, Rian pun mengajak Ayah Rusdi untuk berbicara.

"Ayah, bagaimana kalau Rian pergi ke kota untuk membeli pupuk yang baru lagi," seru Rian.

"Tidak usah Rian, biar Odik atau Dadan saja yang pergi ke kota untuk membelinya."

"Tidak apa-apa, Rian ingin ikut ke kota biar Rian tahu di mana toko yang biasa karyawan Ayah beli pupuk, sekalian mau tanya-tanya juga takutnya ada yang salah di pupuk itu."

"Baiklah, terserah kamu saja. Tapi kamu jangan sendirian."

"Iya Yah, Rian pergi ditemani Odik."

***

2 hari pun berlalu, Mika terbangun karena perutnya merasa mual. Dia cepat-cepat bangkit dan menuju ke kamar mandi, kemudian Mika muntah.

Rian yang mendengar suara orang muntah-muntah langsung bangun dan berlari menuju kamar mandi.

"Kamu kenapa sayang?"

"Tidak apa-apa A, hanya mual saja."

Setelah dirasa selesai, Mika pun mengambil air minum dan meminumnya sampai tandas. Rian menatap Mika dengan tatapan khawatirnya, Mika mengusap pipi Rian dengan senyumannya.

"Aku tidak apa-apa kok A, jangan khawatir."

"Apa aku batalkan saja pergi ke kota, soalnya aku khawatir dengan keadaan kamu."

"Tidak usah, Aa berangkat saja beneran Mika tidak apa-apa kok."

"Serius kamu tidak apa-apa, sayang?"

"Iya."

"Ya sudah, ini masih pukul 02.00 subuh kita tidur lagi."

Mika tertidur dengan memeluk Rian, dia tahu kalau saat ini dia sedang hamil karena sebagai bidan dia merasakan kalau dia sedang hamil cuma dia tidak akan memberitahukan dulu kepada Rian sebelum dia lebih meyakinkannya lagi dengan tes menggunakan tespek.

Tepat pukul 06.00 pagi, Rian dan Odik bersiap-siap akan pergi ke kota menggunakan mobil bak terbuka yang biasa mereka gunakan untuk mengangkut sayur-sayuran.

"A, Mika punya sesuatu untuk Aa."

"Apa?"

Mika pun memberikan alat kecil yang panjang itu kepada Rian.

"Apa ini?" tanya Rian bingung.

"Itu namanya tespek, Mika hamil A."

"Hah, hamil?"

"Iya, Mika hamil."

Rian langsung memeluk Mika dengan mata yang berkaca-kaca.

"Alhamdulillah, sebentar lagi aku akan menjadi Ayah."

Rian melepaskan pelukannya...

"Aku berangkat dulu ya, aku janji setelah selesai beli pupuk aku langsung pulang."

"Janji ya A, harus cepat pulang."

"Baiklah."

Rian mencium kening Mika sangat lama, seolah-olah dia akan pergi jauh dan lama. Lalu, Rian mengusap perut Mika yang masih datar itu dan menciumnya.

"Ayah pergi dulu, Ayah akan segera pulang."

"Hati-hati A, semoga Aa kembali dengan selamat."

"Amin."

Rian dan Odik pun akhirnya pergi meninggalkan kampung menuju kota, sedangkan Parman yang melihat kepergiaan keduanya dari kejauhan tampak menyunggingkan senyumannya.

Terpopuler

Comments

¢ᖱ'D⃤ ̐𝙽❗𝙽 𝙶

¢ᖱ'D⃤ ̐𝙽❗𝙽 𝙶

eh diapain lagi sama Parman jangan2 mobilnya disabotase lagi hadehhh🙈

2022-12-10

1

DSN5

DSN5

Parman mau jahatin Rian lgi yaa ?
smoga baik2 saja yaa

2022-11-26

2

DSN5

DSN5

iyaa dia pelakunyaa

2022-11-26

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!