Sudah berbulan-bulan lamanya, Papi Ganendra dan Mami Maharani mencari keberadaan Bian bahkan semua anak buahnya sudah mereka kerahkan, tapi hasilnya tetap nihil.
Maka dari itu, kedua orangtua Bian sudah mulai mengikhlaskan kepergian Bian walaupun rasanya sangat berat, tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa, lagipula ini sudah berbulan-bulan lamanya.
Begitu pun dengan Ririn, dia semakin bebas dan semakin sering menghabiskan waktu berdua dengan Bima.
"Mami, Ririn pergi dulu mau kuliah," seru Ririn.
"Iya sayang, oh iya Rin, Mami sudah mengikhlaskan kepergian Bian jadi Mami harap kamu juga bisa mengikhlaskan Bian tapi Mami ingin, kamu jangan dulu menikah lagi ya tunggu sampai satu tahun karena Mami masih berpikir kalau keajaiban akan datang dan berharap Bian akan kembali lagi."
"Iya Mami."
Ririn pun mencium punggung tangan Mami Maharani dan segera pergi menuju kampus, Ririn memang masih kuliah dan beberapa bulan lagi dia akan segera di wisuda.
Sebenarnya Ririn itu kuliah siang, tapi dia selalu berangkat pagi karena dia ingin mampir ke restoran untuk bertemu dengan pujaan hatinya.
Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya taksi yang ditumpangi Ririn pun sampai di restoran milik Bima.
"Sayang."
"Hai."
Ririn langsung memeluk Bima dan duduk dipangkuan Bima.
"Sudah sarapan?" tanya Bima.
"Sudah..oh iya sayang, Mami Maharani ternyata sudah mulai mengikhlaskan kematian Bian dan dia juga bilang suruh aku juga mengiklaskannya, dia tidak tahu saja kalau sudah sejak lama aku sudah mengiklaskannya," seru Ririn dengan senyumannya.
"Astaga ternyata kamu kejam juga."
"Lah, bukanya kamu yang mengajari aku untuk menjadi kejam."
Bima terkekeh...
"Kamu sudah siap dong untuk menikah denganku?" seru Bima.
"Sabar sayang, kan aku sudah bilang nunggu setelah satu tahun baru kita menikah, lagipula saat ini aku juga lagi ngumpulin uang masa iya aku menikah dengan kamu tidak dapat uang sama sekali dari keluarganya Ganendra. Setidaknya aku dapat harta bagian gitu dari mereka, lumayan kan bisa untuk memperbesar restoran ini."
"Ternyata kamu makin pintar saja, sayang."
"Iya dong harus itu, soalnya Bian yang memaksa aku untuk menikah dengannya dan sekarang aku harus mendapatkan bagian harta dari keluarga Ganendra."
Bima menarik wajah Ririn dan akhirnya keduanya saling berciuman sungguh mereka adalah pasangan yang sangat kejam padahal Bian begitu tulus mencintai Ririn.
Sebenarnya Ririn tidak punya pilihan lain dan tidak bisa menolak untuk menikah dengan Bian karena orangtua Bian membantu keluarganya supaya perusahaan Papanya kembali lagi bahkan Ririn dan kedua orangtuanya bisa kembali tinggal di rumah mewah berkat keluarga Bian.
Seandainya kalau hati Ririn tidak untuk Bima, mungkin Ririn dengan senang hati akan menerima perjodohan itu, namun sayang hati Ririn sudah memilih Bima dan Ririn juga sama sekali tidak mencintai Bian maka dari itu Ririn dan Bima nekad melakukan kejahatan itu supaya Ririn bisa lepas dari Bian.
***
"Aa kenapa? Kok Mika lihat, Aa melamun terus?"
"Aku tidak apa-apa kok, ayo kita sarapan dan aku akan antarkan kamu ke klinik."
Mika pun tersenyum, sebenarnya sudah beberapa hari ini perasaan Rian merasa tidak enak, Rian merasa kalau ada seseorang yang sedang merindukannya dan Rian juga tiba-tiba merindukan kedua orangtuanya tapi Rian tidak tahu apa dia masih punya orangtua atau tidak.
"Rian, karena sekarang kamu teh sudah menjadi menantu Ayah, jadi urusan perkebunan Ayah ingin menyerahkannya kepadamu. Lagipuala Ayah sudah mulai tua juga," seru Ayah Rusdi.
"Tapi Ayah, Rian sama sekali tidak mengerti urusan perkebunan."
"Tidak apa-apa, kamu bisa bertanya kepada Parman karena dia adalah orang yang sudah lama bekerja kepada Ayah dan Ayah yakin kamu pun akan cepat memahaminya."
Rian menoleh ke arah Mika dan Mika pun tersenyum sembari menganggukan kepalanya.
"Baiklah Ayah, Rian akan mencobanya."
"Nah, begitu."
Rian seperti biasa mengantarkan Mika ke klinik, Mika sebenarnya dari tadi mengajak Rian ngobrol tapi Rian tidak mendengarkannya. Rian melamun dan pikirannya sedang melayang ke mana-mana.
Mereka pun sampai di klinik Mika....
"Aku kembali ke kebun ya."
Rian hendak menyalakan motornya tapi Mika menahannya.
"A, bisa kita bicara sebentar."
Rian pun tersenyum dan turun dari motornya, Mika mengajak Rian untuk masuk ke dalam ruangannya.
"Mau bicara apa?" tanya Rian dengan membenarkan rambut Mika.
"Mika yakin kalau Aa pasti sedang ada masalah, ceritalah sama Mika, kita kan sekarang sudah menjadi suami istri."
Rian tersenyum dan menggenggam tangan Mika kemudian menciumnya.
"Saat ini aku merasa tidak enak, Mika."
"Tidak enak kenapa, A?"
"Entahlah, aku juga tidak tahu yang jelas aku merasa ada seseorang yang sedang merindukanku dan aku juga sudah dua hari ini ingat terus kepada kedua orangtuaku, apa orangtuaku masih ada ya?" seru Rian.
"Aa yang sabar, Mika ngerti dengan perasaan Aa, Mika yakin ingatan Aa akan segera kembali," seru Mika dengan raut wajah yang sedih.
"Hai, kenapa sekarang giliran kamu yang sedih?" tanya Rian dengan menangkup wajah Mika.
"Mika takut kalau ingatan Aa kembali, nanti Aa justru akan melupakan Mika dan tidak mengenali Mika."
Rian pun menarik tubuh Mika ke dalam dekapannya, tidak bisa dipungkiri kalau Rian juga takut, akan apa yang terjadi ke depannya mudah-mudahan saja pernikahannya dengan Mika tidak akan ada masalah.
"Ya sudah, sekarang aku kembali lagi ke perkebunan dan sepertinya nanti sore aku tidak bisa menjemputmu soalnya banyak sayur-sayuran yang harus aku sortir sebelum lusa dikirim ke kota."
"Iya tidak apa-apa, Mika pulang sendiri saja."
"Kamu hati-hati ya, pulangnya."
"Iya A."
Mika pun segera menciun punggung tangan Rian, dan Rian mencium kening Mika. Rian segera menaiki motornya...
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Rian kembali ke kebun dan mulai bekerja, Rian melihat kalau semua karyawan sudah mulai bekerja kecuali Parman, dia malah asyik tiduran di saung sembari menyesap rokoknya.
Rian pun dengan cepat menghampiri Parman.
"Maaf Kang Parman, bukanya ini belum waktunya istirahat ya? Kenapa Akang sudah berleha-leha di sini, Akang tidak lihat semua orang sibuk dengan pekerjaannya," tegur Rian.
Parman pun bangun dan dengan kesalnya membuang rokok itu, kemudian berdiri di hadapan Rian.
"Memangnya kenapa kalau saya teh berleha-leha? Pak Rusdi saja tidak pernah melarang-larang saya."
"Tapi sekarang Ayah Rusdi sudah mempercayakan perkebunan ini kepadaku, jadi Akang harus bekerja sama seperti yang lainnya. Jangan sampai nanti ada kecemburuan sosial, nanti kalau aku tidak menegur Akang, bisa-bisa mereka semua akan sirik dan menganggapku pilih kasih," tegas Rian.
Parman menarik kerah baju Rian hendak memukul Rian, tapi Rian sama sekali tidak takut karena memang pada dasarnya Rian memiliki sifat yang tidak takut sama siapa pun.
"Aaarrrgghhh....awas kamu Rian," sentak Parman dengan mendorong tubuh Rian.
Rian hanya bisa menggelengkan kepalanya, dia tidak mengerti dengan sikap Parman yang seperti itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments
¢ᖱ'D⃤ ̐𝙽❗𝙽 𝙶
waahh detik detik ingatan bian balik nih gimana ya nanti kalo ingatan bian sembuh🙈jangan sampe ninggalin mika kak
2022-12-08
1
DSN5
Kapan ya Bian bisa inget sm semuanya
2022-11-25
2
ghan sha
Parman belagu bgt
2022-11-08
1