Identitas Baru

💜

💜

💜

💜

💜

Pak Rusdi dan Mika pun segera membawa Bian ke rumahnya, dan tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya mereka pun sampai di rumah.

"Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam."

"Ma, dia mengalami amnesia untuk sementara waktu, biarkan dia tinggal saja di sini, kasihan juga kalau dia harus tinggal di jalanan," seru Pak Rusdi.

"Ya Allah, ya sudah Pak tidak apa-apa untuk sementara waktu biar dia tinggal di sini," sahut Mama Nuri.

"Tapi Ayah, dia mau tidur di mana? Di rumah ini kan, tidak ada kamar lagi," seru Mika.

"Tidak apa-apa, aku bisa tidur di mana saja," sela Bian.

Ketiganya saling pandang satu sama lain...

"Sebenarnya ada ruangan bekas penyimpanan barang-barang, kalau mau kamu bisa membersihkannya, tidak terlalu kotor kok hanya perlu di pel dan dibersihkan sarang laba-labanya," seru Mama Nuri.

"Mika, kamu panggil Parman, suruh dia bersihkan ruangan itu," seru Ayah Rusdi.

"Baik Yah."

Mika pun segera menghampiri Parman yang saat ini sedang mengemas sayur-sayur yang akan dibawa ke kota. Parman seumuran dengan Bian, dan Parman sejak dulu suka kepada Mika tapi Mika tidak pernah membalas cintanya.

"A Parman."

"Eh Neng geulis, ada apa Neng geulis?"

"Ini, A Parman diminta sama Ayah untuk membersihkan ruangan yang bekas penyimpanan barang."

"Buat apa dibersihkan?"

"Mau dijadikan kamar, A."

"Kamar untuk siapa?"

"Itu kamar untuk si Aa yang kemarin kecelakaan."

"Kok dibawa ke sini? Bukanya suruh dia pulang?" kesal Parman.

"Si Aanya hilang ingatan, dia tidak ingat apa-apa jadi kasihan kalau suruh pulang bisa-bisa dia jadi gelandangan. Ya sudah, Mika pergi dulu ya, mau bantu Mama masak."

Mika pun segera masuk ke dalam rumahnya, sedangkan Parman terlihat sangat kesal. Tapi walaupun kesal, tetap saja Parman harus mengikuti perintah majikannya itu.

Parman pun mulai membersihkan ruangan itu dengan wajah yang cemberut, sedangkan Bian dan Ayah Rusdi saat ini sedang berbincang-bincang.

"Kamu ingat dengan namamu, Nak?" tanya Ayah Rusdi.

Bian menggelengkan kepalanya...

Ayah Rusdi tampak berpikir. "Ya sudah, bagaimana kalau Bapak panggil kamu Rian saja, kamu suka?"

"Rian? Iya Pak, aku suka."

Tiba-tiba Mika datang membawakan kopi untuk Ayah dan juga Bian.

"Ayah, lagi ngomongin apa?"

"Ini Neng, dia kan gak tahu namanya sendiri, jadi Ayah beri dia nama Rian."

"Bagus Yah, namanya," sahut Mika dengan senyumannya.

Bian memperhatikan Mika, senyuman Mika begitu sangat cantik seperti wajahnya.

"Ayah, ke belakang dulu, kamu temani Rian."

"Iya Ayah. A, sok atuh di minum kopinya."

"Ah iya, terima kasih."

Bian mulai menyesap kopi buatan Mika. "Kopinya enak."

"Terima kasih, A."

"Oh iya, nama kamu siapa? Aku belum tahu nama kamu."

"Nama aku Mika, A."

Mika mengulurkan tangan kepada Bian, perlahan Bian pun membalas uluran tangan Mika. Bian dan Mika saling tatap satu sama lain, hingga akhirnya Ayah Rusdi datang dan mengagetkan keduanya.

"Mika, kembali ke dapur lagi ya Yah, mau beresin masakan Mika."

"Iya Neng."

Bian terus saja memperhatikan Mika sampai Mika menghilang di balik pintu dapur.

"Kenapa Rian?"

"Ah, tidak apa-apa Pak, Mika cantik," sahut Bian dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Ayah Rusdi hanya bisa tersenyum sembari geleng-geleng kepalanya, tiba-tiba Parman pun datang.

"Pak, ruangannya sudah aku bersihkan," seru Parman.

"Terima kasih ya, Parman."

"Sama-sama Pak, kalau begitu aku pamit dulu mau lanjutkan pekerjaan."

"Iya."

Parman pun meninggalkan rumah Ayah Rusdi, tapi sebelum pergi, Parman tampak mendelikan matanya ke arah Bian dan itu membuat Bian merasa tidak enak.

"Ayo Nak Rian, Nak Rian sudah bisa istirahat sekarang."

"Baik, terima kasih ya Pak, sudah mau membantu dan membiarkan aku tinggal di sini."

"Tidak apa-apa, bukanya sesama manusia itu harus saling tolong menolong ya. Kamu jangan sungkan, Bapak ikhlas kok menolong kamu, mudah-mudahan kamu cepat sembuh dan ingat kembali karena kasihan keluarga kamu, pasti saat ini sedang mencari kamu."

"Iya Pak, aku akan berusaha mengingat semuanya. Kalau begitu, aku izin istirahat dulu."

"Iya silakan."

Bian pun masuk ke dalam ruangan yang sudah dibersihkan itu dan mulai merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Pandangan Bian menerawang lurus ke langit-langit kamarnya, Bian berusaha mengingat semuanya tapi sayang, Bian sedikit pun tidak mengingat apa-apa.

***

Sementara itu, di Jakarta Mami Maharani terus saja menangis karena sampai saat ini belum bisa menemukan jasad anaknya itu.

"Mi, sudah dong jangan menangis terus, Ririn jadi ikut sedih kalau Mami nangis," seru Ririn pura-pura sedih.

"Mami ingin bertemu dengan Bian, Mami belum yakin kalau Bian sudah meninggal," sahut Mami Maharani.

"Tapi polisi sudah menemukan mobil Bian yang hancur Mami, sudah pasti Bian pun tidak akan mungkin selamat."

"Kenapa kamu bicara seperti itu Ririn? Kamu sepertinya tidak sedih dengan kepergian Bian?"

Ririn tersentak. "Bukanya begitu Mami, polisi sudah bilang kalau mobil Bian sudah hancur dan Mami pun sudah melihat sendiri kan, bagaimana kondisi mobil itu? Bahkan sopir Bian pun sudah meninggal," sahut Ririn.

"Justru itu Ririn, kenapa jasad sopir pribadi Bian ada di sana sedangkan jasad Bian tidak bisa ditemukan? Mami punya firasat kalau Bian masih hidup."

Ririn menghembuskan napasnya. "Mami, dibawah jurang itu ada aliran sungai dan waktu itu polisi bilang, airnya sangat deras bisa jadi kan, jasad Bian terseret air yang deras itu."

"Entahlah, tapi perasaan Mami mengatakan kalau Bian masih hidup. Mudah-mudahan saja, ada orang baik yang menemukan Bian."

Ririn memutar bola matanya jengah, mungkin kalau Ririn tidak sedang bersandiwara, Ririn tidak mau menemani mertuanya yang sedih itu karena kecelakaab Bian memang sudah dua rencanakan dengan Bima sang kekasih.

Saat ini di rumah Mika, semuanya sedang makan siang bersama.

"Bagaimana Nak Rian, apa masakan Ibu dan Mika enak?" tanya Mama Nuri.

"Enak Bu, sangat enak."

"Makan yang banyak A, biar cepat sembuh," seru Mika.

"Pasti."

Semuanya kembali melanjutkan makannya, Bian sangat beruntung ditemukan dengan keluarga yang sangat baik seperti keluarga Mika.

Malam pun tiba...

Bian tampak termenung di teras rumah Mika, tidak lama kemudian Mika pun datang dengan membawa segelas teh hangat dan cemilannya.

"Aa lagi ngapain duduk termenung di sini?" tanya Mika.

"Lagi cari angin saja."

"Ini, Mika bawakan teh hangat untuk Aa."

"Terima kasih, Mika. Oh iya, kamu kerja atau kuliah?"

"Mika seorang bidan, A."

"Iyakah, wah hebat juga kamu."

"Ya lumayanlah A, hasilnya buat bantu Ayah dan Mama."

Bian tersenyum sembari ngangguk-ngangguk, keduanya pun berbincang-bincang ringan tapi dari kejauhan, Parman tampak kesal melihat kedekatan Mika dan Bian.

"Orang itu berani sekali mendekati Mika, awas saja kalau dia merebut Mika dariku," gumam Parman.

Terpopuler

Comments

ArMaini Karim

ArMaini Karim

parman ingat kamu cm pekerja di kebun ayah mika ☺

2022-12-27

1

¢ᖱ'D⃤ ̐𝙽❗𝙽 𝙶

¢ᖱ'D⃤ ̐𝙽❗𝙽 𝙶

merebut mika darimu????
nggak salah wooii dya bukan pacar mu etdah nyebut Napa man parmaann🤧

2022-12-08

1

DSN5

DSN5

Firasat seorang Ibu memang benar 100%
Alhamdulillah Bian ketemu dgn orang2 baik

2022-11-25

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!